Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Harga dari Sebuah Keajaiban
Asap hitam membubung tinggi dari bangkai kapal perang emas yang hancur berkeping-keping.
Lembah yang tadinya hijau kini menghitam, tanahnya terbelah akibat tekanan energi yang melampaui batas dunia. Di tengah keheningan yang memilukan itu, sosok An-Han yang agung perlahan memudar.
Cahaya hitam-ungu yang menyelimuti tubuh pemuda itu pecah menjadi partikel kecil. Secara perlahan, tubuh itu terbelah kembali menjadi dua anak laki-laki berusia sebelas tahun: Jian An dan Jian Han. Begitu kaki mereka menyentuh tanah, mereka langsung jatuh tersungkur.
"Ugh... Argh!" Jian An mengerang hebat. Kulitnya mulai retak, memancarkan cahaya ungu dari dalam dagingnya.
Efek samping dari mencapai Ranah Puncak Abadi secara paksa mulai menghancurkan sel-sel tubuh mereka. Tubuh anak-anak itu tidak dirancang untuk menampung energi sebesar itu.
Jian Han, yang juga terkapar di sampingnya, mencoba meraih tangan adiknya, namun jari-jarinya kaku dan membiru. "An... bertahanlah..."
Li Hua berlari sekencang mungkin meninggalkan Jian Wuyou yang masih koma di bawah pengawasan Mei Lian. Ia menjatuhkan diri ke tanah, memeluk kedua anaknya yang sedang kejang-kejang.
"Jian An!Jian Han! Tidak... jangan seperti ini!" tangis Li Hua pecah. Ia melihat wajah anak-anaknya yang mulai membeku karena energi Puncak Abadi yang belum stabil di dalam tubuh mereka.
"Nona Li Hua! Jika energi itu tidak dikeluarkan, tubuh mereka akan meledak dan menghancurkan seluruh dimensi ini!" teriak Mei Lian dari kejauhan sambil tetap menekan titik nadi Jian Wuyou.
Tanpa ragu, Li Hua—yang selama sepuluh tahun ini telah melatih jalur meridiannya meski tidak menjadi petarung—membuka inti energinya sendiri. Ia memeluk kedua putranya erat-erat, membiarkan tubuhnya menjadi wadah pembuangan bagi sisa energi penghancur tersebut.
"Ambil saja dariku... kembalikan rasa sakit mereka padaku!" raung Li Hua. Cahaya ungu liar mulai berpindah dari tubuh anak-anak ke tubuh Li Hua, membuat wanita itu memuntahkan darah segar, namun ia tetap tidak melepaskan pelukannya.
Di saat maut seolah tinggal satu hembusan napas lagi bagi keluarga Jian, sebuah tangan yang dingin namun sangat kuat mencengkeram bahu Li Hua.
Zzzzzzt!
Seluruh energi liar yang tadi menyiksa Li Hua dan anak-anaknya tersedot secara instan ke dalam tangan tersebut. Li Hua menoleh dengan lemas dan melihat suaminya, Jian Wuyou, sudah berdiri tegak.
Meskipun jubahnya bersimbah darah dan wajahnya penuh bekas luka, mata Jian Wuyou kini berbeda. Pupil matanya tidak lagi hanya hitam atau merah, melainkan berwarna Perak Keabadian.
Ia telah tersadar tepat di saat kritis, dan melalui proses sekaratnya tadi, ia berhasil menstabilkan basis kultivasinya di Domain Kehendak Tahap Puncak yang sesungguhnya.
"Cukup, Li Hua. Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik." ucap Jian Wuyou, suaranya terdengar sangat dalam dan bergema.
Jian Wuyou meletakkan telapak tangannya di atas kepala Jian An dan Jian Han. Dengan kontrol energi yang sempurna, ia menyegel sisa-sisa kekuatan Puncak Abadi ke dalam sumsum tulang mereka, mengubahnya menjadi potensi terpendam yang baru akan bangkit saat mereka dewasa nanti.
Anak-anak itu berhenti kejang dan jatuh pingsan karena kelelahan, namun nyawa mereka terselamatkan.
Jian Wuyou kemudian berdiri, menatap langit dimensi saku yang sudah compang-camping dan hancur. Ia tahu tempat ini tidak lagi aman. Retakan di langit telah mengekspos koordinat mereka ke seluruh Alam Langit.
"Mei Lian, ambil semua barang yang bisa dibawa. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih dari satu jam." perintah Wuyou tegas.
Li Hua berdiri dengan bantuan Wuyou, wajahnya masih sangat pucat. "Ke mana kita akan pergi, Wuyou? Dunia tidak lagi memiliki tempat bagi kita."
Jian Wuyou menatap ke kejauhan, ke arah kegelapan ruang angkasa di balik retakan langit. "Jika dunia fana dan dunia dewa menolak kita, maka kita akan pergi ke tempat yang paling ditakuti oleh mereka semua. Kita akan pergi ke Jurang Ketiadaan, tempat di mana hukum langit tidak berlaku."
Ia menggendong kedua putranya di pundaknya, sementara tangannya yang lain memegang erat tangan Li Hua.
Dengan satu tebasan pedang cahayanya, Jian Wuyou menghancurkan dimensi saku yang telah menjadi rumah mereka selama sepuluh tahun, meninggalkan sisa-sisa Sekte Dewa Abadi yang telah menjadi abu, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan demi mencari perlindungan baru bagi keluarganya.