NovelToon NovelToon
Paper Plane Memories

Paper Plane Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Bullying dan Balas Dendam / Ibu Tiri / Balas Dendam / Romantis
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aera Koma!

Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia mencari rumah sakit terdekat agar Aera segera mendapat perawatan.

Ia membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah sakit, bahkan ia hampir saja menabrak orang yang akan menyeberang.

Laki-laki itu keluar dan langsung membawa tubuh Aera memasuki lobi rumah sakit.

"Suster! Tolong pacar saya, cepat!" Teriakan Leo membuat orang-orang di sana menoleh ke arahnya.

Terlihat satu suster membawa brankar dengan tergesa karena melihat kondisi Aera yang sudah bersimbah darah.

Bahkan baju yang di pakai Leo pun ikut terkena darah dari Aera.

"Cepat, sus!" Leo berjalan cepat sambil menggenggam tangan gadis itu dengan erat.

Tubuh Aera kini sudah di pindahkan ke brankar dan siap untuk di bawa ke IGD.

Sepanjang perjalanan, Leo berdoa untuk keselamatan Aera, "Aku mohon bertahan, jangan pergi secepat ini," tak terasa air matanya mengalir dengan sendirinya.

Ia duduk di ruang tunggu dengan keadaan yang sangat kacau, ia tidak tau harus menghubungi siapa.

Aera sendiri sudah di bawa masuk dan sedang ditangani oleh dokter.

Leo berharap cemas, ia takut terjadi sesuatu yang membuat nyawa gadis itu melayang. Ia sangat menyesal karena dirinya telat untuk datang menyelamatkan Aera, Leo sangat merasa bersalah pada gadis itu.

Tak lama pintu terbuka dan di dapati satu suster dengan wajah yang menegang.

"Bisa bertemu dengan keluarga pasien?"

Leo berdiri dan mendekat ke arah suster tersebut, "Saya kekasihnya, Sus."

Suster itu mengerutkan keningnya "Keluarga pasiennya ke mana?"

Leo yang melihat raut wajah sang suster langsung membuka suaranya, ia terpaksa harus berbohong, "Keluarga nya masih di perjalanan Sus! Ada apa katakan lah?"

"Jadi begini, pasien kehilangan banyak darah dan kebetulan stok golongan darah yang pasien miliki sedang kosong," jelasnya.

"Kosong? Rumah sakit sebesar ini tidak punya stok darah?" Leo berteriak yang membuat suster itu berjengit kaget.

"Maaf sekali lagi, tapi pasien harus mendapatkan donor darah!" Jelasnya.

"Apa golongan darahnya?"

"Kebetulan golongan darah pasien AB-," jelasnya.

Leo mengacak rambutnya frustasi. AB-. Golongan darah paling langka. Kepalanya dipenuhi nama-nama, tapi tak satu pun terasa pasti.

Waktu berjalan, dan nyawa seseorang sedang bergantung pada keputusan yang tak kunjung ia temukan.

Tanpa pikir panjang, Leo mengeluarkan ponselnya dan menekan satu nama.

Wain

Sahabatnya. Satu-satunya orang yang selalu bisa menemukan jalan keluar—bahkan dari masalah yang paling mustahil.

"Gue butuh bantuan lo sekarang," kata Leo begitu sambungan terangkat. Suaranya bergetar, tak bisa ia sembunyikan.

"Gue butuh donor darah AB-, Aera masuk rumah sakit, gue nggak tau keluarga nya. Gue minta tolong lo cari tau data keluarga Aera dan cuman ini satu-satunya petunjuk."

Wain terdiam beberapa detik, lalu terdengar suara ketikan cepat di ujung sana.

"Aera masuk rumah sakit? Kirim fotonya. Gue coba lacak."

Leo mengirimkan foto itu, kebetulan ia sudah mempunyai foto gadis itu dari jauh-jauh hari.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

"Bos..." suara Wain terdengar lebih serius dari biasanya.

"Data sudah ketemu."

"Apa?" Leo langsung berdiri. "Siapa dia?"

Wain menarik napas dalam-dalam, seolah ragu melanjutkan.

"Namanya Aera Jelita, gol—"

"Ckk! Gue udah tau." Belum sempat Wain melanjutkan ucapannya Leo langsung memotong kalimatnya.

"Ckk! Dengerin gue dulu! Gue belum selesai ngomong, jangan main potong gitu aja." Timpal Wain, kesal karena ucapan nya langsung di potong oleh sang ketua yaitu—Leo.

"Golongan darah AB-, benar. Usia tujuh belas tahun. Nama ayah kandungnya adalah Reno Pahresa. Dan satu hal lagi..."

Leo menahan napas.

"Dia... saudara tiri Alfino."

Nama itu membuat dunia Leo seakan berhenti berputar. Alfino. Musuhnya. Orang yang telah menghancurkan begitu banyak hal dalam hidup Leo. Orang yang seharusnya tak pernah punya hubungan apa pun dengannya.

"Gak mungkin," gumam Leo pelan, suaranya hampir hilang.

"Dari semua orang di dunia ini... kenapa harus dia?" Gumamnya dalam hati.

Namun layar ponsel tak berbohong. Data demi data terpampang jelas. Nama ayah, riwayat keluarga semuanya saling terhubung. Takdir sedang mempermainkannya dengan kejam.

Di satu sisi, darah gadis itu adalah harapan. Di sisi lain, ia adalah bagian dari orang yang paling Leo benci.

Leo mengepalkan tangannya.

Entah ini ujian, atau hukuman. Yang jelas, sejak hari itu, hidup Leo tak akan pernah sama lagi.

...----------------...

Basecamp Black Tiger, malam itu ramai seperti biasa. Lampu bohlam kuning menggantung seadanya, asap rokok bercampur aroma kopi sachet yang diseduh berulang kali. Tawa pecah di mana-mana.

"Fin, kalau motor lo jatuh lagi, jangan salahin jalan ya," ledek Rafa sambil tertawa.

Alfino hanya menggeleng, senyum santainya muncul sambil menyenderkan punggung ke dinding basecamp.

"Motor gue jatuh karena lo semua doain gue apes," balasnya.

"Alasan klasik," sahut Arlanka, disambut sorakan yang lain.

Pembahasan makin ke mana-mana—dari rencana touring, mantan yang belum move on, sampai mimpi absurd masa depan. Alfino ikut tertawa, pikirannya ringan malam itu. Sudah lama ia merasa setenang ini.

Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Satu panggilan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Alfino melirik layar sekilas lalu mematikan panggilan itu.

"Siapa?" tanya Dafa.

"Gak tau. Nomor aneh," jawab Alfino cuek.

Belum sampai semenit, ponselnya kembali bergetar. Nomor yang sama.

Alfino menghela napas pelan.

"Angkat aja, siapa tau penting," celetuk Axel. Dengan ragu, Alfino menjauh sedikit dari kerumunan. Jarinya menekan tombol hijau.

"Halo?"

Beberapa detik hening. Napas di seberang terdengar berat.

"Fin... ini gue. Leo."

Tubuh Alfino langsung menegang.

"Leo?" suaranya meninggi. "Dari mana lo dapet nomor gue?"

Namun Leo tak menjawab pertanyaan itu.

"Fin, dengerin gue baik-baik..." suara Leo bergetar, nyaris pecah.

"Adik tiri lo... Aera, dia kritis. Sekarang di rumah sakit."

Dunia Alfino seakan berhenti. "Apa?"

"Tadi malam dia kecelakaan. Kehilangan banyak darah. Golongan darahnya langka, Fin... dan cuma lo yang bisa bantu."

Tangan Alfino gemetar memegang ponsel. Suara tongkrongan di belakangnya tiba-tiba terdengar jauh, seperti teredam.

"Dia... masih hidup?" tanyanya lirih.

