Ongoing
Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Salju jatuh lebih pelan malam itu, seperti butiran abu dari langit yang sudah kelelahan. Udara membeku sampai tulang, tapi di ruang perang Kastil Utara, suasana jauh lebih dingin daripada hawa luar. Peta kerajaan terbentang di meja batu, ditandai tinta merah yang mengalir seperti pembuluh darah.
Anastasia berdiri mematung di hadapan peta itu. Rembesan cahaya obor memantulkan warna keemasan di mata hijaunya—mata yang dulu lugu, kini menyimpan perhitungan yang kejam.
Di belakangnya, langkah berat Aloric masuk. Ia tidak mengetuk. Duke Silas tidak pernah mengetuk.
“Aku dengar para Marquis Selatan mulai bergerak,” suaranya dalam, rendah, seperti guruh dari bawah tanah.
Anastasia tidak menoleh. “Ya. Mereka menunggu siapa yang akan memenangkan pertarungan antara Putra Mahkota dan Kaisar. Dan mereka pikir utara tidak akan ikut campur.”
Aloric mendekat, berdiri tepat di belakangnya. Nafasnya hangat di tengkuk Anastasia, namun aura tubuhnya tetap seperti baja beku.
“Kau sudah menganalisisnya dengan tepat,” gumamnya.
“Tidak sulit,” jawab Anastasia datar. “Keluargaku salah satu pion mereka.”
Aloric menegang. “Zylph.”
Anastasia memejam sebentar. “Mereka mengirim pesan. Kakak perempuanku… tampaknya ingin ‘mengambilku kembali’.”
Nada suaranya terdengar lembut, tapi Aloric tahu betul—itu bukan kelembutan. Itu kemarahan yang dibungkus sutra.
“Aku akan menghabisi mereka,” katanya tanpa ragu. “Tak ada satu pun yang boleh menyentuhmu.”
Anastasia justru tersenyum kecil. “Tidak perlu. Belum.”
Ia menatap peta. “Biarkan mereka hidup. Untuk sekarang.”
Aloric menunduk sedikit, memperhatikan wajah Anastasia. “Kau merencanakan sesuatu.”
“Sudah sejak aku kembali hidup.”
Jawabannya setenang permukaan danau beku, tapi dinginnya memotong seperti belati.
Hening beberapa detik.
Lalu Aloric berkata pelan, “Anastasia.”
Suara itu membuatnya berbalik. Mata hitam Aloric bertemu mata hijaunya. Ada sesuatu yang tidak ia mengerti di sana—ketegasan, perlindungan, dan hal yang paling mengganggu: emosi.
“Ada apa?” tanya Anastasia.
“Jika mereka datang… kau tidak perlu menanganinya sendirian.”
Anastasia mengangkat dagu. “Kau pikir aku tidak bisa?”
“Aku tahu kau bisa,” jawabnya, nyaris berbisik. “Tapi aku tidak mau kau terluka.”
Ada jeda yang aneh. Seperti bumi berhenti bergerak.
Anastasia menelan ludah. Ia memalingkan wajah.
“Aku tidak rapuh.”
“Aku tahu itu.”
Aloric mendekat, telapak tangannya menyentuh pipi Anastasia, dingin sekaligus hangat. “Justru karena itu.”
Tiba-tiba—
BRAK!
Pintu ruang perang terbuka.
Jenderal Kael masuk tergesa-gesa, napas memburu. “Yang Mulia Duke! Utara diserang!”
Aloric langsung memutar tubuh, wajahnya kembali menjadi baja dingin. “Siapa?”
Kael menelan ludah. “Pasukan Putra Mahkota. Mereka membawa magic yang… berbeda.”
Anastasia memicing. “Sihir terlarang?”
“Sepertinya begitu, My Lady. Langit berubah warna.”
Seolah membenarkan kata-kata itu, getaran keras mengguncang kastil. Obor bergetar. Dari jendela tampak cahaya merah tua di kejauhan—warna darah yang mendidih.
Aloric langsung bergerak.
“Kael, perintahkan semua pasukan bersiap. Barisan utama jaga tembok timur. Aku akan memimpin penyerbuan.”
“Siap!”
Jenderal itu pergi.
Anastasia juga hendak melangkah, namun Aloric menahan tangannya.
“Kau tetap di sini.”
Anastasia mengerjap. “Apa?”
“Ini bukan pertempuran biasa,” kata Aloric. “Putra Mahkota sudah mengikat kontrak dengan roh kegelapan. Medannya akan kacau. Aku tidak akan membiarkanmu berada di sana.”
Anastasia menatapnya lama. Sangat lama.
“Aloric,” ia berbisik. “Tanpa aku, kau bisa mati sekali lagi.”
“Kau sudah menghidupkanku sekali,” Aloric menahan senyum samar. “Aku tidak berniat menyia-nyiakannya.”
“Tapi—”
“Aku memintamu tetap di sini.”
Suara itu tegas. “Jangan memaksaku mengikatmu.”
Anastasia memicing—marah, tapi juga sesuatu yang lain. Ia mendekat, menatap Aloric seperti hendak menembus pikirannya.
“…Jangan mati.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anastasia mengatakan itu kepada seseorang tanpa kebohongan.
Aloric menunduk sedikit, seolah menerima doa kecil itu.
“Tidak. Aku harus kembali.”
Ia menyentuh rambutnya pelan. “Kau menungguku.”
Tanpa menunggu jawaban, ia membalikkan badan dan keluar dengan langkah lebar.
Begitu pintu tertutup, Anastasia berdiri mematung. Tangannya gemetar sedikit—bukan karena takut.
“Dia benar-benar bodoh…” bisiknya lirih. “Jika dia mati, aku…”
Hening.
“…aku tidak bisa kehilangannya.”
Ia mengutuk dirinya sendiri karena jujur dalam pikiran.
Di luar, peperangan pecah seperti monster yang bangun dari tidur panjang.
Langit merah. Salju hitam. Udara bergetar oleh sihir jahat.
Aloric berdiri paling depan, mata hitamnya berubah lebih gelap dari malam. Magic tempur keluarganya bangkit, menyalakan aura seperti badai hitam-putih di sekelilingnya.
Para prajurit utara berteriak, “Duke Silas! Duke Silas!”
Aloric mengangkat pedangnya—pedang legendaris yang bisa membelah sihir.
“MAJU!”
Tentara bergerak seperti lautan baja.
Dan Putra Mahkota muncul di kejauhan, tubuhnya diselimuti aura merah gelap, senyumnya gila, matanya bercahaya seperti lava.
“Duke Silas… akhirnya kau keluar dari sarang es-mu!”
Aloric mendengus. “Sudah waktunya seseorang mengakhiri permainanmu.”
Putra Mahkota tertawa nyaring, keras, merusak udara.
“Kau tidak tahu apa yang kubawa malam ini.”
Tiba-tiba tanah retak. Awan hitam turun.
Dan seekor makhluk muncul—raksasa bayangan dengan mata merah menyala.
Para prajurit utara bergidik.
Namun Aloric tidak bergerak.
Ia hanya menatap makhluk itu seperti menatap batu yang menghalangi jalan.
“Aku sudah mati sekali,” katanya datar. “Dan aku bangkit. Kau pikir makhluk seperti itu bisa menghentikanku?”
Putra Mahkota tersenyum miring. “Kau pikir aku hanya membawa satu?”
Tanah retak lagi. Dua makhluk lain muncul.
Tiga raksasa kegelapan.
Angin berhenti. Dunia seakan menahan napas.
Di atas kastil, Anastasia yang menonton dari jendela juga membeku.
“…Aloric.”
Namun ia tahu satu hal:
Jika ia turun, Aloric akan kehilangan fokus. Dan itu lebih bahaya.
Jadi ia menggigit bibir, menahan nalurinya untuk ikut.
Di medan perang, Aloric mengangkat pedangnya.
“Aku bukan hanya Duke Utara,” katanya lirih… tetapi terdengar ke seluruh medan.
“Aku Silas. Pewaris sihir tempur tertua di benua ini.”
Magic putih-hitam meledak dari tubuhnya seperti badai.
“Jika langit ingin runtuh—biar aku yang menghancurkannya dulu.”
Dan ia menerjang maju, sendirian melawan tiga monster.
Anastasia menyentuh kaca jendela, napasnya tercekat.
“Aloric… bertahanlah.”
Namun pada detik itu, ia merasakan sesuatu menusuk dadanya.
Seseorang memasuki kastil.
Bukan orang baik.
Ia bisa mencium sihir kegelapan samar — berbeda dari yang digunakan Putra Mahkota.
Sihir yang sangat ia kenal.
“…Theodora.”
Mata Anastasia berubah tajam seperti pisau.
“Berani sekali kau datang ke wilayahku.”
Ia mengambil jubah, menarik tudung, dan berjalan keluar dari ruang perang.
Jika Aloric mempertaruhkan hidupnya di medan perang—
Maka malam ini, Anastasia akan menyelesaikan urusannya sendiri. Dengan caranya.