NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:43.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Meski kebenaran mulai terungkap, tentunya Nara tidak ingin Karina bisa lepas begitu saja, Nara ingin sedikit bermain-main dengan Karina.

Nara ingin melawan, dengan cara cerdas.

“Aku punya ide,” ucap Nara saat mereka sedang duduk berdua dengan Arkan.

Arkan menatap Nara dengan tatapan curiga. “Ide seperti apa?” tanya Arkan.

“Kita berakting.” kata Nara.

Arkan mengernyit. "Maksudnya?" tanya Arkan.

“Nanti pasti Karin datang lagi, kita buat seolah-olah aku marah besar sama kamu. Seolah rumah tangga kita retak.” Mata Nara tajam tapi tenang. “Kalau tujuannya memang mau bikin hubungan kita renggang, dia pasti muncul lagi buat memastikan.” lanjut Nara.

Arkan terdiam beberapa detik. Lalu perlahan ia tersenyum tipis.

“Kamu menyeramkan kalau serius begini.” kata Arkan.

Nara membalas dengan senyum kecil.

“Aku cuma pengen sedikit bermain-main.” kata Nara.

Awalnya Arkan tidak setuju, tapi setelah Nara membujuk. Akhirnya Arkan setuju.

Beberapa hari setelah Karina menunggu kabar dari Nara, tapi sama sekali tidak ada kabar, bahkan Karina tidak mendengar ada konflik. Apalagi Karina juga sulit mendapatkan informasi, di rumah Arkan tidak ada yang bisa di jadikan mata-mata, Karina hanya tahu kalau pesta pernikahan akan tetap di adakan.

Karena tidak mau rencananya berlalu tanpa kabar. Lalu, siang hari itu, Karina memutuskan kembali ke rumah Arkan. Karin yakin kalau Nara tidak bicara dengan Arkan, karena Karin yakin kalau Nara membicarakan apa yang di katakannya, pasti Arkan akan mencarinya.

Karin menekan bel rumah Arkan. Sedangkan di dalam rumah, Nara sudah bisa menebak siapa yang berdiri di depan pintu.

Benar saja, saat Nara membuka pintu, Karina berdiri disana. Kali ini wajahnya tampak lebih percaya diri. Seolah datang untuk melihat hasil kerusakan yang ia buat.

Nara membuka pintu dengan ekspresi datar.

“Ada perlu apa lagi?” tanya Nara tanpa basa-basi.

Karina tersenyum samar. “Aku cuma mau memastikan… kamu sudah bicara sama Arkan, kan?” Nada suara Karin terdengar seperti seseorang yang menunggu kabar baik, bukan untuk Nara, tapi untuk dirinya sendiri.

Nara menunduk sejenak. Lalu menghela napas panjang.

“Silahkan masuk, kita bicarakan didalam." ucap Nara pelan.

Mata Karina langsung berbinar, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Oh…” jawab Karin yang kemudian melangkah masuk.

Di ruang tamu, suasana memang dibuat sengaja tidak sehangat biasanya. Beberapa barang dekorasi sengaja dipindah. Tidak ada foto Nara dan Arkan berdua yang terpajang di meja seperti waktu Karin datang pertama kali.

“Aku tidak tahu harus bagaimana,” lanjut Nara pelan, seolah menahan tangis.

“Kalau memang itu anaknya…” lanjut Nara.

Karina menyandarkan punggung dengan santai.

“Aku cuma memperjuangkan hak anakku,” ucap Karin, tapi nada suaranya mengandung kemenangan kecil.

Tepat saat itu, suara pintu utama terbuka. Arkan masuk. Wajahnya sengaja dibuat tegang.

“Karin? Ada perlu apa datang kesini?” tanya Arkan yang seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi.

Karina berdiri. “Aku cuma ingin..." Karin agak bingung karena tidak tahu situasinya, apakah Nara sudah cerita atau belum.

Arkan melirik Nara sekilas. Nara menangkap kode itu.

"Silahkan di bicarakan." kata Nara, dan Arkan pura-pura bingung, sedangkan Nara berdiri, pura-pura emosional, lalu berjalan cepat menuju kamar.

Karina mematung, menyaksikan adegan itu dengan tatapan yang sulit disembunyikan. Yaitu rasa puas.

Arkan mengembuskan napas berat. “Ada yang perlu kita bicarakan?" tanya Arkan, karena disini Arkan berakting kalau Nara belum memberitahu apa yang terjadi, jadi seolah-olah rumah tangga Arkan dan Nara kurang komunikasi.

Karina menatap Arkan lama. Dan di momen itulah, tanpa Karina sadari, ia sedang masuk lebih dalam ke permainan yang Nara siapkan.

Karena kali ini, Nara tidak hanya ingin membuktikan kebohongan. Ia ingin membuat Karin lengah.

Dan ketika saatnya tiba, kebenaran akan menghancurkan lebih keras daripada kebohongan yang Karin ciptakan.

Karina pulang hari itu dengan langkah ringan. tanpa memberitahu Arkan apa tujuannya. Di mata Karin, rumah tangga Nara dan Arkan sudah retak. Ekspresi “marah” Nara, dan ekspresi bingung dari Arkan, membuat Karin merasa menang.

Tanpa menyadari bahwa yang Karin lihat hanyalah panggung sandiwara.

Beberapa hari kemudian, Nara sendiri yang menghubungi Karina. Bukan dengan nada marah. Bukan dengan ancaman. Tapi dengan satu kalimat singkat yaitu "Kita perlu bicara. Sekali saja."

Karina datang dengan percaya diri yang sama seperti sebelumnya. Karin duduk tanpa ragu, menyilangkan kaki, seolah sudah menguasai keadaan.

Nara kali ini tidak berakting. Ia duduk tegak, tatapannya tenang.

Di meja, sudah tersusun rapi bukti, hasil analisis forensik digital, cetakan meta data foto, dan salinan rekaman CCTV dengan time stamp jelas.

Karina sempat mengernyit melihat tumpukan dokumen yang dibawa Nara.

“Apa ini?” tanya Karin.

Nara mendorong satu berkas ke arah Karin.

“Kebohongan kamu.” jawab Nara.

Wajah Karina berubah. Nara melanjutkan dengan suara stabil, “Foto itu hasil edit. Meta datanya tidak sinkron. Bayangan cahaya berbeda arah. Dan di tanggal yang kamu sebut, Arkan ada di rumah. Terekam CCTV rumah.”

Hening. Beberapa detik yang terasa panjang.

Karina berusaha tersenyum. “Kamu percaya begitu saja sama dia?”

Nara tidak terpancing. “Apa sebenarnya tujuan kamu?” tanya Nara akhirnya.

Karina terdiam, lalu tawanya keluar, bukan tawa bahagia, tapi getir.

“Apa tujuanku kamu tanya?” suara Karin meninggi.

“Aku bahkan susah payah untuk bisa setara dengan Arkan. Aku bangun nama. Aku jaga citra. Aku dekati dia lewat kerja sama. Tapi dia sama sekali tidak melirikku!” jawab Karin. Napasnya memburu.

“Sedangkan kamu?” lanjut Karin tajam.

“Anak kemarin yang jadi pembantu di rumah Arkan. Sekarang jadi nyonya?” Kata-kata itu sengaja ditekankan. Tapi Nara tidak runtuh.

Nara memang tahu. Posisinya sekarang mudah mengundang iri.

Dari luar, Nara terlihat seperti gadis beruntung yang tiba-tiba naik derajat. Padahal tidak ada yang tahu proses, rasa, dan perjalanan di baliknya.

Nara berdiri perlahan.

“Jadi ini soal harga diri kamu?” tanya Nara pelan.

“Atau soal kamu tidak terima ditolak?” lanjut Nara.

Karina mengepalkan tangan. “Kamu tidak tahu rasanya diabaikan.” kata Karin.

Nara tersenyum tipis. “Kamu salah. Aku tahu rasanya diremehkan. Di kampus. Di lingkungan. Bahkan mungkin sekarang oleh kamu.” Nara menatap Karina lurus.

“Tapi aku tidak menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih tinggi.” lanjut Nara.

Kalimat Nara membuat Karina membisu.

Nara melanjutkan, “Kamu bisa bangun kariermu dengan kerja keras. Tapi kamu memilih menghancurkan orang lain supaya terlihat menang.”

Udara didalam ruangan terasa berat. Kali ini Karina tidak terlihat seperti influencer percaya diri. Ia terlihat seperti perempuan yang kalah oleh ambisinya sendiri.

“Kalau kamu masih menyebarkan fitnah ini,” suara Nara kini lebih tegas, “kami akan menempuh jalur hukum.”

Tidak ada ancaman kosong di sana. Hanya kepastian.

Karina berdiri, wajahnya kesal dan merah. “Kamu pikir kamu menang?”

Nara menatap Karin tenang. “Bukan soal menang atau kalah. Ini soal harga diri.”

"Dan sepertinya untuk saat ini kebohongan seperti yang kamu buat sudah terlalu basi, semuanya bisa di buktikan, kamu bilang tidur dengan suamiku, sampai punya anak, prosesnya tidak mudah, kamu terlalu berani dan terlalu meremehkan aku." kata Nara yang membuat Karina pergi tanpa pamit.

Dan Nara tetap berdiri di ruang tamu rumahnya, menatap Karina yang pergi dengan sendirinya.

1
ollyooliver
arkan gk ikut hempaskan pelakor? sayang banget
ollyooliver
bagusnya berekting kalau nara sdh memberitahukan arkan..supaya lebih terlihat kalau mereka bertengkar..dan arkan merasa bersalah pd nara tapi nara terlanjur marah dan pergi.
Cherry Land
tapi arkan juga malah ikutan ragu..wkwkkwkw
Cherry Land
aduhh..gk konsisten. dia bilangnya gk pernah nyentuh. tapi masih mempertanyakan itu kebohongan atau bukan..pretttt🤣
ollyooliver
lah si hana bukannya mantan terindahnya?
ollyooliver
yg jelas dong kalimatnya, diatas seperti mengakui kalau dia sdh berhubungan dan sampai punya anak..lah disini malah lain. coba thor baca bae" kalimatnya setelah nara bilang "berarti memang pernah"..trus kebawa sampai kalimat tdk konsisten ini muncul🫠
ollyooliver
lah ternyata mantan perjaka🤢
ollyooliver
SUAMIMU KAYA NARA..K.A.YA. R.A.Y.A😌
Yel
lanjut kakk sampe tamat pls 🥹 ceritanya baguss
Erunisa: udah up ya...🤭
total 1 replies
Linda Muslimah
kak tdk ada kelanjutannya 🤭
Risma Surullah
Tdk ada penyelesaian
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semangat arkan
Linda Muslimah
lanjut kak 🙏😍
nur adam
ada visual dong thoor bisr lebih menarik
nur adam
crita bgs yg bc sedikit sayang bgt
Erunisa: Terima kasih kaka 😍
total 1 replies
kartini aritonang
Wih wih...pak dosen ikut sama arka? artinya Zaky juga pengusaha ya thor ?
Mita Paramita
mungkinkah Nara hamil 🤨🤨🤨
Drama Queen
Lanjut kak
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!