Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Renan Masak?
Laporan terakhir akhirnya tertutup di layar tablet.
Renan menyandarkan punggung ke kursi, menekan pelipisnya sebentar sebelum berdiri. Jam di dinding menunjukkan lewat pukul lima sore. Hari hampir bergeser ke malam.
Ia melangkah menuju kamar.
Ayuna masih tidur.
Tubuhnya meringkuk ringan di bawah selimut, napasnya teratur. Wajahnya tampak lebih tenang dibanding beberapa jam lalu, meski sisa kelelahan masih jelas di sana. Renan berhenti sejenak di ambang pintu, tidak
masuk, tidak juga pergi.
Hari ini Mbak Yeni cuti.
Kesadaran itu muncul perlahan, yang artinya, tidak ada makan malam yang disiapkan.
Renan merogoh ponselnya. Aplikasi pemesanan makanan sudah terbuka, seolah refleks lama bekerja lebih cepat dari pikirannya. Tinggal beberapa sentuhan, semuanya bisa selesai.
Namun, jarinya berhenti.
Ia teringat ucapan dokter siang tadi. Tentang makanan. Tentang kandungan. Tentang apa saja yang sebaiknya dihindari.
Makanan cepat saji bukan pilihan.
Renan menutup aplikasi itu tanpa ragu.
Ia melirik kembali ke arah Ayuna yang masih tertidur, lalu berbalik menuju dapur.
Renan teringat meja makan yang sering dingin, bukan karena masakannya, tapi karena ia jarang duduk di sana.
Raut kecewa gadis itu membekas di matanya.
Setelah melewati hidup susah Renan tahu betapa kerasnya Ayuna memedulikannya. Gadis itu tak pernah lelah memasak setiap hari agar ia tidak kelaparan, namun ia tidak menghargainya.
Sayangnya, ia baru paham ketika kesempatan itu sudah lewat.
Renan membuka lemari es.
Ayam segar terbungkus rapi. Brokoli dan wortel tersusun di laci sayur. Ada kaldu bening di rak bawah, juga beras di pantry yang belum tersentuh.
Ia tidak memilih menu yang rumit.
Nasi putih hangat, ayam kukus dengan bumbu ringan dan tumis brokoli dan wortel.
Dan sup bening, sedikit saja, sekadar penutup yang menenangkan.
Renan mengangguk kecil, seolah mengonfirmasi keputusannya sendiri.
Ini bukan soal ingin dipuji.
Bukan soal ingin terlihat bisa.
Ini soal memastikan Ayuna tidak kelaparan malam ini.
Ia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, mencuci tangan, lalu mulai bekerja di dapur. Gerakannya tenang, terukur, tanpa ragu yang berarti.
Ia sedang memotong wortel ketika suara langkah terdengar dari belakang.
“Apa yang kamu lakukan?”
Renan langsung menoleh.
Ayuna berdiri di ambang dapur. Rambutnya masih sedikit berantakan, jelas baru bangun tidur. Matanya tertuju pada meja dapur, pada sayuran yang terpotong rapi, pisau di tangan Renan, dan api kompor yang menyala.
“Masak,” jawab Renan singkat.
Ayuna menatapnya, terkejut. Tidak percaya.
Selama dua tahun bersama, Renan tidak pernah melakukan ini. Bahkan memasuki dapur pun hampir tidak pernah.
“Kamu… bisa masak?” tanyanya ragu.
Renan kembali menoleh ke talenan, melanjutkan potongannya tanpa ekspresi berlebih.
“Aku bisa belajar,” katanya datar.
Ayuna terdiam.
Ia mengingat ucapan Renan di masa lalu bahwa ia tidak bisa memasak. Atau lebih tepatnya, tidak pernah perlu. Selama ini, semuanya selalu disiapkan oleh orang lain.
“Aku lihat caranya,” katanya singkat. “Nggak serumit yang kupikir.”
Renan tahu Ayuna pasti terkejut dan tidak percaya. Awalnya ia memang tidak bisa, bahkan pernah membakar dapur, tapi lama kelamaan dia terbiasa. Karena hidup tidak akan melayaninya, ia harus berusaha sendiri.
"Kenapa kamu nggak pesan makanan saja?" tanya Ayuna skeptis.
Ia benar-benar tidak percaya Renan bisa memasak hanya dengan melihat video di internet. Dan biasanya pria itu selalu memesan makanan secara online kalau tidak makan di restoran.
Renan melirik Ayuna sekilas. “Kamu hamil. Aku tidak mau ambil risiko.”
Kalimat itu keluar sederhana, tanpa nada lembut, tanpa penekanan. Tapi cukup untuk membuat Ayuna terdiam lebih lama.
Renan kembali fokus ke masakannya.
❀❀❀
Meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena canggung, melainkan karena keduanya sama-sama tidak terbiasa dengan suasana ini.
Ayuna duduk perlahan. Renan menarikkan kursi untuknya tanpa berkata apa-apa, lalu duduk di seberang.
Piring berisi nasi putih, ayam kukus, dan tumis brokoli wortel tersaji rapi. Uap tipis masih mengepul, membawa aroma ringan yang menenangkan.
“Ayo makan,” kata Renan singkat.
Ayuna mengangguk. Ia mengambil sedikit ayam kukus, meniupnya sebentar, lalu memasukkannya ke mulut.
Beberapa detik berlalu.
Alisnya mengernyit samar.
Bukan karena rasanya buruk. Justru sebaliknya, ayamnya lembut, tidak amis, bumbunya ringan. Tapi sebelum ia sempat menelan sepenuhnya, sensasi tak nyaman naik perlahan dari perut ke tenggorokan.
Ayuna menutup mulutnya cepat, menelan dengan susah payah.
Renan langsung memperhatikan.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya, suaranya rendah.
“Sedikit…” Ayuna berhenti sejenak, menarik napas pelan.
“Agak mual.”
Renan berdiri, menuang air hangat ke gelas, lalu menyodorkannya. Gerakannya cepat, refleks, seolah ia sudah menyiapkan kemungkinan itu sejak awal.
“Minum pelan-pelan.”
Ayuna menuruti. Beberapa teguk kecil cukup membuat dadanya terasa lebih lega.
“Maaf,” ucapnya lirih. “Makanannya enak, cuma…”
“Aku tahu,” potong Renan. “Kamu tidak salah.”
"Wanita hamil memang sensitif," imbuhnya.
Ia duduk kembali, mendorong piring ayam sedikit menjauh darinya, lalu memindahkan sup bening ke arah Ayuna.
“Coba ini dulu.”
Ayuna menatapnya sejenak sebelum mengangguk.
Sup bening itu hangat, ringan. Kali ini, perutnya tidak memberontak.
Renan memperhatikan tanpa menatap terlalu terang-terangan.
Malam itu, mereka makan tidak banyak. Tidak sempurna. Tidak seperti keluarga di iklan.
Tapi untuk pertama kalinya, Renan merasa usahanya tidak sia-sia.
❀❀❀
Malam sudah jauh melewati waktu tengah.
Ayuna terbangun perlahan, tenggorokannya terasa kering. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangan dengan remang lampu tidur. Tangannya bergerak ke sisi ranjang.
Kosong.
Tempat di sebelahnya dingin.
Ia sedikit mengernyit. Renan biasanya tidur larut, tapi setiap kali ia terbangun kehangatan pria itu selalu ada.
"Apakah dia belum tidur?"
Ayuna bangkit perlahan. Tanpa menyalakan lampu utama, ia meraih teko kaca berisi air hangat yang memang diletakkan Renan di meja kecil dekat ranjang. Ia minum beberapa teguk, pelan, menenangkan tenggorokan dan perutnya.
Setelah itu, entah kenapa, ia melangkah keluar kamar.
Rumah sunyi. Lampu-lampu sebagian besar sudah padam. Hanya satu cahaya temaram yang terlihat dari balik pintu ruang kerja.
Ayuna berhenti sejenak di depan pintu itu sebelum mendorongnya perlahan.
Renan ada di sana.
Ia tertidur dengan posisi duduk, tubuhnya sedikit condong ke depan, satu lengan terlipat di atas meja, kepalanya bersandar di sana. Rambutnya berantakan, kemeja yang tadi sore masih rapi kini kusut di bagian bahu.
"Ternyata ketiduran di sini," gumamnya lembut.
Ayuna melangkah masuk tanpa suara.
Di atas meja, berkas-berkas terbuka. Tablet menyala redup. Beberapa lembar kertas berserakan. Sketsa, ukuran, dan desain.
Cincin.
Ayuna terdiam.
Ia meraih salah satu gambar dengan hati-hati, seolah takut suara kertas saja bisa membangunkan Renan. Desainnya sederhana, elegan. Tidak berlebihan. Lekuknya halus, detailnya teliti.
Cantik.
Bukan jenis cincin yang mencolok, tapi yang terasa dipikirkan.
Ayuna menelusuri garis-garis itu dengan pandangan yang lebih lama dari yang ia sadari. Ia membayangkan bentuk akhirnya, bagaimana cincin itu akan terlihat ketika selesai dibuat.
Dadanya terasa menghangat, bercampur dengan sesuatu yang sulit ia beri nama.
Ia menoleh ke arah Renan.
Pria itu tidur begitu lelah, tanpa sadar bahwa Ayuna sedang berdiri hanya beberapa langkah darinya. Tidak ada ekspresi puas, tidak ada senyum. Hanya wajah seseorang yang kehabisan tenaga.
Apakah ia begadang semalaman hanya untuk ini?
Ayuna tidak tahu sejak kapan Renan mulai mengerjakan desain ini. Tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sini. Tidak tahu apakah cincin itu dibuat untuk segera diberikan, atau hanya sebagai persiapan diam-diam.
Yang ia tahu, Renan tidak sedang berusaha terlihat baik.
Ia mungkin benar-benar serius tentang pernikahan ini.
Ayuna meletakkan kembali kertas itu persis seperti semula. Ia tidak menyentuh apa pun lagi. Tidak membangunkan Renan.
Ia melirik sofa dan melihat selimut yang biasa dia gunakan tergeletak di sana. Dia pun mengambil selimut itu dan meletakkannya di punggung Renan.
Sebelum berbalik, ia menatap Renan untuk terakhir kalinya dan memastikan pria itu tidak terbangun.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Ayuna bertanya pada dirinya sendiri. Apakah perubahan Renan ini bukan karena ingin dimaafkan, melainkan karena akhirnya ia mengerti apa yang dulu ia hancurkan.
Ayuna menutup pintu ruang kerja itu perlahan.
Dan malam kembali sunyi.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta