Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Berpisah Kamar Juga
Hampir satu jam berlalu sejak Atharazka meninggalkan Amora untuk menemani Bima berbicara di ruang kerja. Selama itu pula Amora hanya menunggu di sisi ranjang, sesekali memainkan ujung jarinya sendiri sambil berusaha mengusir rasa canggung yang terus muncul.
Sampai akhirnya terdengar suara gagang pintu bergerak.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
Amora seketika langsung mengangkat wajah. Atharazka muncul dari balik pintu dengan langkah santai. Wajahnya masih tetap dengan ekspresi yang sama seperti biasanya, tenang, sulit ditebak, dan nyaris tanpa ada perubahan emosi apapun.
Kemeja yang dikenakannya tampak sedikit tidak serapi sebelumnya. Bagian lengannya sudah terlipat hingga siku, sementara beberapa helai rambutnya jatuh sedikit berantakan.
Atharazka menutup pintu di belakangnya. Tanpa mengatakan apa pun, ia berjalan melewati Amora menuju meja kecil di dekat lemari.
Amora memperhatikannya beberapa detik.
"Sudah selesai ngobrol sama Daddy, Mas?"
Atharazka mengangguk sambil melepaskan jam tangan dari pergelangan tangannya.
"Sudah."
Jam tangan itu ia letakkan di atas meja dengan gerakan santai.
"Daddy cuma bahas laporan proyek yang kemarin. Nggak ada yang perlu kamu pikirin."
"Oh..." Amora mengangguk kecil.
Jawaban itu sebenarnya sudah cukup untuk menjawab rasa penasarannya. Namun entah kenapa, setelah mendengar suara Atharazka, ia justru kembali ke dalam diam.
Ia menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, sementara pandangannya jatuh pada lantai.
Kamar kembali dipenuhi keheningan. Hanya suara AC yang terdengar samar bersama detik jam dinding yang bergerak perlahan. Atharazka berdiri beberapa saat di dekat meja. Ia kemudian mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya menoleh ke arah Amora.
"Kamu tidur di sini aja."
Amora mengangkat wajah.
"Aku bisa pindah ke kamar tamu."
Nada bicara Atharazka terdengar biasa. Namun bagi Amora, kalimat itu justru membuat suasana di antara mereka kembali terasa berjarak.
Amora menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum kecil.
"Mas, nggak perlu pindah."
Atharazka diam.
"Aku yang tidur di kamar tamu aja," lanjut Amora. "Mas tetap di sini. Bagaimanapun ini kamar Mas."
Atharazka menggeleng pelan.
"Nggak perlu."
"Kenapa?"
"Aku sudah bilang. Kamu di sini saja."
"Tapi..."
"Amora."
Panggilan itu membuat Amora menghentikan kalimatnya.
Atharazka tidak meninggikan suara. Ia bahkan tetap berbicara dengan nada datar. Namun ada ketegasan yang membuat Amora tahu bahwa pria itu tidak ingin memperpanjang obrolan mereka.
Amora akhirnya menghela napas kecil.
"Baiklah."
Atharazka tidak menjawab. Ia berjalan menuju lemari, mengambil charger ponselnya dan beberapa barang pribadi yang tadi dibawanya. Setelah semuanya berada di tangannya, pria itu berbalik menuju pintu.
Amora mengikuti gerakannya dengan tatapannya. Entah kenapa, melihat Atharazka hendak meninggalkan kamar membuat hatinya terasa sedikit tidak nyaman.
"Mas..."
Langkah Atharazka berhenti. Tangannya yang hampir menyentuh gagang pintu tertahan. Ia menoleh ke belakang.
"Hm?"
Amora terdiam sebentar. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya terasa sulit untuk dirangkai menjadi kalimat.
Sampai akhirnya Amora memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Mas nggak perlu tidur di kamar tamu."
Atharazka menatapnya.
"Aku nggak keberatan kalau Mas tidur di sini."
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Tatapan Atharazka tampak sedikit lebih lembut, meski perubahan itu begitu tipis sampai Amora sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar melihatnya.
"Aku tahu kamu nggak keberatan."
"Tapi?"
"Aku tetap memilih kamar tamu."
Amora terdiam.
Atharazka melanjutkan dengan suara rendah, "Aku cuma nggak mau kamu merasa nggak nyaman."
Kalimat itu membuat Amora tidak tau harus berkata apa lagi. Ia tahu pria itu sedang berusaha menghargai batasan diantara mereka. Namun pada saat yang sama, perhatian tersebut justru terasa seperti pengingat bahwa hubungan mereka memang tidak layaknya pasangan suami istri pada umumnya.
Amora akhirnya tersenyum kecil.
"Ya udah kalau Mas maunya gitu."
Atharazka mengangguk.
"Kalau sudah mau tidur, kunci pintunya."
"Iya."
Atharazka membuka pintu. Namun sebelum benar-benar keluar, ia sempat berhenti sebentar. Seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya.
Pintu kemudian tertutup perlahan. Dan Amora kembali sendirian. Ia tidak langsung bergerak. Pandangannya masih tertuju pada pintu yang baru saja dilewati Atharazka.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar samar dari balik pintu. Langkah itu semakin jauh, lalu seperti menghilang di ujung koridor.
Amora mengembuskan napas panjang.
"Mas Razka..."
Namanya keluar begitu saja dari bibir Amora, nyaris seperti gumaman.
Ia menunduk, lalu tertawa kecil tanpa rasa geli. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan Atharazka. Namun tetap saja seperti ada bagian kecil dalam hati Amora yang merasa sedih.
Ia menoleh ke arah ranjang besar yang kini hanya akan ditempatinya seorang diri.
Amora kemudian kembali berjalan mendekati ranjang dan duduk perlahan. Kasur yang empuk sedikit turun ketika tubuhnya bersandar. Ia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya, tetapi belum berniat tidur.
Pandangannya justru terpaku pada langit-langit. Malam ini seharusnya menjadi kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga Atharazka. Ia sudah berusaha bersikap baik, berbicara seperlunya, dan mengikuti semua tanpa membuat masalah.
Hubungannya dengan Atharazka pun sebenarnya sudah mengalami perubahan. Mereka sudah mulai bisa mengobrol berdua.
Atharazka bahkan beberapa kali menunjukkan perhatian kecil yang sebelumnya hampir tidak pernah ia berikan. Tetapi ketika Amora berpikir semuanya mulai membaik, pria itu kembali menciptakan jarak.
Bukan dengan sikap kasar. Bukan pula dengan penolakan terang-terangan. Justru dengan cara yang begitu halus sampai Amora tidak bisa menyalahkannya.
Ia memejamkan mata sebentar.
"Ingat, pernikahan ini terjadi bukan karena keinginan aku atau pun Mas Razak," bisiknya pada diri sendiri.
Namun entah kenapa hatinya tetap terasa berat. Amora membuka mata kembali dan menoleh ke sisi ranjang yang kosong.
Seharusnya tempat itu menjadi milik Atharazka malam ini. Tetapi pria tersebut memilih kamar lain.
Amora menarik selimut lebih tinggi.
"Suami istri, tapi rasanya kayak dua orang yang cuma kebetulan tinggal di tempat yang sama."
Kalimat itu membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia segera memalingkan wajah, seolah dengan begitu perasaan yang muncul bisa ikut menghilang.
Tidak lama kemudian, Amora berbalik membelakangi pintu. Ia memejamkan mata dan mencoba memaksa pikirannya berhenti bekerja.
Tapi ternyata cukup sulit untuk Amora bisa langsung tidur. Karena sampai beberapa waktu setelahnya Amora masih terjaga. Sampai akhirnya ia lelah sendiri dan tertidur.
.
Sama halnya dengan Amora, di kamar tamu pun Atharazka belum bisa memejamkan matanya.
"Kenapa aku tolak ya? Padahal Amora sendiri yang udah kasih izin aku buat tidur seranjang sama dia," gumam Atharazka.
Sebenarnya tidak ada alasan pasti yang membuat Atharazka menolak untuk seranjang dengan Amora. Dan pastinya bukan karena enggan juga. Tapi Atharazka tau kalau Amora melakukan itu karena merasa tidak enak dengan dirinya.
"Udahlah, mending tidur," gumamnya lagi.
Atharazka menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya yang saat ini tidur tanpa menggunakan atasan.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen kritik dan sarannya ya🫶
Terima Kasih