DENDAM SANG TERKHIANATI
"Semua siap di posisi! Kali ini mereka tidak boleh lolos dariku."
Instruksi Kala Azure, gadis cantik itu mengalir tegas melalui jalur komunikasi, memotong keheningan malam. Matanya yang biru keabu-abuan, perpaduan garis Asia dan Eropa yang tajam, seolah mampu menembus tembok tebal gudang terbengkalai di depannya.
Di usianya yang baru menginjak dua puluh lima, Kala adalah Kapten Operatif Elit Badan Intelijen Negara, ARCANA, dengan rekor misi yang sempurna.
"Tim Alfa Satu, tetap intai dari atas. Jangan biarkan seorang pun lolos kali ini!"
Ini adalah puncak dari ambisi terbesarnya menjatuhkan sindikat mafia terbesar. Postur tubuhnya ramping, namun setiap inci ototnya adalah hasil pelatihan bertahun-tahun dalam pertarungan tangan kosong. Ia memperbaiki earpiece taktisnya.
"Satu. dua. tiga ... serang!"
Kala melompat dari satu peti kemas ke peti kemas lain, tubuhnya melesat bak bayangan. Gudang itu luas, beraroma amis dan garam laut. Ia bergerak dalam kegelapan total.
Prank!
Tubuh Kala membentur kaca jendela yang retak. Ia berguling, mendarat dengan lutut menekuk, laras panjang senapan siaga di depan dada. Ia mengaktifkan Optik Ghost di kacamatanya.
Pandangannya yang tajam menyisir sekeliling. Gudang itu ... kosong. Benar-benar lowong. Tidak ada jejak pergerakan, tidak ada bekas pertempuran. Debu tebal menempel di permukaan drum yang berkarat.
"Kok kosong?" gumam Kala, nada dominasinya seketika berganti menjadi kebingungan yang gelisah. "Tidak mungkin informanku salah. Mereka terpercaya."
Kala berdiri tegak di tengah ruangan. Ia tahu ada yang salah. Ini adalah perangkap.
Tangannya bergerak panik menyentuh earpiece. "Alfa Satu, kalian dengar? Alfa Satu!"
Hening mutlak.
"Alfa Dua, kalian di tempat?"
Lagi-lagi hening, hanya desis statis.
"Sial, ada apa ini?" desisnya kesal.
Pendengaran Kala yang setajam Ngengat Lilin Raksasa menangkap derap langkah kaki yang tegas dari balik pintu kayu usang. Sepatu Bot Taktis. Langkah itu semakin dekat.
KREEK!
Pintu terbuka. Sosok hitam itu masuk bersama asap putih yang terasa menyesakkan. Siluet itu sangat dikenalnya.
"Dorion, kau kah itu?"
Napas Kala yang memburu perlahan menjadi teratur. Sosok itu adalah Dorion, wakil kapten dan satu-satunya orang yang ia anggap saudara. Mereka berdua yatim piatu, dibesarkan dalam sistem. Kala, yang berdarah dingin terhadap musuh, menyimpan kehangatan hanya untuknya.
"Kau bikin aku jantungan. Kenapa tidak menyahut panggilanku, ke mana timmu?" tanyanya, nada kelegaan bercampur teguran.
Dorion terus melangkah maju, tanpa menjawab. Kala merasakan hawa dingin merambat di tulang punggungnya, intuisi agennya mulai berteriak bahaya.
"Kau kenapa? Kenapa diam ..."
Secepat kilat, Dorion mengangkat pistol di tangannya. Bukan pistol tempur ARCANA, melainkan pistol pribadi yang pernah dihadiahkan Kala kepadanya.
DOR! DOR! DOR!
Tiga tembakan memecah keheningan. Kala tersentak, tidak sempat bereaksi. Timah panas menembus dada dan perutnya. Ia merasakan sensasi terbakar yang menyebar, sementara darah segar mulai mengalir deras, bau amis besi menyengat di udara.
Matanya yang membelalak dipenuhi amarah, keterkejutan, dan pengkhianatan. Ia menatap Dorion, tangannya terulur ke depan, mencoba meraih penjelasan.
"Ke ... na ... pa?"
BRUK!
Kala limbung, tubuhnya menghantam lantai berdebu. Napasnya tercekat di tenggorokan, pandangannya mulai kabur. Sebulir air mata menetes, bukan karena rasa sakit fisik, tetapi karena luka pengkhianatan.
Saat kesadaran memudar, ia melihat Dorion berjongkok di depannya.
"Istirahatlah. Aku yang akan ambil alih," tukasnya, membelai lembut kening Kala. "Ada sesuatu yang tidak boleh kau ungkap, Kala. CIP itu ... aku akan menemukannya."
Di balik earpiece yang masih terpasang, rekan-rekan mereka hanya bisa mendengar keheningan dan jeritan bisu di dada. Kala mati dengan dendam yang dingin membeku di hatinya.
"Cepat buang tubuhnya ke laut, buat seolah dia terbunuh oleh musuh," perintah Dorion mutlak.
Beberapa anggota yang tersisa, yang rupanya telah dikendalikan Dorion, segera memasukkan tubuh Kala ke dalam kantong mayat dan membuangnya ke laut yang dingin dan dalam.
Tubuhnya akan membeku di dasar lautan, tanpa ada yang mencari karena ketiadaan identitas dan keluarga.
Tiba-tiba, Kala merasakan dingin yang menusuk, bukan dingin fisik, melainkan dingin yang berasal dari kekosongan tak bertepi. Ia melayang dalam pusaran warna hitam dan ungu yang lembut, seperti lautan malam tanpa bintang. Ini pasti alam bawah sadarnya.
Tiba-tiba, pusaran itu mereda, dan Kala mendapati dirinya berdiri di sebuah taman yang asing. Taman yang tampak indah namun diselimuti kabut.
Di tengah taman itu, duduklah seorang gadis remaja. Punggungnya tegak, namun bahunya tampak menanggung beban yang terlalu berat. Ia mengenakan seragam SMA.
"Siapa kau?" panggil Kala, suaranya terdengar seperti bisikan di udara.
Gadis itu menoleh. Matanya yang indah, yang seharusnya bersinar ceria, kini memancarkan kepedihan dan amarah yang teredam. Itulah Keira, siswi SMA yang meninggal akibat bullying brutal.
Keira menatap lurus ke mata Kala, intensitas tatapannya seolah menembus jiwa.
"Aku Keira, tolong bantu aku. Mereka," katanya, menyebutkan nama-nama para pembulynya. "Mereka harus merasakan apa yang kurasakan. Lebih dari itu. Mereka harus tahu bahwa perbuatan mereka memiliki konsekuensi yang nyata."
Ia mendekatkan wajahnya, air mata mulai mengalir, namun matanya tetap tajam. "Aku minta kau, Kala. Balaskan dendamku. Bukan hanya untukku, tapi untuk setiap orang yang mereka hancurkan. Jangan biarkan mereka menang. Jangan biarkan mereka berjalan bebas."
Permintaan itu terasa berat, sebuah beban spiritual yang diletakkan di pundaknya.
Keira kemudian menarik napas panjang, dan ekspresinya melembut, dipenuhi penyesalan yang mendalam.
"Tapi ada satu hal lagi, yang jauh lebih penting dari semua ini," bisiknya, suaranya kini kembali seperti siswi biasa, penuh penyesalan. "Ayah. Jaga Ayahku."
Ia menunduk, menggenggam tangannya erat-erat. "Selama ini ... aku tak pernah benar-benar menunjukkan padanya betapa aku mencintainya. Aku selalu sibuk, aku selalu kesal. Aku malu dengan keadaanku, dan aku sering melampiaskannya pada Ayah."
Air mata Keira kini jatuh ke tanah berpasir, menciptakan riak kecil di keheningan alam bawah sadar itu.
"Aku menyesal, Kala. Aku sangat menyesal. Aku tak pernah bilang, 'Ayah, aku sayang Ayah,' tanpa ada maksud lain. Kumohon, pastikan Ayahku tahu bahwa aku mencintainya lebih dari segalanya di dunia ini. Katakan padanya bahwa aku menyesal tidak menjadi putri yang lebih baik. Dia adalah satu-satunya yang kumiliki, dan sekarang aku meninggalkannya sendirian."
Keira mendongak lagi. Wajahnya perlahan memudar, menjadi semakin transparan. "Dendamku ... dan Ayah. Ingatlah dua hal itu, Kala. Waktuku di sini sudah habis ..."
Sosok Keira berubah menjadi cahaya putih yang memancar sebentar, lalu menghilang sepenuhnya, meninggalkan Kala sendirian di taman kabut sunyi itu. Pesan itu menggema di benaknya. Balas dendam dan Jaga Ayahku, tunjukkan cintaku.
Kala merasakan dorongan kuat, seolah ada tangan tak terlihat menariknya kembali ke dunia nyata, kembali ke tubuhnya.
Namun, di tengah kegelapan dan dingin yang abadi, terjadi keanehan. Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menjalar. Napasnya sesak. Air memenuhi rongga hidung dan mulut. Bukan air laut, tapi air yang menekan kepalanya.
Insting bertahan hidup Kapten Operatif Elit yang terlatih mengambil alih. Dengan kekuatan yang tak terbayangkan, ia memaksa tubuh itu mengangkat kepalanya dari genangan.
BYUAR!
"Hah ... hah ... hah ..." Kala terbatuk dan tersengal-sengal, mengusap wajahnya kasar.
"Sial! Gara-gara lu, bajuku jadi basah semua!" gerutu seseorang.
Kala mendongak, menatap ke sumber suara. Empat gadis berpakaian sekolah berdiri di hadapannya, aroma rokok dan lembap bau pesing memenuhi indra penciumannya.
"Siapa kalian?" tanya Kala, melangkah mundur, laras senjatanya yang kini tidak ada hampir terangkat.
Seorang wanita berambut merah, sang ketua geng, mengangkat tangan, mengancam akan memukul. "Huh, pakai akting lupa ingatan lagi."
Kala yang kebingungan berbalik. Cermin retak di dinding memantulkan wajah yang asing. Seorang gadis remaja yang lemah. Tiba-tiba, tangan kasar kembali menekan kepalanya ke wastafel penuh air.
Saat di dalam air, bayangan samar, ingatan yang bukan miliknya, melintas.
Keira Ananta, siswi SMA yang dibuli. Keempat wanita itu adalah geng Black Rose.
"Apa aku pindah ke tubuh bocah ini?"
Teka-teki itu mulai terangkai. Walau susah diterima akal sehat, setidaknya Kala masih memiliki kesempatan. Kesempatan untuk hidup. Kesempatan untuk membalas dendam.
Ia telah mati sebagai Kapten Kala Azure, tetapi ia akan kembali hidup sebagai Keira Ananta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃfel ruby𝐀⃝🥀
ijin memberi sedikit masukan, untuk bagian "Matanya yang biru-keabu-abuan." setelah kata biru lebih baik pakai tanda spasi saja, jadinya seperti ini "Matanya yang biru keabu-abuan." mohon maaf sebelumnya
2025-12-19
2
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃfel ruby𝐀⃝🥀
Ceritanya sangat bagus, pembawaan alurnya yang santai membuat pembaca seolah olah masuk kedalam cerita dan merasakan isi dari cerita tersebut. Oh iya jadi Kala memasuki jiwa Keire atau Keira, karena didalam sinopsis di depan, tertulis Keire, dan disini tertulis Keira.
2025-12-19
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
Kala gk jd mati dong, tp hrs melanjutkan hidup sebagai Keira dan membalasnya dendamnya. apakah mereka hidup di satu masa yg sama🤔
2025-12-23
1