Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 18
Fajar bahkan belum sepenuhnya merekah di cakrawala timur ketika Cao Xiang telah meninggalkan kediaman megah keluarga Cao. Derap ratusan kaki kuda yang perkasa memecah kesunyian pagi yang dingin, membawa sang Jenderal Besar menuju perbatasan utara bersama pasukan pilihan yang telah bersumpah setia padanya.
Wajah Cao Xiang tetap tenang seperti permukaan danau yang membeku, namun dibalik keteguhan sang Jenderal sejati itu, tersimpan kekhawatiran yang tak pernah diucapkan dalam kata-kata. Kekhawatirannya bukan tentang medan perang yang ganas atau tajamnya pedang musuh, melainkan tentang dua anaknya yang ia tinggalkan di Kota Yibei di tengah situasi politik yang mulai memanas.
Cao Qiang kini berada di rumah, ditemani oleh guru pembimbing pribadinya yang bijak, He Jian, serta para pelayan dan penjaga kepercayaan keluarga. Meskipun bocah itu terlihat patuh dan tenang saat melakukan rutinitas paginya, pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Ia tahu ayah dan kakaknya sedang menjalankan tugas besar negara, dan untuk pertama kalinya dalam ingatannya, rumah keluarga Cao terasa jauh lebih sunyi dan hampa dari biasanya tanpa kehadiran mereka berdua.
Sementara itu, di gerbang selatan Kota Yibei yang agung, iring-iringan kerajaan telah bersiap dengan sempurna. Barisan prajurit elit berdiri tegak dengan perlengkapan tempur yang berkilau. Zirah besi mereka yang kokoh memantulkan cahaya pagi yang keemasan, busur panjang dan tombak berujung runcing terpasang rapi di punggung dan tangan mereka, sementara perisai besar digantungkan di sisi pelana kuda masing-masing. Setiap prajurit dalam rombongan ini adalah hasil seleksi yang sangat ketat, mereka bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga terlatih secara khusus untuk menghadapi serangan mendadak dari para musuh.
Empat kereta kuda yang megah berjejer rapi dalam formasi yang penuh taktik. Kereta pertama yang terlihat mewah membawa perbekalan dan barang-barang penting, sengaja ditempatkan di paling depan sebagai umpan sekaligus pengalih perhatian utama.
Kereta kedua tampak kosong namun dijaga sangat ketat oleh pasukan berkuda, disiapkan khusus untuk mengecoh musuh yang mungkin mengandalkan pengintaian jarak jauh. Menariknya, kereta ketiga, yang penjagaannya terlihat paling longgar di antara yang lain, justru merupakan kereta yang membawa Raja Yan Liao bersama Permaisuri Bai Ling Yin. Dan di posisi paling belakang, sedikit terpisah namun tetap dalam jangkauan formasi, adalah kereta yang membawa Cao Yi.
Pembagian formasi ini bukan tanpa alasan strategis. Jika yang menghadang iring-iringan hanyalah gerombolan perampok biasa atau pendekar tingkat rendah, dua puluh prajurit elit di barisan depan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan mereka dalam sekejap. Bahkan bila sasaran sebenarnya adalah sang Raja, musuh masih harus menembus dua lapis pengawalan elit yang berlapis sebelum bisa mendekati kereta ketiga. Namun, semua perhitungan militer itu akan runtuh jika musuh memiliki lebih dari lima orang Pendekar Ahli, sebuah kekuatan bela diri yang tidak bisa diremehkan oleh pasukan kerajaan mana pun.
Karena itulah Cao Yi ditempatkan di kereta paling belakang. Serangan dari arah belakang hampir selalu menjadi pilihan utama para pendekar berpengalaman yang menyukai taktik penyergapan. Di sanalah biasanya pertahanan dianggap paling lengah, dan di sanalah Cao Yi memilih untuk berdiri sebagai benteng terakhir.
Di belakang keretanya, dua puluh Prajurit Elit pilihan menjaga garis akhir formasi dengan waspada, siap menutup jalan mundur siapa pun yang berani mencoba mengusik rombongan tersebut.
Perjalanan awal berlangsung sangat lancar, diiringi suara kicauan burung dan udara segar pedesaan. Namun, semakin jauh iring-iringan itu meninggalkan kemegahan Kota Yibei, suasana berubah secara perlahan menjadi mencekam. Jalanan yang mereka lalui menjadi semakin sepi dan gersang.
Tidak ada lagi pemukiman rumah penduduk, tidak ada ladang gandum yang menghijau, bahkan burung-burung pun seolah enggan terbang di wilayah ini. Yang tersisa hanyalah hamparan savana luas dengan rumput tinggi yang bergoyang-goyang pelan tertiup angin, diselingi bunyi serangga yang terdengar terlalu jelas dan tajam di tengah keheningan yang tidak wajar.
Permaisuri Bai Ling Yin membuka sedikit tirai jendela kereta sutranya dan memandang ke luar dengan penuh kecemasan. “Letnan Bai, kita sudah sampai sejauh mana dalam peta perjalanan ini?” tanyanya dengan suara lembut, namun nada suaranya menyiratkan kewaspadaan yang tinggi.
Letnan Bai Wang bukan sekadar perwira biasa. Ia adalah kerabat jauh Permaisuri Bai Ling Yin, seseorang yang sejak lama telah dipercaya oleh keluarga kerajaan untuk tugas-tugas rahasia. Dalam rombongan penting ini, Bai Wang menjabat sebagai Kapten Pasukan Elit, pemegang komando penuh atas seluruh unit pengawalan perjalanan, dan bertanggung jawab langsung atas keselamatan nyawa Raja Yan Liao serta sang Permaisuri. Meskipun kemampuannya baru berada di Tingkat Pendekar Terlatih,
Bai Wang dikenal sebagai sosok yang sangat berhati-hati, berpengalaman luas dalam taktik lapangan, dan memiliki naluri yang sangat tajam terhadap bahaya yang mengintai.
Letnan Bai Wang segera memacu kudanya mendekati jendela kereta dan menundukkan kepala dengan hormat. “Yang Mulia, saat ini kita telah memasuki pinggiran wilayah Desa Memping. Jika perjalanan tetap lancar dan aman, kita diprediksi akan tiba di desa itu menjelang malam dan akan bermalam di sana untuk memulihkan tenaga.”
“Memping…” gumam Bai Ling Yin dengan dahi sedikit berkerut. “Entah mengapa, jalannya terasa terlalu sunyi dan hampa.”
“Benar, Yang Mulia,” jawab Bai Wang dengan jujur tanpa menutupi kekhawatirannya. “Namun ini adalah satu-satunya jalur utama yang bisa kita lewati menuju wilayah selatan. Wilayah savana ini memang dikenal rawan akan aksi pembegalan oleh kelompok bayaran. Mohon Yang Mulia tetap berada di dalam kereta dan jangan pernah keluar apapun yang terjadi sebelum kami dari pihak keamanan memastikan keadaan benar-benar aman.”
Permaisuri mengangguk pelan, lalu menutup kembali tirai tersebut. Ia segera menyampaikan informasi itu kepada Raja Yan Liao yang duduk di sampingnya. Sang Raja mendengarkan dengan seksama tanpa banyak bicara, matanya terpejam seolah sedang beristirahat, namun napasnya sangat teratur dan stabil, sebuah tanda bagi mereka yang mengenalinya bahwa kesadaran sang Raja sebenarnya sedang sepenuhnya waspada pada setiap suara di luar.
Di kereta paling belakang, suasana terasa sangat berbeda. Cao Yi duduk tenang dengan mengenakan gaun hitam sederhana yang menyamarkan jati dirinya. Sebuah kipas hitam yang tampak biasa terselip di pinggangnya, sementara matanya terpejam seolah ia sedang tertidur pulas dalam perjalanan yang membosankan ini.
Bersamanya di dalam kereta tersebut, ada tiga wanita paruh baya yang menjadi pelindung tambahan dari kalangan pendekar istana. Mereka semua adalah Pendekar Tingkat Ahli yang telah melewati lebih dari empat puluh musim penuh darah dan pertarungan pedang.
Meng Xin, wanita dengan cambuk hitam panjang melilit di pinggangnya, sesekali melirik Cao Yi dengan sorot mata yang penuh penilaian dan sedikit skeptis. Ia sama sekali tidak bisa merasakan fluktuasi aura kekuatan apa pun dari gadis muda di hadapannya, dan justru kekosongan itulah yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Sangat aneh,” batin Meng Xin dengan penuh tanda tanya. “Jika gadis ini benar-benar selemah kelihatannya, bagaimana mungkin Paduka Raja mempercayainya ikut dalam perjalanan berbahaya ini dan menempatkannya di posisi yang sangat krusial?”
Tang Ruo, pendekar pedang yang sejak tadi duduk bersila dengan mata terpejam, tiba-tiba membuka matanya secara mendadak. Sorot matanya menjadi sangat tajam, dan tubuhnya yang anggun menegang seolah siap meledak kapan saja. “Hentikan kereta jika perlu,” katanya dengan suara pelan namun sangat tegas yang memecah kesunyian di dalam kabin. “Aku merasakan ada yang sedang mengawasi kita dari kegelapan rumput savana itu.”
Dua rekannya, Qing Fei dan Meng Xin, langsung memfokuskan seluruh indra pendengaran dan persepsi energi mereka ke arah luar. Detik berikutnya, ekspresi wajah keduanya berubah drastis menjadi tegang. Dari balik rimbunnya rumput savana dan lipatan tanah di kejauhan, ada fluktuasi energi yang sangat halus, terkontrol dengan baik, dan jelas bukan milik binatang liar ataupun orang biasa.
Namun, sebelum mereka sempat menyampaikan temuan indra mereka, suara Cao Yi tiba-tiba terdengar, memotong kesunyian dengan nada yang sangat tenang dan datar.
“Ada empat orang Pendekar Ahli, tujuh orang Pendekar Terlatih, belasan Pendekar Pemula yang menyebar, dan sisanya adalah orang-orang biasa yang mungkin hanya bertugas sebagai pembawa barang atau pengalih perhatian.”
Ketiga wanita pendekar itu tersentak kaget dan saling pandang dengan rasa tidak percaya. Mereka memang merasakan adanya keberadaan musuh, namun tak satupun dari mereka yang memiliki kemampuan persepsi yang begitu tajam hingga mampu menghitung jumlah dan tingkat kekuatan musuh dengan begitu rinci dalam sekali sapuan indra. Meng Xin menoleh tajam ke arah Cao Yi, sebuah senyum tipis yang meremehkan terukir di bibirnya yang keras.
“Hmp. Bagaimana mungkin gadis kecil sepertimu bisa tahu sejauh dan serinci itu? Jangan-jangan kau hanya bicara sembarangan karena ketakutan,” sindir Meng Xin.
Cao Yi bahkan tidak membuka matanya untuk menanggapi sindiran itu. Napasnya tetap sangat stabil, wajahnya tampak damai dan tanpa riak emosi sedikit pun, seolah-olah ancaman pembunuhan dari puluhan pendekar di luar sana hanyalah semilir angin pagi yang lewat begitu saja.
Sikap tenang yang dianggap sombong itu membuat dada Meng Xin terasa panas karena egonya terusik. Ada dorongan kuat di hatinya untuk menguji kekuatan gadis itu di tempat, untuk menunjukkan siapa yang lebih berpengalaman dalam urusan hidup dan mati. Namun, ia berhasil menahan diri karena ia sadar ini bukan tempat untuk memuaskan ego pribadi.
Di kejauhan, rumput savana mulai bergoyang lebih kuat dari sebelumnya, meskipun angin sedang tidak bertiup kencang. Para prajurit elit yang mengawal rombongan mulai merasakan keganjilan yang sama.
Tangan-tangan mereka mulai mengencang di gagang senjata, sementara kuda-kuda mereka mulai meringkik pelan dan gelisah, seolah ikut merasakan hawa membunuh yang perlahan mendekat dari balik bayangan.
Tanpa sedikit pun membuka matanya, Cao Yi berbicara sekali lagi dengan suara rendah namun terdengar sangat jelas di telinga ketiga pendekar wanita tersebut.
“Mereka tidak berniat menyerang rombongan ini sekarang. Mereka sangat cerdik. Mereka sedang menunggu kita untuk masuk lebih dalam lagi ke lembah savana di depan... menuju sebuah titik jebakan di mana tidak akan ada lagi jalan kembali bagi kita.”
Ketiga pendekar wanita itu terdiam dalam keraguan yang mendalam. Mereka sulit mempercayai kata-kata seorang gadis muda yang tampak rapuh, namun insting veteran mereka juga membisikkan hal yang sama.
Mereka mulai menyadari satu hal yang pasti, perjalanan menuju Kota Chuwei ini telah berubah secara permanen dari sekadar misi penyelidikan administratif menjadi sebuah permainan catur hidup dan mati di mana satu langkah salah akan berakhir dengan banjir darah.