NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

‎Aula utama hotel Wijaya bersinar terang dihiasi ribuan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan. Tawa dan percakapan para tamu bergema meriah, berpadu dengan alunan musik lembut yang mengiringi suasana. Di atas panggung kecil yang dihiasi bunga putih melambai, Luna berdiri di samping Haris, wajahnya berseri-seri menampung ucapan selamat dari setiap tamu yang naik ke atas panggung.

‎‎"Selamat ya, Luna." ucap seorang kerabat jauh sambil mencium pipinya sekilas. "Kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi."

‎‎"Terima kasih, Bibi," jawab Luna lembut, tangannya tak lepas dari lengan Haris.

‎‎Seorang rekan bisnis keluarga mendekat, menyalami Haris dengan erat. "Selamat, Nak Haris. Penyatuan ini sungguh kabar baik bagi dunia usaha kita. Semoga kalian membawa berkah bagi kedua keluarga besar."

‎‎Haris tersenyum tipis, "Terima kasih, Pak. Semoga demikian."

‎‎Di sisi lain, Nyonya Astrid duduk dengan tenang menikmati momen itu, sementara Nyonya Melani berjalan dengan anggun menyapa setiap tamu penting, suaranya terdengar ramah namun penuh wibawa.

‎‎"Terima kasih sudah hadir, Tuan Surya. Silakan nikmati hidangannya," ucapnya sambil menunjuk meja prasmanan. "Kami sangat menghargai dukungan Anda untuk anak-anak kami."

‎‎"Siapa yang tidak ingin melihat kebahagiaan putri Anda, Nyonya Wijaya?" balas pria itu sambil tersenyum. "Luna adalah gadis yang beruntung, dan Haris pun demikian. Pasangan yang sempurna."

‎‎Luna yang mendengarnya dari kejauhan semakin mengangkat dagu tinggi. Ia menoleh ke arah Haris, berbisik pelan namun penuh kemenangan.

‎‎"Kamu dengar itu, Kak? Semua orang bilang kita pasangan yang sempurna. Mulai sekarang... tidak ada yang bisa memisahkan kita."

‎‎Haris menatap sekilas ke arah kerumunan, seolah mencari sosok yang takkan pernah ia temukan di sana. "Ya," jawabnya singkat. "Kita sudah melangkah sejauh ini."

‎‎Tidak jauh dari sana, Tuan Aryan berdiri diam di dekat jendela besar, menatap keluar dengan pandangan yang kosong. Tuan Darius mendekat perlahan, menaruh tangan di bahu sahabat lamanya.

‎‎"Bolehkah kita bicara berdua saja di tempat yang lebih tenang? Ada hal penting yang sudah lama ingin aku sampaikan padamu,"

‎‎Tuan Aryan mengangguk pelan, menyadari nada serius di wajah sahabatnya.

‎‎"Baiklah. Mari kita ke ruang istirahat."

‎‎Keduanya melangkah pergi meninggalkan aula menuju sebuah ruangan tertutup yang ada di sudut. Begitu pintu ruang istirahat tertutup rapat dan terkunci, suasana hening seketika menyelimuti mereka. Tuan Darius berdiri tepat di hadapan sahabatnya, tatapannya tajam menembus ke dalam, seolah ingin membaca setiap rahasia yang tersembunyi di balik mata Tuan Aryan.

‎‎"Jangan berputar-putar, Aryan," buka Tuan Darius dengan nada rendah namun tegas. "Selama ini aku diam, bukan berarti aku buta. Aku tahu betul ada sesuatu yang kalian sembunyikan tentang Kania. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Ke mana dia pergi? Dan kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang berani menyebut namanya dengan jelas?"

‎‎Tuan Aryan menundukkan pandangannya, tangannya meremas erat pinggiran meja di sampingnya. Rasa bersalah melilit dadanya semakin kuat, namun ia tahu mengungkapkan kebenaran saat ini hanya akan menimbulkan kehancuran yang lebih besar.

‎"Aku tidak bisa bicara soal itu, Darius," jawabnya pelan namun teguh. "Aku tidak berwenang menceritakannya."

‎‎"Bukan berwenang, atau takut mengakui kesalahan kalian?" potong Tuan Darius dengan suara yang sedikit meninggi. "Aku melihat perubahan sikapmu, perubahan sikap anakku, dan bagaimana Melani serta putrinya bertindak seolah tak ada beban sama sekali. Ada sesuatu yang sangat salah di sini, dan kalian semua menutupinya rapat-rapat!"

‎‎Tuan Aryan mengangkat wajahnya perlahan, matanya memancarkan keputusasaan yang mendalam.

