"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 17
"Lin Wu tunggu!"
DEG!
Jantung Lin Wu seolah berhenti detik itu juga, tapi tidak dengan langkahnya yang terus berjalan keluar menuju mini busnya. Namun, langkahnya kalah cepat dengan lelaki yang saat ini sedang mengejarnya.
"Lepas, lepaskan aku!" Lin Wu memberontak saat tangannya di cengkeram kuat oleh lelaki tampan itu.
Bukan tanpa alasan Yanshen melakukan itu, semua dia lakukan karena tidak ingin kehilangan istri yang sangat dia rindukan selama ini. Sosok perempuan yang berhasil memporak-porandakan dunianya hingga hancur berkeping-keping. Sekarang takdir mempertemukannya, tentu saja Yanshen tidak ingin melewatkan begitu saja. Dia akan mempertahankan perempuan itu yang masih berstatus sebagai istrinya.
Cukup sudah selama ini dia terbelenggu dengan rasa penyesalan yang begitu mendalam. Kali ini dia berusaha untuk memperbaikinya dan membawa sang istri pulang bersamanya. Tidak peduli sesulit apa dia menaklukkan hati istrinya itu, terpenting tekadnya sudah bulat untuk memperbaiki dsn menebus kesalahannya di masa lalu.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu lagi, sayang. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, tolong jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon ...."
"Heh' ada apa denganmu? Kenapa kau bicara seperti itu, bukankah kau sudah bahagia bersama perempuan pilihan Mommy mu?" sahut Lin Wu sinis sambil terus meronta berusaha lepas dari cengkeraman Yanshen.
Yanshen berkerut alis dalam, kedua netranya sudah berkaca-kaca menatap perempuan yang ada di hadapannya. Tujuh tahun tidak bertemu, tapi perempuan itu masih terlihat baik-baik saja. Tubuhnya juga semakin berisi. Begitu juga dengan wajahnya, sama sekali tak banyak berubah, hanya saja lebih dewasa dan .... semakin cantik.
Ya saat ini Lin Wu terlihat semakin cantik dari sebelumnya, tentu saja hal itu membuat Yanshen tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah cantik itu yang sukses menyihirnya. Tapi, ada satu hal yang berubah dari perempuan itu, sejak kapan sifatnya berubah? Yanshen ingat betul bagaimna Lin Wu yang dulu sangat manis dan lembut. Tak apa, meskipun begitu sama sekali tak membuat cintanya goyah pada sang istri. Dia akan tetap mencintainya seumur hidup.
"Bahagia, siapa yang bahagia? Justru hidupku hancur tanpa kau di sisiku. Aku hampir saja gila mencari keberadaan mu yang tak kunjung ketemu. Tapi ... takdir baik berpihak padaku, akhirnya sekarang aku menemukanmu sayang. Aku mohon kembalilah padaku, jangan pernah tinggalkan aku lagi. Sungguh aku tidak bisa hidup tanpa dirimu sayang," ungkap Yanshen mengeluarkan segala unek-unek yang bersarang di hatinya.
"Maaf, maafkan aku sayang. Maaf karena telah menyakitimu selama ini, bahkan sering kali aku mengacuhkan mu. Aku dengan bodohnya percaya begitu saja dengan hasutan Mommy, membuatku tidak bisa berpikir jernih waktu itu. Tolong berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan menebus semua kesalahanku di masa lalu. Aku berjanji tidak akan mengulangi kebodohan yang membuatku terjebak dalam lingkaran penyesalan," isak Yanshen. Kini tangan besarnya tengah mendekap tubuh Lin Wu dengan erat seolah-olah takut bila istrinya itu pergi.
"Lepas, lepaskan aku Yanshen!" Tak hentinya Lin Wu terus berontak namun tidak dihiraukan oleh Yanshen. Lelaki itu terus mendekap tubuh istri cantiknya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istri cantiknya itu.
"Tidak sayang! Aku tidak akan melepaskan mu. Kecuali ... kau berjanji dulu kalau kau tidak meninggalkanku lagi," tegas Yanshen yang tidak ingin menuruti keinginan sang istri. Dia takut bila istrinya akan berbohong dan pergi meninggalkannya lagi.
"Ingat status kita Yanshen, kita sudah bercerai. Jadi ... jaga sikapmu," ucap Lin Wu memperingati. Yang Lin Wu tahu dirinya sudah bercerai dari Yanshen secara Ibu mertuanya yang tidak menginginkan nya sebagai menantu.
Jadi, Lin Wu merasa tindakan Yanshen ini tidak pantas karena lelaki itu telah menikah. Dia tidak ingin membuat istri Yanshen salah paham dengan hal ini, terlebih saat ini posisi mereka ada di perusahaan milik keluarga Xie. Jelas, Lin Wu takut bila ada seseorang yang melihatnya berpelukan dengan Yanshen.
"Bercerai? Apa maksudmu, hm? Kapan aku menceraikan mu? Sedikitpun tidak ada niatan di hatiku untuk bercerai darimu, sekalipun Mommy memintaku ... aku tidak akan pernah mengabulkannya." Yanshen terpaksa mengurai pelukannya, menatap sendu wajah sang istri. Lelaki itu begitu geram dengan ucapan istrinya, bagaimana bisa dia berbicara seperti itu, berpikir kalau mereka sudah bercerai. Tidak tahukah istrinya itu, betapa gilanya dia selama ini mencari keberadaan istrinya yang tidak kunjung ketemu.
"Lin Wu kau ini masih istriku, dan selamanya akan tetap seperti itu. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku." Lanjutnya dengan tegas sambil menatap intens wajah cantik istrinya itu. Yanshen tampak tidak terima dengan ucapan sang istri, benar-benar membuatnya geram.
Lin Wu terkekeh mendengar penuturan lelaki di hadapannya itu. Seolah olah apa yang dikatakan Yanshen hanyalah sekedar lelucon untuk dapat menariknya kembali pada keluarga konglomerat itu. Tapi, tentu tidak bodoh Lin Wu yang percaya begitu saja dengan mulut buaya seperti Yanshen yang tidak dapat dipegang omongannya. Baginya sudah cukup dirinya hidup menderita dalam lingkaran keluarga konglomerat itu. Dan kali ini dia tidak ingin terperangkap kembali dalam lingkaran yang sama, terlebih saat ini ada si kembar. Jadi ... Lin Wu tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti atau menindas kedua anaknya itu.
"Lelucon apalagi yang kau buat Yanshen? Sampai-sampai kau bilang seperti itu, katakan saja jika memang kita sudah bercerai. Jadi ... tidak perlu lagi kau menyusun skenario dengan sebaik mungkin. Berusaha mati-matian akting sebaik mungkin di hadapanku. Kau pikir aku akan menangis dan mengemis, meminta padamu untuk rujuk setelah kau mengatakan bahwa kita sudah bercerai, hah? Tidak! Kau salah Yanshen, justru aku senang bisa lepas dari lelaki sepertimu, terutama keluarga konglomerat yang sombong seperti kalian," balas Lin Wu menatap tajam pada Yanshen dengan dada yang bergemuruh hebat.
Perempuan cantik itu susah payah menahan air mata agar tidak jatuh, karena dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki yang selama ini telah mencampakkannya. Namun, tak bisa dipungkiri bila hatinya sangat sakit saat dia mengatakan hal seperti itu pada lelaki yang pernah dicintainya. Ya, meskipun kebencian menyelimuti dirinya tapi tetap saja tak dapat menghapus perasaannya pada lelaki itu. Rasa cinta yang dimilikinya begitu besar sebanding dengan kebencian yang dimilikinya, menimbulkan perang batin dalam benaknya.
"Sayang, kenapa kau bicara seperti itu? Kau tidak percaya padaku, atau aku terlihat seperti pembohong?" tanya Yanshen bingung. Sungguh dia tidak mengerti kenapa istrinya bicara seperti itu, padahal faktanya mereka masih sah menjadi suami istri. Dia sendiri tidak ingin bercerai dari istrinya itu, sosok perempuan yang sukses mencuri hatinya.
"Cukup Yanshen! Jangan persulit aku, tolong segera ceraikan aku. Terserah kau menikah dengan siapapun, aku tidak peduli, dan itu bukan urusanku. Ingat Yanshen, aku tidak sudi dimadu." Lin Wu menatap nyalang pada wajah Yanshen yang kini juga menatapnya.
Tatapan mereka saling bertemu beberapa saat, seolah keduanya berbicara lewat tatapan itu. Hingga beberapa saat kemudian, Lin Wu memutus kontak matanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin melihat wajah lelaki itu yang terlihat sendu karena ucapannya.
Yanshen mengacak gemas rambut hitam Lin Wu sambil mengulum bibirnya menahan tawa. Lelaki itu takut bila tawanya akan meledak di hadapan sang istri. Sekarang Yanshen mengerti kenapa istrinya bicara seperti itu, ternyata sang istri telah salah paham terhadapnya. Istrinya menyangka bahwa dirinya telah menikah dengan perempuan lain, namun faktanya tidak lah seperti itu.
"Sayang, sayang ... jangan sembarang omong. Siapa juga yang ingin memberimu madu, hm? Aku sudah bilang bukan, di hatiku cuma ada dirimu seorang. Kalau kau tidak percaya, silahkan kau belah saja dadaku ini biar kau percaya. Ini dada isinya kamu semua sayang," ucap Yanshen sambil menarik tangan Lin Wu kemudian menempelkannya di dada bidang miliknya.
"Ayo, belah saja dadaku ini biar kau puas dan tidak asal bicara."
"Bagaimana, apa kau sudah merasakan detak jantungku ini, hm?"
Lama terdiam, membuat Yanshen kembali bersuara. Namun, kali ini lelaki itu tidak bicara melainkan mengeluarkan syair mewakili perasaanya saat ini yang dia persembahkan hanya untuk istri tercintanya.
"Ulah siapa yang bisa buatku begini?"
Gila, ini bahagia apa menderita?
Langit lagi bagus-bagusnya, tapi bagiku biasa saja
Kau buatku terkesima."
Yanshen menatap intens sang istri tanpa kedip sedikitpun.
"Menyapamu tak berani, menciummu apalagi
Mata, pundak, lutut, kaki, gemetar ku berdiri
Kalau sampai kumiliki, tak mau ku tidur lagi
Alamat, malah nanti kau pergi."
Perlahan Yanshen menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah cantik istrinya.
"Kalau ada sembilan nyawa
Mau samamu saja semuanya
Ini dada isinya kamu semua
Alamak, inikah jatuh cinta?"
Tangan besar Yanshen menunjuk dada bidang miliknya kemudian beralih menunjuk ke arah Lin Wu dengan jari telunjuknya sambil tersenyum.
"Apa kamu sayang? Apa khayalan? Cubit aku sekarang, ya
Buat mabuk kepayang, seketika pingsan, mana napas buatan? Ya."
Kedua netra lelaki itu masih tetap setia pada wajah yang telah membuatnya terpanah.
"Can I see you for a minute? Boleh aku visit?
See your mom and dad, aku pamit
Kalau memang naga-naganya kau berkenan, ku berangkat sekarang."
"Menyapamu tak berani, menciummu apalagi
Mata, pundak, lutut, kaki, gemetar ku berdiri
Kalau sampai kumiliki, tak mau ku tidur lagi
Alamat, malah nanti kau pergi."
"Kalau ada sembilan nyawa
Mau samamu saja semuanya
Ini dada isinya kamu semua
Alamak, inikah jatuh cinta?"
Kembali tangan besar Yanshen menunjuk dada bidang miliknya kemudian beralih menunjuk ke arah Lin Wu dengan jari telunjuknya sambil tersenyum, kemudian mencium lembut jemari tangan sang istri.
.
.
.
🥕Bersambung🥕
Hai kesayangan othor 🖐️ gimana udah puas belum dengan part ini ....
Moment yang paling kalian tunggu-tunggu 😂🤭
Apa sudah sesuai dengan ekspektasi kalian, hm? Kalau belum, mohon dimaklumi ya jika ada kekurangan othor dalam menulis dia setiap part-nya, semoga kalian tetap suka dengan alur ceritanya 😊🙏🙏
Oh iya othor udah up banyak nih hari ini, bisa kasih like komen dan gift nya kah buat othor (mode maksa nih 🤭) kalau nggak juga gak apa-apa, udah mampir aja othor senang banget 😊
Terima kasih banyak buat para reader othor udah setia menunggu update nya, peluk cium jauh buat kalian semua 🤗😘