laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alistair Intel Agency
Di rumah yang tidak begitu sempit namun tetap sederhana itu, sebuah kursi kayu berukir bunga menjadi satu-satunya yang tampak mewah. Meski bukanlah kursi empuk seperti di rumah kebanyakan orang, ukirannya memberi kesan hangat dan aesthetic. Di sanalah Zaskia duduk, memandangi cek pemberian Pak Irwan, sementara bayangan kata-kata lelaki itu masih berputar-putar di kepalanya.
“Apa maksud Pak Irwan ngomong begitu, ya...Kalau aku jujur soal masalahku, katanya aku bisa dapat uang lebih dari ini.” gumamnya. Ia melirik amplop itu, lalu menyandarkan tubuh ke kursi, menatap langit-langit. Kelopak matanya beberapa kali berkedip, pikirannya mulai penuh dengan sosok Pak Irwan dan bagaimana caranya mendapat penghasilan selain berjualan kue seperti biasa.
Lama-lama, atap itu terlihat kabur ketika mata Zaskia perlahan terpejam.
“Assalamu'alaikum...” Nadine masuk ke rumah sambil menaruh helm di meja dekat pintu. “Sepi amat. Biasanya Kia udah ribut di dapur,” gumamnya tanpa menyadari Zaskia tertidur di kursi.
Saat menoleh, Nadine menggeleng pelan. “Lah...tidur ternyata. Tumben banget ini anak santai. Kemarin nggak bikin kue, sekarang malah tidur. Gawat.”
Ia panik, lalu cepat-cepat mendekat dan membangunkan Zaskia dengan lembut.
Zaskia menggeliat, mengucek mata, lalu duduk tegak. Nadine langsung menarik lengannya. “Kamu ketiduran? Ini udah sore. Ayo, buruan. Aku bantu bikin adonan.”
Namun Zaskia tetap diam, tidak bergerak sedikit pun.
“Pak Irwan sudah memutus kerja sama kita, Nad.” ucapnya tenang—terlalu tenang.
Nadine langsung membelalak. “Hah? Kok bisa? kenapa kamu nggak cerita yang sebenarnya, kamu nggak jujur sama Pak Irwan?”
Zaskia menggeleng pelan. “Aku nggak mau orang lain tahu soal keluargaku. Dan Pak Irwan juga nggak suka kalau urusan personal dijadiin alasan.”
Nadine ikut duduk di sebelahnya, wajahnya terlihat sedih. “Terus gimana? Pemasukanmu lumayan, lho, sejak kerja sama sama beliau.”
“Ya udahlah, belum rezeki,” Zaskia menarik napas panjang. “Tapi beliau ngasih aku cek lima puluh juta karena desain dadakan itu.” Ia menyerahkan amplopnya.
Nadine cepat-cepat membuka. Matanya langsung melebar. “Buset...ini gaji aku setahun di pabrik. Kamu dapat segini cuma gambar sekali doang, Kia. Emang kerja pakai otak tuh lebih menguntungkan.”ia berkedip-kedip seolah tidak percaya apa yang dilihat.
Zaskia menyipit. “Hah? Selama ini kamu kerja nggak pakai otak? Emang otakmu di mana?”dengan entengnya celetukan Zaskia itu, membuat Nadine terpingkal.
“Di dengkul, ”jawabnya dengan tertawa keras sambil menepuk bahunya Zaskia.
Keduanya tertawa, saling mendorong pelan. Namun, setelah itu Nadine kembali serius.
“Maksud aku begini, Kia. Perbedaan aku dengan kamu. Pekerjaanku tuh main fisik, lebih mengeluarkan tenaga, ya tetep pakai otak sih. Sementara kamu kan otakmu doang yang main. Bisa juga kamu kerjain sambil rebahan.”
Zaskia mengangguk paham. “Oh, begitu.”
Nadine melirik sekilas cek itu, dan menatap kembali Zaskia dengan raut penasaran.
“Terus, uang ini mau kamu pakai buat apa?”
Pertanyaan itu membuat Zaskia terdiam. Tenggorokannya terasa mengering seketika, seolah kata Nadine menggantung di udara. Ia menatap cek di pangkuannya, tapi pandangannya seperti menembus kertas itu—kosong, jauh.
Dalam hati, ia merasa seperti sedang memegang sesuatu yang jauh lebih berat daripada selembar kertas: beban keputusan.
Tangannya meremas ujung amplop, sedikit gemetar.
Semua yang ia jalani selama ini serba terpaksa, seadanya, bertahan hari demi hari.
Sekarang tiba-tiba ada uang besar di tangannya...dan bukannya lega, ia justru merasa semakin bingung.
Di sudut pikirannya, bayangan ibunya muncul samar—sesuatu yang selama ini ia ingin ketahui. Bayangan yang selalu datang ketika ia rapuh, bukan ketika ia memanggilnya.
Membuat dadanya mengencang, seolah ada pintu masa lalu yang terbuka lebar.
Ia ingin membuka toko kue dan memulai semuanya dari awal. Tapi di sisi lain...keinginan yang sejak lama ia pendam kembali menguat, kini lebih kuat—mencari ibunya. Selama ini ia menahan diri hanya karena uang, dan karena takut harapan itu malah menyakitinya lagi.
Dan uang sebesar itu cukup untuk menyewa seorang detektif yang sudah pernah ia dengar
sebelumnya.
Nadine meraih kedua tangan Zaskia.
“Kenapa kamu nggak buka toko kue aja? Ini cukup kok, kamu bisa cari pekerja satu atau dua orang. Sambil jalan, siapa tahu makin besar. Tanganmu ini ajaib, penuh keberuntungan, jangan sia-siakan,” ucapnya, membuat buyar lamunan Zaskia yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
“Aku juga kepikiran itu, tapi...uang ini bisa aku pakai buat sewa detektif nyari ibu. Dan bakal lama banget kalau harus ngumpulin uang lagi.”
Nadine mengangguk pelan. Ia tahu kebimbangan sahabatnya. “Aku ngerti, dua-duanya penting.” Ia menarik napas dalam, menunduk sebentar, seperti menimbang apakah kata berikutnya akan membantu atau melukai.
“Kalau kamu buka toko, kamu punya pemasukan dan bisa mulai nabung lagi. Sebenarnya...”
Nadine menggigit bibir, wajahnya menegang. Ada sesuatu yang ia tahan.
Zaskia langsung curiga melihat perubahan ekspresi itu. “Kenapa?” tanyanya sambil memegang kedua bahu Nadine.
Nadine mengangkat jari kelingkingnya. Suaranya ragu. “Janji jangan marah, ya?”
“Marah kalau kamu bikin salah.” Nada Zaskia terdengar ketus, tapi itu hanya pura-pura. Ia menahan tawa melihat wajah Nadine panik.
Akhirnya tawanya pecah. “Hahaha, becanda. Ya udah, ngomong apa?”
Nadine menggenggam tangan Zaskia lebih erat. Tarikan napasnya dalam, seakan ia sadar apa yang akan ia katakan akan membuat keduanya sedih.
“Kia...besok aku harus pergi dari sini. Aku nggak bisa tinggal bareng kamu lagi.”
Dada Zaskia menegang seketika, seperti ada sesuatu yang turun di perutnya. Ia berusaha tetap tenang, tapi rasa kaget itu jelas terasa di dalam.
“Loh, kenapa? Apa karena aku udah nggak kirim kue lagi ke pabrik? Ya aku tahu kos kamu lebih deket dari pabrik daripada rumah aku. Tapi aku pengen kamu tinggal di sini biar gaji kamu utuh, nggak kepake buat bayar kos. Lagian aku juga cuma sendiri. Aku pengen ada temennya.”
“Bukan itu, Kia...” Suara Nadine melemah. Ia merogoh saku celananya dan menyerahkan sebuah kertas kecil. “Ini...”
Sebuah kartu nama dan alamat.
Zaskia menerima dengan dahi berkerut.
“Alistair Intel Agency?” tanyanya setelah membaca.
Nadine mengangguk cepat. “Itu alamat detektif handal kenalan papa aku. Dia pernah menangani kasus orang hilang bertahun-tahun dan ketemu. Aku dikasih ini, tapi sebagai gantinya...aku harus balik tinggal sama papa dan mama.”
Tubuh Zaskia merosot pelan. Bahunya turun. Ia memandangi kartu nama itu sebelum menggenggam telapak tangan Nadine dan mengembalikannya dengan tegas.
“Ini...”
Zaskia menolak keras. “Dasar nggak waras. Kamu pikir aku senang? Iya, aku senang karena ada harapan buat ketemu ibu. Tapi bukan berarti kesenangan aku jadi alasan kesedihan sahabatku.”
Nadine mengerjap, tidak menyangka dirinya yang justru dibuat sedih.
“Padahal udah janji jangan marah...”
“Jelas aku marah. Kamu salah. Kamu kira aku nggak tahu gimana sakitnya kamu tinggal sama orang tua yang cuma mikirin materi dan kesenangan mereka tanpa mikirin perasaan kamu? Dan sekarang kamu mau balik lagi? Kamu mau nyakitin diri kamu sendiri demi aku?” oceh Zaskia. Napasnya memburu. Marahnya marah sayang, dan Nadine paham itu.
Ia tahu, Zaskia hampir selalu menolak hal apa pun jika itu membuat orang lain rugi atau merasa terbebani.
“Kalau kamu nolak ini...” Nadine mengangkat kartu nama itu di antara ibu jari dan telunjuk. “Aku nggak mau jadi sahabat kamu lagi.”
Bahu Zaskia naik turun, ia benar-benar menyerah. Nadine memang paling tahu kelemahannya.
“Kenapa kamu suruh aku milih hal yang nggak mungkin aku pilih? Dasar cewek nggak waras. Mentang-mentang aku sayang sama kamu, kamu seenaknya bikin aku lemah gini.”
Ekspresi pasrah Zaskia membuat senyum muncul di wajah Nadine. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
“Peluk sini...!” Nadine membuka tangannya.
Zaskia langsung merangkulnya erat.
Tidak ada kata-kata. Tidak ada air mata.
Hanya napas keduanya terasa di bahu masing-masing.
Diam yang saling bicara bahwa keputusan ini sama beratnya bagi mereka, tapi justru membuat ikatan persahabatannya semakin kuat.
Setelah pelukan itu lepas, Nadine meminta Zaskia menghubungi nomor detektif sesuai arahan papanya.
Zaskia menempelkan ponsel di telinganya. Setelah sekitar sepuluh detik nada sambung, suara laki-laki menjawab—lantang dan tegas.
Karena gugup, tangan Zaskia meremas tangan Nadine.
“Iya, Pak. Ini dengan saya, Zaskia...”
Nadine mengisyaratkan agar ia lebih tenang.
“Oh...jadi saya harus ke lokasi dulu untuk memenuhi persyaratannya, ya, Pak?”
“Baik, Pak. Besok siang saya ke sana.”