Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Wajah di Balik Cahaya Perak
Ledakan putih murni yang buta itu perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang lebih berat dan lebih menyesakkan daripada tekanan jutaan atmosfer samudera di atas mereka. Kota karang yang tadinya megah dengan pendaran biologisnya, kini hancur berantakan; reruntuhan kristal dan logam purba berserakan di dasar palung. Namun, air laut yang masuk melalui dinding kaca yang pecah tidak lagi menghancurkan segalanya; air itu tertahan oleh medan magnet baru yang tercipta dari penyatuan frekuensi Alana dan Elin sebuah gelembung ruang hampa yang berpendar biru keemasan.
Mereka berdiri di tengah puing-pusing, saling menggenggam tangan dengan sangat erat, seolah-olah melepaskan satu sama lain berarti lenyap dari eksistensi. Napas mereka terengah-engah dalam ritme yang sama, paru-paru mereka beradaptasi dengan oksigen bermuatan energi yang kini memenuhi gelembung tersebut.
Namun, perhatian mereka tersedot sepenuhnya pada sosok yang berdiri dengan tenang di atas sisa-sisa gerbang dimensional yang kini telah retak. Sosok itu bukan lagi proyeksi cahaya perak yang samar dan penuh kasih.
"Arlo?" Alana memanggil, suaranya parau, pecah oleh rasa tidak percaya yang menghujam jantungnya. "Kau... kau benar-benar masih hidup? Bagaimana mungkin kau ada di sini dalam raga yang nyata?"
Arlo tidak menjawab dengan kata-kata hangat atau bimbingan puitis seperti yang biasa ia kirimkan lewat surat batin. Ia melangkah turun dari tumpukan logam kuno dengan gerakan yang sangat presisi dan dingin. Seragam tempur baja hitam yang ia kenakan berdenting halus, memantulkan cahaya indigo Alana dengan kilauan yang predator. Wajahnya yang dulu tampak begitu bijaksana dan teduh dalam setiap proyeksi memori Alana, kini terlihat tajam, pucat, dan penuh dengan ambisi yang telah dikurasi selama puluhan tahun dalam kegelapan.
"Hidup adalah kata yang terlalu sederhana dan sempit untuk memahami apa yang aku lalui, Alana," suara Arlo kini tidak lagi memiliki desis statis frekuensi radio. Suaranya berat, nyata, dan memiliki otoritas yang menggetarkan molekul air. "Aku tidak pernah benar-benar 'pergi' ke dimensi asal. Aku hanya berpindah posisi di papan catur ini. Dari seorang pion yang bertugas menunggu di langit, menjadi pemain yang mengatur jalannya permainan dari bayang-bayang terdalam."
Elin melangkah maju satu tindak, secara instingtif menghalangi Alana dengan tubuhnya yang masih basah oleh sisa cairan biru Leviathan. "Jadi semua ini adalah rancanganmu? Kau bekerja sama dengan Arthur Vance? Kau adalah otak di balik Konsorsium Cakrawala?"
Arlo tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti es yang retak di bawah tekanan tinggi. "Arthur hanyalah adikku yang kurang sabar dan terlalu teknis. Dia terobsesi dengan 'protokol kepunahan' karena dia takut pada kekuatan yang tidak bisa dia hitung. Tapi aku? Aku melihat potensi di balik ketakutan itu. Aku melihat bagaimana langit dan laut bisa dipaksa bersentuhan untuk melahirkan tatanan dunia yang baru."
Kebenaran yang Meracuni Ingatan
Arlo mengangkat tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan logam hitam. Tiba-tiba, sebuah layar holografik raksasa yang berasal dari partikel air muncul di udara, menampilkan rekaman-rekaman masa lalu Nagasari yang tidak pernah diketahui Elin. Alana melihat dirinya sendiri saat masih balita, tertidur lelap di menara observasi, sementara Arlo berdiri di samping kakek Surya yang tampak jauh lebih muda namun sangat gelisah.
"Surya adalah seorang ilmuwan jenius, tapi dia adalah seorang pengecut yang penuh kasih sayang," ucap Arlo, matanya yang berwarna perak dingin menatap tajam ke arah Alana. "Dia ingin kau tetap menjadi manusia. Dia menciptakan 'Akar Bumi' bukan untuk menyelamatkanmu, tapi untuk menjangkau secara paksa agar kau tidak pernah bisa kembali ke dimensi asalku. Dia ingin mengunci kunci semesta ini di sebuah desa kopi yang terpencil."
Alana merasakan dadanya sesak, seolah-olah udara di gelembung itu tiba-tiba menghilang. "Tapi kau membimbingku... Kau mengirimkan surat-surat itu untuk menguatkan ku!"
"Surat-surat itu adalah kebutuhan logistik, Alana. Tanpa emosi manusia yang stabil, frekuensi langit di dalam tubuhmu akan menjadi terlalu liar dan menghancurkan raga manusiamu sebelum waktunya. Aku membutuhkanmu tetap hidup sebagai wadah. Aku membutuhkan cinta Elin sebagai pengikat molekuler agar kau tidak menguap, dan aku membutuhkan ketulusanmu sebagai bahan bakar untuk membuka gerbang ini."
Elin mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Kau menggunakan kami seperti baterai. Kau membiarkan kami saling merindu dan mencintai hanya agar ledakan energinya bisa kau panen untuk kepentingan pribadimu?"
"Dan rencana itu berhasil dengan sempurna, bukan?" Arlo menunjuk ke arah gerbang di belakangnya. Sebuah lubang hitam kecil kini mulai berputar di tengah-tengah logam kuno tersebut sebuah portal dimensional yang stabil dan haus akan materi. "Lihatlah. Ledakan emosi murni saat kalian bersentuhan tadi adalah kunci terakhir yang tidak bisa dihasilkan oleh mesin mana pun. Kalian baru saja merobek realitas ini selamanya untukku."
Pemberontakan Sang Navigator
Alana melepaskan genggaman tangan Elin perlahan, bukan karena menjauh, melainkan karena ia butuh ruang untuk kekuatannya sendiri. Ia berdiri tegak, guratan emas di tubuhnya kini tidak lagi berpendar emas-indigo, melainkan mulai memancarkan cahaya putih perak yang sangat menyilaukan warna yang sama dengan kekuatan Arlo, namun dengan getaran yang jauh lebih hangat dan padat.
"Kau bilang aku adalah kunci, Arlo," ucap Alana, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang membuat air di luar gelembung mereka bergolak. "Tapi kau lupa satu hal yang kakek Surya ajarkan padaku secara tersirat, yang tidak pernah kau pahami karena kau tidak pernah benar-benar mencintai apa pun."
Alana melangkah mendekati Arlo, setiap langkahnya menciptakan dentuman frekuensi yang meruntuhkan sisa-sisa karang di sekitarnya. "Kunci bisa digunakan untuk membuka pintu, tapi kunci yang sama juga bisa digunakan untuk mengunci kembali sebuah gerbang secara permanen hingga tak ada satu pun tangan yang bisa menyentuhnya lagi. Dan aku tidak lagi menerima perintah dari kompas rusak yang kau berikan."
Arlo mencibir, ia menekan sebuah panel kontrol di pergelangan tangan bajunya. "Kau tidak bisa melawanku, Alana. Akulah sumber dari frekuensi langitmu. Aku bisa memadamkan cahayamu hanya dengan satu perintah transmisi dari otakku."
Namun, saat Arlo mencoba mengirimkan gelombang perintah sub-vokal, tidak terjadi apa pun. Alana terus melangkah dengan tatapan yang menghujam.
"Bagaimana mungkin transmisi ini gagal?" Arlo tertegun, wajahnya mulai menunjukkan retakan kepanikan untuk pertama kalinya.
"Darah Elin," jawab Alana dengan senyum pahit. "Darah samudera di dalam nadinya telah bermutasi dengan frekuensi ku saat kami bersentuhan. Frekuensi ku bukan lagi frekuensi langit yang murni milikmu. Ia telah menjadi frekuensi baru hibrida antara langit, bumi, dan samudera. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam algoritma Konsorsium-mu. Aku bukan lagi Navigator milikmu, Arlo. Aku adalah Jangkar dari dunia ini, dan aku memilih untuk menutup pintumu."
Elin berdiri tegap di samping Alana, ia merasakan kekuatan samudera di dalam dirinya beresonansi secara sempurna dengan cahaya Alana. Mereka bukan lagi dua variabel yang bisa dimanipulasi; mereka adalah satu frekuensi absolut yang tak terbaca oleh mesin mana pun.
Arlo mundur selangkah, wajahnya memerah karena kemarahan yang luar biasa. Ia memberikan isyarat ke arah kegelapan palung di belakangnya yang tak terjangkau cahaya. Dari sana, muncul barisan prajurit dengan baju besi hitam serupa, namun mereka tidak berjalan mereka melayang dengan cara yang tidak alami, dan saat helm mereka terbuka, Alana terkesiap: wajah mereka semua adalah wajah kloning dari Arlo dalam berbagai usia.
"Jika kau menolak menjadi kunci yang patuh, maka kau akan menjadi fondasi bagi gerbang ini secara paksa melalui penderitaanmu!" teriak Arlo.
Tepat saat pasukan itu menyerbu, sebuah getaran dahsyat yang berbeda datang dari arah atas. Bukan dari laut, melainkan gema dari gunung. Perisai Nagasari di puncak sana meledak, mengirimkan sinyal terakhir yang paling kuat ke seluruh penjuru bumi melalui struktur tanah. Bukan Alana yang mengirimnya, tapi roh kakek Surya yang selama ini tersimpan sebagai cadangan terakhir di dalam mesin "Akar Bumi".
Sebuah surat batin terakhir muncul di hadapan Alana, membeku di tengah pusaran air: "Hancurkan menaranya, Alana. Hanya dengan meruntuhkan rumah kita, kau bisa memutus aliran energi yang mereka butuhkan untuk menjajah dunia ini. Maafkan kakek, tapi kau harus kehilangan rumah untuk menyelamatkan dunia."