Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Rasta mencengkeram erat kerah Yuda. Wajahnya memerah dan mengeras.
"KAMU APA?!"
"Tapi saya nggak liat, sumpah saya memalingkan wajah saya," Yuda membela dirinya. "Waktu itu perempuan itu pakai baju berkerah, saya cuman membuka beberapa kancing baju bagian atasnya aja. Saya turunin dikit bajunya biar bahunya keliatan saat difoto. Saya nggak buka semuanya!"
Dalam foto itu, leher dan kedua bahu Viola terekspos sehingga ia terlihat seolah sedang tidak memakai busana, sementara bagian tubuh lainnya tertutup selimut.
Meski Yuda mengakui ia tidak melihatnya, namun tetap saja Yuda sedikit-sedikit pasti melihat, entah sengaja atau tidak. Bahkan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Viola.
"Ta, lepas. Duduk yang tenang," suruh Baim. Rasta setia mencengkeram kerah baju Yuda, enggan melepaskan. Namun setelah Baim menyuruhnya, barulah Rasta melepaskan dan kembali duduk. Dadanya masih terasa panas terbakar.
"Terus setelah itu? Apa yang terjadi?" tanya Rasta, setelah dirinya sedikit lebih tenang.
"Saya melepas kaos saya, lalu saya peluk perempuan itu. Kami pakai selimut, biar keliatan kayak habis berhubungan badan, dan ibu Liana yang mengambil foto kami." Yuda melanjutkan. Rasta memejamkan matanya.
Ya Allah, Mama ... Rasta tak habis pikir ibunya tega bertindak sejauh itu. Menjebak Viola begitu kejam supaya Rasta menceraikannya. Yang tidak bisa dimengerti oleh Rasta, kenapa ibunya melakukan semua itu? Mengapa ia menginginkan Rasta dan Viola berpisah?
Baim turut prihatin atas semua yang terjadi pada rumah tangga sahabatnya. Hancur karena kesalahpahaman.
Dia memberi tepukan beberapa kali di bahu Rasta, seolah ingin menyalurkan sedikit kekuatannya untuk Rasta.
"Saya minta maaf, saya nggak bermaksud. Saya waktu itu sedang dalam keadaan kepepet. Tapi sebenarnya tiga bulan setelah kejadian itu, saya berusaha menemui anda, ingin menjelaskan. Saya beberapa kali menunggu tak jauh dari rumah anda, memantau dan berharap anda akan muncul, tapi rumah itu selalu sepi. Kosong."
Rasta mendesah panjang. Pantas jika Yuda tidak bisa menemukan Rasta, karena tiga bulan setelahnya, Rasta dan Viola resmi bercerai dan Rasta langsung terbang ke luar negeri.
Rumahnya dengan Viola dulu dikosongkan. Rasta bahkan belum menginjakkan kakinya di rumah itu lagi, bahkan setelah dia pulang dari luar negeri lebih dari tiga tahun yang lalu.
Rasta pikir, dia tidak akan sanggup untuk masuk ke dalam rumah yang penuh kenangan dengan Viola itu. Dan membiarkan rumah itu terbengkalai.
"Berapa uang uang mama saya kasih buat kamu?" Rasta bertanya.
Yuda tidak langsung menjawab. Beberapa saat ruangan terasa mencekam.
"Lima puluh juta."
Rasta tertawa hambar, kepalanya menggeleng. "Pernikahan yang sah dan suci harus kalah dengan uang lima puluh juta?"
Satu kata, miris.
Rasta ingat, sebelum kejadian itu terjadi, Viola pernah merengek ingin ikut dirinya yang harus bekerja di luar kota bersama tim produksi. Rasta menolak keinginan Viola itu, ia pikir Viola akan lebih aman berada di rumah, toh dirinya hanya akan ke luar kota selama dua Minggu.
Jika tahu mamanya memiliki niat sejahat itu, Rasta tidak akan pikir panjang. Akan dia bawa Viola ke mana pun dia pergi.
Rasta tahu, dia tidak bisa mengulang waktu untuk memperbaiki semuanya. Namun, bisakah dia mendapatkan kesempatan kedua? Sedangkan hati Viola sudah tertutup rapat.
Bisakah Rasta membawa Viola dan Vita kembali ke dekapannya?
*
"Gue udah rekam semuanya tadi. Ntar gue kirim ke lo, oke?"
Rasta hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Baim yang mulai menjalankan mobilnya. Malam sudah semakin larut, udara terasa dingin menusuk tulang, jam digital di tangan Rasta menunjukkan pukul dua pagi.
"Langsung pulang, Ta?" Baim bertanya lagi sambil melirik Rasta yang tampangnya sangat kacau sekali.
"Tauk, Im. Gue males banget pulang. Gue gak tau harus bersikap gimana kalau ketemu mama nanti," jawab Rasta. "Gue pengennya ketemu sama Vita sama Viola. Gue pengen peluk mereka."
Baim menghela napas. "Udah malem, Ta, lo nggak mungkin samperin mereka sekarang. Mending nginep di rumah gue aja, mobil lo juga masih di rumah gue, kan? Besok, kalau lo udah mandi, udah gagah lagi, baru deh lo samperin anak lo. Masa lo mau nemuin Vita tampangnya kayak gembel gini."
Baim mencoba bergurau untuk menghibur Rasta. Dan itu berhasil membuat Rasta tersenyum tipis.
"Thanks ya udah banyak bantuin gue."
"Sama-sama, Ta." Baim meninju pelan bahu Rasta dengan kepalan tangannya. "Jadi habis ini rencana lo apa?"
Rasta menoleh seraya mengangkat sebelah alisnya. "Apa lagi? Gue ... Ya pengen banget lah balikan lagi sama Viola. Kita juga udah ada Vita, kan? Biar dia punya orang tua yang utuh, nggak tercerai berai kayak gini. lagian..." Rasta tak langsung melanjutkan.
"Gue gak bisa benar-benar berhenti mencintai dia."
"Cieeeeee," Baim menggoda Rasta.
Rasta berdecak. Merasa sedikit menyesal telah jujur tentang perasaannya. Rasta sedang serius, Baim malah bercanda.
"Emang Viola mau diajak balikan? Mana tau dia udah punya pacar."
Rasta langsung menegakkan tubuhnya. "Serius? Dia udah punya pacar?"
"Gue mana tau. Gue nebak-nebak aja, seandainya gitu lho, Taaaaa...."
Rasta sedikit bernapas lega. Kembali dia menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Tapi waktu itu gue pernah nyoba ngasih bunga ke Viola. Ditolak."
"Beneran?" Baim malah tertawa. "Kalau gitu selamat berjuang lagi, Bro. Semoga aja Viola mau maafin lo dan nerima lo lagi."
Rasta juga berharap seperti itu.
*
"Kapan Vita bisa ketemu sama papa lagi ya, Ma?"
Viola menghela napas panjang. Itu adalah pertanyaan entah ke berapa yang Vita ajukan semenjak pertemuannya dengan Rasta di taman, kemarin. Rasanya, hampir setiap menit Vita menanyakan kapan bisa bertemu dengan Rasta.
"Nanti ya, tunggu mama libur kerja."
"Mama kapan dong liburnya?"
"Masih lama. Lima hari lagi."
"Yaaaahh," Vita mendesah kecewa.
Jika ingin mempertemukan Vita dengan Rasta, itu artinya Viola harus memiliki waktu luang yang lumayan banyak. Dia tidak bisa membiarkan ayah dan anak bertemu di rumah, sebab Sinta masih memendam amarah terhadap Rasta lagi.
Pertemuan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengatahuan Sinta. Sudah mirip seperti pasangan yang backstreet Vita dan Rasta itu.
Saking inginnya bertemu dengan Rasta, dan selalu memikirkan papanya, nafsu makan Vita menurun. Dia hanya makan sedikit-sedikit, minum susu pun tidak mau, apalagi makan jajan.
Padahal biasanya Vita jadi si tukang menghabiskan makanan apalagi jajan. Vita sekarang benar-benar mirip seperti cewek yang sedang kasmaran.
Suara deru mobil yang berhenti di depan rumah, mengalihkan perhatian Vita yang sedang menonton acara kartun di televisi.
Dia segera melompat dari duduknya, lari ke depan. Disusul Viola di belakangnya yang berteriak, "Jangan lari-lari entar jatuh!"
"PAPAAAAAAA!!" Teriakan Vita menggema begitu melihat Rasta turun dari mobil. Dia berlari kencang menghampiri papanya.
"Hai!" Rasta merentangkan kedua tangannya. Ia menangkap tubuh kecil Vita, mengangkatnya, lalu memutar-mutarnya di udara sebelum kemudian memeluknya.
"Vita kangen."
"Sama. Papa juga kangen banget."
Viola hanya melihat Vita, yang berada dalam gendongan Rasta, dari ambang pintu. "Untung mama lagi nggak ada di rumah," gumamnya.
Mata Rasta menangkap keberadaan Viola, dia tersenyum tipis. Namun, Viola langsung memalingkan wajahnya tanpa membalas senyum Rasta.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu