“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP5
Malam kian merangkak naik. Dinda melangkah tergesa membelah gelap dengan senter kecil di tangannya. Cahaya kuningnya hanya mampu menyingkap sebagian jalan setapak yang gelap gulita. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, Lala dan Rani belum juga kembali, sementara nomor mereka tidak bisa dihubungi—semenjak menginjakkan kaki di pulau Darasila, signal di ponsel mereka memang langsung kacau.
“Anak-anak keterlaluan banget sih! Satupun nggak ada yang mau nemenin aku buat nyariin Rani dan Lala!” ucapnya gusar.
Sesekali Dinda menoleh ke belakang. Jantungnya berdegup kencang, setiap kali ia melangkah—telinganya kerap menangkap bunyi samar, seolah ada langkah lain yang mengikuti dari belakang. Namun, tak ada apapun selain pepohonan yang bergoyang tertiup angin.
“Halusinasi, Din ... cuma halusinasi,” gumamnya pelan. Mati-matian gadis itu mencoba menenangkan diri. Tapi tanpa sadar, langkahnya kian cepat, bahkan hampir berlari.
Namun, tiba-tiba saja langkah kaki Dinda mendadak berhenti. Ada yang mencengkram kuat bahunya dari arah belakang.
GREP!
“AAAAAAAA!” Dinda menjerit histeris. Refleks, ia memutar badan dan meninju wajah sosok yang sudah mencengkram bahunya dengan segenap tenaga.
“WAAKKHHHHH!” teriak sosok itu kencang. Darah segar langsung mengalir dari hidungnya.
Cahaya senter bergetar di tangan Dinda, menyorot wajah asing yang tengah menutup hidungnya.
“S-siapa Anda?!” suara Dinda bergetar, tapi, sebisa mungkin ia tak menunjukkan gentar. “Jangan mendekat, atau aku akan memukulmu lagi!”
Pria itu mengangkat satu tangannya pelan, berusaha menenangkan.
“Tenanglah, Nona. Saya bukan penjahat,” jelasnya dengan raut kesal.
Pria itu merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu identitas. Ia angkat tinggi-tinggi, agar bisa terbaca jelas dalam sorot cahaya.
“Saya Abirama, petugas kepolisian yang sedang patroli malam,” jelasnya lagi.
Dinda menelan ludah, napasnya masih terengah. Matanya menelisik kartu itu, perlahan sorot curiganya mereda. Ia masih berusaha menenangkan napasnya setelah tahu kalau sosok yang ia pukul hanyalah seorang polisi yang tengah bertugas. Namun, sebelum sempat berbicara lebih jauh, suara ranting yang terinjak membuatnya kembali terkejut.
CRACK!
Dari arah semak belukar, muncul seorang perempuan dengan langkah waspada. Senter kecil di tangannya menyorot wajah Dinda.
“Dinda?!” suara itu tegas sekaligus terkejut. “Sedang apa kamu di sini malam-malam begini?!”
Dinda menelisik, matanya melebar saat mengenali sosok itu. Suaranya bergetar, campur antara kaget dan lega.
“B-bu Niken ...?”
“Ya, ini saya.” Bella mendekat dengan sorot mata serius. “Kenapa kamu berkeliaran sendirian di jam segini? Apa ada hal genting yang terjadi?”
Dinda menelan kasar ludahnya. Meskipun ragu sempat menyelinap, akhirnya ia memilih untuk jujur. “Begini, Bu ....”
Dengan napas yang masih terengah, Dinda berusaha menjelaskan. Ia pun menceritakan bagaimana setelah rapat selesai, kedua rekannya, Lala dan Rani, memutuskan pergi bersama dua pria asing yang tak sengaja mereka temui di perjalanan.
“Pertunjukan budaya?” gumam Bella pelan. Ia sekilas melirik ke arah Abirama yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia sempat mengernyit pelan, menatap darah segar yang masih menetes dari hidung lelaki itu.
Abirama, yang menyadari tatapan itu, langsung berdeham kecil lalu mengangkat telunjuk menunjuk hidungnya sendiri.
“Ah, ini?” katanya santai. “Hidungku baru aja dapat salam hormat dari Binjai.”
Dinda menoleh cepat, menatap canggung. Bibirnya mencebik. “Ya, maaf. Anda sendiri yang salah, ngapain juga tiba-tiba nyentuh orang lain sembarangan.”
Bella hanya menggeleng-geleng seraya menghela napas pelan, enggan ikut berkomentar.
“Sudahlah,” ucapnya singkat, lalu menepuk bahu Dinda pelan. “Ayo, saya antar kamu kembali ke balai desa. Kamu harus lekas beristirahat, wajahmu sudah pucat sekali.”
“Tapi, Bu ... Lala dan Rani—”
“Saya akan berusaha mencarinya,” potong Bella cepat. “Sekarang, kita harus kembali ke balai desa.”
Dinda mengangguk, masih terlihat cemas. “Baik, Bu ....”
Sambil berjalan, Bella menoleh sekilas pada Abirama dan timnya. Tatapannya tajam, seolah memberi isyarat tanpa kata, “ikutlah”. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan lebih jauh dengan mereka.
Abirama menangkap maksud itu. Ia mengusap cepat sisa darah di bawah hidungnya, lalu memberi kode ke dua anggotanya untuk bersiap. Mereka pun berjalan bersisian, menjaga jarak aman, mengiringi Bella dan Dinda menuju balai desa.
...***...
