Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. Mulai Berpikir Serius.
Pagi datang, seperti biasa saat ini Anisa tengah sibuk dengan pekerjaan rumah yang begitu full, namun seperti biasanya gadis itu selalu semangat, meskipun kadang teguran menghampirinya.
"Nis, iris bawangnya kurang tipis," ujar teman paling senior.
"Iya," sahut Anisa.
Ia mencoba bekerja lebih baik, dan menjadikan hal tersebut sebagai masukan agar kedepannya lebih baik, setelah mengiris berbagai bumbu, Anisa kedapatan jatah mencuci piring.
"Nis, cuci piring yang bersih ya, biar bos tidak komplain," ujar Eni.
"Ok, aku cuci piring dulu ya," kata Anisa sambil tersenyum.
Tangan kecil itu begitu sigap mencuci piring satu persatu, di sini Anisa bukan hanya dituntut untuk cepat saja, tapi juga harus bersih, dan semua ia lakukan dengan hati-hati agar tidak kena tegur.
Belum sempat ia mencuci, tapi teman senior yang bernama Latifa memanggil. "Nis, tolong ambilkan mangkuk untuk sayur sop-nya!"
Anisa sedikit bingung masalahnya cucian yang ia hadapi masih menggunung. "Aku masih mencuci Mbak," sahut Anisa.
"Ah, sudah tinggalkan saja dulu, ini orgen," kata temannya itu.
Anisa pun segera mencuci tangannya dari busa yang menempel, setelah bersih ia dengan cepat mengambil mangkuk yang diminta temannya itu.
"Ini Mbak mangkuknya," ucap Anisa.
"Taruh situ aja," sahutnya cepat.
Tapi saat Anisa hendak melangkah pergi suara Latifa berseru kembali. "Eh, Nis. Sekalian dong antar sup ini ke meja makan."
Anisa ragu karena ia tahu sekali cuci piring tidak boleh ditinggal. "Enggak Mbak," tolaknya cepat.
"Udah sebentar aja, bos gak tahu," sela Latifa. "Lagian cuma antar mangkuk saja kok," cerocosnya.
Karena tidak ingin ribut Anisa pun mulai melangkah ke ruang makan sambil membawa mangkuk yang berisi sup ayam penuh, ia membawa penuh dengan hati-hati.
Dan tanpa Anisa tahu di dapur majikannya sedang mengecek, dan melihat tumpukan cucian yang belum terselesaikan.
"Itu siapa nyuci belum selesai ditinggal begitu saja," kata majikan.
Awalnya kedua ART itu diam, namun tidak lama kemudian Latifa menyaut. "Itu Anisa yang sedang cuci piring."
"Kemana dia?" tanya majikannya dengan tegas.
"Sedang di ruang makan, antar sup," sahut Latifa.
Dan tanpa di sadari Anisa sudah ada diujung pintu ia mendengar semuanya, dan tidak menyangka jika teman seniornya itu tega mengkambing hitamkan dirinya padahal dia sendiri yang menyuruh Anisa.
Anisa melangkah dengan hati-hati, dan ia sangat tahu tatapan majikannya yang kurang bersahabat.
"Lain kali kalau cuci piring jangan ditinggal," kata majikannya itu, dengan nada teguran.
"Maaf Bu," sahut Anisa.
"Tapi jangan diulangi, dan kalau sedang melakukan sesuatu di suruh siapapun jangan mau, tuntaskan dulu pekerjaanmu, baru pekerjaan temanmu," ucapnya setengah menyindir entah pada siapa.
Anisa mengangguk, ia pun langsung melanjutkan kembali tugasnya mencuci piring, dan setelah majikannya tidak ada ditempat Anisa mulai menoleh ke arah Latifah.
"Mbak Lala, kenapa bilang begitu ke Ibu?" tanya Anisa dengan nada sedikit sengit.
"Ya, kan emang bener kamu yang sedang nyuci piring, jawabanku salah dimana," ungkap Latifah tanpa merasa bersalah.
"Lah, tapi kan kamu sendiri yang nyuruh aku, maksa lagi," ujar Anisa.
"Ya kalau itu resiko kamu, siapa suruh mau," sahutnya dengan enteng.
"Oh gitu ya, ternyata Mbak Lala selicik itu, aku gak nyangka," cetus Anisa.
"Yang licik itu siapa?" tanya Latifah tidak terima. "Aku hanya menjawab apa adanya, kan emang elu yang ada di cucian piring itu, salah gue dimana?" suara Latifah lebih meninggi.
Eni pun yang ada ditengah-tengah kedua temannya langsung melerai. "Sudah stop jangan berantem, kita ini di sini kerja bukan cari muka sama majikan," ucap Eni sedikit lantang.
Hening seketika, hanya suara kran air dan gelembung minyak panas yang terdengar, ketiga ART itu tidak melanjutkan lagi perdebatannya, mereka sama-sama fokus dengan tugasnya masing-masing.
Dan Anisa dia bekerja, tanpa banyak bicara. Karena hatinya masih sakit diperlakukan seperti itu dengan rekan sesamanya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 semua tugas selesai dengan sempurna, tak ada teguran lagi setelah kejadian tadi, hanya menyisakan lelah karena tidak tubuhnya saja yang capek hatinya juga.
Anisa masuk ke dalam kamarnya, ia duduk selonjoran di tengah-tengah ranjang kecilnya, tangannya refleks memijat kakinya yang sedikit pegal, karena kebanyakan berdiri.
"Ah, enak sekali," ucapnya sambil merasakan sendiri pijatan tangannya.
Ditengah-tengah ia memijat tiba-tiba saja handphone-nya berdering, tangannya refleks membuka kunci, dan nama yang muncul adalah Zaki. Siang ini pemuda itu melakukan video call lewat WA.
Anisa mulai menggeser tombol warna hijau lalu keduanya saling melihat wajah masing-masing.
"Assalamualaikum Anisa...," ucap Zaki dari seberang.
"Walaikum salam," sahut Anisa pelan.
Nada suara dan wajahnya terlihat seperti orang menahan kesal dan itu sangat dipahami oleh Zaki.
"Nis, kenapa?" tanya Zaki.
Anisa tidak langsung menjawab, ia terdiam cukup lama menanting ucapannya. "Gak kenapa-napa," sahut Anisa.
Zaki menatap layar ponselnya lebih saksama, ia tahu ada yang disembunyikan dari Anisa.
“Nis,” suaranya melembut, “kamu nggak pandai bohong.”
Anisa tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. Ia memalingkan wajah sedikit dari kamera.
“Cuma capek aja,” katanya akhirnya.
“Capek kerja… atau capek hati?”
Pertanyaan itu seperti membuka bendungan yang selama ini sudah ditahan. Lalu tanpa sadar mulai bercerita. Tentang cucian piring yang ditinggal bukan karena maunya, juga tentang kenapa ia disalahkan dan teman yang melempar kesalahan padanya.
“Aku cuma nggak enak nolak orang, Ki,” ucapnya lirih. “Tapi jadinya aku yang kena.”
Zaki diam. Rahangnya mengeras pelan.
Ia membayangkan Anisa berdiri lama di dapur, tangannya terendam air sabun, dimarahi bukan karena salahnya.
“Apa sering kayak gitu?” tanyanya hati-hati.
Anisa menggeleng kecil. “Ya namanya kerja… pasti ada aja.”
Jawaban itu terdengar sederhana, Anisa tidak mengeluh berlebihan ataupun menyalahkan nasib, ia hanya bercerita apa adanya, dan justru itu yang membuat dada Zaki terasa sesak.
Selama ini ia hidup dengan meja makan bersih, piring rapi, tanpa pernah memikirkan siapa yang berdiri lama di balik dapur. Dan perempuan yang sedang menatapnya sekarang… adalah salah satu dari mereka.
“Nis,” suara Zaki berubah lebih dalam, “kamu nggak pantas diperlakukan sembarangan.”
Anisa tersenyum kecil. “Aku cuma kerja, Ki. Itu memang tugasku.”
“Bukan itu maksudku.”
Zaki menahan diri. Ia ingin mengatakan lebih banyak. Ingin bilang bahwa suatu hari ia tak akan membiarkan Anisa kelelahan seperti itu lagi.
Tapi ia tahu belum waktunya.
“Aku pengin kamu tahu,” lanjutnya pelan, “aku bangga sama kamu.”
Anisa terdiam. Jarang ada orang yang mengatakan itu padanya, karena ia sadar diri dengan posisinya yang hanya seorang pembantu.
“Kenapa bangga?” tanyanya pelan.
“Karena kamu tetap baik walau diperlakukan nggak adil.”
Kalimat itu membuat mata Anisa benar-benar berkaca-kaca, selama hidup ia tidak pernah merasa kasih sayang, seperti yang dikasih Zaki, bahkan dari orang terdekat pun ia jarang mendapat dukungan itu.
"Makasih banyak ya," ucap Anisa di sela-sela panggilan terakhirnya.
Dan saat panggilan itu berakhir, Zaki duduk lama di tepi ranjangnya. Ia tidak lagi hanya menyukai Anisa, bahkan timbul di benak lelaki itu ingin melindungi, bukan karena iba atau kasihan, tapi karena Zaki merasa jika Anisa terlalu berharga untuk dibiarkan menghadapi dunia sendirian.
“Kalau harus melawan siapa pun… aku siap,” gumamnya.
Ia bahkan tak lagi memikirkan penolakan orang tuanya, yang tidak merestui hubungannya, dan yang ada di pikirannya saat ini hanya: Anisa.
"Untukmu, mulai sekarang aku harus cari kerja Nis," ucap Zaki penuh tekad.
Bersambung .....
Pagi ...
Semoga suka ya...