Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Kaisar mondar-mandir di ruang kerjanya yang luas, menggenggam ponsel hingga buku jari yang memutih. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak kusut dengan gurat kegelisahan.
"Tetap tidak aktif? Bagaimana bisa?!" geram Kaisar, melempar ponselnya ke atas meja dengan kasar.
Dhani masuk membawa map laporan. Ia hanya bisa menggeleng pelan melihat bosnya yang sudah seperti singa dalam kurungan.
"Bos, kalau Bos mondar-mandir begitu terus, lantai ini bisa bolong. Percuma bos telepon, mata-mata kita sudah melapor kalau nyonya Aisya, maksud saya mbak Aisya sudah tidak ada di rumah suaminya sejak tiga hari lalu," ucap Dhani dengan nada santai namun hati-hati.
Kaisar berhenti melangkah, matanya menatap tajam ke arah Dhani. Tiga hari lalu, Kaisar ada di luar kota dan tak bisa memgawasi Aisya.
"Lalu kenapa kamu baru bilang sekarang?! Cari dia! Kerahkan semua orang! Bagaimana kalau dia tidak punya tempat tinggal? Bagaimana kalau dia kelaparan?" Kaisar semakin panik. "Tidak, lebih buruknya, bagaimana kalau dia melakukan hal bodoh karena putus asa?"
Dhani menghela napas panjang, ia melirik jam tangannya. "Sudah, Bos. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Mbak Aisya itu wanita kuat. Sekarang mending kita makan siang dulu, perut lapar bikin otak makin halu."
Kaisar mendengus, tapi akhirnya mengikuti langkah Dhani keluar ruangan menuju lift. Tepat saat pintu lift terbuka di lantai lobi, pemandangan di depan sana membuat darah Kaisar mendidih seketika.
Di dekat air mancur lobi, terlihat Hendra sedang berjalan sambil merangkul pinggang Rima dengan sangat mesra. Rima tertawa manja, sesekali menyandarkan kepalanya di bahu Hendra seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Hendra tampak sangat bangga, seolah baru saja memenangkan trofi, tanpa ada sedikit pun raut penyesalan di wajahnya.
"Lihat itu, Dhani. Pria itu benar-benar binatang," desis Kaisar.
Dhani melirik ke arah yang ditunjuk Kaisar. "Wah, si Hendra itu benar-benar tidak tahu malu ya? Belum kering air mata istrinya, sudah bawa ikan busuk ke kantor. Berani sekali dia pamer di wilayah kekuasaan Bos."
Kaisar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia ingin sekali melangkah ke sana, mencengkeram kerah baju Hendra, dan menghajarnya hingga tak berbentuk. Tapi, ia menahan diri. Ia tidak ingin menghancurkan rencananya yang lebih besar.
"Dhani, tanya orang-orangmu sekarang. Apa ada kabar terbaru tentang keberadaan Aisya? Aku tidak peduli berapa biayanya, aku ingin tahu dia ada di mana dalam satu jam!" perintah Kaisar tegas.
Dhani mengotak-atik ponselnya sebentar, lalu wajahnya berubah serius.
"Bos, saya baru saja dapat kabar dari informan di lingkungan rumah mereka. Tetangga bilang, tiga hari lalu terjadi keributan besar di pasar. Hendra menjatuhkan talak tiga di depan umum. Aisya diusir saat itu juga bahkan tanpa sempat mengambil baju-bajunya. Marni, ibunya itu, juga ikut membuang barang-barang Aisya ke jalanan."
Wajah Kaisar seketika pucat pasi. "Talak tiga? Di depan umum? Dan dia diusir begitu saja?"
"Iya, Bos. Dan masalahnya, sejak sore itu, tidak ada yang melihat Aisya lagi. Beberapa tetangga bilang kalau mbak Aisya terlihat berjalan menuju jembatan besar di pinggir kota dengan tatapan kosong," tambah Dhani.
Mendengar kata jembatan, jantung Kaisar seolah berhenti berdetak. Pikirannya langsung melayang ke kemungkinan terburuk.
"Jembatan? Apa dia mau bunuh diri?! Dhani! Kenapa kamu diam saja?! Siapkan mobil sekarang!"
Kaisar berlari menuju pintu keluar, mengabaikan tatapan heran para karyawannya. Dhani menyusul dari belakang sambil bersungut-sungut.
"Aduh, Bos! Tunggu dulu! Jangan langsung mikir terjun bebas begitu! Siapa tahu dia cuma mau cari angin atau lihat pemandangan!" seru Dhani berusaha menyamai langkah lebar Kaisar.
Di dalam mobil, Kaisar terus menggigit bibirnya, keringat dingin membasahi dahinya.
"Ini salahku. Harusnya hari itu aku langsung membawanya pergi. Harusnya aku tidak membiarkannya kembali ke neraka itu!"
Dhani yang sedang menyetir melirik bosnya dari spion tengah, lalu tak tahan untuk tidak menyindir. "Waduh, Bos Besar kita yang dingin seantero negeri sekarang panik gara-gara wanita? Mana Kaisar Adhitama yang katanya tidak butuh cinta? Sekarang malah mirip bapak-bapak kehilangan anak ayam."
"Diam kamu, Dhani! Ini tidak lucu!" bentak Kaisar, meski wajahnya terlihat sangat tersiksa.
"Iya, iya, maaf Bos. Tapi serius, Bos, tenang sedikit. Mbak Aisya itu punya iman. Tidak mungkin dia melakukan hal sependek itu. Tapi ya kalau memang Bos segelisah ini., itu namanya Bos sudah jatuh cinta tingkat akut. Mau saya pesankan pelaminan sekalian?" sindir Dhani lagi dengan nada jenaka.
Kaisar tidak menjawab. Matanya menatap tajam ke arah jalanan, mencari sosok wanita berbaju daster lusuh yang telah mencuri seluruh ketenangannya.
Dalam hatinya, Kaisar bersumpah, jika terjadi sesuatu pada Aisya, ia akan memastikan Hendra dan seluruh keluarganya merasakan penderitaan yang seribu kali lebih hebat dari yang Aisya rasakan.
"Cepat sedikit, Dhani! Kalau perlu tabrak saja lampu merahnya!"
"Siap, Bos! Tapi kalau kita ditilang, Bos yang bayar ya? Dan kalau mbak Aisya ketemu lagi makan bakso di pinggir jembatan, Bos jangan malu ya kalau saya tertawakan!"
Mobil mewah itu melesat kencang membelah kemacetan, membawa seorang miliarder yang sedang kehilangan kewarasannya demi seorang wanita yang telah dibuang oleh dunianya.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat