NovelToon NovelToon
Beyond The Sidelines

Beyond The Sidelines

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Mega L

Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Digital dan Rasa yang Tersembunyi

Malam semakin larut, namun suasana di dalam grup WhatsApp komunitas hockey kota masih sangat ramai. Notifikasi ponsel Vilov terus berbunyi tanpa henti, menandakan rentetan foto dan video keseruan acara tadi baru saja diunggah oleh admin. Postingan tersebut penuh dengan momen-momen emosional; mulai dari selebrasi kemenangan, tangisan haru di lapangan, hingga kemeriahan saat pembagian medali di aula.

​Namun, dari sekian banyak foto yang beredar, hanya ada satu foto yang membuat jempol Vilov berhenti menggulir layar. Foto itu adalah jepretan Tije yang memperlihatkan dirinya berdiri berdampingan dengan Putra. Walaupun Vilov dikenal sebagai gadis yang hobi meledek dan jahil kepada Putra, jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa senang yang menguncang setiap kali ia melihat foto itu.

​Vilov menatap layar ponselnya dengan binar mata yang berbeda. Ia memperhatikan setiap detail dalam foto tersebut; bagaimana tangan Putra yang tampak canggung di sampingnya, dan bagaimana medali yang ia pegang memantulkan cahaya lampu aula. Tanpa sadar, ia melihat foto itu berulang kali tanpa ada rasa bosan sedikit pun. Seolah-olah, setiap kali ia melihatnya, ia kembali merasakan perasaan aneh saat Putra berdiri begitu dekat dengannya.

​Dengan gerakan cepat seolah takut ketahuan, Vilov langsung menekan tombol download untuk menyimpan foto itu ke dalam galeri pribadinya. Ia ingin memastikan foto itu tidak hilang tertimbun percakapan grup.

​"Lucu banget ya fotonya... tapi kok muka gue kaku banget begini? Bener kata Tije, sudah kayak kanebo kering yang baru keluar dari bungkusnya," gumam Vilov dalam hati sambil sedikit merengut, memperhatikan wajahnya yang tampak tegang namun tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.

​Saat Vilov sedang asyik memandangi layar ponselnya dengan senyum-senyum sendiri dan fokus yang sangat dalam, sebuah bayangan tiba-tiba muncul dari samping.

​"Hayoo! Fokus banget, liatin apaan sih?" seru sebuah suara berat yang sangat ia kenali.

​"Ihh, Putra! Kebiasaan banget deh ngagetin orang!" teriak Vilov spontan. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya karena saking kagetnya. Dengan gerakan refleks, ia segera mematikan layar ponsel dan menyembunyikannya di balik punggung, berharap Putra tidak sempat melihat apa yang sedang ia pandangi.

​Putra menyipitkan matanya, menatap Vilov dengan penuh rasa penasaran yang menggelitik. "Lagi apa sih lu? Serius banget sampai nggak sadar gue berdiri di sini dari tadi."

​Vilov mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu kencang, bukan karena kaget saja, tapi karena sosok yang di dalam foto sekarang sedang berdiri nyata di depannya. "Mau tahu saja, atau mau tahu banget?" tantang Vilov dengan gaya angkuhnya yang dibuat-buat untuk menutupi kegugupan.

​Putra mendengus, lalu memutar bola matanya malas. "Dih, nggak usah dijawab kalau gitu. Sudah nggak mood gue nanyanya," ucap Putra sambil berbalik, berpura-pura ingin meninggalkan Vilov.

​"Ih, kok marah? Hahaha, gitu aja pundung!" ledek Vilov sambil tertawa renyah, mencoba mencairkan suasana.

​Putra hanya memberikan lirikan tipis sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk benar-benar meninggalkan aula karena acara telah selesai sepenuhnya. Angin malam bertiup lebih kencang saat mereka berjalan menuju parkiran motor. Di tengah perjalanan pulang yang membelah jalanan kota yang mulai sepi, Vilov yang duduk di boncengan tiba-tiba merasa ingin menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal di benaknya.

​"Eh, Put... gue boleh tanya sesuatu nggak?" suara Vilov sedikit teredam oleh helm, namun tetap sampai ke telinga Putra.

​"Tanya apa? Tumben serius banget," sahut Putra sambil tetap fokus menatap jalanan di depan.