"Iya. Tapi dokternya bilang waktunya nggak banyak."

Telepon itu berakhir dengan alamat rumah sakit yang terburu-buru. Alfino menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya pucat, napasnya tak beraturan.

"Fin, kenapa?" tanya Alsean menghampiri, ekspresinya berubah serius.

Alfino menelan ludah. "Gue... harus ke rumah sakit sekarang."

Tanpa penjelasan panjang, Alfino mengambil jaketnya. Malam yang tadi penuh tawa, kini berubah menjadi sunyi—seakan basecamp Black Tiger ikut merasakan badai yang baru saja menghantam salah satu anggotanya.

...----------------...

Motor Alfino melaju kencang membelah jalanan malam. Angin dingin menampar wajahnya, tapi pikirannya jauh lebih dingin—kosong, kacau, dan penuh ketakutan. Setiap lampu merah terasa seperti musuh.

Bertahanlah... tolong bertahan...

Sesampainya di rumah sakit, Alfino langsung berlari masuk.

Langkahnya tergesa, napasnya terengah. Lorong IGD dipenuhi bau antiseptik dan suara monitor yang berbunyi tak henti.

"Permisi... pasien kecelakaan malam tadi, namanya Aera," ucap Alfino terbata pada perawat.

Perawat itu menatapnya sejenak, lalu mengangguk cepat.

"Keluarga ya? Ikut saya."

Jantung Alfino berdegup semakin keras. Di depan ruang IGD, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya—Leo. Wajah lelaki itu kusut, matanya merah, seolah sudah lama menahan tangis.

"Fin..." Leo berdiri. "Makasih udah datang."

Alfino tak langsung menjawab. Matanya menembus kaca ruang IGD.

Di baliknya, Aera terbaring lemah. Tubuhnya dipenuhi selang, wajahnya pucat seperti kertas. Dada Alfino terasa diremas kuat.

"Dia... kenapa parah banget?" suara Alfino hampir tak terdengar.

"Kehilangan darah banyak. Organ dalamnya aman, tapi..." Leo menunduk. “Dia butuh donor sekarang."

Seorang dokter keluar dari ruang IGD. "Keluarga pasien?"

Alfino melangkah maju. "Saya kakaknya."

Dokter itu mengangguk serius. "Golongan darah pasien AB-. Kami kesulitan mendapatkannya. Jika Anda bersedia dan cocok, kami harus segera melakukan transfusi."

Tanpa berpikir panjang, Alfino menjawab, "Saya bersedia."

Tes dilakukan cepat. Alfino duduk diam, jarum menusuk lengannya.

Jarum donor telah dilepas dari lengan Alfino. Tubuhnya lemas, tapi matanya terus menatap ke arah ruang perawatan Aera. Ia berdiri begitu dokter keluar dengan wajah yang tak lagi setenang sebelumnya.

"Maaf... kami harus menghentikan transfusinya."

Alfino langsung bangkit. "Apa maksud dokter?"

Dokter itu menghela napas berat. "Terjadi reaksi penolakan. Darah Anda tidak sepenuhnya cocok. Jika dipaksakan, kondisinya justru akan memburuk."

Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Alfino. "Tapi... tadi perawat bilang cocok," suara Alfino bergetar.

"Secara golongan iya, tapi secara kecocokan biologis tidak optimal," jelas dokter.

"Kami butuh darah dari kerabat sedarah langsung."

Leo yang sejak tadi diam, menegang. "Maksud dokter...?"

Dokter menatap mereka bergantian. "Ayah kandung pasien."

Lorong rumah sakit mendadak sunyi. Alfino menunduk, rahangnya mengeras.

Dokter menyela dengan nada tegas. "Kami tidak punya banyak waktu. Jika tidak ada donor yang benar-benar cocok, kondisi pasien bisa menurun drastis dalam beberapa jam."

Alfino menutup mata. Dadanya terasa sesak.

"Reno..." mengingat Nama itu membuat tangan Alfino mengepal.

1
SellaAf
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!