Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PHBS Penuh Imajinasi & Petualangan Ke Dusun 5
Hari itu dimulai pada pagi yang cerah, kami semua bangun sangat awal dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah karena kebetulan akan ada kegiatan bernana Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) disekolah yang merupakan bagian dari pogram kerja KKN kami. Teman-teman ku pun sudah memakai almet dan menyiapkan segala keperluan mereka.
“Kamu mau pergi juga Dan?” tanya Anwar
“Nggak tau nih” jawab Dani
“Jangan pergi lah, kamu temani aku aja” kata Anwar
“Temani? Apa gak salah dengar itu? Kamu mau ditemani buat apa?” bicara Putra curiga lalu teman-temanya yang lain pun ikut menatap kearah mereka.
“Nggak, kami cuman mau jalan-jalan aja ketemu warga lokal untuk lebih akrab gitu. Lagian juga disekolah kami nggak ada tugas apa-apa kan jadi mending kami ngelakuin hal lain yang lebih bermanfaat” tutur Anwar menjelaskan
“Jadi maksudmu kegiatan disekolah gak bermanfaat gitu” celetuk Ruka
“Ohh jadi begitu yah sekarang kordes” Tian menambahkan
“Nggaaak, b-bukan begitu” Anwar berusaha memberikan klarifikasi tapi teman-temannya malah menertawainya.
“Dengarkan aku dulu, kan sudah ada kalian disana jadi kami gak perlu lagi.” jelasnya
“Kamu kordes loh” kata Zee
“Aarrg” Anwar mengeram karena tak tau harus menjawab apa
“Ahaha” teman-temanya menertawainya
“Iyah yah nggak apa-apa” kata Zee
Anwar pun jadi kelihatan bodoh dan kaku lalu setelah itu Zee beserta beberapa lainnya pun pergi ke sekolah.
“Tunggu” panggil ku ingin mengejar namun Eni menghentikan ku
“Kamu nanti sama aku Enal” katanya
“Yaudah buruan kalau gitu” balas ku
“Tunggu, nasi belum masak” ucap Eni lalu pergi lagi ke dapur
“Sekitar sepuluh menit lagi” sahutnya
“Ehh lamaaa” gerutu ku lalu Anwar datang dan bertanya, “ Kamu gak pergi sekolah”
“Pergi, tapi nungguin Eni masak nasi dulu” balas ku
“Ohh...jangan pergi lah, ikut aku saja sama Dani” kata Anwar
“Kemana?” tanya ku
“Ke dusun 5” jawab pemuda itu dengan jelas
“Dimana itu” tanya ku kembali penasaran
“Ada lah pokoknya, nanti kesananya sama pak desa dan para aparatnya” tuturnya
“T-tapi aku sudah janji mau ke sekolah” balas ku lagi
“Emangnya kamu ada tugas disana”
“Iyah nggak ada sih” lalu Anwar pun memaksaku untuk ikut denganya. Dia mengatakan sesuatu yang membuat ku mau
“Mungkin saja kita bisa menemukan harta karun misterius yang ada didusun 5” ungkapnya
“Harta karun?” gumam ku
“Ayo ikut lah biar lebih ramai” lalu akhirnya aku dan Eni pun memutuskan ikut bersama mereka kedusun 5 dan tidak jadi pergi ke sekolah.
Pagi itu sinar matahari makin terang, kami pun berangkat bersama-sama menggunakan motor. Kami melalui jalanan yang nggak rata, penuh batu dan banyak belokan. Aku sempat merasa khawatir karena membonceng Eni namun aku menyembunyikannya—Jika ada takut lalu kami jatuh maka berakhir lah sudah.
“Pelan-pelan Enal, nanti kita jatuh...awas jurang” kata Eni mengomel diatas motor bahkan sampai mencubitku
“Aduh duh” desih ku
“Iyah yah” kata ku
Semuanya baik-baik saja sampai tiba kami melewati sebuah jalan menurun. Saat itu tiba-tiba saja suasanya berubah, rasanya seperti ada yang baru saja kami lewati. Cahaya matarinya juga berubah yang awalnya terik sekarang jadi sedikit gelap. Padahal langitnya terang bahkan gak ada awan. Namun aku gak terlalu memperdulikannya, aku tetap fokus mengendarai motor. Setelah itu, beberapa saat kemudian kami pun berhenti disebuah tempat dekat pohon bambu yang rindang. Kami pun turun dari motor mengikuti yang lainnya.
“Sudah sampai?” tanya Eni
“Um kayaknya” jawab ku pelan tidak yakin lalu aku bertanya pada Anwar namun dia juga menjawab gak tau.
“Iyah sudah sampai, disinilah nanti tempat kita berkebun” kata salah seorang aparat desa. Namanya Pak Noman.
“Kalian baik-baik aja kan tadi dijalan” tanya beliau
“Iyah, tadi mereka ini hampir jatuh” jawab Anwar menunjuk ku
“Nggak tau Enal ini tadi, untung aja gak jatuh” bicara Eni memukul ku. Namun aku gak memperdulikannya, aku malah lebih menotice pertanyaan Pak Noman sebelumnya
“Kenapa bapak tanya begitu?” tanya ku lalu beliau terdiam dan aku pun menatapnya penasaran
“Eenggakk, kan jalanabnya jelek jadi aku khawatir kalian kenapa-kenapa” jawab Pak Noman
“Apasih Enal, kenapa gitu banget natapnya” Eni menegur ku
“Iyah, kayak mau makan orang aja” kata Anwar lalu kami ikut jalan mengikuti Pak Noman. Beliau sambil jalan menjelaskan kepada kami sejarah awal mula dibukanya dusun 5 ini. Katanya dia juga ikut terlibat dalam pembukaan jalan menggunakan alat berat. Pada awalnya dusun ini dulu hanyalah hutan biasa yang dihuni oleh beberapa warga. Sehingga sebelum jalanannya dibuka mereka itu sangat terpencil dan misterius. Banyak rumor-rumor aneh yang beredar dimasyarakat yang membuat banyak orang takut untuk datang.
“Rumor aneh?Seperti apa itu pak” tanya Anwar
“Hmm misalnya –“ ketika Pak Noman bicara tiba-tiba saja kepala desa datang dan memanggil kami untuk ikut dengannya. Kami masuk dalam perkebunan menyeberangi sungai kecil yang airnya mengalir sangat jernih. Eni hendak menyentuhnya tapi Pak Noman melarangnya.
“Kenapa dilarang?” tanya Eni
“Nggak tau” jawab Dani lalu Eni melihat kearah Anwar
“Jangan tanya aku” kata pemuda itu
Hari itu kami memasang baliho dan juga tenda kecil untuk dijadikan tempat istirahat nantinya lalu setelah itu kami lanjut berjalan lagi menuju sebuah gubuk kecil yang menjadi tempat produksi gula merah. Untuk pertama kalinya kami melihatnya secara langsung, air gula dimasak dan mendidih diatas tungku api. Pemilik rumah tersebut senang dan menyambut kami dengan sangat baik.
“Kalian mau coba” ujar kepala desa
“Eh, boleh?”
“Boleh diminum” tanya kami
“Boleh lah” jawab kepala desa namun kami hanya diam saja, mungkin karena teringat pada minuman Luwak yang pernah kami minum sebelumnya sampai membuat kami kehilangan kendali karena emosi. Namun Pak Noman memberitahu kalau ini adalah minuman yang berbeda sehingga tak akan memberikan efek yang sama.
Anwar pun mencoba meminumnya duluan, dengan pelan dia merasakannya dan tak terjadi apa-apa pada tubuhnya.
“Bagaimana?Apa kamu merasakan sesuatu yang aneh” tanya ku
“Enggak, ini manis” jawab Anwar lalu minum lagi. Eni yang melihatnya pun ikutan minum lalu Dani yang juga ikut melakukanya
“Terlalu manis ini mahh” katanya lalu mengambil sesuatu untuk campurannya. Dia mencampurnya dengan kopi hitam lalu menyeruputnya lagi
“Aahhh” suaranya sampai membuat kami tertawa
“Enak kan” ujar kepala desa
“Iyah pak” jawab ku lalu ikutan minum juga. Rasanya benar-benar berbeda, entah kenapa setelah meminumnya aku jadi lebih tenang. Aku pun mencoba untuk mengatur nafas ku sambil menikmati angin sepoi-sepoi yan bertiup kearah kami
“Duh kepala ku sakit” keluh Eni lalu Anwar pun mendekatinya
“Kamu gak apa-apa? Eni, jawab ku” tanya Anwar melihat Eni perlahan kehilangan keseimbangan. Kami pun melihat kearah kepala desa namun beliau hanya tersenyum. Eni tiba-tiba menguap lalu tertidur, tak lama setelah itu Dani juga ikut merasakan kantuk.
“Dan-i” sebut Anwar menghampiri temanya itu
“Umm apa?” balas Dani dengan sisa kesadarannya
“Apa yang terjadi?Jangan begini lagi” Anwar mencoba untuk menggoyang-goyangkan tubuh Dani tapi tak lama dia juga malah ikutan merasa lemas. Aku yang melihat itu pun berdiri dan melihat kearah kepala desa.
“Kamu juga akan segera tidur” ucap kepala desa lalu benar saja tiba-tiba aku juga merasakan sesuatu yang aneh. Kedua kaki ku tiba-tiba lemas, ponsel yang ku pegang juga jatuh lalu tubuh ku pun benar-benar roboh.
“Oppss” suara Pak Noman menangkan tubuh ku
“Sekarang bagaimana ini pak desa” tanya beliau
“Lindungi mereka—“ kata pak desa lalu tiba-tiba saja sesuatu terjadi, banyak bayangan hitam bermunculan disekitar kami. Tampang mereka sangatlah menyeramkan.
“Pergi kalian” ucap Pak Desa namun makhluk hitam itu sepertinya tak mengerti bahasa. Mereka berjalan mendekati kami tapi selalu terpental oleh perisai cahaya yang melingkari kami.
“Bagaimana ini pak desa” tanya pak Noman
“Tidak ada pilihan lain, aku akan keluar dan menghadapi mereka” kata kepala desa
“T-tapi” Pak Noman khawatir namun Kepala Desa meyakinkannya bahwa dia akan akan baik-baik saja.
“Apa kamu lupa bagaimana aku dulu bisa menjadi pemimpin desa ini” ucap beliau dengan percaya diri lalu berjalan keluar melalui perisai cahaya. Setelah itu bayangan hitam pun menyerangnya namun kepala desa tak diam saja, dia juga ikut membalas sehingga pertarungan sengit pun terjadi. Dengan kekuatannya cahayanya kepala desa berhasil memukul mundur bayangan hitam itu tapi tak lama karena mereka semakin banyak.
“Pak desa” panggil Pak Noman yang ingin membantu namun kepala desa melarangnya.
“DIAM SAJA DISITU” ucapnya dengan lantang sehingga Pak Noman seketika terdiam.Dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku adalah I made...aku gak akan kalah sama kalian” teriaknya dengan lantang lalu sebuah cahaya terang memancar dari tubuhnya sehingga melenyapkan banyak bayangan hitam disekitarnya yang terkena cahaya tersebut. Namun setelah itu kepala desa langsung tumbang. Dia pun tersenyum kearah Pak Noman dan juga kami yang berada didalam pelindung.
“Hhm” Pak Noman pun membalasnya dengan senyuman juga sambil mengepalkan tangan kananya.
Sementara itu tempat lain tepatnya disekolah sedang terjadi keributan yang luar biasa. Zee dan yang lainnya kewalahan menghadapi banyak anak-anak yang terus berimajinasi dalam dunia imajinasi.
“Adik...adik mohon perhatiannya dulu” bicara Ruka namun percuma tak ada yang memperdulikannya
“Tepuk diam...” serunya lalu untuk sejenak anak-anak itu diam tapi setelah itu kembali ribut lagi. Lalu tiba-tiba Juna kembali mengacau dengan tubuh raksasanya mengganggu teman-temannya. Dia merusak dan menghancurkan imajinasi anak lain sambil tertawa. Tentu saja anak-anak lain tidak menerimanya sehingga perselisihan terjadi, namun karena tubuh Juna sangat besar sehingga tak ada yang bisa mengalahkannya. Hingga tiba-tiba muncul satu raksasa lain tapi dengan pakaian yang berbeda—bahkan dia jauh lebih besar dari Juna
“Ehh” anak-anak pun terdiam melihatnya. Raksasa tersebut tak lain adalah Putra, dia langsung menatap Juna dengan tajam hingga membuat anak tersebut ketakutan. Dia pun segera mengecilkan lagi tubuhnya lalu duduk lebih tenang. Saat itu Putra duduk disampingnya sehingga membuat anak nakal itu tidak bisa bebas lagi seperti sebelumnya. Andika yang melihatnya pun menertawainya.
“Awas yah kamu” gumam Juna
“Kak...kak Juna nakal” Andika mengadu pada Dila
“Heheh nggak kan, bercanda” balas Juna
“Bohong itu kak, dia memang nakal dari dulu” anak-anak yang lain ikutan mengadu. Sementara lain disudut ruangan Ruka sedang duduk sendirian karena sudah capek dan kehabisan energi menghadapi tingkah anak-anak yang beragam. Saat sedang merenung tiba-tiba salah satu anak datang menghampirinya.
“Hai kak” sapa anak itu sambil tersenyum. Ruka pun mencoba membalasnya dengan senyuman dingin.
“Maaf yah kak, sudah buat kakak capek—tapi kami sebenarnya baik kok. Kami sangat senang ada kakak KKN lagi yang datang ke sekolah” ucap anak itu
“Kakak pasti capek banget kan ngatur kami, tapi makasih banyak yah—makasih sudah memilih KKN disini dan datang ke sekolah kami” tuturnya lalu Ruka pun menatap anak itu sampai membuatnya canggung.
“T-tenang aja kak, aku akan bantu beritahu teman-teman ku—aaku ak—” anak itu tak melanjutkan ucapanya karena Ruka tiba-tiba mengelus kepalanya dengan lembut
“Umm nggak apa-apa kok” ucapnya sembari tersenyum lalu anak kecil itu juga membalasnya dengan senyuman yang lebih hangat.
Saat itu lah hati Ruka tersentuh, dia pun bangkit lagi dan mencoba sekali lagi untuk bermain bersama anak-anak. Kali ini dia melakukanya dengan lebih baik dan akhirnya berhasil. Ruka berhasil masuk kedalam dunia imajinasi anak-anak. Dia pun tersenyum sangat bahagia. Setelah itu dia pun berbicara kembali didepan anak-anak untuk memberitahukan kegiatan mereka yaitu mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Awalnya anak-anak bingung, mungkin karena baru pertama kali mendengarnya namun seiring berjalanya waktu ketika dijelaskan mereka jadi paham dan akhirnya senang. Ruka pun ikutan senang karena usahanya jadi gak sia-sia. Dia bersama teman-temannya merasa terharu karena kecerian anak-anak.
“Semangat kak Ruka...”
“Makasih kakak KKN”
“PHBS...SUKSES “ seru anak-anak
Saat itu teman-teman ku menyadari sesuatu tentang diri mereka, bahwa selama ini hidup itu sangat lah kesepian. Menjadi seorang mahasiswa itu bukan lah hal yang mudah, rasa lelah dan kesepian sudah sudah menjadi perasaan rutinitas. Memang kita punya teman-teman yang selalu memberikan suport namun itu hanya berlaku dalam beberapa waktu dan keadaan saja sebab pada akhirnya mahasiswa itu hanya punya dirinya sendiri.
Tapi hari itu kami kembali menemukan sesuatu yang berharga yaitu keramaian, kebersamaan dan kehangatan. Sesuatu yang jarang kami dapatkan ketika diperkuliahan.Secara gak langsung anak-anak berhasil meramaikan dan menghangatkan kembali diri kami yang sepi dan dingin.
Ternyata manusia sendiri itu juga aneh yah, semakin dewasa hidup itu semakin sepi, lingkungan pertemanan jadi mengecil dan pada akhirnya yang paling setia hanyalah diri sendiri.
...