Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Suasana di dalam aula perjamuan privat Keluarga Zevan mendadak membeku, lebih dingin daripada es batu yang mulai mencair di dalam gelas kristal milik Abraham. Para pelayan yang berdiri berjejer di dekat dinding menahan napas serentak. Beberapa di antaranya bahkan saling lirik dengan wajah pucat pasi.
Membeli ruangan bersejarah milik dinasti Zevan senilai dua ratus miliar hanya untuk dihancurkan dengan palu gada bersama kuli proyek? Menjadikan meja jati kuno peninggalan era kolonial sebagai kayu bakar demi memasak mi instan? Ini bukan lagi sekadar tindakan eksentrik atau gila.
Di telinga orang awam, ini adalah penghinaan verbal tingkat tertinggi terhadap martabat salah satu keluarga penguasa bayangan di Bandung!
Kezia Zevan mengerjapkan matanya yang indah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai wanita karier yang berdarah dingin, rahangnya sedikit turun karena syok. Dia menatap Riyan yang masih memegang ponsel retak seribunya dengan posisi siap menembak QRIS atau meminta nomor rekening.
Namun, reaksi yang paling mengejutkan justru datang dari Tuan Besar Abraham Zevan. Pria tua itu sempat terdiam selama lima detik penuh, menatap lurus ke dalam sepasang mata Riyan yang memancarkan keputusasaan absolut yang di mata Abraham terlihat seperti kilatan kegilaan dan keberanian tanpa batas.
BRAKKK!
Abraham tiba-tiba memukul meja jati kuno itu dengan telapak tangannya. Bukan karena marah, melainkan karena dia langsung tertawa terbahak-bahak hingga bahunya terguncang hebat. Suara tawanya yang bariton dan menggelegar memenuhi seluruh sudut aula besar tersebut.
"Hahaha! Luar biasa! Benar-benar di luar dugaan!" seru Abraham sambil menyeka air mata yang sedikit keluar di sudut matanya akibat terlalu keras tertawa.
"Kezia, lihat pria ini! Dia tidak hanya jenius, tapi dia adalah seorang anarkis finansial sejati!"
Riyan yang tadinya sudah bersiap untuk diusir atau digebuki oleh dua pengawal berbadan besar di depan pintu, langsung melongo dengan bodohnya.
Hah? Anarkis finansial apanya lagi sih, Pak Tua?! Gua beneran mau ngancurin ini barang biar Sistem ngedeteksi kerugian materi murni! Kenapa lu malah ketawa kegirangan kayak orang stres?! batin Riyan menjerit histeris.
Abraham Zevan condong ke depan, menopang kedua tangannya di atas meja sambil menatap Riyan dengan binar mata penuh gairah yang mengerikan.
"Riyan Sadewa... kamu sedang melakukan tes mental terhadap Keluarga Zevan, bukan? Kamu sengaja menawarkan angka dua ratus miliar yang sangat tidak masuk akal untuk ruangan ini, lalu mengancam akan menghancurkannya. Kamu ingin melihat sejauh mana ego dan harga diri keluargaku bisa dibeli dengan uang, kan?"
"Bukan, Pak! Sumpah demi Tuhan, saya beneran pengen bakar ini meja!" bantah Riyan dengan wajah paling jujur yang bisa dia pasang.
"Taktik psychological warfare yang sangat brilian," sela Kezia yang rupanya otaknya sudah kembali sinkron dengan pola pikir ayahnya.
Wanita itu menatap Riyan dengan tatapan yang kini bercampur antara rasa takjub dan sedikit rasa... ngeri.
"Dengan bersikap seolah-olah kamu menganggap remeh simbol kemewahan dan sejarah Keluarga Zevan, kamu sedang menegaskan posisi tawarmu. Kamu ingin menunjukkan bahwa di matamu, dinasti bisnis kami tidak ada bedanya dengan proyek bangunan yang bisa kamu bongkar pasang sesuka hatimu."
Riyan langsung menyandarkan punggungnya ke kursi beludru dengan lemas. Pandangannya kosong menatap lampu kristal gantung di atasnya.
'Terserah... terserah lu berdua lah. Gua capek. Otak orang kaya emang udah pindah ke usus dua belas jari, gak bisa diajak mikir lurus, batin Riyan meratap pasrah.
[Denting Sistem! Deteksi Kegagalan Transaksi Konsumsi Kerugian!]
[Analisis Sistem: Target (Abraham Zevan) menolak mendeteksi tindakan Inang sebagai penghinaan atau kerugian. Sebaliknya, tindakan Inang dinilai berhasil meningkatkan indikator 'Respek dan Kepercayaan Mitra Bisnis Utama' sebesar 400%.]
[Peringatan Gawat Darurat! Sisa waktu pembentukan aliansi pasif otomatis: 15 Menit. Jika aliansi terbentuk, Saldo 3,45 Triliun Rupiah akan dikunci permanen. Target kematian instan diaktifkan!]
Melihat angka jam digital merah di sudut matanya yang mulai berkedip-kedip dengan tempo cepat seperti bom yang siap meledak dalam hitungan detik, Riyan langsung panik setengah mati.
Bulu kuduknya berdiri. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahinya yang tertutup debu proyek. Dia harus melakukan sesuatu yang benar-benar merugikan dirinya sendiri di tempat ini juga, tanpa melibatkan transaksi jual beli yang bisa diputarbalikkan narasinya oleh otak jenius Abraham dan Kezia.
Riyan mendadak berdiri dari kursinya hingga kursi beludru itu berderit keras di atas karpet. Dia menatap Abraham dengan pandangan tajam, memikirkan satu-satunya cara instan untuk merugikan finansialnya sendiri tanpa bisa dianggap sebagai taktik bisnis.
"Pak Abraham! Karena bapak gak mau jual ini ruangan, saya gak bakal maksa," kata Riyan dengan suara yang agak bergetar karena panik.
"Tapi saya mau bikin taruhan sama bapak. Taruhan bodoh yang gak ada gunanya sama sekali!"
Abraham Zevan menaikkan satu alisnya, merasa semakin tertarik dengan kelakuan pria eksentrik di depannya.
"Oh? Taruhan apa, Riyan?"
"Saya taruhan... lima ratus miliar rupiah tunai, kalau dalam waktu lima menit ke depan, lampu sorot taman di luar resor ini bakal ketembak petir! Kalau saya menang, bapak gak usah bayar saya sepeser pun."
"Tapi kalau saya kalah yang artinya petir gak bakal menyambar karena langit malam ini bersih banget saya bakal transfer lima ratus miliar rupiah ke rekening yayasan sosial milik Keluarga Zevan secara cuma-cuma tanpa syarat bisnis apa pun! Gimana?!" seru Riyan lantang.
Riyan tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. Mampus! Langit Lembang malam ini cerah banget, bintang-bintangnya kelihatan jelas. 'Gak bakal ada petir dalam waktu lima menit! Ini namanya gua sengaja buang duit lima ratus miliar lewat jalur kekalahan taruhan judi ilegal! Sistem... kali ini gua pasti rugi total tanpa ada celah keuntungan atau investasi reputasi bisnis!
Abraham Zevan dan Kezia saling pandang selama satu detik. Di mata mereka, taruhan Riyan ini benar-benar tidak masuk akal sehat. Mempertaruhkan setengah triliun rupiah untuk fenomena cuaca yang mustahil terjadi dalam waktu lima menit di malam yang cerah?
Namun, sebelum Abraham sempat membuka mulutnya untuk menerima taruhan "sedekah paksa" tersebut, sebuah suara gemuruh yang sangat dahsyat tiba-tiba terdengar membelah keheningan malam Lembang dari arah luar jendela aula.
DUAARRRRRR!!!
Kilatan cahaya biru keputihan yang sangat terang benderang menyinari seluruh ruangan aula perjamuan selama satu detik, disusul oleh suara ledakan keras yang membuat kaca-kaca jendela besar setinggi lima meter itu bergetar hebat.
Seketika itu juga, seluruh lampu sorot taman di luar resor padam total, meninggalkan hamparan taman rumput luas Keluarga Zevan dalam kegelapan gulita. Sebuah petir tunggal yang entah datang dari mana baru saja menyambar tepat di atas gardu listrik dan tiang lampu sorot taman mereka dengan akurasi seratus persen.
Suasana di dalam aula kembali menjadi sunyi senyap. Riyan Sadewa berdiri mematung dengan mulut menganga lebar, ponsel di tangannya hampir saja terlepas jatuh ke lantai. Wajahnya mendadak berubah menjadi seputih kertas semen.
[Denting Sistem! Fenomena Alam Terkalkulasi oleh Efek Keberuntungan Inang Tingkat Mutlak!]
[Hasil Taruhan: Inang berhasil memenangkan taruhan melawan Abraham Zevan dengan probabilitas kejadian 0,00001%.]
[Analisis Dampak: Tindakan Inang memprediksi datangnya petir secara akurat di malam cerah dinilai oleh Target (Keluarga Zevan) sebagai kemampuan mistis pramonitor atau penguasaan teknologi satelit cuaca militer rahasia tingkat tinggi!]
[Kalkulasi Keuntungan Sistem: Selamat! Reputasi mistis dan wibawa Inang di mata Keluarga Zevan melonjak sebesar 1000%. Keluarga Zevan memutuskan untuk mengikat Inang bukan lagi sebagai mitra bisnis... melainkan sebagai menantu pilihan utama demi mengamankan keberuntungan dinasti mereka!]
Riyan langsung memegangi dadanya yang terasa sesak. Jantungnya rasanya mau melompat keluar dari tempatnya.
'Petir sialan! Kenapa lu harus nyambar sekarang, hah?! Gua cuma mau kalah taruhan!!! jerit Riyan dalam hati dengan ratapan yang paling merana dalam hidupnya.
Abraham Zevan perlahan berdiri dari kursinya. Wajah pria tua itu kini tidak lagi dipenuhi tawa, melainkan ekspresi kekhidmatan dan rasa ngeri yang mendalam terhadap sosok Riyan. Dia melangkah memutari meja makan, mendekati Riyan, lalu meletakkan kedua tangan besarnya di atas pundak kaus oblong Riyan dengan erat.
"Luar biasa... benar-benar berkah dari langit," ucap Abraham dengan suara yang bergetar penuh takjub.
"Riyan Sadewa... kamu bukan lagi sekadar manusia jenius. Kamu adalah pria yang memegang kunci takdir dan keberuntungan dunia. Angka triliunan di rekeningmu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemampuan pramonitormu yang sanggup memerintah petir langit!"
Abraham menoleh ke arah anak gadisnya dengan mata yang bertekad mutlak.
"Kezia! Batalkan semua rencana perjodohanmu dengan anak-anak konglomerat dari Jakarta atau luar negeri! Mulai malam ini, aku nyatakan secara resmi... Riyan Sadewa adalah satu-satunya pria yang layak menjadi suamimu dan menantu utama Keluarga Zevan!"
Riyan Sadewa langsung terjatuh kembali ke atas kursinya dengan pandangan yang kosong dan jiwa yang serasa sudah terbang meninggalkan raga.
Niatnya membuang duit biar tidak mati denda Sistem, sekarang dia malah mendapatkan bonus berupa triliunan rupiah yang makin menumpuk, reputasi sebagai "Dewa Petir Pramonitor", dan dipaksa menikahi seorang nona besar tercantik dari keluarga rahasia terkaya di Bandung.