Rani menggeliat pelan. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya yang buram segera memindai ruangan temaram.
‘Di mana aku?’ tanyanya di dalam hati. “Ukh!”
Kepalanya berdenyut seolah ada palu yang terus mengetuk. Saat ia mencoba menggerakkan tubuh, barulah ia sadar—tubuhnya terikat kuat pada sandaran kursi besi.
SREK! SREK! SREK!
Terdengar suara seperti benda tajam bergesekan.
“S-siapa itu?!” Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke belakang.
Di ujung ruangan minim cahaya, berdirilah sosok pria yang tak ia kenal—sedang mengasah pisau panjang.
“SIAPA ITU?!” tanyanya sekali lagi dengan nada lebih tinggi.
Pria tersebut menghentikan aktivitasnya, lalu menegakkan tubuh. Dengan tenang, ia menoleh, menatap Rani tanpa ekspresi.
“Sudah bangun rupanya?”
Pria itu berjalan pelan menghampiri. Namun, ketika Rani melihat benda tajam berkilat dalam genggaman pria yang rambutnya nyaris memutih—ia pun langsung berteriak.
“JANGAN MENDEKAT, PAK TUA SIALAN!” Rani ketakutan, juga bercampur bingung.
Jelas-jelas, tadi dia sedang bersama pria tampan. Kenapa pula sekarang berubah menjadi pria berusia enam puluh tahunan.
“Mulutmu ramah sekali, ya? Ternyata, aku memang tak salah memilih mangsa.” Pria tersebut tersenyum tipis, memainkan pisaunya dengan semangat.
Rani semakin berteriak ketakutan, ia menjerit sekuat hati, memanggil-manggil nama sahabatnya.
“Lala? La?!” panggilnya parau, berharap sahabatnya ada di ruangan yang sama.
“Kau tak perlu membuang tenaga memanggil-manggil teman binal mu itu. Teman mu itu, sudah pastiiiii ... sedang bersenang-senang di tempat lain,” ucapnya sambil terkekeh.
“Di mana teman ku? Kau apakan dia?!” bentak Rani. Air matanya berlinang.
Cup!
Alih-alih menjawab, pria tua itu justru mengecup kening Rani, membuat ayam kampus itu mengernyit jijik.
“Rani ... itu namamu, ‘kan?” Pria tua itu menyibak rambut menjuntai yang nyaris menutup seluruh wajah Rani. “Sesuai informasi yang kuterima, kau ternyata seorang pelacur kampus. Demi mendapatkan nilai bagus dan gaya hidup, kau rela menjajakan tubuhmu pada para dosen. Hahaha!”
Semakin berdegup jantung Rani. Dari mana pria tua itu bisa tau rahasia yang hanya diketahui oleh Lala? Pertanyaan itu sempat berputar di kepalanya, namun segera ditepis. Ia kembali fokus pada pertanyaannya.
“DI MANA TEMANKU?!” desis Rani.
“Kau benar-benar ingin tau di mana temanmu berada?” tanya pria itu seraya menyeringai.
Rani mengangguk cepat. “Ya, cepat katakan, ke mana kau membawa temanku?!”
“Baiklah, baiklah. Karena aku sedang berbaik hati, aku akan menunjukkan keberadaan temanmu itu. Setidaknya, kau harus mati dengan tenang, bukan?”
Dahi Rani berkerut dalam. “M-mati? Apa maksud perkataanmu?”
Pak Tua itu enggan menjawab, ia hanya tertawa cekikikan sambil terus melangkah ke sudut ruangan, mengambil telepon genggamnya. Ia menghubungi seseorang.
“Sambungkan ke ruangan Manto,” ucapnya tegas, lalu memutuskan sambungan telepon.
Kemudian, pria itu mengambil remote dan mengarahkannya ke dinding gelap.
KLIK!
Ia menekan tombol pada remote. Dinding yang tadinya gelap berubah perlahan, menampilkan sebuah proyeksi. Layar itu bergetar sejenak sebelum akhirnya menampilkan siaran langsung—cctv yang menyorot sebuah ruangan lain di tempat itu.
Seorang pria tua tampak duduk di meja dengan cahaya lampu remang. Tangannya cekatan mengiris potongan daging mentah di atas piring kecil, lalu menyuapkannya ke mulut. Setiap kunyahan terdengar jelas, membuat bulu kuduk Rani meremang.
Namun, ada satu hal yang membuat jantung Rani seketika terpacu, berdegup lebih kencang. Matanya menangkap sesuatu di ujung meja—sebuah kepala dengan rambut panjang, masih mengenakan pita merah muda yang familiar.
“L-Lala ...?” lirihnya parau, tubuh Rani bergetar hebat ketika menyadari daging yang tengah dikunyah pria tua tersebut adalah daging sahabatnya sendiri.
Air matanya langsung menggenang, rasa takut lekas merambat ke sekujur tubuh. Ia ingin menjerit, namun suaranya terkurung di tenggorokan. Pria tua di sampingnya terkekeh pelan, puas melihat ketakberdayaan itu.
“Bagaimana? Apa kau sekarang sudah tenang?” Sambil menyeringai, pria tua itu mengarahkan pisau dalam genggamannya ke leher Rani. Dan dalam hitungan detik—
SLASH!
Darah segar menyembur deras dari leher Rani. Tubuh dalam kondisi terikat tali itu menggelepar.
“HAHAHA!” Pria gila itu tertawa kencang, “HIHIHI!”
*
*
*
k dehwa lekas sembuh 😩