Gadis cantik dan ramah yang hidup dengan Ayahnya, namanya Alira, dia dijodohkan dengan duda anak satu sebelum wisuda, setelah wisuda mereka menikah, perjodohan ini ada karena ada amanah dari almarhum Papah Reja. Sahabat Ayah Alira. Namun sebelum pernikahan berlangsung, Reja dan Alira membuat kesepakatan, yaitu, mereka akan menikah tetapi selama dalam dua bulan tidak ada tumbuh ya cinta, mereka akan resmi berpisah, Tanpa ada yang keberatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syakira edianwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata ya tidak berselera, padahal Habis.
Alira melihat ke layar handphone Reja, ternyata Rati lah yang menelpon.
"Ibu! ada apa ya? apa aku jawab saja, nanti kalau di jawab di bilang gak sopan, tapi kalau gak di jawab pasti ibu mikir ya aneh-aneh," batin Alira.
Akhirnya Alira memberanikan diri untuk menjawab telepon itu.
"Halo Bu," ucap Alira.
"Loh kok kamu yang Jawa Ra? Reja ya mana?" tanya Rati.
"Iyah Bu, Reja ya lagi tidur, tadi Alira dengar handphone ya bunyi ya Alira jawab aja," ucap Alira.
"Loh kok tidur sih? kalian lagi di mana, bukan ya kalian ke taman ya?" tanya Rati heran.
"Tadi waktu mau berangkat ke taman, tiba-tiba perut Reja sakit, terus Alira bawa ke rumah sakit terdekat, lambung dia sakit akibat telat makan," ucap Alira.
"Ya ampun Reja, tadi pagi seperti ya dia tidak makan, dan siang pun di sini tidak makan," ucap Rati panik.
"Ibu gak usah khawatir ya, Reja ya udah mendingan kok, cuman butuh istirahat secukupnya ya saja," ucap Alira.
"Syukurlah perasaan ibu jadi lega, sekarang kalian berada di mana, joni di mana?" tanya Rati.
"Joni lagi tidur sama Reja Bu, sekarang kami lagi di rumah ibu," ucap Alira.
"Oohh, titip mereka berdua ya nak, ibu masih ada urusan di sini," ucap Rati.
"Iya buk," ucap Alira, dan sambungan telepon pun terputus.
"Huff, enak ya pak Reja, ada yang nanyain, khawatir, punya sosok ibu seperti Bu Rati, pasti lah bahagia," batin Alira.
Nia melihat ke arah Reja.
"Pantesan saja dia sakit lambung, udah gak istirahat, selalu kecapean, soksoan,gak makan pagi lagi," ucap Alira.
Dia keluar dari kamar itu, dan masuk ke dapur,
dia memasak untuk reja, Joni dan Rati, sebelum dia pulang ke rumah, tidak mungkin Rati masak sehabis pulang dari rumah ya, pasti dia akan kelelahan, sementara Reja tidak boleh telat makan.
Tidak beberapa lama masakan ya pun selesai, hari mulai magrib, Azan mulai bersautan, tiba-tiba Reja datang ke dapur mengejutkan Alira yang sedang menata makanan di meja.
"Lagi ngapain kamu di dapur ibu saya?" tanya Reja tiba-tiba. Seketika barang yang di tangan Alira hampir jatuh, dia melihat ke arah suara itu.
"Kalau datang bilang dulu pak, jangan ngejut-ngejutkan, bisa-bisa aku kena serangan jantung tadi," ucap Alira.
"Gak usah lebay," ucap Reja sambil memutar bola mata malas.
"Hmm, perut ya masih sakit gak?" tanya Alira.
"Sudah mendingan," jawab Reja.
"Oohh, bagus deh, Bapak makan dulu ya, aku abis masak sayuran, dan lauk lain ya, bapak gak boleh telat makan lagi, abis makan minum obat," ucap Alira.
"Iyah bawel, saya kira kamu tidak pandai masak, ternyata kamu bisa, tapi belum tentu rasanya enak," ucap Reja.
"Udah makan dulu, jangan banyak protes, aku ke atas dulu bangunin Joni, ini udah mau malam," ucap Alira dan segera meninggalkan reja.
Reja segera menyendok kan nasi ke piring ya, karena perut ya sudah lapar sekali, dia sangat berselera melihat masakan Alira yang sangat mengundang perut lapar, sekali sendok masuk ke mulut Reja,
"Hmm, enak, sama persis seperti masakan ibu," batin Reja dan segera menghabis kan makanan itu.
Tidak beberapa lama Alira turun dan langsung ke dapur bersama Joni, Alira heran melihat Reja yang sudah selesai makan,
"Kok udah siap aja?" tanya Alira.
"Sudah, saya kurang berselera," ucap Reja
Alira melihat ke sayur, lauk dan yang lain ya, sudah sangat banyak berkurang.
Alira geleng-geleng sambil tersenyum.
"Kata ya gak berselera, tuh banyak yang kurang, gengsi sih," batin Alira sambil tersenyum terus. dan duduk di depan Reja, niat untuk menyuapi Joni makan.
"Kamu mau ngapain?" tanya Reja.
"Mau nyuapin Joni pak, kenapa?" tanya Alira heran.
"Joni bisa makan sendiri kan? ya udah ambil nasi ya dari Tante, Tante ya pasti capek," ucap ya pada Joni, dengan heran Alira pun memberikan piring nasi pada Joni.
"Kamu makan dulu, pasti kamu belum ada makan kan, entar malah kamu lagi yang sakit, kalau Joni, biasa'ya dia makan sendiri, aku tidak mau kamu terlalu manjain dia," ucap Reja.
"Hmm, ya udah deh, kebetulan perut ku juga lapar," batin Alira, dan segera makan.
"Oh iya pak, tadi ibu bapak nelpon, waktu bapak tidur, jadi aku angkat aja, aku bilang kita di rumah, karena bapak sakit lambung," ucap Alira. mata Reja langsung menatap tajam ke alira.
"Sekali lagi jangan pernah ikut campur atau pun menyentuh barang pribadi saya," ucap Reja menekankan kata-kata itu pada Alira.
Seketika Alira terdiam dan terus melanjutkan makan ya, Tampa melihat ke arah Reja lagi, nyali ya menciut saat melihat mata Reja.
Setelah selesai makan, Alira dan Joni duduk di sofa ruang tamu, sementara Reja sudah di kamar ya dari tadi.
"Kamu mau pengen saya cepat sembuh atau mau saya sakit seperti ini terus," ucap Reja dari arah tangga yang baru saja turun.
Alira langsung melihat ke arah reja.
"Maksud ya pak?" tanya Alira heran.
"Saya mau minum obat," ucap Reja.
"Oohh, obat ya ada di atas nakas pak," ucap Alira.
"Kamu lupa tau bagaimana sih, kalau saya tau ukuran obat ya dan yang mana saya makan malam ini, pasti sudah dari tadi saya minum, tidak perlu memanggil kamu," ucap Reja.
Alira baru ingat, hanya dia lah yang tau cara pembagian obat Reja, karena dia yang mengambil di rumah sakit.
...----------------...
Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini.
Jangan pernah bosan ya, jika ada saran tulis di komentar yah. Jangan pernah lupa tinggalkan jejak, dukungan untuk author.