TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control `BAB 20: SANGKAR DAN RUNTUHNYA TAFSIRAN`
Toxic and Control
`BAB 20: SANGKAR DAN RUNTUHNYA TAFSIRAN`
Aroma minyak kayu putih dan wangi maskulin yang pekat menjadi hal pertama yang menyengat hulu saraf Kinara Jose saat kesadarannya perlahan kembali.
Kelopak matanya terasa teramat berat. Saat dia berhasil membukanya, hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kayu ek tebal bernuansa temaram. Kinara tersentak kecil. Ini bukan UKS. Ini adalah kamar khusus di dalam basecamp lantai tiga milik Rian Pradifta.
Insting pertama Kinara adalah meraba wajahnya sendiri. Detik itu juga, rasa panik seketika mencengkeram dadanya hingga sesak. Masker medis putihnya sudah lenyap. Kacamata murah berbingkai hitam miliknya juga tergeletak di atas meja nakas. Wajah polosnya kini terekspos sepenuhnya, termasuk luka robek yang membengkak di bibir bawahnya.
"Jangan banyak bergerak dulu. Dokter bilang perutmu masih memar."
Sebuah suara bariton yang teramat rendah dan dalam memecah keheningan kamar. Kinara menoleh cepat, mendapati Rian Pradifta sedang duduk di kursi tunggal tepat di samping tempat tidur. Cowok tegap itu sudah menanggalkan jaket kulitnya, hanya menyisakan kemeja seragam sekolah dengan lengan yang digulung hingga siku. Di tangan kekarnya, Rian sedang memegang sebutir obat dan segelas air putih hangat.
Kinara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, buru-buru menarik selimut tebal hingga sebatas dada demi menutupi rasa takutnya. "K-Kak Rian... kenapa aku di sini? Tolong kembalikan masker dan kacamata aku!"
"Silla menendang perutmu sampai pingsan," jawab Rian datar. Dia meletakkan gelas itu ke meja nakas, lalu perlahan mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, memangkas jarak yang tersisa hingga embusan napas beratnya terasa di kulit wajah Kinara yang memucat.
Sepasang mata elangnya mengunci mati luka bengkak di bibir ranum Kinara yang kini terekspos tanpa pelindung.
"Kenapa kamu harus panik menyembunyikan luka di bibirmu ini dariku, hm?" bisik Rian, suara baritonnya mendadak merendah parau, kehilangan nada angkuh yang biasa dia gunakan. "Kamu takut aku tahu apa yang terjadi di Aston Club semalam? Kamu takut aku sadar kalau pelayan bernama Nara yang aku cium secara brutal... adalah kamu?"
DEG.
Seluruh pasokan udara di paru-paru Kinara serasa menguap seketika. Jantungnya melewatkan satu detakan besar. Sepasang matanya membelalak sempurna menatap lurus ke dalam binar mata elang Rian. Paranoianya pecah menjadi kepingan tak berbentuk. Rahasia terbesar yang dia sembunyikan demi mempertahankan napas ibunya ternyata sudah berada di bawah genggaman cowok tirani ini sejak lama.
"K-kamu... sudah tahu...?" cicit Kinara dengan suara yang teramat rapuh, air mata ketakutan mulai menggenang di sudut pelupuk matanya.
Melihat air mata Kinara yang kembali mengalir, rahang tegas Rian mengeras kokoh. Ada denyut nyeri yang luar biasa pekat menghantam dada bidangnya. Memori semalam saat Kinara menangis pasrah dengan kancing baju yang terbuka dan bisikan lirih "Aku benar-benar akan membencimu" seketika berputar hebat di kepala Rian, membakar habis sisa egonya.
Rian menarik perlahan tubuhnya mundur, memberikan jarak. Dia mengacak rambut hitamnya dengan kasar, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di samping tempat tidur. Napasnya terdengar sangat frustrasi.
"Aku tahu sejak malam pertama gengku menginjakkan kaki di kelab itu, Kinara," aku Rian jujur, suaranya terdengar begitu serak dan terluka.
Rian mendongak, menatap lekat-lekat bibir robek Kinara yang dia buat dengan tangannya sendiri. Perlahan, Rian mengulurkan tangan kekarnya. Bukan untuk mencengkeram, melainkan bergerak sangat hati-hati menyentuh sudut bibir Kinara menggunakan ibu jarinya dengan kelembutan yang asing.
"Maaf..." bisik Rian parau, sebuah kata yang tidak pernah diucapkan oleh seorang pewaris tunggal keluarga Pradifta kepada siapa pun. "Maaf karena semalam aku mabuk berat... aku hilang kontrol dan menyakitimu sampai seperti ini."
Kinara terpaku membeku. Dia bisa merasakan ketulusan yang murni bercampur keputusasaan dari sorot mata elang Rian yang meredup sayu. Mengumpulkan sisa keberaniannya di tengah air mata yang luruh, Kinara menatap Rian lurus-lurus untuk mengajukan syarat penawaran.
"Aku maafin asal kak Rian lepasin aku dan tetap rahasiakan pekerjaanku," ucap Kinara dengan suara pelan namun sarat akan penekanan yang tegas.
Mendengar syarat pertama Kinara yang meminta kebebasan dan jarak, binar mata elang Rian seketika menggelap pekat kembali. Rasa tidak rela dan ketakutan masif jika gadis ini pergi menjauh langsung mencengkeram ulu hatinya. Rian menggenggam tangan kecil Kinara yang berada di atas selimut, meremasnya dengan erat seolah tidak akan pernah membiarkannya lepas.
"Kamu boleh minta apa aja aku pasti sanggupi... asal jangan berpikir buat menjauh," desis Rian parau dengan nada obsesi yang teramat pekat, menatap Kinara penuh permohonan yang terselubung kendali mutlak.
Sementara itu, di luar pintu ganda basecamp, suasana tidak kalah mencekam.
Randy berdiri di depan pintu kayu tebal tersebut dengan napas memburu dan kedua tangan yang mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa frustrasi dan amarah cemburu membakar dadanya karena tidak terima melihat Kinara digendong paksa oleh Rian ke tempat ini.
Brak! Brak! Brak!
"Rian! Buka pintunya, Bajingan!" teriak Randy histeris, menghantamkan tinjunya berkali-kali ke permukaan pintu kayu tebal itu hingga menimbulkan suara dentuman keras yang menggema di koridor lantai tiga. "Keluarkan Kinara dari dalam! Jangan berani-berani kamu menyentuhnya!"
Namun, langkah Randy langsung dihadang kokoh oleh Rama dan Rangga yang berdiri menjaga di depan pintu. Kedua sahabat Rian itu menatap Randy dengan rahang mengeras waspada.
"Gak usah nekat, Randy!" bentak Rangga, mendorong bahu Randy agar menjauh dari area pintu. "Kamu tidak akan pernah bisa masuk ke dalam ruangan ini. Mending kamu pergi sebelum Rian sendiri yang keluar dan menghancurkan sisa hidupmu!"
"Aku tidak peduli!" amuk Randy lagi, mencoba menerobos cengkeraman Rama yang ikut mengunci lengannya. "Dia menahan Kinara di dalam! Apa kalian semua sudah gila, hah?!"
"Yang gila itu kamu!" sela Rama ketus, mempererat kunciannya hingga Randy meringis kesakitan. "Satu-satunya alasan kenapa beasiswamu dipulihkan pagi ini adalah karena Kinara menyerahkan dirinya menjadi pelayan pribadi Rian demi kamu! Jadi jangan merusak pengorbanannya jika kamu masih ingin melihat orang tuamu punya pekerjaan besok pagi!"
Kata-kata Rama sukses menghantam telak mental Randy. Seluruh tubuh cowok basket itu seketika lemas. Kepalanya tertunduk dalam di bawah kuncian Rama dan Rangga. Rasa tidak berdaya yang luar biasa pekat merayap hebat di dadanya. Dia menyadari, di sekolah ini, kekuasaan finansial keluarga Pradifta adalah dinding absolut yang tidak akan pernah bisa dia tembus.
Di belahan gedung yang lain, tepatnya di dalam ruang ganda kepala sekolah yang megah, pemandangan kehancuran yang sesungguhnya sedang berlangsung.
Silla duduk bersimpuh di atas lantai marmer dengan air mata yang mengalir deras, merusak seluruh riasan wajah cantiknya yang kini pucat pasi. Di hadapannya, kepala sekolah dan dua orang komite hukum yayasan Pradifta menatapnya tanpa riak belas kasihan sedikit pun. Sebuah surat pemberhentian tetap dengan cap resmi yayasan sudah tergeletak di atas meja kerja.
"Pak... saya mohon, jangan keluarkan saya dari sekolah ini," isak Silla histeris, meremas ujung sepatu kepala sekolah dengan tangan yang gemetar hebat ketakutan. "Saya mengaku salah karena memukul Kinara! Saya akan minta maaf padanya! Tolong jangan keluarkan saya..."
Tepat saat itu, ponsel di dalam tas mewah Silla berdering nyaring. Dengan tangan panik, Silla merogohnya dan mengangkat panggilan dari ayahnya. Namun, belum sempat dia bersuara, jeritan frustrasi dan makian dari seberang telepon langsung memekakkan telinganya.
"Silla! Apa yang sudah kamu lakukan di sekolah, hah?! Perusahaan ayah mendadak diputus kontrak sepihak oleh yayasan Pradifta! Semua saham kita anjlok dan investor menarik modalnya dalam waktu satu jam! Kita bangkrut, Silla! Kita hancur total!"
Tut.
Panggilan terputus. Ponsel di tangan Silla terjatuh ke lantai, layarnya retak seribu.
Silla mematung dengan tatapan mata yang kosong. Seluruh tubuhnya berguncang hebat akibat tangisan histeris yang kian pecah. Dalam waktu satu siang, harga dirinya dihancurkan, hak eksistensinya di sekolah dicabut, dan seluruh kekayaan keluarganya diratakan hingga tanah murni karena dia telah berani menyentuh gadis milik Rian Pradifta.
Dari lantai atas, dari balik jendela kaca basecamp yang temaram, jerat kendali sang penguasa gila kontrol telah bekerja dengan sangat sempurna tanpa ada celah sedikit pun.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk