Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Berbohong
Pintu mobil tertutup rapat begitu mereka meninggalkan area bandara. Kaca film yang gelap memisahkan dunia luar yang penuh sorot kamera dengan ruang sempit yang kini terasa menekan. Baru beberapa menit melaju, senyum Lukman menghilang secepat dirinya memasangnya tadi.
“Sebulan,” ucap Lukman dingin, matanya lurus ke jalan. “Sebulan penuh kamu ninggalin rumah.”
Nabila menoleh pelan. Tangannya menggenggam tas di pangkuan. Ia sudah menduga perubahan ini akan datang, hanya saja tetap saja rasanya menusuk.
“Itu kerjaan aku, Mas. Kamu tahu dari awal kontraknya—”
“Kerjaan?” Lukman memotong, nada suaranya meninggi. “Kerjaan sampai lupa diri? Sampai lupa kalau kamu itu istri orang?”
Nabila menghela napas, menahan diri. Mobil melaju stabil, tapi suasana di dalamnya bergejolak. Dia memilih diam, berharap omelan itu akan reda dengan sendirinya. Pengalamannya mengajarkan, membalas hanya akan memperpanjang api.
Namun Lukman justru semakin panas. “Kamu tahu nggak, orang-orang ngomong apa selama kamu di luar negeri?” lanjutnya. “Istri ke luar negeri sebulan, bareng aktor-aktor itu. Kamu pikir aku nggak mikir?”
Nada curiganya membuat Nabila menutup mata sesaat. Dadanya terasa sesak.
“Aku profesional,” jawabnya singkat. “Semua ada tim, ada kru. Kamu lihat sendiri di bandara.”
“Justru itu!” Lukman membanting telapak tangan ke setir. “Kamu kelihatan terlalu nyaman. Terlalu bebas.”
Nabila menggigit bibirnya. Kata-kata itu terasa seperti tuduhan tak langsung, dan itu menyakitkan. Ia menoleh ke jendela, menatap jalanan Jakarta yang mulai familiar, berharap jarak ini segera berakhir.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berat. Lalu Lukman menarik napas panjang, suaranya turun, tapi justru lebih mengancam.
“Pokoknya nanti di rumah, aku ingin jatahku! Kau harus turuti semua keinginanku. Aku akan pakai gesper kali ini." Lukman menarik sudut bibirnya ke atas. Dia senang saat Nabila diam, pertanda kalau istrinya kalah. Mengingat sebelumnya Nabila sempat melawan, dan Lukman senang istrinya itu sudah seperti dulu.
Sementara bagi Nabila, kalimat itu membuat tubuhnya menegang seketika. Ia tahu maksudnya. Dan justru karena itulah jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena rindu, melainkan ketakutan yang selama ini dirinya simpan rapat-rapat. Tangannya mengepal di dalam tas.
Mobil berhenti di lampu merah. Lampu kota memantul di kaca depan, membuat wajah Lukman tampak keras.
Nabila menelan ludah. Lalu, dengan suara yang dibuat setenang mungkin, ia berkata,
“Mas… aku lagi datang bulan.” Kata-kata itu meluncur cepat, nyaris tanpa jeda.
Lukman menoleh tajam. “Apa?!”
“Aku capek banget dari perjalanan. Dan aku lagi haid,” ulang Nabila, tetap menatap lurus ke depan. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia menyembunyikannya dengan menggenggam tali tas lebih erat. Itu bohong.
Nabila tahu kebohongan itu terasa pahit di lidahnya. Tapi dia juga tahu, ini satu-satunya cara untuk melindungi dirinya malam ini. Untuk memberi jarak. Untuk bernapas.
Lukman mendengus, jelas tidak puas. “Alasan.”
“Bukan alasan,” jawab Nabila pelan. “Kamu mau aku jujur kan?”
Hening kembali turun. Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju. Beberapa detik terasa seperti menit.
“Ya sudah,” kata Lukman akhirnya, nada suaranya tertahan. “Tapi jangan kira ini selesai.”
Nabila mengangguk kecil. Itu sudah cukup. Untuk sekarang.
Ia menoleh kembali ke jendela. Jakarta menyambutnya dengan lampu-lampu dan kemacetan, tapi di balik itu semua, ia merasa lebih sendirian dari sebelumnya. Kepulangannya yang disambut senyum palsu kini berujung pada ketegangan yang nyata.
Di dalam hatinya, satu keputusan menguat. Dia harus melindungi dirinya sendiri. Dengan cara apa pun. Bahkan jika itu berarti berbohong.
Dan di sudut pikirannya yang lain, yang berusaha ia kubur dalam-dalam, wajah Nathan kembali terlintas. Tatapan cemburu itu. Jarak yang tak terucap. Semua itu membuat hatinya semakin kacau.
Malam ini Nabila pulang ke rumah. Tapi rasa aman, sepertinya, tidak ikut bersamanya.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti