Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyakit Kelamin
Azalea tertegun saat ia baru saja tiba di rumah dan membuka pintu, Ramdan sedang mengepel lantai rumah mereka. Melihat istrinya pulang, gurat senyum manis terbit di bibir pria itu. Lantas mendekati istrinya, meraih tas istrinya untuk membantunya membawa ke dalam.
"Ehh...istriku yang cantik sudah pulang, darimana saja sayang?" tanya Ramdan dengan senyum menggoda, merangkul tubuh mungil istrinya yang masih melongo, menatap kosong rumah mereka yang tampak bersih dan rapi sedari ia ke rumah sakit.
Aza tatap wajah Ramdan yang tersenyum kepadanya itu. Ia tak bisa berkata-kata. Seolah melihat keajaiban di depan matanya, suaminya mau beberes rumah hingga sebersih ini. Ia yang biasanya membereskan rumah sendiri, kini ada suaminya yang bak malaikat membantunya, meringankan sedikit beban dalam hatinya. Bahkan rasa sakit yang Ramdan torehkan di hatinya langsung sirna setelah mendapatkan perhatian dari suaminya.
Ramdan dorong lembut tubuh Azalea masuk ke dalam. Lalu mendudukkannya di sofa ruang tamu mereka. Ia bersikap bak seorang pelayan yang sedang melayani tuan putri dengan sepenuh hati.
"Bentar yah, mas punya kejutan buat kamu." lirih pria itu tersenyum, lantas berbalik menuju dapur.
Sepasang mata Azalea berkaca-kaca di saat itu juga. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan karena akhirnya, tuhan mengabulkan do'anya untuk membuat Ramdan perhatian kembali padanya.
Namun alih-alih senang, ia juga merasa Denial. Tentang bau parfum wanita dan bau sperma di tangan Ramdan. Namun lagi-lagi rasa cintanya yang besar pada Ramdan, membuat hati Azalea tertutup. Matanya menjadi buta seolah tidak melihat apapun. Menoleransi apapun sikap suaminya.
"Pasti itu cuma fikiranku saja. Mas Ramdan masih perhatian sama aku, dia sampe bersihin rumah yang seluas ini demi nyenengin aku. Pasti cuma fikiranku saja." lirih Azalea, dengan senyum haru terbit di bibirnya.
Terlihat dari arah pintu dapur, Ramdan keluar dengan sarung tangan membalut kedua tangannya, memegang nampan besar berisi kue yang tampak bukan kue, lebih ke roti batu setengah gosong yang ngga tau bisa di makan apa ngga.
Azalea meringis kikuk, namun ia tetap menerima pemberian dari Ramdan. Memegangnya dengan penuh ke hati-hatian, menatap lekat kue yang Ramdan bikin dengan susah payah.
"Gimana, kamu suka? Maaflah yahh rotinya gosong hehe. Nanti aku bikinkan lagi yang lebih baik." kekeh Ramdan menjatuhkan tubuhnya di samping Aza, memeluknya erat, mengendus-endus leher Aza lembut.
"He'um...makasih yah mas, mau kaya gimanapun bikinan mamas, Diyan suka kok." kekeh Aza, tersenyum tipis.
Entah mengapa, jiwa kejantanan Ramdan meningkat saat memeluk Aza. Semakin lama, endusan halus itu berubah menjadi kecupan lembut yang sedikit mengganggu Azalea yang sedang makan.
"Mass...gelii...." lenguh Azalea terkekeh sembari menyuapkan kue ke dalam mulutnya, menjepit wajah Ramdan yang mengecup leher mulusnya.
"Abis kamu wangi sayang, mamas jadi pengen." bisik Ramdan setengah mend*sah.
Semakin lama, pelukan itu berubah menjadi tindihan. Dimana Ramdan langsung menidurkan Aza di sofa, dengan dirinya yang mengungkung di atasnya. Tanpa menunggu lama, ia langsung menautkan bibirnya di bibir Azalea. Mengecupnya dengan penuh ke hati-hatian sebelum akhirnya berubah menjadi penuh tuntutan.
Siang itu, menjadi penyatuan pertama mereka setelah satu Minggu Ramdan cuek akibat insiden uang hilang. Aza yang hatinya berbunga-bunga karena perubahan suaminya pun menjadi terbuai akan rayuan Ramdan. Dan berakhir jatuh kembali ke dalam pelukan suaminya, tanpa memikirkan apa yang sudah terjadi sebelumnya.
