menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
klee yang unjuk gigi
Klee menarik tubuh Toma menjauh dari pusat pertarungan.
Tanah di bawah kaki mereka retak akibat tekanan aura Sylva yang masih mengamuk di belakang.
Toma terengah, dadanya naik turun tidak beraturan, pandangannya sempat berkunang-kunang.
Ia menoleh.
Di kejauhan, Sylva berdiri tegak.
Sosoknya tak bergerak, namun keempat pasang mata berwarna itu menatap tajam ke arah Klee—tatapan seorang algojo yang sedang menilai mangsanya.
“Hm,” gumamnya pelan.
“Siapa lagi ini…”
Sementara itu, Klee menoleh ke belakang sambil tetap menopang Toma.
“HYAAA—APAAAN ITU, TOMA?!” teriaknya panik.
“GEDE BANGET, TERUS JUMLAH NAGA KAYU ITU BANYAK BANGET."
Toma berusaha tersenyum meski napasnya berat.
“Klee…” ucapnya lirih.
“kau… datang…”
Klee langsung menatap wajah Toma, jelas khawatir.
“Kamu nggak apa-apa, kan?”
“Maaf ya aku telat… aku beresin Sylvara sama Elviera dulu soalnya.”
Mereka mendarat jauh dari medan utama.
Jarak mereka dengan Sylva sangat jauh, tapi tekanannya masih terasa.
Klee membantu Toma duduk bersandar di batang pohon yang setengah hangus.
“Toma,” katanya lebih pelan, tapi tegas.
“Lu istirahat dulu, oke?”
“Serius, lu hebat banget masih hidup lawan yang begituan.”
Ia tersenyum kecil.
“Lu tidur bentar juga nggak apa-apa.”
“Aku mau selametin Alven dulu yang masih dililit itu.”
Klee berbalik hendak pergi.
“Klee, tunggu…” Toma mencoba berdiri, tapi gagal.
“Itu bukan Lucyfer…”
“Itu kloning terkuatnya…”
Klee berhenti sejenak, lalu menoleh sambil mengangkat tongkat sihir cintanya.
“Justru itu,” katanya ringan.
“Kalau yang kuat, ya dipukul lebih keras.”
Ia melesat maju dan penuh dengan senyum percaya diri.
“Sihir Cinta: Tusukan Kasih Sayang!”
Cahaya merah muda membungkus tongkatnya.
Klee berlari lurus tanpa ragu.
Seketika, naga-naga kayu bergerak, tekanan angin dahsyat menghantam ke arahnya—namun satu tusukan cepat dari Klee membuat dua naga terpotong bersih, akar-akar kayu memanjang di udara.
Sylva menyipitkan mata.
“Hm…” kata nya dalam hati
“Tak buruk.”
“Tak kusangka ada manusia yang bisa memotong naga kayuku.”
Klee berhenti tepat lima belas meter di depan Sylva.
“Hei kamu!” teriaknya sambil menunjuk.
“LEPASIN ALVEN SEKARANG, ATAU KU KALAHKAN KAMU!”
Sylva menatapnya merendahkan.
“Diam, pendek.”
“Kau pikir siapa dirimu berani memerintahku?”
“Hanya Tuan Lucyfer yang pantas.”
Klee membeku.
“Pendek…?” tanya klee dalam hati nya
“PENDEK?!”
“SIAPA YANG PENDEK?!”
Mukanya langsung memerah dan berteriak ke Sylva.
“Aku emang nggak setinggi Toma…”
“Tapi juga nggak pendek-pendek amat, tahu!”
“Padahal kami juga sama-sama pendek berani-beraninya ngejek!”
“KAU KETERLALUAN!” teriak Klee malu malu.
Tanah kembali bergetar. Tujuh naga kayu baru muncul, lengkap dengan mata merah menyala.
Klee menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Sihir Cinta: Rasa Sakit dalam Tangis.”
Setiap langkah Klee disertai gelombang emosi yang menghantam naga-naga kayu.
Mereka mengaum kesakitan, gerakan mereka melambat, fokus mereka kacau.
Namun satu naga mengeluarkan tangan tanah raksasa—nyaris menangkap Klee.
Naga lain menyemburkan api.
“WHOAAA!!” Klee melompat, nyaris terkena.
Sylva mengangkat tongkatnya perlahan dan mengeraskan gigi nya.
“Baiklah…”
“Saatnya mengakhiri permainan.”
“Sihir lima kloning element: Hujan sihir Element Penuh Kesakitan.”
Belasan naga kayu muncul bersamaan.
Dari udara turun sihir-sihir elemen—api, angin, tanah, kabut.
Golem-golem kecil berlarian, ledakan terjadi di mana-mana.
Kabut menelan pandangan Klee.
Namun—
Ia masih berdiri.
Tersentak, tapi bertahan.
Scene beralih ke Toma.
Toma yang terengah di bawah pohon, melihat sesuatu bergerak pelan di balik kekacauan.
Bunga mawar itu.
Mawar inti kloning.
Ia sedang kabur.
“Sial…”
“Kalau itu lolos—”
Toma menggertakkan gigi.
“Aku harus kejar.”
Ia mencoba bangkit, melepaskan Alven.
Namun—
Naga-naga kayu bergerak serempak.
Mereka menghalangi jalan.
Bukan untuk menyerang—
melainkan menahan.
Menahan Toma dan Alven agar tidak mengejar mawar inti itu.
Dan di balik pikiran kloning element—
Lucyfer tersenyum, tanpa seorang pun melihatnya.