‎‎"Dengarkan aku baik-baik, Darius. Tolong... jangan cari tahu lagi hal itu. Tidak ada gunanya menengok ke belakang sekarang. Yang penting adalah apa yang ada di depan mata kita hari ini. Pertunangan ini sudah berlangsung, janji sudah terucap di hadapan banyak orang. Terimalah ini demi kebaikan bersama, demi masa depan kedua keluarga kita, dan demi keselamatan semua orang."

‎‎"Kebaikan bersama?" Tuan Darius menggeleng tak percaya. "Kamu menyebut ini kebaikan sementara kebahagiaan putrimu yang lain dipertaruhkan? Apa kamu tidak merasa bersalah membiarkan Haris terikat janji tanpa mengetahui kebenaran?"

‎‎Tuan Aryan mendekat sedikit, menaruh tangan di bahu temannya dengan getaran halus.

‎‎"Aku menanggung rasa bersalah itu setiap detiknya. Tapi percayalah, saat ini diam adalah pilihan yang paling aman. Biarkan semuanya berjalan seperti yang sudah ditentukan. Suatu hari nanti... mungkin semuanya akan jelas dengan sendirinya."

‎‎Tuan Darius menatapnya lama, menyadari betapa kokohnya benteng pertahanan yang dibangun sahabatnya. Ia tahu, tak ada satu pun pertanyaan yang akan mendapatkan jawaban malam ini. Dengan napas berat, ia akhirnya mengangguk pasrah.

‎‎"Baiklah. Aku tidak akan menekanmu lagi malam ini. Tapi ingat satu hal, kebenaran tidak akan pernah mati selamanya. Dan saat ia datang, kita semua harus siap menghadapinya."

‎Tuan Darius melepaskan tangan Tuan Aryan dari bahunya, lalu berbalik tanpa menambah satu kata pun lagi. Langkah kakinya terasa berat saat melangkah menuju pintu, ia membuka kuncinya, lalu melangkah keluar dan menutup pintu itu kembali dengan sedikit keras.

‎‎Di dalam ruangan yang kembali sunyi itu, Tuan Aryan terkulai lemas bersandar pada tepi meja. Napasnya keluar berat dan bergetar. Ia memegangi dadanya, menahan rasa sesak yang makin menyesakkan dada.

-

-

-

‎Pintu ruang ganti terbuka perlahan. Kania melangkah keluar, dan seketika suasana di sekitarnya seolah berhenti berputar. Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam legam yang menjuntai anggun, potongan rambutnya kini terlihat tegas dan berkarakter, serta tatapan matanya tak lagi menyimpan keraguan atau air mata, hanya ketenangan yang tajam dan berwibawa. Ia bukan lagi wanita yang dulu diinjak-injak dan dibuang. Ia telah lahir kembali.

‎‎Ia berjalan mendekat ke arah Victor yang duduk tenang di kursi utama, tak sedikit pun beranjak atau menampakkan kekaguman berlebihan. Matanya hanya menatap lurus ke arahnya, lalu pria itu menundukkan dagunya sedikit, menunjuk kotak beludru terbuka di atas meja, sebuah cincin berlian berkilau yang besar dan memancarkan kemewahan.

‎‎"Pakai," perintahnya singkat dan dingin.

‎‎Kania tidak bertanya. Ia mengambil cincin itu perlahan, melingkarkannya di jari manisnya. Kilauannya menyorot terang, menandai awal dari identitas barunya.

‎‎"Dengar baik-baik." Victor menatapnya lekat-lekat, suaranya berat dan tegas seolah sedang menanamkan kalimat itu ke dalam jiwanya. "Mulai detik ini, nama Kania Adelia Wijaya sudah tidak ada. Dia telah mati bersama dengan rasa sakit dan kehinaan yang pernah kau alami. Namamu sekarang adalah Kanaya Aurelia. Dan kamu adalah tunangan dari Victor Adrian Blackwood."

‎‎Ia mencondongkan tubuh sedikit, menekankan setiap kata.

‎‎"Setiap orang yang berani menyakitimu, berarti menantangku. Dan setiap orang yang berani meremehkanmu, akan menghadapi kehancurannya sendiri. Ingat itu."

‎‎Kania menundukkan pandangannya sejenak, lalu mengangkatnya kembali dengan sorot mata yang sama tajamnya dengan pria di hadapannya.

‎‎"Baik, Tuan. Aku Kanaya Aurelia. Dan aku siap menghadapi dunia baruku."

-

-

-

Bersambung...

1
MamDeyh
Dihh Hariss... Lakik pengecut.. 😒
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!