Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Persiapan Akhir Menjelang Kelahiran
Lima minggu setelah insiden Kirana yang tidak bergerak, kehamilan Alya memasuki minggu ke-32. Dua bulan lagi menuju due date, tapi perutnya sudah sebesar bola dunia. Setiap hari ia bertanya-tanya bagaimana mungkin perutnya bisa membesar lebih dari ini.
Perut Alya sekarang sangat besar sampai ia kesulitan melakukan aktivitas sederhana. Mengikat tali sepatu butuh waktu lima menit dan sering berakhir dengan ia menyerah dan minta tolong Reyhan. Mengambil barang yang jatuh? Lupakan. Ia sudah pasrah, kalau barang jatuh, tunggu Reyhan pulang atau Arka yang ambilkan.
Tidur menjadi musuh terbesar. Posisi apapun terasa tidak nyaman. Miring kiri, miring kanan, telentang dengan bantal bertumpuk semua tetap salah. Dan yang paling menyiksa, ia harus ke kamar mandi setiap jam karena Kirana senang sekali menekan kandung kemihnya.
Suatu malam, pukul tiga pagi, Alya kembali membangunkan suaminya.
"Rey." Suaranya lirih, penuh rasa bersalah. "Aku harus pipis lagi."
Reyhan yang sudah terbiasa dengan panggilan tengah malam langsung bangkit. Matanya masih setengah terpejam, tapi tubuhnya otomatis bergerak membantu Alya duduk.
"Ayo, pelan-pelan." Tangannya sigap menopang punggung Alya, menuntunnya berdiri dengan hati-hati.
Setelah dari kamar mandi, Alya duduk di tepi ranjang. Napasnya berat, matanya sembab karena kurang tidur.
"Rey... aku capek." Suaranya bergetar. "Aku nggak kuat lagi kayak gini dua bulan."
Reyhan duduk di sampingnya, memeluk dari samping dengan lembut. "Aku tahu, sayang. Tapi ini sebentar lagi. Dua bulan lagi, Kirana akan lahir. Dan semua ini akan worth it."
"Aku tahu. Tapi badanku sakit semua. Pinggangku rasanya mau patah. Kakiku bengkak kayak gajah. Dan aku nggak bisa tidur nyenyak."
"Besok kita ke dokter. Kita tanya ada nggak cara untuk bikin kamu lebih nyaman. Oke?"
Alya mengangguk lemah. Reyhan membantunya berbaring kembali, menyusun bantal-bantal di berbagai posisi untuk menopang punggung dan perutnya.
"Rey?"
"Ya?"
"Makasih. Makasih udah sabar sama aku yang cerewet dan manja ini."
Reyhan mencium dahinya. "Kamu nggak manja. Kamu sedang hamil. Dan aku akan lakukan apapun untuk bikin kamu nyaman. Apapun."
Rabu Pagi Kelas Persiapan Persalinan
Rabu pagi, Reyhan ambil cuti. Hari ini mereka ada kelas persiapan persalinan sesuatu yang wajib diikuti pasangan yang akan melahirkan. Kelas ini diadakan di rumah sakit, diikuti sekitar sepuluh pasangan dengan perut buncit masing-masing.
Instrukturnya Bu Siti, bidan berpengalaman dengan senyum hangat dan energi positif.
"Selamat pagi, Bapak-Ibu. Hari ini kita akan belajar tentang proses persalinan, teknik pernapasan, dan bagaimana suami bisa support istri saat melahirkan."
Selama dua jam, mereka belajar berbagai teknik. Pernapasan saat kontraksi, posisi melahirkan, cara mengatasi rasa sakit. Reyhan sangat serius. Ia mencatat semuanya di buku catatan kecil sesuatu yang bahkan tidak ia lakukan saat meeting penting di kantor. Ia juga merekam video instruksi dengan ponselnya.
Bu Siti memperhatikan. Saat sesi istirahat, ia menghampiri Reyhan.
"Pak Reyhan, Bapak ini suami yang sangat perhatian ya. Jarang lho ada suami yang seantusias ini."
Reyhan tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca-kaca. "Ini anak kedua saya, Bu. Tapi anak pertama saya... saya nggak ada saat istri saya melahirkan." Suaranya pelan. "Saya ketinggalan momen itu. Saya nggak bisa dampingi dia. Jadi sekarang... saya mau pastikan saya ada. Saya mau bisa support istri saya sebaik mungkin."
Bu Siti menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Istri Bapak beruntung sekali. Dan baby-nya akan lahir dengan ayah yang sangat mencintainya."
Sesi praktik tiba. Reyhan harus mempraktikkan cara memijat punggung Alya saat kontraksi. Tangannya sedikit gemetar.
"Rey, santai aja." Alya tersenyum. "Nggak perlu nervous."
"Aku takut salah. Takut malah bikin kamu kesakitan."
"Kamu nggak akan bikin aku kesakitan. Kamu selalu lembut."
Reyhan memijat punggung Alya dengan hati-hati. Gerakan melingkar di punggung bawah, persis seperti instruksi Bu Siti.
"Bagus, Pak Reyhan! Seperti itu! Istri Bapak pasti akan sangat terbantu nanti."
Jumat Sore Baby Shower Surprise
Jumat sore, Alya pulang dari kontrol rutin ke dokter kandungan. Ia lelah, ingin segera berbaring. Tapi begitu pintu rumah terbuka, ia membeku.
Rumahnya penuh dengan dekorasi pink dan putih. Balon di mana-mana. Banner besar bertuliskan "WELCOME BABY KIRANA". Meja panjang penuh dengan kue dan snack. Dan di ruang tamu, puluhan orang berdiri dengan senyum lebar.
"SURPRISE!" teriak semua orang bersamaan.
Alya berdiri di pintu, mulut terbuka, mata berkaca-kaca.
Di ruang tamu, ada Ratna dan Reyhan Senior. Ada teman-teman dekat Alya, Dina dan yang lain. Ada beberapa kolega Reyhan dari kantor. Ada Bu Ratna dari sekolah Arka. Bahkan Bu Nina dari program highly gifted.
"Kalian... kalian ngadain baby shower buat aku?" Suara Alya bergetar.
Reyhan berdiri di sampingnya, Arka di sisi lain, tersenyum lebar. "Tentu. Kirana deserve welcome party yang proper."
Air mata Alya tumpah. Ia berjalan pelan dengan perut buncitnya, langsung memeluk Reyhan.
"Makasih... makasih..."
"Jangan nangis dulu, nanti makeup-nya luntur." Dina goda dari belakang.
Semua tertawa.
Baby shower berlangsung hangat. Ada games tebak ukuran perut Alya dengan benang. Semua orang salah karena mereka underestimate seberapa besar perutnya. Ada tebak tanggal lahir Kirana. Ada sesi menulis wish untuk Kirana di kartu-kartu lucu.
Arka paling excited. Ia membantu membuka hadiah satu per satu baju bayi, selimut, mainan, perlengkapan mandi, botol susu.
"MAMA! AYAH! LIHAT! INI BAJU BAYI KAYAK ROBOT!" teriaknya sambil mengangkat onesie bergambar robot hadiah dari Dio dan Farrel yang tidak bisa datang tapi titip kado.
Seorang tamu tertawa. "Arka, adik kamu perempuan. Mana ada perempuan pakai baju robot?"
Arka menatapnya serius. "Kenapa nggak boleh? Perempuan juga bisa suka robot. Perempuan juga bisa jadi scientist dan engineer. Nggak ada aturan cuma cowok yang boleh suka sains."
Hening.
Lalu semua orang bertepuk tangan. Kagum.
"Arka benar," Bu Nina tersenyum bangga. "Perempuan bisa jadi apapun yang mereka mau. Dan Kirana beruntung punya kakak yang berpikiran terbuka seperti Arka."
Di akhir acara, Ratna memberikan hadiah spesial. Sebuah kotak kecil berisi kalung emas dengan liontin bulan dan bintang.
"Ini untuk Kirana." Suara Ratna lembut. "Ini kalung yang sama yang Nenek kasih ke Reyhan waktu dia lahir. Dan sekarang giliran cucu Nenek yang perempuan."
Alya memeluk Ratna erat. Mertua yang dulu ia takuti, sekarang menjadi sosok ibu yang ia sayangi.
"Makasih, Bu. Makasih untuk semuanya."
Minggu Pagi Kontraksi Palsu Lagi
Minggu pagi, pukul enam. Alya terbangun dengan rasa kencang di perut. Sama seperti kontraksi palsu beberapa bulan lalu, tapi kali ini lebih kuat.
Ia tahan napas, menghitung. Kontraksi berlangsung sekitar 40 detik. Lalu hilang.
Ini Braxton Hicks lagi, pikirnya. Tenang, ini normal.
Tapi lima menit kemudian, kontraksi datang lagi. Sama kuatnya.
Alya duduk, memegang perut. "Rey... Rey, bangun."
Reyhan langsung terjaga. "Kontraksi?"
"Iya. Tapi aku rasa ini cuma Braxton Hicks lagi."
"Berapa menit intervalnya?"
"Baru dua kali. Interval lima menit."
Reyhan raih ponsel, buka stopwatch. "Oke, kita hitung. Kalau interval-nya teratur dan makin sering, kita ke rumah sakit."
Mereka duduk tegang.
Lima menit kemudian, kontraksi datang lagi.
"Ini teratur." Suara Reyhan bergetar. "Alya, ini mungkin bukan Braxton Hicks."
"Tapi usia kandungan baru 32 minggu, Rey. Terlalu awal"
Kontraksi berikutnya datang empat menit kemudian. Lebih cepat.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Reyhan tegas. "Aku nggak mau ambil risiko."
Arka terbangun karena keributan. "Ayah, Mama, kenapa?"
"Mama kontraksi, Nak. Kita mau ke rumah sakit. Kamu tunggu di rumah sama pengasuh ya. Ayah udah telepon, dia sebentar lagi."
"NGGAK! Aku mau ikut! Kalau Kirana lahir sekarang, aku mau ada di sana!"
Reyhan dan Alya saling pandang. Alya mengangguk. "Bawa dia. Aku nggak mau dia worry sendirian."
Pukul Tujuh Pagi Rumah Sakit
Di UGD, dokter langsung memeriksa Alya. Pembukaan serviks, monitor kontraksi, USG.
Reyhan di sampingnya, tangannya menggenggam erat tangan Alya. Arka duduk di sudut ruangan, wajah pucat, diam seribu bahasa.
Setelah 20 menit yang terasa seperti berabad-abad, dokter berbicara.
"Bu Alya, ini memang kontraksi. Tapi pembukaan masih nol. Kontraksi mulai irregular. Kemungkinan besar ini prodromal labor kontraksi yang mirip persalinan, tapi belum persalinan sebenarnya."
Alya lega, napasnya terhembus. "Jadi aku nggak akan melahirkan sekarang?"
"Belum. Tapi..." Dokter menatap serius. "Serviks Ibu sudah mulai menipis. Ini tanda tubuh sedang persiapan. Kemungkinan besar, persalinan akan terjadi lebih awal mungkin minggu ke-36 atau 37."
"Itu aman, Dok?"
"Aman. Baby yang lahir di minggu ke-36 atau 37 dianggap late preterm. Sedikit lebih awal, tapi biasanya tidak perlu NICU. Tapi kita akan monitor ketat."
"Jadi sekarang apa yang harus saya lakukan?"
"Istirahat total. Bed rest sebisa mungkin. Hindari aktivitas berat. Kalau kontraksi datang lagi dengan interval teratur kurang dari 5 menit dan berlangsung lebih dari 1 jam, langsung ke rumah sakit."
"Baik, Dok."
Dokter keluar. Arka langsung menghampiri ibunya. "Mama baik-baik aja?"
Alya memeluknya dengan satu tangan. "Mama baik-baik aja, sayang. Kirana juga baik. Cuma mungkin dia mau lahir lebih cepat dari yang kita kira."
"Lebih cepat kapan?"
"Mungkin sebulan lagi."
Mata Arka berbinar. "Serius? Aku bisa ketemu Kirana lebih cepat?"
Alya tertawa lelah. "Iya, sayang."
Arka memeluk perut ibunya. "Kirana, kalau kamu mau keluar lebih cepat, nggak apa-apa. Kakak udah siap. Kakak nggak sabar ketemu kamu."
Minggu Sore Bed Rest Dimulai
Pulang dari rumah sakit dengan instruksi bed rest, rumah berubah total.
Reyhan mengatur ulang kamar. Air minum, snack, buku, remote TV, ponsel semua dalam jangkauan tangan Alya.
"Rey, aku bukan orang sakit. Aku cuma hamil." Alya protes, tapi tersenyum.
"Dokter bilang bed rest. Jadi kamu stay di bed. Nggak ada negosiasi."
"Tapi aku bosan cuma tiduran."
"Kamu bisa baca, nonton TV, main game, video call teman. Tapi tetap di bed."
Alya tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Reyhan yang sedang dalam mode super protektif.
