Winter Alzona, CEO termuda dan tercantik Asia Tenggara, berdiri di puncak kejayaannya.
Namun di balik glamor itu, dia menyimpan satu tujuan: menghancurkan pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya—Darren Reigar, pengusaha muda ambisius yang dulu menginjak harga dirinya.
Saat perusahaan Darren terancam bangkrut akibat skandal internal, Winter menawarkan “bantuan”…
Dengan satu syarat: Darren harus menikah dengannya.
Pernikahan dingin itu seharusnya hanya alat balas dendam Winter. Dia ingin menunjukkan bahwa dialah yang sekarang memegang kuasa—bahwa Darren pernah meremehkan orang yang salah.
Tapi ada satu hal yang tidak dia prediksi:
Darren tidak lagi sama.
Pria itu misterius, lebih gelap, lebih menggoda… dan tampak menyimpan rahasia yang membuat Winter justru terjebak dalam permainan berbeda—permainan ketertarikan, obsesi, dan keintiman yang makin hari makin membakar batas mereka.
Apakah ini perang balas dendam…
Atau cinta yang dipaksakan takdir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — “Suami yang Berdiri di Depan Kamera”
Riuh rendah suara wartawan di lobi utama gedung Alzona Group terdengar seperti dengungan lebah yang marah. Ratusan kamera sudah terpasang, siap menangkap setiap kerutan di dahi Winter Alzona. Di dalam ruang tunggu VIP di balik panggung konferensi pers, Winter sedang menggenggam erat botol air mineralnya hingga plastik itu berbunyi gemeretak.
"Jangan tunjukkan kegelisahanmu, Winter," bisik Adrian di sampingnya. "Jika mereka mencium bau ketakutan, mereka akan mencabikmu hidup-hidup."
Winter tidak menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Setelan putih tulang yang ia kenakan seharusnya memancarkan kesucian dan kekuatan, tapi di dalam hatinya, ia merasa seperti seorang terdakwa yang menunggu vonis. Dokumen kontrak yang bocor itu adalah bukti hitam di atas putih tentang manipulasinya.
"Waktunya lima menit lagi, Nona," ujar seorang asisten humas dengan suara bergetar.
Winter bangkit, namun langkahnya terhenti saat Darren masuk ke ruangan. Darren tidak mengenakan jas; ia hanya memakai kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku, memberikan kesan pria yang "siap bekerja" daripada seorang CEO yang kaku.
"Aku yang akan bicara lebih dulu," kata Darren tanpa basa-basi.
Winter mengernyit. "Apa? Tidak. Ini perusahaanku, Darren. Ini masalahku. Aku sudah menyiapkan pernyataan yang disetujui oleh tim legal."
"Pernyataan legalamu hanya akan membuatmu terlihat seperti robot yang sedang membela diri," sahut Darren tenang. Ia mendekat, menatap mata Winter dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Publik tidak ingin mendengar tentang klausul atau addendum. Mereka ingin tahu apakah pernikahan ini nyata. Jika kau yang bicara, kau akan terlihat seperti sedang menutupi sesuatu. Tapi jika aku yang bicara, aku akan membuat mereka percaya."
"Aku tidak ingin kau mengambil alih posisiku, Darren!" desis Winter. "Ini cara mereka untuk menjatuhkanku—dengan membuatku terlihat bergantung padamu!"
"Biarkan mereka berpikir begitu untuk satu jam ke depan," balas Darren, suaranya merendah. "Setelah itu, kau bisa kembali menjadi ratu yang tidak tersentuh. Tapi saat ini, biarkan aku menjadi tamengmu."
Sebelum Winter sempat memprotes lebih jauh, pintu menuju panggung terbuka. Darren melangkah keluar lebih dulu, membiarkan Winter mengikutinya di bawah hujan kilatan lampu blitz yang menyilaukan.
Begitu mereka duduk di depan deretan mikrofon, seorang wartawan senior langsung melontarkan pertanyaan tajam. "Tuan Reigar, dokumen yang bocor menunjukkan adanya kontrak dengan durasi tertentu dan pembagian aset yang sangat rinci. Apakah benar pernikahan Anda dengan Nona Alzona hanyalah sebuah skema bisnis untuk menyelamatkan merger?"
Ruangan mendadak hening. Winter sudah membuka mulut untuk memberikan jawaban standar yang telah ia hafal, namun Darren lebih dulu mencondongkan tubuh ke mikrofon.
"Pertanyaan yang sangat bagus," ujar Darren, suaranya tenang dan penuh wibawa. "Dokumen yang Anda lihat itu memang ada. Saya tidak akan membantah keberadaannya."
Gumam kaget terdengar dari seluruh ruangan. Winter menoleh ke arah Darren dengan mata terbelalak. Apa yang kau lakukan?! batinnya berteriak.
"Namun," lanjut Darren, suaranya kini lebih berat dan dalam, "apa yang tidak diceritakan oleh dokumen itu adalah sejarah sembilan tahun di belakangnya. Saya dan Winter memiliki masa lalu yang rumit di Tokyo. Kami terpisah oleh keadaan yang di luar kendali kami. Saat kami bertemu kembali, ada begitu banyak luka dan ketidakpercayaan di antara kami."
Darren kemudian menoleh ke arah Winter, menatapnya di depan kamera dengan tatapan yang terlihat begitu tulus hingga membuat bulu kuduk Winter meremang.
"Kontrak itu bukan dibuat untuk memanipulasi pasar. Kontrak itu dibuat karena Winter tidak percaya bahwa aku kembali untuk dirinya, bukan untuk perusahaannya. Kontrak itu adalah perlindungan yang dia minta agar dia bisa merasa aman saat memberikan kesempatan kedua bagi kami. Itu adalah kesepakatan seorang wanita yang pernah patah hati, bukan seorang CEO yang licik."
Seorang wartawan lain bertanya, "Lalu bagaimana dengan status pernikahan Anda sekarang? Apakah itu masih 'transaksi'?"
Darren tersenyum tipis—sebuah senyum yang mematikan. Ia meraih tangan Winter di atas meja, menggenggamnya erat di depan puluhan kamera. "Kertas bisa mencatat kesepakatan, tapi kertas tidak bisa mendikte perasaan. Jika Anda bertanya apakah pernikahan ini sah? Ya, sah secara hukum dan lebih dari sah secara emosional. Saya berdiri di sini bukan sebagai mitra bisnis Alzona Group, tapi sebagai seorang suami yang bangga berdiri di samping wanita yang paling tangguh yang pernah saya kenal."
Winter terpaku. Ia tidak siap dengan pembelaan terbuka seperti ini. Kalimat Darren terdengar begitu meyakinkan sehingga ia sendiri hampir mempercayainya sebagai kebenaran mutlak. Ia melihat para wartawan yang tadinya beringas mulai melunakkan ekspresi mereka. Narasi "transaksi bisnis yang dingin" baru saja diubah oleh Darren menjadi "kisah cinta yang penuh perjuangan dan penebusan".
"Nona Winter, apakah Anda memiliki komentar?" tanya wartawan lain.
Winter menatap kamera, lalu menatap genggaman tangan Darren. Ia menyadari bahwa Darren baru saja menyelamatkan reputasinya dengan cara yang paling berisiko: dengan mempertaruhkan harga dirinya sendiri di depan publik.
"Apa yang dikatakan suami saya adalah benar," ujar Winter, suaranya sedikit bergetar namun tetap tegas. "Kami memulai ini dengan banyak keraguan, namun apa yang kami miliki sekarang jauh melampaui apa yang tertulis di atas kertas kontrak itu."
Konferensi pers berakhir dengan tepuk tangan sporadis yang kemudian menjadi riuh. Begitu mereka kembali ke balik panggung, saham Alzona yang tadi anjlok mulai menunjukkan grafik hijau yang stabil. Sentimen publik di media sosial berubah drastis; mereka kini dianggap sebagai power couple yang romantis.
Namun, begitu pintu ruang VIP tertutup, Winter langsung melepaskan tangan Darren dengan sentakan.
"Kau sangat pintar, bukan?" desis Winter, dadanya naik turun karena emosi yang campur aduk. "Kau baru saja membuat seluruh dunia percaya pada dongeng yang kau ciptakan."
"Itu bukan dongeng, Winter. Itu adalah satu-satunya kebenaran yang bisa menyelamatkanmu," jawab Darren, wajahnya kembali datar.
"Kau mengambil alih suaraku, Darren! Kau membuatku terlihat seperti wanita rapuh yang butuh perlindungan suaminya agar tidak dihujat publik!"
"Aku menyelamatkan perusahaanmu, Winter. Aku menyelamatkan posisimu di dewan direksi."
"Dengan cara membuatku berhutang budi padamu lagi?" Winter tertawa pahit. "Sekarang semua orang akan melihatku dan berpikir, 'Oh, dia hebat hanya karena ada Darren Reigar di belakangnya'. Kau baru saja mencuri kemenanganku, Darren."
Darren menatap Winter lama, sebuah tatapan yang penuh dengan kekecewaan yang tertahan. "Jika kemenangan bagimu adalah berdiri sendirian di atas reruntuhan perusahaanmu hanya demi gengsi, maka kau benar. Aku telah mencuri kemenanganmu."
Darren berjalan keluar ruangan, meninggalkan Winter yang kembali merasakan kekosongan yang aneh. Ia telah memenangkan perang opini publik, namun ia merasa telah kalah dalam pertempuran kendali atas hidupnya sendiri. Darren Reigar bukan lagi sekadar tawanan dalam kontraknya; pria itu kini adalah sutradara dari drama hidupnya, dan Winter tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau merasa takut.