Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengobrol...
"Semua keluar dari ruangan ini!" titah Arjuna tegas.
membuat semua yang ada diruangan itu langsung keluar tanpa sepatah kata.
Pintu tertutup. Ruangan itu kembali hening, hanya ada Arjuna dan Indira.
Arjuna bersandar lemas di bantal, wajahnya pucat pasi dan menahan batuk. Indira berdiri pincang, memegang tasnya.
Arjuna melihat luka di kaki Indira, tetapi rasa haus dan sakit yang mencekiknya jauh lebih mendominasi daripada rasa iba. Rasa egois yang muncul karena kebutuhan fisik yang ekstrem mengambil alih.
"Tuan Arjuna," panggil Indira, suaranya pelan dan menahan sakit. Ia buru-buru menjatuhkan tas dan melangkah pincang mendekati ranjang.
"Cepat!" desis Arjuna, suaranya serak dan menuntut, tanpa sedikit pun menanyakan keadaan kaki Indira.
Baginya, gadis itu adalah penawar yang harus tersedia sesegera mungkin.
Indira tidak punya pilihan. Ia segera membuka hoodie dan branya yang berwarna pink. Ia tidak sempat duduk nyaman, hanya menyandarkan lututnya di ranjang dan menyodorkan putingnya ke mulut Arjuna.
Arjuna langsung melahap. Ia menghisap dengan kuat, rakus, seolah tidak peduli bahwa gadis yang sedang ia hisap nutrisinya itu sedang menahan rasa sakit di kakinya.
Indira meringis, namun ia menahan suara. Rasa sakit di jempol kakinya yang bengkak berdenyut hebat setiap kali ia harus menumpu berat badannya yang terhuyung. Ia hanya bisa bersandar pada bahu Arjuna, memejamkan mata, fokus pada aliran lega yang menyebar ke seluruh tubuhnya, berharap ini cepat selesai.
Di tengah hisapan yang kuat itu, Arjuna merasakan tubuh Indira sedikit bergetar. entah karena posisi gadis itu yang tidak stabil,atau karena kakinya yang terasa sakit.. Ia sempat terganggu, tetapi ia terlalu didominasi oleh rasa haus untuk peduli. Ia hanya menggeser sedikit posisi tubuhnya agar Indira bergeser juga.
Habis dari dada yang satu,Arjuna beralih ke dada satunya lagi.
Glek..glekkk..glekkk..!
suara cairan yang ditelan Arjuna terdengar jelas ditelinga Indira.
Asinya cukup deras dan bisa menutupi kebutuhan pria dewasa itu.
Sebagai imbalannya Indira jadi kuat ngemil dan juga suka makan.
Beberapa menit berlalu. Rasa haus Arjuna sudah hilang total. Ia melepaskan puting Indira yang sudah memerah akibat hisapan nya yang kuat.
"Sudah," kata Arjuna singkat, suaranya kini kembali normal, dingin, dan sedikit lelah.
Tentu saja sudah,,airnya sudah habis dikuras.
Indira dengan cepat merapikan pakaiannya. Ia lalu meraih tas sekolahnya, mengeluarkan kotak yang tadi dia beli. Itu adalah pompa ASI digital yang dibelinya dengan harga mahal.
"Apa itu?" tanya Arjuna penasaran.
"Tuan," kata Indira, memaksakan diri agar berdiri tegak meskipun kakinya sakit. "Aku... aku membeli ini." Ia menyodorkan kotak itu.
Arjuna menatap kotak di tangan Indira, lalu ke wajah gadis itu dengan tatapan datar.
"Apa ini?" ulang Arjuna tanpa emosi.
"Pompa ASI, Tuan. Aku... aku ingin mencoba memompa dulu, jadi Tuan bisa minum dari sedotan atau gelas. Aku tidak nyaman kalau terus-terusan begini, Tuan.
Lagipula, kondisi Tuan semakin membaik, kan? Dan... aku juga tidak mau terus-terusan mengganggu waktu istirahat Tuan dengan kontak fisik," jelas Indira, suaranya bergetar karena rasa sakit dan kecanggungan.
Arjuna hanya menatap kotak itu sebentar, lalu beralih ke kaki Indira yang berdarah.
"Kamu jatuh dan terluka di koridor rumah sakit, hanya karena kamu buru-buru menuruti perintahku," kata Arjuna, nadanya faktual, tanpa emosi. "Dan kamu memilih alat ini daripada cara yang sudah terbukti cepat dan efektif?"
"Tapi Tuan, ini bisa membantu..."
"Tidak," potong Arjuna, suaranya tegas dan final. "Sampai dokter menyatakan aku benar-benar bisa minum dengan cara lain, kita tetap melakukannya secara langsung. Simpan alat itu."
Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk meraih kotak itu, melainkan untuk meraih ponsel di nakas. Ia tidak lagi melihat ke arah Indira.
"Aku akan panggil perawat. Urus kakimu," perintah Arjuna.
Indira tertunduk kecewa. Penolakan Arjuna terasa dingin dan menyakitkan. Ia sudah mengambil risiko, mengeluarkan banyak uang, dan kini semua usahanya ditolak mentah-mentah.
Ia memasukkan kembali kotak pompa ASI itu ke tasnya.
Rasa sakit fisik di kakinya kini bercampur dengan rasa sakit di hati karena merasa usahanya tidak dihargai, dan ia hanya dianggap sebagai ‘alat’ penawar rasa sakit.
Tidak ada ucapan terima kasih atas pengorbanan dan kecepatan Indira. Hanya perintah untuk membersihkan diri dan menyimpan alat itu.
Arjuna menekan tombol interkom. "Panggil perawat dan Bik Darsih masuk. Tolong periksa kaki Nona Indira."
Pintu terbuka. Darsih, perawat, dan Toni segera masuk.
Darsih segera menghampiri putrinya dengan wajah cemas, sementara perawat membawa kereta dorong berisi peralatan medis.
"Ya Tuhan, Nak, kenapa begini?" Darsih memeluk Indira erat.
"Sudah, Bik Darsih," potong Arjuna dengan suara tegas. "Perawat, tolong periksa kaki Indira. Pastikan tidak ada yang parah."
Perawat dengan sigap membantu Indira berbaring di ranjang Arjuna—tentu saja di sisi yang berlawanan dari posisi Arjuna. Mereka dengan hati-hati membersihkan luka, mengeluarkan serpihan kecil dari jempol kakinya, dan memberikan obat antiseptik.
Indira meringis pelan. Arjuna hanya memperhatikan dari samping, rahangnya mengeras. Ia tidak menunjukkan emosi, tetapi di dalam hatinya, ia merasa sangat bersalah. Keegoisannya tadi saat dilanda rasa haus telah menyebabkan gadis itu menderita.
"Lukanya cukup dalam di bagian kuku jempol, Tuan," lapor perawat. "Tapi tulangnya tidak apa-apa, hanya memar dan robekan di kulit. Saya sudah memberikan salep dan akan membalutnya dengan perban steril. Nona Indira tidak boleh terlalu banyak berjalan selama beberapa hari."
"Bagus," kata Arjuna. "Tolong berikan salep terbaik agar tidak meninggalkan bekas luka. Dan beri dia obat pereda nyeri yang kuat."
Setelah perawat selesai, Darsih membantu Indira duduk kembali.
"Bik Darsih," panggil Arjuna. "Tolong panggil Toni kembali."
Toni masuk dengan sigap.
Arjuna menatap Toni, lalu ke Indira yang mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.
"Toni, dengarkan baik-baik," perintah Arjuna dengan nada yang dingin dan otoriter, kembali ke persona Tuan yang berkuasa. "Mulai sekarang, Nona Indira adalah tanggung jawab utama kamu di sini, selain aku. Kamu harus memastikan dia tidak terluka lagi. Dia tidak boleh keluar dari ruangan ini tanpa ditemani, bahkan hanya ke toilet jika dia kesulitan berjalan. Semua kebutuhan sekolahnya, barang pribadinya, harus diurus olehmu atau Bik Darsih."
Toni mengangguk teguh. "Siap, Tuan Arjuna."
"Dan ada satu lagi," lanjut Arjuna. "Aku tidak mau ada urusan sekolah Nona Indira yang tertunda. Toni, kamu akan menghubungi sekolahnya besok pagi. Atur agar ada guru privat yang datang ke sini. Semua biaya aku tanggung. Pelajaran tidak boleh terlewat lagi. Jangan sampai dia harus mengambil risiko pulang lagi hanya untuk buku."
Indira terkejut. Ia tidak menyangka Arjuna akan sampai sejauh ini, menggunakan kekuasaannya untuk menyelesaikan masalah sekolahnya.
"Tuan Arjuna, tidak usah repot-repot," kata Indira, merasa tidak enak.
"Diam," potong Arjuna singkat, menatapnya tajam. "Ini bukan repot. Ini adalah kompensasi atas kerugian dan rasa sakit yang aku sebabkan. Kamu terluka karenaku."
Ia kembali menatap Toni. "Toni, pastikan ini diurus sebelum malam tiba."
"Siap, Tuan," Toni membungkuk dan segera keluar untuk melaksanakan perintah.
Malam tiba. Darsih dan Indira sudah selesai makan malam.
Indira masih duduk di ranjang utama, kakinya bersandar di bantal. Perawat sudah memberikan obat pereda nyeri, membuatnya merasa sedikit mengantuk.
Darsih duduk di sofa, mengepang rambut Indira dengan rapi,sementara Arjuna sendiri sedang menyelesaikan panggilan bisnis memakai headset-nya.
"Bik Darsih," panggil Arjuna setelah menyelesaikan panggilan. "Hari ini Indira tidur di ranjang utama saja. Dia tidak boleh banyak bergerak."
Darsih terkejut, namun ia mengangguk patuh. "Baik, Den. Tapi... Den Arjuna tidak keberatan?"
Arjuna melirik Indira, yang kini memandanginya dengan tatapan kaget. "Tidak. aku butuh Indira saat malam,, tapi bibik pulang saja,atau di ruangan sebelah,," titahnya.
Ini adalah perintah yang didasari rasa bersalah murni, tetapi Arjuna menyampaikannya seolah-olah itu adalah solusi logis.
Indira tidak berani membantah. Malam itu, ia kembali tidur di ranjang yang sama dengan Arjuna.
Arjuna berbaring membelakangi Indira, menjaga jarak yang sangat ketat, seolah ada dinding tak terlihat di antara mereka. Ia berusaha keras untuk tidak memikirkan kehangatan gadis itu yang berada hanya beberapa sentimeter di belakangnya.
Indira juga berhati-hati, memejamkan mata, berharap rasa kantuk segera datang. Luka di kakinya masih berdenyut, tetapi perhatian dan janji Arjuna tentang guru privat membuatnya merasa jauh lebih lega.
Tuan Arjuna tidak sepenuhnya egois, pikir Indira. Dia mungkin tidak peduli pada rasa sakitku saat dia haus, tapi dia bertanggung jawab setelah itu.
Ia merasa bingung dengan perasaan ini. Arjuna memperlakukannya seperti objek saat lapar, tetapi sebagai majikan yang penuh tanggung jawab saat kenyang.
"Indira,," panggil Arjuna tanpa membalikkan tubuhnya.
"Ya tuan,,"
Sahut Indira cepat.
"Sepertinya kamu harus minum susu khusus menyusui,,agar asimu semakin banyak."
Indira menggigit bibirnya menahan malu,kalimat seperti itu membuat perutnya mual.
"Apa asinya tidak banyak lagi tuan?" tanya nya malu malu.
"Bukan tidak banyak,sangat banyak malahan,,tapi frekuensi menyusu ku semakin banyak,takutnya tubuhmu tidak mampu memenuhi kebutuhan ku,,"
"Lagipula kamu pasti akan lapar setelah asimu kuambil kan?" tambah Arjuna lagi.
Indira mengangguk membenarkan.
"Iya tuan,,aku memang sangat lapar kalau setiap kali tuan menguras habis."
"Aku sudah memerintahkan Toni untuk mengisi semua kulkas dengan makanan dan juga minuman,,makanlah setiap kali kamu lapar,,"
"Terimakasih tuan."
"Tidurlah,,mungkin sebentar lagi aku akan membangunkan mu."
bersambung..