***
Sorenya Azalea mandi setelah hampir 3 jam Ramdan menggauli dirinya. Ia yang baru melakukan mandi besar, kini sedang mengeringkan rambutnya di depan kaca wastafel dengan handuk.
Ia tatap pantulan wajahnya yang berseri, senyumnya tiada hilang sedari tadi. Bersenandung ria seolah tak ada lagi rasa sakit, semua hanya tentang kebahagiaan rumah tangganya yang kembali utuh.
"Aku ngga nyangka Mas Ramdan jadi seberubah itu demi aku." gurat merah terbit di pipinya, ia terkekeh kecil menahan salting karena sudah lama tidak mendapatkan perhatian Ramdan sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, Aza sudah berganti pakaian menjadi baju santai, baru saja ia hendak keluar, ia merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman di area kewanitaannya. Tangannya terulur untuk mencubit area yang terasa gatal, namun alih-alih sembuh, ia justru semakin merasa tidak nyaman, seolah gatal itu berasa dari dalam, bukan dari luar.
"Kok gatel yah?" lirih Azalea disela ia menggaruk area selangkangan, "Tadi perasaan aku bersihin dengan benar. Apa jangan-jangan aku kurang bersih?"
Akhirnya ia kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan ulang. Mencoba menghilangkan rasa tak nyaman di area sensitifnya.
Sementara Ramdan masih tertidur pulas di atas ranjang. Tubuhnya masih tel*njang, hanya berbalut selimut. Tidur tengkurap dengan mulut yang mengeluarkan iler saking nyenyaknya ia tidur.
***
1 minggu berlalu...
Semenjak penyatuan mereka terjadi, rasa gatal di area kewanitaan Aza semakin parah. Yang biasanya cuma gatal biasa, kali ini mulai muncul bau tak sedap dan keputihan abnormal. Padahal sebelum-sebelumnya tidak begini.
Ia keluar dari kamar mandi sambil meringis ngilu, bukan hanya itu, semakin lama area sekitarnya juga lecet karena sering ia garuk. Ia tatap Ramdan yang asik menonton tv sembari merokok di ruang tamu. Berjalan mendekat perlahan.
"Mass...."
Ramdan yang merasa dipanggil lantas menoleh, melihat cara berjalan Aza yang tidak seperti biasanya, pria itu langsung panik, menghampiri Aza dengan wajah cemas.
"Sayang, ada apa dengan cara berjalan mu?" tanya Ramdan meraih lengan Aza.
Azalea tatap lesu sang suami, menggeleng lemah, "Aku merasa gatal di milikku, mas."
Ramdan melotot, "Bagaimana bisa?! Sejak kapan?!"
Azalea menggeleng lemah, "Aku gatau, mungkin sejak terakhir kita tidur bareng."
Pegangan tangan Ramdan pada Aza langsung terlepas, pria itu lantas memberi jarak agak jauh dari Aza. Menggaruk tengkuk lehernya kikuk, seperti menghindar.
"Ahh...udah siang, aku mau berangkat kerja." ucap Ramdan tiba-tiba, meninggalkan Aza begitu saja di ruang tamu.
Azalea tatap kosong sang suami, sebelum akhirnya ia kembali ke kamar mandi untuk membersihkan ulang.
Sepanjang menaiki tangga, Ramdan menggigiti jarinya sendiri, menggerutu lirih.
"Sial, kenapa aku tidak tau kalo Aza punya penyakit?!" desisnya, spontan merunduk menatap miliknya dibalik celana, "Jangan-jangan aku ketularan lagi."
Ramdan mengira, Aza terkena penyakit kelamin, yang ia sendiri tidak tau karena apa. Mendengar bermula semenjak hubungan terakhir, Ramdan jadi panik dan berniat menjauh beberapa meter karena takut terkena infeksi dan tertular.
"Pasti Aza jorok, dia pasti jarang membersihkan diri, sial, aku pasti sudah tertular." geramnya, tak bisa mengucapkan kata-kata itu di depan Aza karena ia tau Aza tidak bisa dikasari modelnya.
Ia masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar, menggosok dengan rasa jijik, menetesi dengan sabun yang banyak agar bakteri yang Aza salurkan padanya menghilang.