Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Senja merangkak malas di balik tirai jendela ruang makan, melemparkan bayangan panjang di atas meja yang biasanya penuh tawa. Kini, hanya keheningan yang mengisi, dipecah sesekali oleh denting sendok yang bertabrakan dengan piring keramik.
Hana Ayunindya menatap suaminya, Arlan Mahendra, yang duduk mematung di seberangnya. Ada gurat kelelahan dan kegelisahan yang jelas terpahat di wajah tampan Arlan, sesuatu yang jarang Hana lihat dalam lima tahun pernikahan mereka.
Hana merasakan denyut samar di pelipisnya. Ini bukan keheningan yang nyaman, melainkan keheningan yang mencekik. Lima tahun. Ya, lima tahun sudah mereka mengarungi bahtera rumah tangga, namun satu pelabuhan penting belum juga mereka singgahi, memiliki keturunan.
"Sup ayamnya dingin, Mas," ucap Hana lembut, mencoba memecah ketegangan. Ia menyodorkan mangkuk sup kesukaan Arlan, berharap kehangatan uapnya bisa melarutkan kekakuan di antara mereka.
Arlan hanya menatap sup itu tanpa nafsu. Pria ambisius yang selalu tegas dalam pekerjaan itu, kini tampak lunglai. Ia menarik napas panjang, sebuah hembusan yang terasa seperti desahan kekalahan.
"Hana..." Suara Arlan berat, seperti batu yang bergeser di dasar jurang. "Ibu terus bertanya. Kolegaku di kantor... mereka juga."
Hana menelan ludah. Ia tahu betul arah pembicaraan ini. Sudah tak terhitung berapa kali topik ini muncul. Tekanan dari keluarga besar Arlan, terutama sang Ibu mertua, bagai air bah yang tak hekan surut. Ia telah berjuang.
Mengunjungi puluhan dokter spesialis, mencoba berbagai pengobatan alternatif, hingga berbaring di meja operasi. Semuanya, demi satu harapan, yaitu melihat garis dua di alat tes kehamilan. Namun, setiap kali harapan itu melambung tinggi, setiap kali pula ia dihempaskan kembali ke bumi.
"Aku sudah mencoba semua yang kita bisa, Mas," jawab Hana, suaranya bergetar. Ia menggenggam erat jemarinya di pangkuan, mencoba menyalurkan kekuatan pada dirinya sendiri. "Dokter bilang kita hanya perlu bersabar sedikit lagi. Mungkin ini memang belum waktunya."
"Sampai kapan, Hana?" potong Arlan, nadanya sedikit lebih tajam dari biasanya, menusuk ke dalam ulu hati Hana. "Sampai aku tidak sanggup lagi menahan rasa malu ini? Sampai aku tidak punya pewaris untuk perusahaan? Atau sampai aku tua dan tidak bisa lagi bermain dengan anak-anakku?"
Hana terdiam. Ia tahu, di balik cinta Arlan padanya, ada ego seorang pria yang ingin melengkapi hidupnya dengan seorang anak laki-laki. Anak yang akan meneruskan nama besar Mahendra.
Arlan menggeser kursinya, mendekat ke Hana. Ia meraih tangan Hana, menggenggamnya, namun kehangatan sentuhannya tidak sampai ke hati Hana yang perlahan mendingin.
"Aku mencintaimu, Hana. Kau tahu itu. Tapi aku juga ingin mendengar suara tangis bayi di rumah ini sebelum aku tua. Aku ingin memiliki keluarga yang lengkap."
Mata Arlan menatap kosong ke depan, seolah melihat masa depan yang hanya ia impikan sendiri. "Ada seseorang di kantorku," lanjutnya, perlahan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai jarum yang menusuk. "Namanya Maura. Dia... dia bersedia. Dia bisa memberikan apa yang selama ini tidak bisa kau berikan."
Dunia Hana Ayunindya seolah berhenti berputar. Nama itu, Maura, terdengar asing sekaligus mematikan. Nama yang kelak akan menjadi bayangan gelap di atas rumah tangganya.
"Maksudmu... kau ingin menikah lagi?" tanya Hana, suaranya nyaris tak terdengar. Tenggorokannya tercekat. Ia ingin berteriak, ingin menampar Arlan, ingin bertanya mengapa ia harus menanggung beban ini sendirian.
Arlan mengangguk pelan, menghindari tatapan mata Hana yang sudah berkaca-kaca. "Hanya ini jalannya, Hana. Aku tidak akan menceraikanmu. Kau tetap istri pertamaku, ratu di rumah ini. Tapi Maura... dia akan menjadi bagian dari kita. Dia akan memberiku anak."
Kalimat terakhir Arlan bagai palu godam yang menghantam pertahanan terakhir Hana. "Kau tetap istri pertamaku, ratu di rumah ini." Hahaha. Ratu macam apa yang harus berbagi tahta? Ratu macam apa yang hatinya kini hancur berkeping-keping?
Hana tidak berteriak. Ia tidak melempar piring atau memaki. Ia hanya merasakan sesuatu di dalam dadanya retak - halus, namun fatal. Ia ingat janji pernikahan mereka di usia 20 tahun, saat itu ia merasa dunia hanya milik mereka berdua.
Senyumnya, tawa Arlan, dan impian mereka, semua terasa begitu nyata. Kini, di usia 25, ia harus belajar membagi dunia itu dengan orang asing. Berbagi pria yang ia cintai dengan wanita lain, hanya demi sebuah janin yang tak kunjung hadir di rahimnya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya. Setetes jatuh ke punggung tangannya yang masih digenggam Arlan, membakar kulit suaminya.
"Kalau itu yang bisa membuatmu bahagia, Mas..." Hana menjeda, berusaha menata napas yang tercekat. Perkataan itu terucap dengan begitu sulit, seolah lidahnya kelu. "Aku... aku akan mencoba belajar ikhlas."
Kata 'ikhlas' itu terasa hambar di lidah Hana. Bagaimana mungkin ia ikhlas membagi separuh hatinya, separuh hidupnya, separuh suaminya? Saat itu, Hana tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Ia telah mencoba menjadi istri yang sempurna, berjuang tanpa lelah, namun takdir seolah menertawakan usahanya. Arlan telah memilih jalannya sendiri, dan Hana, si istri yang tak mampu memberikan keturunan, hanya bisa pasrah. Atau setidaknya, itulah yang ia pikir saat itu.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada percikan kecil yang belum padam. Percikan yang suatu hari nanti akan tumbuh menjadi api, membakar semua rasa sakit dan membawanya pada sebuah kebangkitan. Kebangkitan untuk menyatakan, bahwa ia, Hana Ayunindya, bukanlah istri cadangan.
...----------------...
Next Episode....
~~
Hai para pembaca setia Miss Ra 🤍
Inilah karya terbaru dari Miss Ra yang penuh rasa dan cerita. Miss Ra memohon dengan sepenuh hati dukungan dari kalian semua, agar kisah ini bisa melangkah hingga bab terbaiknya.
Kalian pasti ingin hadiah spesial dari Miss Ra, kan?
Kalau iya, yuk terus setia membaca, dukung, dan ramaikan karya ini sampai akhirnya berhasil masuk ke bab terbaik.
Terima kasih untuk setiap doa, dukungan, dan cinta dari kalian semua....
Selamat membaca semuanya....
🤗❤️
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.