Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 21: Ketukan di Pintu yang Berbeda
Baru saja tangisan Ibu Ratna mereda, suara ketukan keras dari pintu depan mengejutkan seisi rumah. Ketukan itu tidak ritmis, terdengar kasar dan menuntut, sangat berbeda dengan ketukan lembut yang biasanya dilakukan Aldi setiap kali pulang kerja larut malam.
Riko dengan tubuh gemetar berjalan perlahan membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, tiga orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam dan wajah sangar sudah berdiri di teras rumah.
"Keluarga Riko Sitorus?" tanya pria yang berdiri di tengah dengan suara berat yang mengintimidasi.
"I-iya, saya sendiri. Ada apa, ya?" jawab Riko, menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.
Pria itu mengeluarkan selembar surat dengan cap merah dari dalam tasnya. "Kami dari pihak penjamin kredit kluster perumahan Puri Indah. Karena dana talangan dari rekening sekunder atas nama Aldi Pratama telah resmi ditarik dan dibatalkan secara legal, maka status cicilan rumah Anda dianggap gagal bayar selama tiga periode berturut-turut beserta dendanya. Kami ke sini untuk menyerahkan surat perintah pengosongan aset. Jika dalam empat puluh delapan jam tidak ada pelunasan sebesar seratus lima puluh juta rupiah tunai, tim kami akan datang menyegel rumah tersebut."
"Seratus lima puluh juta?!" pekik Ibu Ratna yang ikut menguping dari dalam, langsung berlari ke depan pagar. "Pak, tolong bijaksana sedikit! Menantu saya itu Aldi Pratama, pemilik Pratama Group! Uang segitu kecil buat dia! Kasih kami waktu untuk bicara sama dia!"
Pria berjaket kulit itu mendengus sinis, menatap Ibu Ratna dengan pandangan meremehkan. "Ibu jangan mengigau pagi-pagi. Kami justru datang ke sini setelah menerima instruksi legal dari divisi hukum Pratama Group pusat bahwa seluruh aset, nama, dan dana milik Tuan Muda Aldi Pratama tidak boleh lagi dikaitkan dengan keluarga ini. Jadi jangan bawa-bawa nama beliau untuk lari dari utang Anda. Selamat pagi."
Para pria itu pergi setelah menempelkan stiker putih besar bertuliskan "ASET DALAM PENGAWASAN GAGAL BAYAR" di depan pagar rumah, meninggalkan Riko yang lemas terduduk di lantai teras dengan tatapan kosong. Masa depan yang tadinya dirancang begitu indah berkat uang Aldi, kini hancur berkeping-keping.
Kirana berjalan keluar ke teras, melihat stiker tersebut dengan senyum hambar yang menyedihkan. Mas Aldi... kamu benar-benar memotong semua tali pengikat itu tanpa menyisakan satu senti pun untuk kami bergantung, batin Kirana, dadanya terasa seperti dihantam batu godam.
Dua hari berlalu dengan penderitaan yang semakin mencekik keluarga Sitorus. Kirana akhirnya membulatkan tekadnya. Menggunakan sisa tabungan harian pribadinya yang tidak seberapa, dia menyewa taksi konvensional menuju ke jantung distrik bisnis ibu kota, tempat di mana menara pencakar langit Pratama Tower berdiri dengan megahnya sebagai pusat gurita bisnis keluarga Aldi.
Gedung itu begitu besar, dengan dinding kaca kebiruan yang memantulkan cahaya langit. Kirana melangkah masuk ke dalam lobi utama yang super luas dengan lantai marmer mengkilap.
Ratusan staf dengan pakaian kerja yang sangat modis dan rapi berlalu-lalang, membuat Kirana yang hanya mengenakan kemeja katun biasa merasa sangat kerdil dan terasing.
Dia berjalan mendekati meja resepsionis VIP yang dijaga oleh dua orang wanita cantik dengan seragam formal yang sangat elegan.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa sang resepsionis dengan senyum profesional.
"Selamat siang... saya... saya ingin bertemu dengan Bapak Aldi Pratama," ucap Kirana, suaranya sedikit bergetar karena rasa gugup yang luar biasa.
Resepsionis itu memeriksa sistem di komputernya, lalu menatap Kirana dengan pandangan menilai. "Apakah Anda sudah membuat janji temu dengan sekretaris Tuan Muda Aldi sebelumnya? Siapa nama Anda, dan dari instansi mana?"
"Saya... saya tidak punya janji temu. Tapi tolong sampaikan pada beliau, namanya Kirana. Saya... saya istrinya," bisik Kirana, kalimat terakhirnya membuat beberapa orang di dekat meja tersebut menoleh.
