Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Dinanti
Suara azan Subuh menggema dari masjid yang tidak jauh dari rumah keluarga Pradipta.
Danendra perlahan membuka mata. Untuk sesaat ia hanya menatap langit-langit kamar, kemudian pandanganya beralih ke sisi tempat tidur.
Saat itu, Niken masih terlelap dengan posisi sedikit membelakanginya. Selimut menutupi tubuh Niken hingga sebatas bahu, karena dinginya udara pagi yang terasa menusuk hingga ke tulang.
"Bangun, Nik..." bisiknya pelan yang langsung membuat Niken mengeliat kecil. "Sudah subuh."
Niken membuka matanya perlahan. Untuk sesaat ia tampak bingung, sebelum akhirnya mengingat hari itu adalah hati sabtu—hari yang sejak kemarin begitu ia nantikan.
"Mas... sudah Subuh, ya?"
"Iya. Ayo, nanti kesiangan."
Niken langsung duduk. "Iya."
Tanpa membuang waktu lagi, mereka bergantian mandi, membiarkan air menghapus sisa kantuk yang masih melekat.
Aroma sabun yang masih samar mengiringi langkah mereka saat bersiap. Setelah mengenakan pakaian bersih dan rapi, keduanya saling memastikan penampilan masing-masing.
Niken mengenakan pakaian berwarna hijau sage yang dipadukan dengan jilbab krem, penampilan sederhana itu cukup membuat wajahnya tampak semakin segar. Danendra yang sedang memasang jam tangannya sempat terdiam beberapa detik.
"Kenapa, Mas?"
"Tidak apa-apa."
Niken langsung memperhatikan pakaiannya sendiri. "Jawab saja, apa ada yang aneh?"
Danendra menggeleng sambil terseyum. "Aku hanya baru sadar, kalau istriku sangat cantik."
Niken menghembus napas panjang, "Mas, kalau pagi-pagi sudah mengoda begitu, bagaimana aku bisa seharian penuh bersama Mas?"
"Aku tidak menggoda, tapi memuji. Jadi pastikan kamu bisa membedakannya."
Niken hanya menggeleng sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Danendra akhirnya selesai bersiap. Ia melangkah mendekat ke arah Niken dengan penampilan yang rapi. Rambutnya masih sedikit lembab sehabis mandi, sementara aroma parfum lembutnya menyeruak ke seluruh ruangan, bahkan senyum tipis di wajahnya membuat Niken sejenak terpaku.
"Sudah siap?" tanyanya yang dijawab anggukan mantap oleh Niken.
"Sudah."
Danendra lalu mengambil tas yang sudah ia siapkan semalam. "Ayo."
Kemudian mereka turun bersama, menuju ruang makan. Bi Inah sudah menyiapkan berbagai macam menu sarapan lengkap dengan teh panas.
"Mbak Niken sama Mas Danen sudah rapi sekali. Mau berangkat sekarang ya, Mas?" tanya Bi Inah.
"Iya, Bi. Setelah sarapan."
Tak lama kemudian, Pradipta datang sambil tersenyum. Disusul oleh Ratih dibelakangnya.
Tatapan Ratih singgah pada pakaian Niken. "Kamu pakai jaket juga nanti, solanya di atas lebih dingin."
Niken tersenyum sopan. "Baik, Bu. Terima kasih sudah menginggatkan."
Ratih hanya mengangguk kecil sebelum duduk di kursinya. Meski masih belum banyak bicara, namun perhatian-perhatian kecilnya mulai terasa semakin tulus.
Beberapa saat kemudian, sarapan pun usai. Niken segera bangkit dari kursi, kemudian merapikan piring demi mengurangi kesibukan Bi Inah. Sementara Danendra masih duduk sambil menghabiskan tehnya.
Setelahnya, Niken berpamitan lebih dulu. "Ayah, Ibu... kami berangkat dulu."
Pradipta mengangguk, "iya, selamat bersenang-senang, dan hati-hati."
"Iya, Yah." Jawab Niken kemudian menyalami Ratih.
Ratih sempat terdiam sesaat, kemudian tanpa diduga, ia menepuk pelan punggung tangan Niken. "Hati-hati di jalan, udara di atas lebih dingin, kalian harus jaga tubuh tetap hangat, supaya jangan sampai sakit."
Niken mengangkat wajah, senyumnya mengembang tanpa bisa disembunyikan. "Iya, Bu. Terima kasih," ucapnya.
Danendra yang menyaksikan pemandangan itu, langsung tersenyum penuh rasa syukur. Perjalanan mereka menuju Lereng Mahitala baru akan dimulai, namun di rumah itu, sebuah perjalanan hati seorang ibu yang perlahan mulai menerima menantunya dengan tulus juga sedang berlangsung.
Tak lama kemudian, Danendra memasukan tas ke bagasi mobil. Ia membukakan pintu penumpang untuk Niken seperti biasanya.
"Silahkan, Bu Guru." Ucap Danendra yang membuat Niken terkekeh.
"Mas masih ingat saja sama panggilan itu."
"Iya, karena aku suka memanggilmu begitu."
Setelah Niken duduk dan mengenakan sabuk pengaman, Danendra masuk ke sisi pengemudi. Perlahan kendaraan itu meninggalkan halaman rumah keluarga Pradipta, membelah udara pagi Wonosobo yang masih diselimuti kabut tipis.
Di hadapan mereka terbentang jalan menuju Agrowisata Lereng Mahitala. Keduanya berharap, akhir pekan itu akan menjadi salah satu kenangan terindah yang selalu mereka ingat di kemudian hari.
Mobil terus melaju perlahan meningalkan kawasan permukiman. Cahaya matahari pagi mulai menghangatkan lereng-lereng perbukitan seolah menciptakan pemandangan yang menenangkan mata.
Niken terus menoleh ke luar jendela. Sesekali ia tersenyum melihat para petani yang mulai bekerja meski hamparan sawah masih basah oleh embun.
"Mas."
"Hm?"
"Kalau setiap hari melewati jalan ini, apa Mas tidak pernah bosan?"
Danendra tertawa kecil. "Tidak mungkin bosan, karena pemandangannya selalu berubah. Hari ini cerah, besok berkabut, dan lusa mungkin hujan. Jadi rasanya akan selalu berbeda."
Niken akhirnya mengangguk. "Benar juga."
Tak lama kemudian, Danendra mengulurkan tangan ke arah dasbor. Ia menyalakan pemutar musik, lalu alunan lagu akustik yang lembut memenuhi kabin mobil. Volumenya sengaja dibuat pelan agar mereka tetap bisa mengobrol dengan nyaman.
"Mas."
"Iya?"
"Kalau boleh jujur, aku masih tidak percaya kalau sekarang kita benar-benar pergi bersama."
Danendra meliriknya sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan. "Memangnya kenapa?"
"Soalnya, beberapa hari yang lalu aku bahkan tidak berani berharap Mas mau mengajakku jalan-jalan."
Kalimat itu membuat Danendra terdiam. Ia sadar, betapa sedikit harapan yang dimiliki Niken saat memasuki pernikahan mereka.
Mungkin saja, kata maaf yang pernah ia ucapkan tidak cukup untuk menghapus luka yang sempat ia tinggalkan.
Danendra menghembuskan napas pelan. "Nik."
"Iya, Mas?"
"Maaf."
Satu kata itu, terdengar lebih berat dibanding permintaan maaf yang pernah ia ucapkan sebelumnya.
"Aku baru saja menyadari," lanjutnya. "Betapa rendahnya harapan yang kubuat untukmu."
Keheningan menyelimuti kabin mobil beberapa saat. Suara musik akustik yang mengalun pelan seolah menjadi latar bagi penyesalan yang selama ini tersimpan di hati Danendra.
Niken menoleh, ia merasa sedikit menyesal telah mengatakan itu, karena membuat suaminya jadi mengingat hal itu. "Mas..."
Danendra tersenyum tipis, kemudian melanjutkan. "Aku sering berpikir, seandainya malam itu aku tidak terburu-buru menuduhmu, mungkin kita sudah tertawa seperti ini sejak awal."
Niken masih menatap wajah suaminya beberapa saat, kemudian ia menggeleng pelan. "Mas, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi kita masih bisa menentukan seperti apa hari-hari berikutnya."
Danendra melirik sekilas. "Yang penting kamu tidak lelah terus memaafkan aku."
"Kalau aku lelah, mungkin aku tidak akan duduk di samping Mas pagi ini." Balas Niken dengan sedikit gurauan.
Sesaat kemudian, tapa mengalihkan pandangan dari jalan, Danendra mengulurkan tangan kirinya ke arah Niken. Niken langsung paham maksudnya, ia perlahan meletakkan tangannya di atas telapak tangan Danendra, hingga jemari mereka saling bertaut.
"Terima kasih," ucap Danendra lirih.
Keduanya tertawa, karena setiap kilometer yang mereka lalui pagi itu, terasa seperti langkah kecil untuk mempererat dua hati yang sempat terpisah oleh prasangka.
...****************...