Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eleara Cucuku
"Kakek ku tentu saja tahu, selama ini anak buah nya selalu memantau ku dari jauh, dan mungkin saja adegan saat kita berciuman hari ini telah sampai pada telinga kakek ku." Jawab Hani malas, jika suatu saat bertemu dengan kakeknya itu pasti kejadian itu akan selalu diungkit-ungkit.
...--------------------------------...
Darren tidak tahan untuk tersenyum mendengarkan ucapan Hani. "Baguslah, jadi mulai sekarang aku akan melaksanakan tanggung jawab ku untuk menjaga mu sesuai perintah kakekmu kepada ku" ujar Darren.
Hani membuang nafasnya kasar. "Sudahlah ayo kita pulang kerumah ku, kita harus membahas tentang misi yang selanjutnya." ucap Hani dan langsung berdiri melangkah meninggalkan Darren disana.
"Eleara tunggu aku sayang" ucap Darren dan segera mengikuti langkah kaki gadisnya itu.
Para anak buah Darren saling pandang, kejadian hari ini sungguh sangat susah ditebak, ternyata kehadiran sosok Eleara atau Hani di hidup Darren dapat merubah suasana.
•
•
•
Mansion utama keluarga Arclight
Sementara itu dimansion utama keluarga Arclight, di Amerika Serikat. Tuan Alexander Crowe Arclight disertai nyonya Eleanor Voss Arclight sedang duduk diruang tamu berhadapan dengan tuan Marco Vireaux dan nyonya Diana Elizabeth Vireaux.
"Jadi ada hal penting apa anda datang menemui ku tuan Marco?" tanya tuan Alex.
"Kami hanya ingin memastikan satu hal tuan Alex, apa benar cucu yang selama ini anda sembunyikan bernama Hani Ravenna Arclight?" tanya tuan Marco tanpa basa basi.
Tuan Alex tampak tersenyum hangat begitupun dengan nyonya Eleanor. "Eleara cucuku" ucap nyonya Eleanor.
Tuan Marco dan nyonya Diana yang mendengar ucapan nyonya Eleanor sontak membuat mereka saling pandang. ' Apa kita sudah salah orang? ' pikir mereka.
"Hani Ravenna Arclight adalah nama lain dari cucuku, saat pertama diasingkan di Indonesia orang-orang mengira bahwa dia bukan penduduk asli negara itu, maka dari itu dia mengubah nama depan nya menjadi Hani, dan nama aslinya adalah Eleara Ravenna Arclight." ucap tuan Alex menjelaskan.
Tuan Marco dan nyonya Diana yang mendengarkan penjelasan dari tuan Alex akhirnya tampak lega. "Jadi nama asli Hani adalah Eleara?" tanya nyonya Diana.
Tuan Alex terkekeh kecil karena pertanyaan itu, membuat mereka semua bingung, bahkan nyonya Eleanor juga tidak mengerti mengapa suaminya itu terkekeh. "Mengapa kau tertawa seperti itu?" tanya nyonya Eleanor.
"Bukan kah kalian seharusnya sudah mengetahui akan hal itu? aku lihat hubungan cucuku dengan putra kalian sangat dekat, bahkan beberapa jam lalu anak buah ku memberi kabar bahwa putra kalian sudah berani mencium cucuku di depan semua orang" ujar tuan Alex, walau beliau tidak mempersalahkan akan hal itu karena memang berniat menjodohkan cucunya dengan putra Vireaux.
Tuan Marco dan nyonya Diana yang mendengar ucapan tuan Alex sontak terkejut. "B-bagaimana bisa?" tanya tuan Marco tidak percaya.
Begitupun dengan nyonya Eleanor yang merasa sangat terkejut, bahkan sampai memegangi dadanya. "Ini tidak bisa dibiarkan, cucuku harus segera dinikahkan dengan putra kalian!" ucap nyonya Eleanor tegas.
Tuan Marco dan nyonya Diana saling pandang. "Dari awal kami memang sudah merencanakan pernikahan antara putra kami dan cucu anda tuan Alex, tapi seperti nya cucu anda tidak menyukai Darren putra kami" ucap tuan Marco berterus terang, karena dari pandangan nya hanya Darren lah yang Hani.
Tuan Alex menganggukkan kepalanya. "Baiklah, jika cucuku tidak menyukai putra kalian maka aku berikan putra kalian waktu untuk mengejar cinta Eleara, aku yakin cucuku mudah jatuh cinta dengan pria tampan seperti Darren. Terlebih lagi putra kalian itu memiliki jangkauan yang sangat luas, jadi aku yakin bahwa cucuku akan tetap aman jika bersanding dengan putra kalian." ucap tuan Alex memaksa.
Tuan Marco dan nyonya Diana diam berfikir sejenak, hingga kemudian keduanya mengangguk bersamaan. "Tapi jika kami boleh tau mengapa Eleara cucu anda mengubah nama depan nya? bukan kah dulu anda bilang bahwa keturunan Arclight yang sangat luar biasa tidak anda ubah namanya" tanya tuan Marco.
Tuan Alex tampak menghela nafas berat. "Sebenarnya selain dengan alasan yang ku jelaskan tadi ada beberapa alasan lain juga yang membuat Eleara tetap bersikeras merubah namanya pada usia muda, salah satunya adalah karena dulu akibat kelalaian ku keberadaan nya yang berada di Indonesia hampir tercium oleh para musuh ku, namun setelah dia mengganti nama nya ntah mengapa para musuh ku itu tidak curiga lagi dengan nya" ucap Tuan Alex.
"Baiklah tuan Alex, aku akan menyampaikan kabar ini pada putraku" ucap tuan Marco akhirnya.
Tuan Alex tersenyum tipis. "Kau tidak perlu menyampaikan tentang hal ini kelada putramu, beberapa waktu lalu Eleara cucuku sudah memberi tahu tentang dirinya kepada putramu" ucap tuan Alex memberi pengertian.
Tuan Marco akhirnya hanya mengangguk saja menanggapi ucapan tuan Alex itu. Mereka semua melanjutkan pembicaraan itu hingga petang.
•
•
•
Bulan menggantung di langit langit malam, menyinari kawasan sederhana di perkampungan. Tepat disalah satu rumah sederhana terdapat beberapa orang yang sedang menikmati makan malamnya.
"Jadi kapan kau pulang?" tanya Hani kepada Darren ketika sudah menyelesaikan makan malam bersama-sama.
Darren mengangkat satu alisnya. "Kau mengusirku sayang?" tanya nya balik.
Hani menghela nafas berat. "Tidak juga" jawabnya datar.
Tin tinn
Bunyi klakson motor memecah suasana yang sedikit tegang itu, Hani langsung bisa menebak siapa yang datang ke rumahnya itu terlebih lagi anak buah Darren tidak menghalangi nya masuk ke dalam pelataran rumah Hani.
Hani bergegas bangkit dari tempat duduknya lalu keluar dari rumah melalui pintu belakang, dapat ia lihat sang sahabat sedang duduk bertengger diatas motor dengan mebawa beberapa kantong plastik hitam.
"Nah pas banget kamu dateng kesini, itu apa yang kamu bawa?" tanya Hani menyambut Mutia dengan senang hati.
Mutia perlahan turun dari atas motor dengan membawa kantong plastik hitam itu. "Oh ini? nanti aku kasih tau, sekarang kita masuk aja dulu" jawab Mutia kemudian melenggang masuk meninggalkan Hani.
Hani hanya menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya, tapi dia tidak mempersalahkan hal itu. Sedangkan Mutia yang baru saja masuk melewati pintu belakang rumah mendadak gugup ketika melihat Darren dan Jack yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Sudahlah mereka ga gigit kamu mut, buruan kesini" ajak Hani yang langsung duduk ke meja makan tepat berhadapan langsung dengan Darren, mau tak mau Mutia menuruti ajakan Hani dengan duduk dihadapan Jack karena meja makan itu hanya terdapat 4 kursi.
Pandangan Hani tetap jatuh pada kantung plastik hitam yang baru saja Mutia letakkan diatas meja, pasalnya ia bisa mencium aroma aroma masakan dari kantung plastik itu.
"Jadi apa yang kamu bawa itu mut?" tanya Hani sangat penasaran.
Mutia tersenyum canggung, ia berusaha menetralkan detak jantung nya karena sampai saat ini Jack atau lebih tepatnya sang pujaan hatinya tetap memandang ke arahnya. "Oh ini jajanan kampung yang biasanya kita beli diperempatan jalan, kan udah lama kita ga makan kaya gini bareng-bareng, dulu terakhir kali waktu kamu masih kelas 2 SMA" ucap Mutia sembari mengeluarkan satu persatu jajanan yang ia beli.
Hani sedikit terenyuh mendengar penuturan sahabatnya, ia tahu bahwa Mutia pasti merasa sedikit sedih jika membicarakan mengenai masa sekolah, karena ketika Hani dinyatakan lulus dengan jalur akselerasi Mutia malah harus terpaksa menghentikan sekolah nya karena keterbatasan biaya, bahkan hingga saat ini Mutia hanya menempuh pendidikan hingga kelas 2 SMA saja.
Sedangkan Darren dan Jack malah dibuat terkejut sekaligus bingung akan banyak nya jajanan yang Mutia keluarkan dari kantung plastik itu, terlebih lagi mereka tidak pernah melihat makanan seperti itu selama hidup.
"Makanan apa itu?" kini Jack yang sedari tadi diam akhirnya bersuara karena sangat penasaran akan makanan yang berada di hadapan nya saat ini.
Hani dan Mutia saling pandang kemudian tertawa terbahak-bahak. "Dasar bule, ini makanan orang lokal kalian pasti ga pernah cobain" sindir Hani pada dua pria dihadapan nya.
Mutia mengangguk setuju mendengar perkataan dari Hani. "Kau juga seorang bule Eleara sayang" ucap Darren akhirnya, hingga membuat Mutia sedikit bingung.
Mutia menatap Hani bingung. "Bule? Eleara? maksudnya?" tanya Mutia ke arah Hani.
Hani tersenyum samar. "Sepertinya memang sudah saat nya kamu tahu mut, nama asliku adalah Eleara Ravenna Arclight dan bukan Hani Ravenna Arclight. Aku adalah seorang gadis dengan keturunan darah Jerman dan Eropa yang tinggal di Amerika Serikat, dan aku mewarisi darah keturunan keluarga Alexander Crowe Arclight yang merupakan kakek ku. Aku bukan lah anak kandung dari Tio Mahendra dan Lilis Setiawati melainkan putri tunggal sekaligus cucu terakhir keluarga Arclight di Amerika Serikat, nama papa ku Lucien Kael Arclight dan mama ku Seraphina Nyx Arclight. Aku sengaja di asingkan ke negara ini karena musuh musuh kakek ku selalu mengincar darah keturunan Arclight, hingga saat ini identitas ku sebagai makhota Arclight masih disembunyikan." Jelas Hani memberi pengertian panjang lebar kepada sahabatnya.
Mutia benar benar dibuat melongo akan fakta yang baru saja ia dapatkan. "A-apa J-jadi kamu...." ucap Mutia syok.
Hani menghela nafas kecil. "Dulu orang-orang kampung pernah menganggap ku sebagai anak haram karena fisik ku yang jauh berbeda dengan ayah dan ibu bukan? hingga akhirnya mereka percaya setelah diberi sebuah hasil tes DNA yang telah dipalsukan, aku tidak heran akan kejadian itu karena memang fisik ku sangat berbeda dengan penduduk asli negara Indonesia." lanjut Hani dengan menatap Mutia yang masih syok dibuatnya.
"Hah sumpah demi apa?! " ucap Mutia sembari bangkit dari duduknya.
"Jadi aku berteman dengan seorang bule beneran? luar biasa, jadi sekarang aku memanggil mu apa? hani atau eleara? " ucap Mutia terkagum-kagum.
Hani menepuk jidatnya pelan, tak habis fikir dengan tingkah Mutia. "Panggil saja aku Hani, karena orang-orang dikampung ini tidak ada yang mengetahui nama asliku, tapi jika hanya berdua boleh menganggilku Eleara" ucap Hani.
Mutia mengangguk setuju. "Tapi kenapa kamu jadi datar dan ngga periang kaya biasanya?" tanya Mutia.
"Ini sifat asliku sebagai Eleara, dan sifat periang ku itu hanya sebuah kebohongan untuk menutupi kesedihan" Jawab Hani.
Mutia hanya ber oh ria saja walaupun ia penasaran akan kesedihan yang Hani aka Eleara alami. "Berarti dua orang dihadapan kita tahu tentang hal ini?" tanya Mutia berbisik pelan tepat di sebelah telinga Hani.
Hani hanya mengangguk saja sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Ia memejamkan mata nya cukup lama untuk mengusir pikiran berat yang menerpa dirinya.
Tentu saja hal yang dilakukan oleh Hani tak lepas dari pengamatan Darren. "Apa ada yang sakit sayang?" tanya Darren ketika melihat Hani hanya diam sambil menutup matanya.
"I need five minutes to calm my mind (Aku butuh lima menit untuk menenangkan pikiran)" ucap Hani dengan sedikit lirih ke arah Darren, sedangkan Mutia hanya diam saja memandangi Jack yang menatap datar ke arahnya.
Setelah cukup waktu untuk memenangkan pikiran akhirnya Hani membuka kembali matanya. Ia menghela nafas kasar. "Ayo makan jajan!!!" Seru Hani kuat sampai membuat mereka sedikit kaget.
Mutia sedikit melongo, mengapa sikap Hani itu gampang sekali berubah pikiran. Punggung tangan nya reflek Mutia tempelkan ke dahi milik Hani. "Ngga panas sih, tapi kok aneh ya?" gumam Mutia bertanya-tanya sendiri, dan tentunya mereka semua mendengarkan gumaman itu.