Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Bukan Darah Dagingku.
"Kok Bapak sudah pulang jam segini?" Irma kaget melihat Rizal sudah kembali, padahal waktu baru menunjukan pukul delapan malam. Setahunya, suaminya yang berangkat jam tiga sore baru akan pulang pada pukul sebelas malam.
"Bapak sakit?" tanya Irma cemas.
"Tidak, Bu. Tadi Harry menelpon, katanya ada hal penting yang mau dia sampaikan kepada Bapak dan Ibuk, jadi Bapak izin pulang sebentar, nanti balik lagi," Rizal melepaskan sepatu safety nya di teras.
"Apa mungkin tentang Raya ya Pak? Tapi sore tadikan dia sudah pulang," Irma menduga-duga, mengekor di belakang suaminya.
Rizal berhenti di dekat sofa ruang tamunya, kepalanya langsung pusing melihat jaket kedua putrinya masih tergeletak asal di sandaran sofa, juga bungkusan-bungkusan cemilan yang berserakan di lantai menambah kacau pemandangan.
"Yuni, Lia, kemari!" teriaknya.
Walau dengan gerakan malas, dua gadis itu tetap bangun dari rebahan mereka, rasanya tak rela meninggalkan tontonan drama romantis dari negeri gingseng yang lagi seru-serunya di layar kaca.
"Apaan sih, Pak..." wajah Yuni terlihat kesal, begitu juga dengan adiknya Lia.
"Beresin jaket-jaket kalian juga sampah-sampah di lantai itu!" Perintah Rizal.
"Nanti, Pak... filmnya juga sebentar selesai kok, please...." rengek keduanya.
"Se-ka-rang!" tegas Rizal dengan mata melotot, membuat dua gadis itu merengut kesal.
"Mas Harry kalian bersama adiknya, si Pandji... Sebentar lagi akan tiba. Bapak bisa malu kalau mereka lihat rumah kita laksana kapal pecah seperti ini."
"Apa, mas Pandji sebentar akan kesini?" Mata kedua gadis itu membola mendengar nama adik sepupu dari kakak ipar mereka.
Yuni dan Lia memang diam-diam menyukai Pandji. Di sekolah mereka, ada dua kakak kelas yang malah diam-diam sudah bertunangan dengan pria yang profesinya sebagai seorang prajurit.
"Iya, cepat beres-beres," perintah Rizal lagi.
Keduanya langsung kalang kabut. Yuni menyambar jaket, sementara Lia mengambil sapu dan sekop untuk memungut sampah-sampah bungkusan camilan mereka.
Selesai dengan dua putrinya, Rizal berbalik menghadap isterinya, menjawab pertanyaan yang belum sempat ia jawab sebelumnya. "Entahlah, Bu. Bapak juga belum tahu."
"Tolong buatkan kopi kesukaan menantu kesayangan Bapak ya Bu," pintanya, lalu mendudukan diri di sofa ruang tamu yang sudah lebih rapi dari sebelumnya.
"Iya, Pak...." Irma bergegas menuju dapur.
"Jangan lupa kopi tanpa gula untuk nak Pandji ya Bu!" teriak Rizal lagi.
"Iya, Pak!" Irma balas berteriak dari dapur.
Deruman mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah yang tidak memiliki pagar. Rizal cepat berdiri dan bergegas keluar, begitu pula Yuni dan Lia yang tidak mau ketinggalan.
Dari belakang kemudi, Harry keluar bersamaan dengan Pandji di sebelahnya, setelahnya barulah Soraya dari kabin belakang dengan raut lesu.
Melihat itu, Naluri Rizal sebagai seorang ayah sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada rumah tangga putri dan menantunya itu.
"Bapak...." Harry langsung meraih tangan ayah mertuanya dan menciumnya, begitu pula halnya dengan Pandji.
"Maaf, sudah merepotkan Bapak sampai izin kerja seperti ini." Harry menatap ayah mertuanya dengan perasaan tak nyaman.
"Sudah, tidak apa-apa," Rizal menepuk pelan pundak menantunya. "Bapak tau, bila tidak sangat penting, tidak mungkin kamu melakukannya."
"Ayo masuk," ajaknya, mengambut hangat kedatangan Harry dan Pandji.
"Mas, Pandji kami belum nah...." Yuni dan Lia berebut mengulurkan tangan mereka pada Pandji.
"Yuni, Lia!" Mata Rizal melotot melihat tingkah putri ke tiga dan putri ke empatnya yang tidak tahu malu itu.
"Tidak apa, Om," Pandji tersenyum, lalu menjabat tangan dua gadis itu bergantian.
Dua gadis itu berteriak kesenangan. Berhasil menyentuh tangan Pandji serasa luar biasa, menurut mereka dua pria yang menjadi tunangan dua kakak kelas mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Pandji.
"Apaan sih, bikin ribut aja, Alika nanti bangun," Irma datang dari dapur sambil membawa nampan minuman dan beberapa toples camilan.
"Yuni, Lia, lanjutkan pekerjaan Ibu kalian di dapur, Ibu bersama Bapak mau mengobrol dulu dengan mas Harry kalian," perintah Rizal.
Dua gadis itu langsung menurut, tidak membantah seperti biasanya, sebisa mungkin memberi kesan yang baik dihadapan Pandji yang menjadi tamu malam itu.
"Diminum dulu kopinya nak Harry, nak Pandji..." Rizal mempersilahkan, dirinya juga turut mengambil secangkir kopi yang telah isterinya taruh di hadapannya.
"Terima kasih, Pak..."
"Terima kasih, Om..."
Sahut Harry dan Pandji hampir bersamaan, lalu meraih cangkir kopi mereka masing-masing.
Sedari tadi, Rizal terus memperhatikan menantunya itu dengan diam-diam.
"Nak Harry, kamu bisa mulai menyampaikan apa maksud kedatanganmu... " ucapnya, mulai membuka obrolan.
Rizal dan Irma yang duduk berdampingan tepat berhadapan dengan Harry menatap menantunya itu.
"Kami baru saja pulang dari klinik, Pak," ujar Harry memulai ceritanya.
"Siapa yang sakit, Nak?" Irma cepat bertanya.
"Soraya, Buk," sahut Harry pelan, tanpa menoleh sedikitpun pada isterinya itu.
Rizal dan Irma langsung menoleh pada Soraya yang duduk di kursi tunggal dengan kepalanya yang tertunduk menatap ujung-ujung kukunya.
Sedangkan Pandji yang duduk berdampingan dengan Harry lebih memilih diam, tadinya ia tak ingin menemani, tapi Harry memaksanya ikut masuk.
"Saya baru pulang kerja ketika Soraya mengeluhkan sakit lalu pingsan. Jadi kami segera melarikannya ke klinik."
Irma menatap cemas pada putrinya begitu pula Rizal. Sebagai ayah, ia memang terkesan acuh dan keras, tapi di dalam hatinya, ia sangat menyayangi semua putrinya, termasuk soraya.
"Hasil pemeriksaan dokter, Soraya mengandung anak ketiganya...." pelan Harry, suaranya masih jelas terdengar semua orang di ruang tamu itu, termasuk Yuni dan Lia yang menguping di balik dinding bersama kakak sulung mereka Rita, penasaran pada apa yang sedang dibahas di ruang tamu.
"Kami punya cucu lagi?" air muka Irma langsung menunjukan rasa bahagia, dan beralih pada Soraya yang masih menunduk diam. "Sayang, selamat ya... Kamu harus menjaga kandunganmu ini dengan baik, harus banyak istirahat, makan-makanan yang bergizi, jangan keluyuran--"
"Buk... " Rizal menyentuh lengan isterinya. "Beri kesempatan nak Harry menyelesaikan omongannya."
Berbeda dengan isterinya yang kurang peka, Rizal merasa kecurigaannya akan segera terjawab bila dilihat dari bagaimana cara menantunya itu menyampaikan kabar kehamilan putri mereka.
"Oh, maaf ya nak Harry, Ibuk terlalu bahagia dan bersemangat punya cucu lagi," ujarnya dengan raut sumringah.
Harry tersenyum, tapi terkesan dipaksakan, dan itu tak lepas dari perhatian Rizal.
"Silahkan dilanjutkan lagi, nak Harry," sedikitpun Rizal tak memalingkan pandangannya dari menantunya itu, seakan tak ingin ada satupun dari informasi yang disampaikan Harry terlewatkan dari pendengarannya.
"Bayi ke tiga Raya, bukan darah dagingku, Pak, Ibuk... " ungkap Harry tanpa keraguan.
Wajah Rizal mendadak kaku. Ia diam dan berusaha mencerna ucapan menantunya.
Di sebelahnya, Irma isterinya juga membeku di tempat, napasnya tertahan, sementara tangannya perlahan naik menutup mulutnya yang terbuka lebar.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.