~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
****
Angin sore berembus pelan menyapu halaman samping rumah joglo, membawa harum semerbak bunga melati yang ditanam di tepi selasar. Di atas kursi ukir jati yang beralaskan bantal empuk, Larasati duduk bersandar. Usia kandungannya yang telah menginjak delapan bulan membuat raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun tampak semakin berisi, matang, dan bersinar oleh pendar aura keibuan.
Jemari halus Larasati tampak telaten menggerakkan jarum emas dan benang sutra, menyulam motif melati kecil di atas kain kebaya bayi sewarna gading. Di sampingnya, Mbok Sum duduk menunduk takzim di atas amben kayu, sibuk melipat kain mori halus untuk perlengkapan persalinan.
"Mbok, coba lihat ini," bisik Larasati lembut, bibirnya tersenyum manis memamerkan hasil sulamannya. Tangan kirinya mengelus lembut bagian bawah perutnya yang membuncit sarat. "Apakah motif melatinya sudah simetris? Saya ingin anak ini kelak memakai baju pertama yang disulam langsung oleh jemari ibunya."
Mbok Sum mendongak, matanya yang tua berbinar haru menatap permaisuri mudanya. "Aduh, Gusti Nyai... indah teramat sangat. Raden Mas Baskoro pasti akan sangat bahagia dan bangga melihat ketelatenan Anda menyiapkan calon pewaris perbukitan ini."
Rona merah muda menyapu pipi Larasati ketika nama suaminya disebut. Mengingat sosok Raden Mas Baskoro—pria perkasa berusia tiga puluh lima tahun yang selama empat bulan terakhir memanjakannya dengan perhatian dan rasa kasih yang tulus—membuat seluruh rasa pegal di punggungnya seolah sirna.
Namun, kehangatan sore itu mendadak luluh lantak.
Brak!
Suara derap langkah kaki yang luar biasa berat dan terburu-buru beradu keras dengan lantai kayu selasar. Langkah itu bukan langkah tenang juragan besar seperti biasanya, melainkan derap penuh prasangka dan gairah amarah yang mendidih.
Raden Mas Baskoro muncul dari balik lorong selasar. Wajah tegapnya kaku laksana batu karang, memerah padam oleh luapan darah yang terbakar cemburu. Sepasang mata hitamnya yang biasanya memancarkan aura protektif kini berkilat liar, merah pekat oleh bisikan racun yang baru saja ditanamkan Nyai Gayatri di ruang kerja.
"Raden Mas...?" gumam Mbok Sum terperanjat, seketika berdiri dan menjura takzim.
Baskoro tidak memedulikan pelayan sepuh itu sedikit pun. Pandangannya terkunci mati pada Larasati. Pria tiga puluh lima tahun itu melangkah lebar, mengikis jarak dengan napas memburu kasar.
"Mbok Sum, keluar!" bentak Baskoro, suaranya bariton rendah, menggelegar penuh ancaman yang membekukan darah. "Tinggalkan tempat ini sekarang juga! Jangan ada satu pun abdi dalem yang berani menapakkan kaki di teras ini!"
"T-Tapi, Raden Mas... Gusti Nyai sedang beristirahat—"
"PERGI!" raung Baskoro murka, matanya membelalak tajam.
Mbok Sum gemetar hebat. Dengan ketakutan yang luar biasa, pelayan sepuh itu menunduk dalam-dalam lalu berlari terburu-buru meninggalkan teras samping, menyisakan Larasati sendirian menghadapi badai yang mendadak menerjang.
Larasati terhenyak, jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. Rintihan cemas mencetus di dadanya melihat perubahan drastis pada suami yang semalam memeluknya dengan begitu hangat. "Mas... Mas Baskoro? Ada apa? Kenapa Anda membentak Mbok Sum dan—"
Sebelum Larasati sempat menyelesaikan kalimatnya, Baskoro melemparkan selembar kertas lusuh yang sudah remuk tepat di atas pangkuan Larasati. Kertas itu jatuh menimpa kain sulaman kebaya bayi yang sedang dikerjakannya.
"Baca itu, Larasati!" titah Baskoro dingin, suaranya bergetar menahan cemburu yang membakar egonya. "Baca tulisan dari pria masa lalumu itu!"
Larasati menatap kertas remuk berstempel itu dengan bingung. Dengan tangan yang mulai gemetar, ia membuka lipatan kertas tersebut dan membaca baris demi baris tulisan di dalamnya. Matanya membelalak lebar saat membaca tuduhan kejam yang tertulis di sana—bahwa ia sering bertemu Bagas di hutan sawo dan bahwa janin di rahimnya adalah benih pengkhianatan.
"Gusti ..." desah Larasati terperanjat, wajah cantiknya seketika pucat pasi. Ia mendongak menatap Baskoro dengan pandangan tidak percaya. "Mas... ini fitnah! Ini tidak benar! Demi Allah, saya tidak pernah—"
"Jangan sebut nama Tuhan untuk menutupi kebohonganmu, Larasati!" potong Baskoro kasar.
Pria perkasa itu memajukan tubuhnya, mencengkeram pergelangan tangan kiri Larasati dengan teramat kuat. Cengkeraman tangan besar Baskoro yang sekeras besi membuat jemari Larasati kehilangan daya. Kain mori dan jahitan kebaya bayi yang berada di pangkuannya terlepas, jatuh tercampakkan ke lantai batu yang kotor.
"Mas... sakit! Lepaskan tangan saya!" jerit Larasati pelan, mencoba menarik tangannya.
"Sakit?!" bentak Baskoro, merapatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa seceker. "Sakit mana dibanding dadaku yang kau tikam dengan pengkhianatan ini, Laras?! Selama ini aku memperlakukanmu laksana ratu! Aku merawatmu, aku berlutut di kakimu di saat kau lelah... tapi di belakangku, kau menyimpan kenangan pria itu?! Kau membiarkan benih asing tumbuh di dalam rahim yang kubiayai dengan harta dan kehormatanku?!"
"Tidak, Mas! Dengarkan saya dulu!" tangis Larasati pecah. Air mata deras menyapu pipi mulusnya. Tangannya yang bebas mencoba menggapai dada bidang Baskoro. "Surat ini palsu! Ini pasti ulah Nyai Gayatri! Saya tidak pernah bertemu Bagus secara diam-diam! Seluruh jiwa raga saya, dan anak berusia delapan bulan di dalam rahim ini... semuanya adalah milik Mas Baskoro seutuhnya!"
"Bohong!" raung Baskoro, kecemburuan menutup seluruh akal sehatnya.
Baskoro menarik tubuh Larasati secara paksa dari kursi. Larasati yang dalam kondisi hamil tua dan lelah terhuyung hebat. Langkah kakinya tertatih-tatih, menyeret beban perutnya yang berat mengikuti tarikan kasar suaminya melintasi selasar dalam menuju kamar utama. Tangannya yang satu lagi terus menahan perut bawahnya yang mendadak terasa tegang dan kaku.
"Mas... pelan-pelan, Mas... perut saya sakit..." rintih Larasati di antara isak tangisnya yang membendung.
Baskoro tidak mendengarkan. Pria itu menghempaskan pintu kamar utama dengan keras, memutar gerendel besi dari dalam dengan sentakan kaku—Cklek—lalu membekap kedua bahu Larasati, menyudutkan raga istrinya ke dinding kayu jati.
"Katakan padaku yang jujur, Larasati!" tuntut Baskoro dengan suara bariton yang pecah oleh kepedihan dan amarah. Matanya yang merah menatap lurus ke dalam manik mata Larasati yang basah. "Milik siapa anak di dalam perutmu ini?! Milik siapa?! Pria tua yang kau nikahi karena utang ini... atau pemuda miskin dari masa lalumu itu?!"
Tuduhan yang teramat kejam dan merendahkan itu menghantam dada Larasati tepat di titik paling dalam. Hati wanita remajanya hancur berkeping-keping. Pria yang semalam mengecup keningnya dengan penuh kelembutan, kini berdiri di depannya laksana monster yang siap meremukkan harga dirinya.
"Kenapa... kenapa Anda begitu tega, Mas...?" bisik Larasati dengan suara yang parau dan gemetar hebat. "Setelah semua yang kita lalui... setelah saya menyerahkan seluruh hidup dan kesetiaan saya... Anda lebih percaya pada kertas lusuh buatan orang lain dibanding istri Anda sendiri?"
Larasati menggeleng lemah, tangisnya kian menderita. Kekecewaan yang teramat berat dan guncangan emosional yang menghantam jiwanya seketika memicu kepasrahan yang teramat dingin pada raga remajanya.
"Jika Anda meragukan saya..." bisik Larasati pelan namun penuh ketegasan yang terluka, "Maka tundukkan raga saya ini, Mas. Buktikan sendiri kepatuhan saya sebagai istri yang tidak pernah melenceng dari takdirnya."
