Rania Kirana seorang penjual cilok berprinsip dari kontrakan sederhana, terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Abimana Sanjaya seorang CEO S.T.G. Group yang dingin dan sangat logis.
Syarat Rania hanya satu jaminan perawatan ibunya yang sakit.
Abimana, yang ingin menghindari pernikahan yang diatur keluarganya dan ancaman bisnis, menjadikan Rania 'istri kontrak' dengan batasan ketat, terutama Pasal 7 yaitu tidak ada hubungan fisik atau emosional.
Bagaimana kelanjutannya yukkk Kepoin!!!!
FOLLOW ME :
IG : Lala_Syalala13
FB : Lala Syalala13
FN : Lala_Syalala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKCD BAB 32_Perjalanan Baru
Mereka makan dalam keheningan, namun kali ini keheningan itu bersifat kontemplatif, bukan interogatif.
Mereka sedang memproses transisi besar ini, kontrak yang dulu menjadi kompas mereka kini telah hancur, dan mereka harus belajar menavigasi perasaan mereka tanpa peta.
Setelah sarapan, Abimana tidak langsung berangkat ke kantor S.T.G. Group.
Ia justru mengajak Rania duduk di balkon yang menghadap ke arah cakrawala Jakarta yang sedang biru.
"Rania," panggil Abimana.
Ia menggenggam tangan Rania, jemarinya mengusap lembut punggung tangan wanita itu.
"Dunia sudah tahu tentang draf kontrak kita yang bocor, meskipun kita berhasil membalikkan keadaan dengan kejujuran kita kemarin, aku ingin melakukan sesuatu yang benar-benar baru. Sesuatu yang bukan bagian dari strategi bisnis." ucap Abimana.
Rania menatap mata Abimana, mencari ke mana arah pembicaraan ini. "Apa itu, Abi?"
"Aku ingin kamu menemukan jalanmu sendiri, selama ini kamu terjebak dalam peranku. Kamu menjadi 'istri' untuk memenuhi kebutuhanku menghadapi keluarga dan publik. Tapi sekarang aku ingin mendukung apa pun yang ingin kamu lakukan. Kamu punya kecerdasan dan integritas yang luar biasa. Sayang jika itu hanya terkunci di dalam penthouse ini."
Rania terdiam. Selama ini, mimpinya hanya sederhana yaitu menyembuhkan ibunya dan bertahan hidup, ia tidak pernah berpikir tentang karier atau ambisi pribadi sejak ayahnya tiada.
"Aku... aku ingin melanjutkan kuliah yang sempat terhenti, Abi." akui Rania malu-malu.
"Dan aku ingin membangun sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan anak-anak di lingkungan lamaku, ku ingin mereka tahu bahwa mereka punya pilihan, meskipun lahir di gang sempit."
Abimana mengangguk mantap. "Lakukanlah. Gunakan sumber dayaku bukan sebagai 'bayaran' kontrak, tapi sebagai investasi suami untuk masa depan istrinya. Kita akan membangun yayasan itu bersama. Tapi kali ini, kamu yang memimpin, dan aku yang akan menjadi penasihatmu di belakang layar."
Mendengar itu, Rania merasa sebuah beban besar terangkat dari hatinya.
Ia menyadari bahwa Abimana benar-benar ingin ia tumbuh sebagai individu, bukan sekadar hiasan di sampingnya.
Ini adalah fondasi pertama dari Perjalanan Baru mereka yaitu rasa hormat pada ambisi satu sama lain.
Dua hari kemudian, Abimana memutuskan untuk mengambil cuti singkat karena itu sesuatu yang hampir mustahil dilakukan oleh seorang CEO S.T.G.
Group di tengah proyek besar. Ia mengajak Rania pergi ke sebuah vila pribadi di kawasan perbukitan yang sunyi, jauh dari kebisingan Jakarta dan jangkauan kamera paparazzi.
Perjalanan itu berlangsung lambat, Abimana sendiri yang menyetir dan menolak ditemani Rendra atau pengawalan ketat.
Di dalam mobil, mereka banyak bercerita tentang masa kecil masing-masing dan hal-hal yang tidak pernah tertulis di dalam biodata yang diberikan Rendra kepada Rania di awal kontrak.
"Dulu, ayahku sangat keras," cerita Abimana sambil menatap jalanan yang berkelok.
"Setiap nilai ujian yang bukan 'A' dianggap sebagai kegagalan investasi itulah sebabnya aku tumbuh menjadi pria yang melihat segala sesuatu sebagai transaksi. Aku lupa cara merasakan."