Kedua resepsionis itu saling berpandangan sejenak. Salah satu dari mereka menekan tombol telepon internal, berbicara dengan nada suara yang sangat rendah selama beberapa detik, lalu kembali menatap Kirana dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi dingin dan formal.
"Mohon maaf, Ibu Kirana," ucap sang resepsionis dengan nada ketat. "Kami baru saja menerima konfirmasi dari divisi sekretariat utama Tuan Muda Aldi Pratama. Beliau menyatakan tidak mengenal nama tersebut, dan sesuai dengan prosedur keamanan internal perusahaan, individu tanpa janji resmi tidak diizinkan untuk naik ke lantai eksekutif."
"Tolonglah, Mbak! Sekali saja! Saya cuma mau bicara dua menit dengan suami saya! Saya tahu dia ada di atas!" pinta Kirana dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mencoba menerobos pembatas otomatis lobi.
"Maaf, Ibu. Jika Anda membuat keributan, kami terpaksa meminta petugas keamanan untuk mengawal Anda keluar dari area gedung," tegas resepsionis itu, dan dua orang petugas sekuriti berbadan tegap langsung melangkah mendekati posisi Kirana berdiri.
Di saat Kirana mulai putus asa dan hendak menangis di tengah lobi, pintu lift khusus eksekutif di ujung ruangan terbuka. Edi, asisten pribadi Aldi, melangkah keluar dengan membawa beberapa dokumen.
"Pak Edi!" panggil Kirana setengah berteriak, mengabaikan tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. Dia berlari mendekati Edi sebelum petugas sekuriti sempat menahannya. "Pak Edi, tolong saya... Biarkan saya ketemu Mas Aldi. Saya mau minta maaf, Pak. Tolong sampaikan pada Mas Aldi..."
Edi menghentikan langkahnya, menatap Kirana yang tampak sangat berantakan dengan pandangan mata yang datar namun sarat akan kekecewaan. Dia memberi isyarat kepada petugas sekuriti untuk tidak bertindak kasar terlebih dahulu.
"Ibu Kirana," ucap Edi dengan suara yang sangat tenang namun tegas. "Tuan Muda Aldi sedang memimpin rapat pleno bersama dewan komisaris internasional dari Eropa saat ini. Beliau tidak memiliki waktu untuk urusan pribadi yang... sudah dianggap selesai."
"Pak Edi, pernikahan kami belum selesai! Aku masih istrinya secara sah!" tangis Kirana pecah, memegang lengan jas Edi dengan penuh permohonan. "Aku tahu aku salah, aku terpengaruh gengsi Mama... Tapi aku mencintai Mas Aldi, Pak. Tolong katakan padanya..."
Edi perlahan melepaskan tangan Kirana dari lengannya, merapikan kembali jasnya dengan gestur yang sangat berjarak.
"Ibu Kirana, jika Anda benar-benar mencintai Tuan Muda Aldi seperti yang Anda katakan, Anda tidak akan membiarkan beliau dihina dan diinjak-injak selama dua tahun di rumah Anda sendiri hanya karena beliau memilih hidup sederhana demi Anda. Kesabaran Tuan Muda itu ada batasnya, dan Anda sendiri yang telah menguji batas itu hingga hancur."
Edi merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pulpen yang sangat familier di mata Kirana—pulpen sederhana berlogo PT Nusantara Mandiri yang dulu pernah dibelikan Kirana sebagai hadiah ulang tahun Aldi yang pertama saat masih berstatus manajer biasa. Edi meletakkan pulpen itu di telapak tangan Kirana.
"Tuan Muda meminta saya menyerahkan ini kembali kepada Anda. Beliau berkata, seluruh memori tentang 'Aldi sang Manajer Biasa' sudah mati di malam gathering itu. Yang tersisa sekarang hanyalah Tuan Muda Aldi Pratama, pewaris yang tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi. Saya sarankan Anda pulang, dan uruslah surat perceraian itu dengan baik melalui pengacara Anda."
Edi berbalik badan, berjalan kembali menuju lift eksekutif tanpa memedulikan Kirana yang langsung luruh bersimpuh di lantai marmer lobi, mendekap pulpen sederhana itu di dadanya sambil menangis histeris. Di bawah kemegahan menara Pratama Tower, Kirana akhirnya menyadari satu hal: pintu takhta yang dulu terbuka lebar untuknya karena cinta, kini telah tertutup rapat untuk selamanya, menyisakan penyesalan seumur hidup yang harus dia tanggung sendirian.
Hubungan mereka benar-benar sudah berada di titik nadir, dan posisi Aldi sebagai pewaris takhta sudah tidak tersentuh lagi oleh drama keluarga Sitorus.