NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

He Chose Me

Koridor lantai dua sunyi senyap. Lampu dinding menyala redup, menciptakan suasana remang yang menenangkan.

Namun ketenangan itu dirusak oleh sesuatu yang mengerikan.

Aku berjalan pelan. Setiap langkah kaki kananku meninggalkan jejak basah berwarna merah tua di atas karpet krem yang mahal. Jejak kaki berdarah. Satu demi satu. Membentuk jalur merah yang menuduh.

Aku tidak menangis. Wajahku pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipis, tapi mataku menatap lurus ke depan dengan fokus yang menakutkan.

Aku sampai di puncak tangga utama.

Tanganku mencengkeram railing tangga. Darah dari telapak tanganku, bekas kukuku yang menancap terlalu dalam saat marah tadi, menodai kayu mahoni yang dipoles licin.

Aku melihat ke bawah.

Ciarán ada di foyer. Dia sudah memakai mantel panjangnya. Seorang pelayan membukakan pintu depan untuknya. Udara malam yang dingin berhembus masuk. Mobil sudah menunggu di luar.

Satu langkah lagi dan dia akan hilang.

Aku tidak memanggilnya. Suaraku tidak akan sampai.

Aku melangkah menuruni anak tangga pertama. Darah menetes dari betisku, jatuh ke marmer putih tangga. Tes. Merah cerah di atas putih suci.

Lalu anak tangga kedua.

Seorang pelayan wanita yang sedang membersihkan vas bunga di dekat tangga mendongak.

Matanya melebar saat melihatku. Dia melihat wajah pucatku. Dia melihat gaun tidurku. Dan kemudian, dia melihat kakiku.

Dia melihat darah yang mengalir deras, menggenang di sekitar tumitku.

"AAAAAAKH! DARAH! TUAN! DARAH!"

Jeritan pelayan itu melengking tinggi, memantul di dinding-dinding foyer yang tinggi.

Di pintu depan, Ciarán membeku.

Tangannya yang sedang memegang gagang pintu terhenti.

Dia berbalik perlahan. Gerakannya kaku, terganggu. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesal karena penundaan ini.

"Apa lagi sekara—"

Kata-katanya mati di tenggorokan.

Matanya menemukan pelayan yang histeris. Lalu mengikuti arah pandang pelayan itu. Ke atas tangga.

Ke arahku.

Dia melihatku berdiri di sana, seperti hantu di puncak tangga. Dan dia melihat garis merah panjang di betisku yang masih mengalirkan darah. Dia melihat jejak merah yang kutinggalkan di belakangku.

Wajah datarnya retak.

Pupil matanya membesar. Warna wajahnya memudar. Koper di tangan pelayan di sebelahnya jatuh berdebum, tapi tidak ada yang peduli.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku melihat Ciarán Vane terlihat... takut.

Bukan takut pada darah. Dia sudah biasa melihat darah dalam bisnis kotornya.

Tapi dia takut kehilangan miliknya.

Aku menatapnya dari ketinggian. Tubuhku mulai goyah. Kehilangan darah membuat kepalaku pening. Pandanganku menggelap di tepi-tepinya.

"Ciarán..." bisikku, meski aku tahu dia tidak bisa mendengarnya.

Tapi dia tidak perlu mendengar.

Dia bergerak.

Dia tidak berjalan. Dia berlari.

Dia melempar mantel mahalnya ke lantai begitu saja dan berlari menaiki tangga marmer itu, melompati dua anak tangga sekaligus, menuju ke arahku. Menuju bencanaku.

Opera sudah dilupakan. Vittoria sudah dilupakan.

Hanya ada aku, dia, dan darah yang mengikat kami.

Dunia miring.

Tubuhku jatuh ke depan, tapi aku tidak pernah menyentuh lantai yang keras. Lengan kuat menangkapku di udara.

Aku mencium aroma cologne itu. Sandalwood dan ketakutan.

"Elara!"

Suara itu terdengar seperti teriakan di bawah air.

Aku membuka mata sedikit. Wajah Ciarán ada di depanku, sangat dekat. Mata gelapnya yang biasanya tenang kini berkilat panik. Keringat membasahi dahinya yang sempurna.

"Panggil dokter!" teriak Ciarán pada para pelayan yang membeku. "SEKARANG!"

Dia mengangkatku. Kemeja putihnya yang mahal langsung ternoda darahku. Tuksedonya yang dijahit sempurna kusut dalam sekejap.

Dia membawaku berlari kembali menaiki tangga, menjauh dari pintu depan, menjauh dari dunia luar.

"Ciarán! Apa yang kau lakukan?!"

Suara berat Julian terdengar dari bawah. "Mobil Russo sudah menunggu! Kau tidak bisa membatalkan opera hanya karena—"

"Persetan dengan operanya!" raung Ciarán tanpa menoleh ke bawah. Suaranya menggelegar, penuh amarah yang menakutkan. "Suruh sopir mengantar Vittoria sendirian. Aku tidak pergi ke mana-mana."

Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang, menghantam rusukku.

Dia memilihku.

Dia memilih darahku daripada emas Vittoria.

Dua jam kemudian.

Aku berbaring di tempat tidurku. Kakiku sudah dibersihkan, dijahit, dan diperban rapi. Dokter pribadi keluarga Vane baru saja pergi, meninggalkan resep antibiotik dan tatapan penuh tanda tanya.

Lampu kamar diredupkan.

Ciarán duduk di kursi di samping tempat tidurku.

Dia masih memakai kemeja putih yang penuh noda darah kering. Darahku. Dasinya sudah dilepas, kancing kerahnya dibuka. Dia duduk membungkuk, sikunya bertumpu di lutut, wajahnya terbenam di telapak tangan.

Dia terlihat kacau. Dan dia tidak pernah terlihat lebih tampan dari saat ini.

"Kau gila," gumamnya, suaranya serak. Dia tidak mengangkat wajahnya. "Kau benar-benar gila."

"Kau tidak pergi," bisikku lemah. Obat bius lokal membuat lidahku terasa tebal.

Ciarán mendongak. Matanya merah. Ada amarah di sana, tapi juga ada sesuatu yang lain. Keterikatan.

"Kau sengaja melakukannya," tuduhnya. Itu bukan pertanyaan. Dia tahu.

Aku tidak menyangkal. Aku menatapnya lurus.

"Aku memanggilmu," jawabku. "Dan kau datang."

Ciarán berdiri kasar. Dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu, meremas rambutnya frustrasi. "Kau melukai dirimu sendiri hanya untuk menghentikanku pergi? Apa kau tahu seberapa... rusaknya itu?"

"Apa pedulimu?" tantangku pelan. "Aku cuma barang, kan? Kau bilang begitu."

Ciarán berhenti. Dia menatapku tajam. Lalu dia berjalan kembali ke sisi tempat tidur, mencondongkan tubuhnya di atasku.

Tangannya mencengkeram sprei di samping kepalaku, mengurungku.

"Jangan pernah lakukan itu lagi," desisnya. "Jangan pernah merusak apa yang menjadi milikku."

"Maka jangan tinggalkan milikmu," balasku.

Kami saling bertatapan dalam diam. Perang dingin di antara kami mencair menjadi sesuatu yang panas dan menyesakkan. Dia marah padaku, tapi dia tidak bisa melepaskan pandangannya dariku.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh perban di kakiku dengan hati-hati, seolah takut aku akan pecah.

"Sakit?" tanyanya, suaranya melembut drastis.

"Sakit sekali," akuku. Aku berbohong. Aku bilang sakit. Karena aku tahu, hanya rasa sakitku yang bisa memberiku sentuhan darinya.

Dia menghela napas, lalu duduk kembali di kursi. Dia tidak pergi. Dia tidak mengganti bajunya. Dia tetap di sana, menjagaku seperti anjing penjaga yang setia namun galak.

Aku memejamkan mata, merasakan efek obat tidur mulai bekerja.

Di luar sana, opera sedang berlangsung. Vittoria mungkin duduk sendirian di box VVIP, bertanya-tanya ke mana pasangannya pergi. Julian mungkin sedang murka.

Tapi di sini, di kamar yang redup ini, Ciarán Vane duduk di sampingku, tangannya yang besar menggenggam tanganku yang dingin.

Aku tersenyum tipis dalam kegelapan.

Kakiku berdenyut nyeri. Bekas lukanya mungkin akan permanen.

Tapi saat aku merasakan genggaman tangannya mengerat dalam tidurku, aku tahu satu hal.

Sakit ini sepadan.

1
Fauziah Rahma
bertahan hidup seperti parasit, parasit mutualisme, semoga saja
Sha_riesha
aku tak pernah mau baca novel yang masih on going tapi entahlah novel ini punya magnet kuat banget yang bikin aku bolak balik ngecek udah up lagi apa belum 😍
Sha_riesha: 😭 sebenernya aku gak suka banget dibuat penasaran. nungguin up nya mana lama lagi 😭😭😭
total 2 replies
Sha_riesha
❤️🙏
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!