​"Lu... lu nggak ada lagi deket sama siapa gitu, Put? Maksud gue, cewek lain dari sekolah lu atau mungkin dari tim hockey lain?" tanya Vilov sesantai mungkin, meski hatinya berdebar menunggu jawaban.

​Putra terdiam sejenak, hanya suara deru mesin motor yang mengisi kekosongan di antara mereka selama beberapa detik. "Kaga ada. Kenapa emangnya?" jawab Putra singkat namun lugas.

​Mendengar jawaban itu, Vilov hanya mengangguk kecil di balik punggung Putra. Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya, sebuah kepuasan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ternyata, posisi "paling dekat" dengan Putra saat ini memang masih miliknya.

​Tak lama kemudian, motor Putra berhenti tepat di depan pagar rumah Vilov. Vilov turun dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Ia melepas helm dan memberikannya kepada Putra.

​"Makasih ya, Put. Buat hari ini, buat jemputannya, dan buat... semuanya," ucap Vilov dengan tulus.

​Putra menerima helm itu dan mengangguk pelan. "Iya, sama-sama. Sudah sana masuk, mandi lagi kalau perlu, terus langsung tidur. Badan lu butuh istirahat setelah jadi pahlawan lapangan tadi."

​"Iya, Bapak Putra yang terhormat! Safe flight ya, eh, maksudnya hati-hati di jalan!" canda Vilov sebelum akhirnya melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah.

​Langkah Vilov terasa ringan saat menaiki tangga menuju kamarnya. Begitu sampai di dalam, ia langsung meregangkan badannya di atas kasur empuk yang sudah ia rindukan seharian ini. Rasa lelah yang teramat sangat mulai menyerang persendiannya, namun matanya masih enggan terpejam.

​Tangannya kembali meraih ponsel yang ia letakkan di samping bantal. Seperti ada magnet yang kuat, jarinya kembali membuka aplikasi galeri. Ia kembali menatap foto mereka berdua. Foto di mana mereka berdua tampak malu-malu, dengan medali juara yang mengalung di leher masing-masing.

​Vilov tersenyum kecil. Ia teringat bagaimana perjuangan mereka di lapangan, bagaimana Putra memberikan semangat lewat isyarat tangan, dan bagaimana cowok itu membantunya melepaskan perlengkapan kipernya dengan begitu perhatian. Di balik sikap cuek dan dinginnya Putra, Vilov tahu ada sisi hangat yang hanya ditunjukkan kepadanya.

​Malam itu, ditemani temaram lampu kamar, Vilov tertidur dengan ponsel yang masih berada dalam genggamannya. Di layar ponsel itu, masih terpampang foto dirinya dan Putra—sebuah jejak digital yang menjadi bukti bahwa di balik persahabatan yang penuh ledekan, ada rasa yang mulai tumbuh dan berakar lebih dalam dari yang mereka berdua bayangkan.

Vilov terus memandangi foto itu hingga matanya terasa mulai memanas karena kantuk. Ia memperbesar (zoom) bagian wajah Putra, memperhatikan garis senyum tipis yang jarang sekali ditunjukkan cowok itu di depan umum. Ada rasa bangga yang menyelinap di relung hatinya; rasa bangga karena ia bisa berada di posisi yang begitu dekat dengan seseorang sedingin Putra.

​"Besok kalau di sekolah, bakal makin rame nggak ya ledekan anak-anak?" gumamnya pelan pada langit-langit kamar yang sunyi. Ia membayangkan bagaimana Tije dan Tika tidak akan membiarkannya bernapas tenang tanpa membahas momen foto "kanebo" tersebut.

​Vilov kemudian memeluk bantal gulingnya dengan erat, menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas sendiri karena membayangkan kemungkinan-kemungkinan manis yang akan terjadi besok. Meskipun badannya terasa remuk setelah jatuh bangun menjaga gawang di babak final, namun entah mengapa hatinya terasa begitu ringan, seolah-olah ia baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar piala hockey.

​Dengan jempol yang masih sesekali mengusap layar ponsel, Vilov akhirnya membiarkan dirinya terhanyut ke alam mimpi. Ia tertidur dengan sebuah senyuman kecil yang masih tertinggal di bibirnya, membawa kenangan tentang harum jaket Putra dan kilauan medali emas yang ia raih hari ini. Hari yang panjang itu pun berakhir dengan tenang, menyisakan sebuah harapan baru untuk hari esok yang mungkin akan membawa hubungan mereka ke tingkat yang lebih bermakna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!