Arka ambil cuti dari program highly gifted-nya. "Kirana lebih penting," katanya serius. Setiap hari ia habiskan di kamar ibunya, membacakan buku cerita, menunjukkan project coding, atau sekedar ngobrol.
Suatu sore, Arka berbaring di samping ibunya. "Ma, aku nggak sabar ketemu Kirana. Tapi aku juga nervous."
"Nervous kenapa?"
"Takut aku nggak bisa jadi kakak yang baik. Takut Kirana nggak suka sama aku. Takut aku nggak cukup baik."
Alya memeluknya erat. "Sayang, kamu akan jadi kakak luar biasa. Kamu sudah buktikan—kamu rela ambil cuti, kamu bikin buku untuk Kirana, kamu selalu ngomong sama dia dengan sayang. Itu semua bukti."
"Beneran?"
"Beneran. Kirana akan sangat beruntung punya kakak seperti kamu."
Arka tersenyum. Ia mencondongkan tubuh, bicara ke perut ibunya. "Kirana, ini Kakak. Kakak janji akan jaga kamu. Kakak akan main sama kamu, ajarin kamu, lindungin kamu. Jadi jangan takut keluar ya. Kita semua udah nggak sabar."
Sore itu, di kamar dengan cahaya hangat, Alya merasakan sesuatu yang indah.
Keluarganya bersiap.
Anaknya yang pertama bersiap jadi kakak.
Suaminya bersiap jadi ayah yang hadir.
Dan baby-nya di dalam perut bersiap datang ke dunia.
Semua menunggu dengan cinta.
Jumat Malam Minggu ke-35: False Alarm Lagi
Dua minggu bed rest berlalu. Pukul sebelas malam, Alya terbangun dengan kontraksi sangat kuat. Berbeda dari sebelumnya.
"Rey... REY... INI BEDA!" teriaknya.
Reyhan bangkit, lihat Alya meringis. "Berapa menit interval?"
"Aku nggak tau... ini baru pertama AAHHH!"
Dua menit kemudian, kontraksi datang lagi.
"Kita ke rumah sakit SEKARANG!"
Mereka bergegas. Reyhan gendong Arka yang masih setengah tidur, bantu Alya turun tangga, ngebut ke rumah sakit.
Kumohon... kumohon baik-baik saja...
Di UGD, Dr. Rina periksa. "Pembukaan tiga. Ini persalinan awal. Tapi kontraksi masih belum teratur. Kita observasi."
Tiga jam berlalu. Kontraksi melambat. Interval memanjang.
Dr. Rina masuk lagi. "Kontraksi melambat. Pembukaan masih tiga. Ini false labor lagi. Tapi ini tanda persalinan sudah dekat. Mungkin minggu ini atau minggu depan."
Alya menangis. Capek, frustrasi. "Dok, aku capek. Kapan Kirana beneran mau lahir?"
Dr. Rina tersenyum. "Baby-nya yang tentukan, Bu. Kita tunggu."
Sabtu Pagi Pulang dari Rumah Sakit
Di mobil, suasana lelah tapi lega.
"Mama." Arka dari kursi belakang. "Kirana kayak lagi ngerjain kita ya. False alarm terus."
Alya tertawa. "Iya. Adik kamu kayaknya suka bikin dramatis."
"Kayak siapa tuh?" Reyhan melirik nakal.
"REY!"
Mereka tertawa. Melepas semua ketegangan.
Di rumah, Alya kembali ke bed rest. Lebih patuh. Ia sudah tahu betapa exhausting false alarm itu.
Reyhan duduk di tepi ranjang, usap rambut Alya. "Kamu kuat, sayang. Sebentar lagi. Kirana akan segera datang."
"Aku harap begitu. Aku udah nggak sabar. Tapi aku juga nervous. Takut proses melahirkan. Takut nggak bisa handle sakit."
"Kamu bisa. Kamu wanita terkuat yang aku kenal. Dan aku akan ada di sampingmu. Setiap detik. Aku janji."
Alya tersenyum, air mata jatuh. "Makasih, Rey. Makasih udah jadi suami terbaik."
"Makasih juga udah kasih aku keluarga ini. Arka. Dan sekarang Kirana."
Mereka berpelukan. Penuh cinta. Penuh harap.
Karena mereka tahu.
Momen itu sudah sangat dekat.
Momen ketika Kirana akhirnya datang.
Dan hidup mereka akan berubah selamanya.
Menjadi lebih indah.
Lebih lengkap.
Lebih sempurna.
[Bersambung]