NovelToon NovelToon
Mr. Billionare Obsession

Mr. Billionare Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusi Fitria

Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32

"Sisi, bangunlah. Tidurmu seperti babi saja."

"Biar aku saja yang membangunkannya. Kau turunlah."

Kenapa aku bisa mendengar suara Evelyn dan Elbarra, padahal aku sedang bermimpi pergi liburan bersama idolaku, Kim Seon-ho.

Anehnya, mimpiku tiba-tiba lenyap. Kurasakan benda kenyal dan hangat bergerilya di wajahku. Dengan beratnya aku membuka mataku yang seperti di tempeli lem.

"Bangunlah, Sweety. Ini sudah siang."

"Eungghh..." Aku melenguh panjang saat benda kenyal itu mencium pipiku lembut.

Ketika sepasang mataku sudah terbuka sempurna, kudapati seorang pria berhidung mancung dan berwajah tampan sedang tersenyum manis kearahku. Aku mengerjap pelan untuk menyesuaikan cahaya.

"Ada apa, Sayang? Kau menatapku seperti itu, seolah baru pertama kali melihatku." Elbarra terkekeh geli.

Aku masih diam sambil memandanginya dalam-dalam. Tanpa bisa ku kendalikan, tanganku terangkat untuk menyentuh wajahnya. Ahh, kau benar-benar sempurna.

"Mandilah, Sayang. Evelyn sudah menunggumu di bawah."

Apa yang ingin Evelyn lakukan sepagi ini? batinku bertanya-tanya.

Seolah tahu dengan isi pikiranku, Elbarra mencubit hidungku gemas. "Bukankah kau ada janji untuk menemaninya berbelanja hari ini?"

Astaga, aku benar-benar lupa.

Buru-buru aku bangun, lalu berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Elbarra yang tertawa kecil melihat kelakuanku.

Hanya menghabiskan waktu 20 menit lamanya untuk mandi dan berdandan, aku bergegas turun menghampiri Evelyn yang sudah menungguku. Wajahnya terlihat cemberut sembari melipat kedua lengannya di dada.

"Maafkan aku, Eve. Aku kesiangan.." ucapku seraya menyengir lebar.

Evelyn memutar bola matanya malas. Tanpa mengatakan apapun, ia berjalan lebih dulu meninggalkanku.

"Kau membuatnya kesal, Sayang."

Aku menoleh, Elbarra berdiri di sampingku sambil mengusap rambutku pelan.

"Pergilah! Jangan membuatnya bertambah kesal!" lanjutnya, aku mengangguk iyakan.

Segera aku mengejar adik iparku itu yang sudah masuk kedalam mobilnya. Mukanya masih cemberut, aku ragu-ragu ikut masuk dan duduk di sampingnya.

"Eve, maafkan aku yaa..." bujukku sembari mengguncang lengannya.

Gadis itu menghela nafas pelan, kemudian mengangguk samar. "Cepat pakai sabuk pengamanmu!"

Senyumku langsung mengembang seketika. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Aku memakai sabuk pengaman sebentar, setelah itu aku melambaikan tangan kepada suamiku yang masih setia berdiri di teras.

Hari ini weekend, tentunya Elbarra tidak bekerja kecuali jika ada urusan mendadak. Biasanya suamiku itu akan selalu mengikuti kemanapun aku pergi, tapi akhir-akhir ini dia membiarkanku pergi berdua dengan adiknya.

"Eve, tidakkah kau merasa bahwa Elbarra sedikit berubah? Maksudku, biasanya dia selalu mengikuti kemanapun kita pergi, tapi sekarang tidak." Aku mengucapkan kalimat yang mengganjal hatiku.

Evelyn tak langsung menjawab. Ia nampak fokus menyetir seraya berpikir sejenak. "Mungkin dia sibuk, Si."

Jawabannya tidak memuaskanku. Aku pikir Evelyn akan tahu apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.

"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lebih baik kita belanja saja!" Evelyn memarkirkan mobilnya di basement.

Benar juga. Untuk apa terlalu dipikirkan. Toh, aku masih bisa makan enak dan tidur nyenyak tanpa harus memikirkan bagaimana kehidupan selanjutnya.

Walaupun di siang hari, basement ini akan terlihat gelap jika tidak ada penerangannya. Masih di dalam mobil, aku memperhatikan kondisi disana. Lampu di basement redup, tak jarang berkedip-kedip.

Entah kenapa perasaanku menjadi tidak karuan. Melihat suasana disana, seperti tengah menguji adrenalin. Suasana horornya begitu kental. Aku jadi bergidik seraya membayangkan yang tidak-tidak.

"Sampai kapan kau akan di dalam?"

Aku terkesiap, ternyata Evelyn sudah keluar sedari tadi. Mau tak mau aku pun ikut keluar, meskipun hatiku sudah merasa tidak enak.

"Ada apa denganmu, Si? Wajahmu agak pucat begitu."

"Tidak apa-apa, Eve." gelengku, "Ayo cepat jalan."

Kami berjalan melewati lampu sensor tepat di atas kepala. Disaat kami hampir tiba di ujung basement, semua lampu berkedip-kedip dan tak lama kemudian semuanya menjadi padam.

"EVE..."

"SISIII..."

Aku meraba sekitar, "Eve, kau dimana?"

"Aku disini!"

"Coba hentakkan kakimu!"