Rania mendengarkan dengan empati. "Dan aku tumbuh dengan melihat Ibu yang selalu memberi meskipun kami tidak punya apa-apa, itulah sebabnya aku tidak bisa menerima uangmu di awal. Bagiku, jika aku menerima uang untuk sebuah hubungan, aku kehilangan bagian terakhir dari diriku yang diajarkan Ibu."
Di vila itu, tidak ada agenda rapat, tidak ada telepon dari dewan direksi.
Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di antara kebun teh, memasak bersama dan membaca buku di teras.
Suatu malam saat mereka duduk di depan perapian, Abimana menatap Rania yang sedang asyik membaca buku tentang manajemen pendidikan.
Cahaya api memantul di mata Rania, menciptakan pendar yang sangat cantik.
"Rania," bisik Abimana.
Rania menoleh. "Ya?"
"Terima kasih karena tidak menyerah padaku saat aku sedang di titik paling dingin," ujar Abimana tulus.
"Aku tahu aku sering menyakitimu dengan Pasal-Pasal itu." lanjutnya.
Rania meletakkan bukunya dan mendekat ke arah Abimana, ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Kita berdua sedang belajar, Abi. Kamu belajar untuk merasa, dan aku belajar untuk percaya bahwa tidak semua orang kaya itu tidak punya hati."
Malam itu, dalam keheningan perbukitan, pembicaraan mereka beralih ke topik yang lebih dalam tentang masa depan.
Tanpa ada tekanan tentang pewaris tahta atau tuntutan keluarga Sanjaya, mereka mulai berbicara tentang fase-fase kehidupan mereka selanjutnya.
"Aku ingin kita menjalani ini dengan perlahan, Rania," kata Abimana, seolah bisa membaca pikiran Rania yang mungkin khawatir tentang ekspektasi keluarga besar setelah pernikahan mereka menjadi 'nyata'.
"Aku tidak ingin kamu merasa tertekan untuk segera memberikan 'penerus' bagi Sanjaya hanya karena itu yang diinginkan Mama atau dewan direksi."
Rania menghela napas lega, ia memang sempat mencemaskan hal itu.
Sebagai Nyonya Sanjaya yang sesungguhnya, tekanan untuk memiliki anak pasti akan muncul.
Namun, ia sendiri merasa belum siap, ia ingin mengenal Abimana lebih dalam, ia ingin menyelesaikan kuliahnya dan ia ingin melihat ibunya benar-benar pulih total terlebih dahulu.
"Terima kasih sudah mengerti Abi, aku ingin kita membangun fondasi yang kuat dulu. Aku ingin anak-anak kita nanti lahir di rumah yang penuh cinta, bukan rumah yang penuh dengan 'perjanjian tertulis'," balas Rania.
Abimana tersenyum, ia mencium puncak kepala Rania.
"Setuju, kita akan menikmati waktu kita berdua. Menjelajahi dunia, membangun yayasanmu, dan membiarkan semuanya mengalir secara alami. Tidak ada jadwal, tidak ada deadline."
Setelah tiga hari yang tenang, mereka kembali ke Jakarta.
Namun, mereka yang kembali bukanlah pasangan yang sama dengan yang berangkat.
Ada sebuah rasa kesatuan (solidaritas) yang terpancar dari cara mereka berjalan dan berbicara.
Di kantor, Rendra menyadari perubahan itu, saat ia memberikan laporan harian ia melihat Abimana sesekali melirik foto Rania yang kini terpajang di meja kerjanya bukan lagi foto formal hasil pemotretan majalah, melainkan foto candid yang diambil Abimana saat mereka di perbukitan.
"Tuan, Nyonya Rania sudah mendaftarkan diri untuk ujian masuk universitas pagi ini," lapor Rendra dengan senyum tipis.
Abimana mendongak, matanya berbinar bangga. "Bagus. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi Rendra, tapi jangan campuri proses akademisnya. Biarkan dia menikmatinya dengan usahanya sendiri, dia ingin membuktikan kemampuannya."
Di sisi lain, Rania mulai sering terlihat di lingkungan lamanya, namun bukan sebagai penjual cilok.
Ia datang bersama beberapa konsultan pendidikan untuk meninjau sebuah bangunan tua yang akan ia sulap menjadi pusat belajar masyarakat.
Bu Wati dan tetangga lainnya menatap dengan takjub karena tak percaya bahwa raina masih memikirkan mereka.
Begitu jahat mereka karena sudah berpikir buruk kepada Rania dulunya, mereka pikir Rania sombong dan seorang wanita penghibur.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
lanjut Thor semangat 💪 salam