NovelToon NovelToon
DENDAM SANG TERKHIANATI

DENDAM SANG TERKHIANATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Kala Azure adalah seorang kapten agen rahasia legendaris yang ditakuti musuh dan dihormati.

Namun, karier cemerlangnya berakhir tragis, saat menjalankan operasi penting, ia dikhianati oleh orang terdekatnya dan terbunuh secara mengenaskan, membawa serta dendam yang membara.

Ajaibnya, Kala tiba-tiba terbangun dan mendapati jiwanya berada dalam tubuh Keira, seorang siswi SMA yang lemah dan merupakan korban bullying kronis di sekolahnya.

Berbekal keahlian agen rahasia yang tak tertandingi, Kala segera beradaptasi dengan identitas barunya. Ia mulai membersihkan lingkungan Keira, dengan cepat mengatasi para pembuli dan secara bertahap membasmi jaringan kriminal mafia yang ternyata menyusup dan beroperasi di sekolah-sekolah.

Namun, tujuan utamanya tetap pembalasan. Saat Kala menyelidiki kematiannya, ia menemukan kaitan yang mengejutkan, para pengkhianat yang membunuhnya ternyata merupakan bagian dari faksi penjahat yang selama ini menjadi target perburuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dengan Aya Marvin

Aroma antiseptik yang tajam memenuhi ruang UKS saat perawat selesai membalut pergelangan kaki Keira dengan perban elastis. Kulit yang semula putih itu kini tampak kontras dengan warna kemerahan yang membengkak di baliknya.

"Saya sarankan, jangan gunakan kaki ini untuk menumpu beban dulu," ujar perawat itu sambil merapikan peralatan. "Untuk sementara pakai tongkat, ya. Kalau dipaksa, memarnya bisa makin parah dan itu berbahaya."

Setelah meletakkan sebutir obat pereda nyeri di atas nakas, perawat itu berlalu, meninggalkan mereka.

Zero dengan sigap menyodorkan sebotol air mineral yang tutupnya sudah ia buka. "Cepat minum obat lo. Biarpun lo merasa jagoan, inget kalau tubuh lo itu bukan besi. Dia juga bisa teriak sakit," tukasnya.

Keira sempat tertegun. Ia menatap Zero sekilas, merasa asing dengan kalimat cowok itu. Entah mengapa, si cerewet yang biasanya hanya tahu cara membuat keributan ini, belakangan terdengar lebih ... masuk akal.

Tanpa membantah, Keira meraih botol itu dan menelan obatnya dalam sekali teguk.

Tiba-tiba, Zero berjongkok di depan ranjang UKS. Ia mendekap tas sekolah Keira di dadanya, memunggungi gadis itu dengan bahu yang tampak lebar dan kokoh.

"Ayo naik. Gue gendong lo sampai parkiran," cetusnya tanpa menoleh.

Keira mengernyit. Apa-apaan sih si Zero ini? batinnya heran.

Sikap Zero belakangan ini terasa berlebihan, aneh, tapi di sisi lain terasa begitu manis. Namun, sebagai seorang Keira yang terbiasa mandiri dan akrab dengan luka, ia tak ingin terlihat lemah hanya karena cedera kaki.

"Nggak usah. Aku bisa jalan sendiri," tolak Keira ketus.

Keira memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Namun, begitu telapak kakinya menyentuh lantai dan menopang berat tubuh, rasa nyeri yang tajam seperti sengatan listrik menjalar hingga ke pangkal paha.

"Akkkhh ...!" Keira merintih spontan, tubuhnya limbung saat ia refleks memegangi pergelangan kakinya yang berdenyut hebat.

"Tuh, kan! Gue bilang juga apa. Lo itu ngeyelnya nggak ketolongan!" seru Zero.

Tanpa menunggu izin lagi, Zero meraih tangan Keira dan menariknya perlahan hingga tubuh gadis itu bersandar di punggungnya.

Dengan satu gerakan mantap namun hati-hati, Zero mengangkat tubuh Keira. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat beban Keira seolah tak berarti baginya.

Sepanjang koridor menuju parkiran, hanya ada suara langkah sepatu Zero yang teratur. Keira terpaksa melingkarkan lengannya di bahu Zero, menyembunyikan wajahnya yang mulai merona karena perhatian itu.

Langkah sepatu Zero akhirnya berhenti tepat di samping motor besar miliknya yang terparkir di bawah pohon rindang. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, ia menurunkan Keira, memastikan kaki gadis itu tidak terhentak keras ke aspal.

"Nah, sekarang lo duduk manis di sini," perintah Zero sambil menepuk jok motornya.

Keira berpegangan pada bahu Zero untuk menyeimbangkan tubuhnya. "Oke, makasih. Sekarang kau bisa pergi. Gue bakal pesen ojek online buat pulang."

Zero menghentikan gerakannya yang hendak mengambil helm. Ia menoleh dengan dahi berkerut, menatap Keira seolah gadis itu baru saja mengatakan hal paling konyol sedunia.

"Ojek? Dalam kondisi kaki lo yang kayak bakpao begitu? Nggak ada. Gue yang anter."

"Zero, denger ya," Keira mencoba memasang wajah tegasnya, "Gue nggak mau ngerepotin lebih jauh. Lagian motormu tinggi, aku bakal susah naik-turunnya. Udah sana balik, jangan hiraukan aku!"

Zero tidak membalas. Ia justru sibuk memasangkan helm ke kepalanya sendiri, lalu dengan gerakan cepat, ia memakaikan helm cadangan ke kepala Keira.

Sebelum Keira sempat memprotes talinya yang ditarik kencang, Zero sudah menyalakan mesin motor yang menderu rendah.

"Lo punya dua pilihan," ujar Zero dari balik kaca helmnya. "Naik sendiri pelan-pelan, atau gue angkat lagi di depan umum sampai semua orang nengok ke kita?"

Wajah Keira memanas. "Kau ... bener-bener pemaksa ya!"

Melihat Keira yang masih ragu, Zero tidak menunggu lama. Ia menarik lengan Keira dengan lembut namun tegas, membantunya naik ke jok belakang.

Begitu Keira duduk dengan posisi yang agak miring karena kakinya yang sakit, Zero langsung menarik tangan gadis itu agar melingkar di pinggangnya.

"Pegangan yang erat. Gue nggak mau kaki lo nyenggol knalpot atau kesenggol kendaraan lain," ucapnya setengah berteriak di balik deru mesin.

"Zero, tapi rumah ku---"

"Gue tahu jalan ke rumah lo, Keira. Diem dan duduk aja yang bener," potong Zero mutlak.

Tanpa memberi kesempatan Keira untuk membantah lagi, Zero menarik gas.

Motor itu melesat membelah jalanan sekolah, meninggalkan area parkir dengan kecepatan yang stabil. Di belakang, Keira hanya bisa menghela napas panjang, akhirnya menyerah pada keras kepalanya Zero.

Untuk pertama kalinya, ia membiarkan punggung tegap itu menjadi sandarannya, sementara angin sore mulai menyapu helai rambut yang keluar dari celah helmnya.

Deru motor Zero berhenti tepat di depan gerbang kediaman Keira. Suara mesin yang gahar itu rupanya memancing keluar sosok pria paruh baya dari dalam rumah. Ayah Keira, muncul dengan raut wajah yang seketika berubah pasi saat melihat putrinya turun dari motor dengan kaki diperban.

"Keira! Kamu kenapa, Sayang?" seru Marvin panik.

Ia berlari menghampiri, namun langkahnya sempat tertahan sejenak saat matanya menangkap sosok yang membonceng putrinya, seorang remaja laki-laki dengan jaket denim, tatapan tajam, dan rambut berwarna merah menyala yang sangat mencolok.

Tanpa banyak bicara, Marvin langsung mengambil alih. Ia menggendong Keira dengan gaya bridal style, membawanya masuk ke dalam rumah menuju kamar di lantai atas.

Zero hanya berdiri mematung di samping motornya, merasa sedikit kikuk di bawah tatapan tajam sang ayah.

Beberapa menit kemudian, Marvin turun kembali. Saat Zero hendak berpamitan, suara berat Marvin menghentikannya.

"Mau ke mana? Duduk dulu. Saya buatkan minum sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengantar putri saya," ujar Marvin.

Di ruang tamu, suasana sempat terasa canggung. Zero duduk tegak, sementara Marvin meletakkan dua gelas teh hangat di atas meja. Namun, mata Zero tidak fokus pada tehnya. Ia justru terpaku pada sebuah foto lama di dinding dan bekas luka tipis di dekat alis Marvin.

"Om ... kalau saya boleh tanya," Zero berdehem pelan, "Om ini Marvin 'The Tank' di arena MMA sepuluh tahun lalu, kan?"

Marvin tertegun, lalu tawa tipis keluar dari bibirnya. "Kamu masih kenal wajah lama saya? Itu sudah jadi sejarah."

Suasana cair seketika. Zero yang memang menggemari dunia bela diri mulai antusias bercerita tentang teknik kuncian Marvin yang melegenda. Dari obrolan itu, Zero akhirnya paham dari mana Keira mewarisi bakat bertarungnya.

"Pantas saja Keira sehebat itu, Om. Buah jatuh memang nggak jauh dari pohonnya," cetus Zero sambil terkekeh.

"Saya sampai geleng-geleng waktu lihat dia menghajar beberapa preman sekaligus di jalanan kemarin dengan tangan kosong. Benar-benar nggak ada takutnya."

Seketika, tawa Marvin lenyap. Gelas teh yang baru saja hendak ia angkat kembali diletakkan dengan bunyi denting yang cukup keras.

"Apa kamu bilang? Menghajar beberapa pria?" tanya Marvin dengan suara yang mendadak rendah.

Zero mengangguk polos, tak menyadari perubahan raut wajah pria di depannya.

"Iya, Om. Gerakannya bersih banget. Saya aja yang cowok sampai kagum lihat cara dia menjatuhkan lawan yang badannya lebih besar."

Marvin terdiam seribu bahasa. Jantungnya seolah mencelos. Selama ini, yang ia tahu putrinya adalah gadis manis yang penurut dan sama sekali tidak mengerti ilmu bela diri.

Marvin sengaja menjauhkan Keira dari dunianya yang keras agar putrinya bisa hidup tenang sebagai gadis biasa.

"Siapa kamu sebenernya, Keira?"

1
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
SI bapak baru ngeuh klo Keira nya berubah
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh makin tegang, keira harus jujur sama papa Marvin
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
wah hebat juga frans, pasti frans curiga waktu keira keluarin jurus Combatnya
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
meilan memang harus di beri pelajaran, aq kira meilan sdh sadar trnyata belum
Dew666
🍭🍭🍭🍭
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
pasti ada dendam kesumat nih si zero sm ardan 🤔
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Di KO kan, makanya jangan sok jagoan jadi cowok 😏
Dew666
🔮🔮🔮🔮
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
ehh kenapa sma ayahnya Keira?
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh ada apa sama ayah keira jangan bilang ada turut campur orion
Dew666
💜💜💜
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
makin seru thor ceritanya🫶
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
mampus kmu orion
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
maaf kak sibuk banget kemarin.. dan gak punya tabungan bab🤧
Dew666
Tumben up cuma 1 thor?
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Dew666
🍦🍦🍦🍦🍦
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
ayoo kei saatnya beraksi, musnahkan semuanya babat habis lah
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Depinisi keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa kamu kei, niat hati pindah sekolah pengen yang lebih baik eh malah tambah parah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!