Terdengar hentakkan kaki di lantai. Ehh, tunggu! Mengapa suara hentakkannya lebih dari satu? Tiba-tiba aku merinding.

"Hallo, Nyonya De Sanders..." Suara bisikan itu tepat di telingaku. Suara seorang pria yang nampak asing.

Mendadak mulutku dibungkam menggunakan tangan yang besar, kupastikan tangan tersebut milik pria yang berbisik di telingaku tadi.

Aku memberontak ingin melepaskan diri sambil berusaha memanggil Evelyn. Sayangnya, usahaku sia-sia karena tenaganya cukup kuat.

"Sisi, kau dimana? Jangan membuatku takut!" teriakkan Evelyn masih terdengar jelas. Hingga perlahan aku merasakan tubuhku lemas dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.

...****************...

Aku mengerjapkan mataku untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Masih dalam posisi berbaring, aku mengamati sekitar. Ruangan asing bernuansa serba putih.

"Sudah bangun?"

Suara bariton itu mengangetkanku. Aku langsung mengambil posisi duduk lalu mencari sumber suara. Disana, di samping kasur terdapat seorang pria yang sedang duduk di sofa sambil memegang segelas minuman.

"Siapa kau? Kenapa kau menculikku?"

Dia tak menjawabnya, justru mengamatiku tanpa henti. Seketika aku menutupi bagian dadaku menggunakan kedua tangan.

Pria itu tersenyum sinis, "Aku tidak tertarik dengan wanita tepos sepertimu."

Aku menganga tidak percaya, bagaimana bisa dia bicara seperti itu dengan lantangnya. Sungguh pria tidak tahu malu.

"Kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa kau menculikku?"

Ia mengendikkan bahunya acuh, "Hanya iseng."

Whatt!!??? Aku sungguh tidak mengerti dengan isi pikiran pria ini.

"Berapa banyak uang yang kau butuhkan? Aku akan memberikannya!"

Bukankah kebanyakan penculik seperti itu. Mereka akan meminta tebusan kepada keluarga korban sesuai yang mereka inginkan.

"Cihh, kau pikir aku semiskin itu?"

"Lalu, jika bukan karena uang, apa gunanya kau menculikku?"

"Karena suamimu!"

Elbarra? Berarti dia kenal suamiku.

"Aku tidak tahu jika selera Bajingan itu sudah menurun," sambungnya.

Maksudnya aku? Memangnya ada apa denganku?

Aku memandangnya penuh sengit, "Kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Kau pikir suamiku akan diam saja setelah mendengar kabar hilangnya diriku?"

"Aku tidak mengerti, kenapa seleranya wanita cerewet sepertimu." Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menghampiriku.

"Mohon kerja samanya. Diamlah di tempat ini, jangan membuat kegaduhan!" lanjutnya lagi.

Benar-benar tidak bisa di mengerti. Mataku masih menatapnya tajam, namun ekpresinya menunjukkan ketenangan.

Pria ini pasti psikopat, batinku bergumam.

"Kau tidak perlu khawatir. Semua yang kau butuhkan, akan tersedia."

"Lebih baik kau pulangkan saja aku!"

Alisnya terangkat sebelah seperti tengah menimang sesuatu, "Baiklah. Tapi aku tidak bisa memulangkanmu dalam waktu dekat. Butuh waktu, dan itu tidak sebentar."

"Kenapa? Aku rasa tidak sesulit itu memulangkanku!"

"Kau benar. Baiklah, kita mulai dari mana dulu?"

Aku memandangnya bingung, apanya yang dari mana? Pria itu mendadak mengeluarkan pisau dari balik jasnya, pisau kecil namun terlihat sangat tajam.

Refleks, aku memundurkan tubuhku untuk menjauh darinya. Dia sungguh psikopat!

"Bagaimana jika tanganmu yang lebih dulu kukirim ke suamimu?"

Seketika aku menyembunyikan kedua tanganku di balik tubuh. Sekarang aku mengerti kenapa dia tidak bisa memulangkanku dalam waktu dekat. Ternyata ia ingin memulangkan tubuhku, namun dalam kondisi yang tidak utuh. Seperti, hari ini mengirim kedua tangan, besok kaki, lusa telinga, begitu seterusnya.

"Jangan macam-macam denganku! Suamiku akan menemukanku secepatnya." Aku mengusap jemariku, ehh kemana cincin pernikahanku.

Berulang kali aku memperhatikan jemariku, tidak ada sama sekali. Aku mencoba mencarinya diatas kasur, mungkin jatuh saat aku berbaring tadi.

"Mencari benda yang melingkar di jarimu?"

Aku menatapnya, lalu mengangguk singkat. "Dimana?"

"Aku sudah membuangnya saat di basement mall!"

Tubuhku terasa lemas mendengarnya, cincin pernikahanku hiksss..

Tiba-tiba ia melangkah menuju pintu, sepertinya ia hendak keluar.

"Siapa namamu?" tanyaku.

"Alex.." jawabnya tanpa berbalik.

1
Ika Yeni
penasarann smaa ellbaraa ,, hilang bagai di telann bumi
Ika Yeni
benerann elbaraa punyaa perempuann lainn ini? ya ampunn kasiann sisi,, apa cumaa slah paham?
Ika Yeni
elbaraa kmanaa istimu hamill ell
Ika Yeni
baguss kak ceritaa nyaa ,, semangat up yaa 😍
Yushi_Fitria: Terima kacih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!