Amarah dan kecemburuan liar yang membakar Baskoro bertemu dengan kesabaran Larasati yang teraniaya. Tanpa mampu mengendalikan badai emosi di dadanya, Baskoro merengkuh tubuh mungil permaisurinya, merebahkannya ke atas kasur kapuk yang tebal di bawah naungan kelambu sutra yang bergoyang kencang.
Dengan kehati-hatian yang secara naluriah tetap dijaganya demi melindungi janin berusia delapan bulan di rahim Larasati, Baskoro memposisikan raga kekarnya di atas istrinya. Cumbuan yang mendarat di leher dan dada Larasati terasa berat, menuntut, dan dipenuhi dahaga kepastian yang liar. Cemburu buta yang masih membakar jiwanya membuat setiap sentuhan Baskoro terasa begitu posesif, seolah ingin mengklaim ulang setiap jengkal raga istrinya dan menghapus bayang-bayang lelaki lain.
Larasati memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran bantal kapuk saat kehangatan dan ketegangan melingkupi seluruh kamar utama. Rasa terluka di hatinya beradu dengan kenikmatan fisik yang membakar. Di bawah dominasi mutlak suaminya, gesekan raga mereka yang hangat memicu gelombang sensasi yang tak sanggup ia tahan.
"Ahhh... hhh... Mas... Mas Baskoro... nggghhh..." desah Larasati merdu di antara derak halus ranjang jati kuno, kepalanya bergerak gelisah saat kehangatan melingkupi selasar batinnya.
Baskoro menggeram rendah, suara baritonnya yang berat dan parau berbaur dengan napasnya yang memburu liar di ceruk leher Larasati. "Nggghhh... Laras... Katakan padaku... milik siapa raga ini, hhh...?" erang Baskoro, ritme pergerakannya menuntut kepatuhan yang makin dalam.
"Ahhh... milik Anda, Mas... hhh... hanya milik Mas Baskoro... nggghhh..." desah Larasati semakin panjang, matanya terpejam menahan gelombang kenikmatan manis yang memeras seluruh sisa tenaganya di atas kasur kapuk.
Penyatuan raga yang intens, panas, dan penuh gelora cemburu itu akhirnya mencapai puncaknya di keheningan malam. Larasati memekik pelan saat gelombang nikmat puncak menghantamnya, sementara Baskoro menggeram panjang dan nikmat, membenamkan wajahnya di antara dada Larasati sembari menumpahkan seluruh beban emosi dan benih cintanya di bagian terdalam rahim permaisurinya.
Ketika goncangan asmara itu perlahan mereda, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kamar utama. Baskoro menarik tubuh kekarnya perlahan, berbaring miring di samping Larasati dengan napas yang masih tersengal pendek. Binar merah amarah di matanya mboten sepenuhnya padam; cemburu buta itu masih bersarang erat, bergulat dengan rasa hangat pasca-penyatuan.
Larasati terbaring lemah di atas kasur kapuk, dadanya naik-turun memburu. Air mata bening menetes perlahan dari sudut matanya, menyapu pipinya yang pucat. Tangannya yang gemetar merayap turun, memeluk perut besarnya yang kini terasa tegang.
Baskoro menatap wajah lelah permaisuri remajanya dengan tatapan yang masih sarat akan keraguan dan kecurigaan. Tangannya yang besar terangkat, mencengkeram lembut namun tegas rahang Larasati, memaksa permaisurinya menatap lurus ke dalam matanya yang tajam.
"Laras... jujurlah padaku..." bisik Baskoro parau, suaranya dingin dan menekan. "Apakah desahan dan kepatuhanmu malam ini hanya untuk menutupi rasa bersalahmu padaku?"
Larasati menatap lurus sepasang mata suaminya yang masih dibutakan cemburu.
Dengan sisa tenaga dan suara yang parau, ia menjawab lirih, "Saya sudah melayani Anda dengan sabar dan patuh, Mas Baskoro... Saya menyerahkan raga dan desahan saya hanya untuk Anda. Jika Anda masih dibutakan cemburu... biarkan saya beristirahat demi anak yang membawa darah daging Anda ini."
Kata-kata Larasati mengendap tebal di udara malam, meninggalkan Baskoro yang masih berdiri kaku di atas selimut ketakutan dan cemburunya sendiri di keheningan fajar.
Bersambung
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