Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan?
“Peter dikalahkan?” Suara berat itu menggema di ruangan gelap yang pernah dimasuki Rivaldo.
Seseorang sedang berbicara lewat telepon, nada suaranya dingin seperti logam yang belum dipoles. “Hanya oleh dua orang? Siapa mereka?....Tidak tahu, ya?” Tekanan dalam suaranya membuat empat siluet lain di ruangan itu diam, seperti setiap kata adalah pisau yang bisa berbalik ke arah mereka.
Telepon ditutup. Hening menyebar seperti kabut pekat.
Empat sosok lain di sudut ruangan saling menatap dengan ekspresi kecewa. “Kukira dia kuat..… ternyata hanya serangga.” Salah satu dari mereka menggerakkan bahunya, jijik campur kesal. Bayangan di wajahnya seperti menyeringai.
“Padahal dia kandidat yang bagus untuk The Silent…” gumam yang lain. Suaranya pelan, tapi ada nada menyayangkan, seolah potensi berharga baru saja dibuang ke tempat sampah.
“Ya, sayang sekali,” seseorang menimpali. “Kalau dia saja bisa jatuh di titik ini, mana mungkin dia menjadi salah satu dari kita.” Tatapannya tampak gelap, seakan Peter sudah tidak dianggap manusia lagi.
Siluet terakhir menghela napas panjang. “Ini pelajaran. Menjadi kuat itu penting, tapi punya bawahan itu wajib. Dia kalah karena bergerak sendirian.” Empat kepala lain mengangguk perlahan. Putusan sudah dijatuhkan. Peter tidak lagi bernilai.
Rio kembali ke sekolah. Tubuhnya penuh perban, bau obat dan antiseptik mengikutinya, dan setiap langkahnya terasa seperti mengetuk lantai dengan kisah yang tidak boleh dibicarakan. Riko mengantarnya sampai depan kelas. Reaksi para siswa tidak jauh berbeda dengan bisik-bisik kemarin.
“Apa dia habis berantem?” bisik seseorang.
“Tidak… mungkin kecelakaan. Hahaha…” balas yang lain, jelas tidak percaya. Mereka tetap melihat Rio seperti Rio yang lama, yang lemah, yang mudah diinjak.
Rio hanya melewati mereka tanpa menoleh. Dunia mereka bukan dunia yang baru saja ia masuki semalam.
“Kita ketemu lagi nanti di ruang klub,” kata Riko sambil melambaikan tangan. Senyumnya tipis, tapi tulus. Lalu ia pergi, meninggalkan Rio yang berdiri sendiri di pintu kelas.
Sesampainya di ruang klub,saat istirahat
Rio mendapati pemandangan yang sudah familiar. Kris duduk di kursi dengan ekspresi jengkel seperti yang di arahkan ke pada nya, Arya yang ngobrol santai dengan Riko, dan Liam tidur tanpa rasa bersalah seolah dunia ini cuma tidur siang
Begitu melihat Rio masuk, Kris langsung berdiri sedikit maju, wajahnya memerah oleh kesal yang sudah mengendap. “Kau masih hidup ya, bajingan!?” semburnya keras. “Dasar naif. Apa yang terjadi kalau kau kalah kemarin?”
“Tapi faktanya dia menang,” jawab Riko sambil mengangkat bahu, seakan itu hal paling normal. Arya menahan tawa kecil, sementara Liam… tetap tidur seperti batu.
Suasana ruang klub langsung berisik, energi anak-anak ini tumpah ruah tanpa filter.
Di tengah keramaian itu, terdengar ketukan di pintu. Riko yang paling dekat berjalan ke arahnya, dan saat pintu terbuka, sosok Eliza muncul.
Rio yang duduk di kursi langsung menatapnya dengan bingung. “Huh? Kau perempuan yang kemarin?” katanya, seperti masih memisahkan ingatan.
“Ada apa?”
tanya Rio dari tempat duduknya, suaranya datar tapi matanya menyorot penasaran.
Klub mendadak lebih sepi, bukan karena tegang, tapi karena mereka sedang menilai situasi yang tidak biasa ada perempuan.
Arya langsung mengangkat alis tinggi, mulutnya tersenyum sinis. “Sejak kapan kau punya kenalan perempuan?” tanyanya sambil menahan tawanya.
“Tidak lah.” Rio langsung menegaskan dengan cepat, seolah tuduhan barusan adalah dosa berat yang harus dibantah sebelum semesta salah paham.
Riko sedikit memiringkan kepala sambil tetap memegang pintu. “Jadi untuk apa kau datang ke sini?” tanyanya dengan senyum ramah yang seperti biasa membuat suasana terasa ringan.
Eliza mengangkat sebuah selebaran dari tasnya. “Apa ini masih berlaku?” Ia menunjukkan brosur perekrutan Klub Koran dari papan pengumuman.
“Tentu saja,” jawab Arya dengan ramah.
Ia mengambil selebaran itu dari tangan Eliza sambil tersenyum. “Kau bisa langsung bergabung. Aku bicara dengan pengurus klubnya.”
Tanpa menunggu reaksi, Arya keluar dari ruang klub dengan langkah cepat menuju kantor sekolah.
"Jika tentang anggota baru pasti dia bersemangat."
Riko menutup pintu perlahan, lalu semuanya kembali duduk seperti tidak terjadi apa-apa.
Begitu suasana kembali tenang, Eliza melirik Rio. Perhatiannya jatuh pada perban yang membungkus kedua tangan Rio dan beberapa titik lain yang masih terlihat jelas.
“Apa lukamu sudah membaik?” tanyanya dengan nada tulus.
Rio menegakkan punggungnya sedikit, lalu menunjuk perban tebal di tangan kanan dan kirinya dengan wajah yang menunjukkan kesabaran tipis.
“Hey, apa kau tidak bisa melihat perban di kedua tangan ku ini?” keluhnya, ekspresi aneh dan sedikit kesal seperti orang yang baru sadar dirinya terlihat seperti mumi praktikum.
Riko menahan tawa, Kris mendecak sambil membalik posisi duduknya, dan Eliza hanya tersenyum geli, seperti sedang menonton anak kecil marah.
Rio menyandarkan tubuhnya sedikit, matanya menyipit penasaran. “Kenapa kau bergabung ke klub Koran? Padahal ada klub lain yang lebih… ‘bagus’.”
Kris ikut mengangguk, wajahnya datar tapi nada suaranya menusuk. “Kau kan pintar. Seharusnya tidak bergabung dengan klub rendahan seperti ini.”
Eliza terlihat sempat kebingungan. Ia menatap meja yang mereka kelilingi. “Bagaimana ya mengatakannya… aku tidak pernah berteman dengan siapa pun. Jadi ranking satu malah bikin siswi lain memusuhiku.”
Riko maju sedikit, duduk lebih tegap. “Permusuhan?. seperti apa?” tanyanya dengan nada hati-hati, seakan takut jawaban itu berat.
“Aku tidak pernah punya teman,” ucap Eliza perlahan.
“Mereka selalu memanfaatkan aku. Kadang aku kena perundungan juga, walau tidak separah Rio.” Raut wajahnya meredup, dan seisi ruang klub ikut diam. Suasana sempat menjadi dingin.
Kris mengangkat dagu, nada bicaranya berubah lebih tegas dan tenang. “Mereka tidak bisa bersaing dengan kepintaran otak mereka. Orang rendahan memang suka begitu.” Ia menatap Eliza langsung. “Tapi di sini tidak akan ada yang seperti itu. Kami selalu saling menghargai.” Sekilas dia terlihat keren, setidaknya lima detik.
Liam yang tadinya tidur menggerakkan alis. “Kau banyak bicara Kriss, raja sedang tidur di sini.” Suaranya lesu seperti mesin pendingin rusak.
Kris langsung mendelik. “Lebih baik kau lanjutkan tidurmu,raja sialan.” Ucapannya berubah dingin secepat sakelar lampu. Rio, Riko, dan Eliza tak menahan tawa kecil mereka.
Tawa itu mengisi ruangan dengan kehangatan sederhana. Kris sempat melirik Riko dan tertangkap sedang tersenyum kecil. Eliza pun tampak lebih ceria dibanding beberapa menit lalu. Dalam hati Kris membisik pendek, “Klub Koran memang seharusnya selalu ceria.”
Arya selesai mendaftarkan Eliza dan kembali ke ruang klub, membuat Eliza resmi bergabung dengan klub Koran.
Begitu masuk, dia langsung melihat bagaimana suasana ruangan berubah menjadi akrab dan hangat, seolah semuanya sudah saling mengenal bertahun-tahun.
"Sepertinya kalian menjadi akrab Tanpa aku?." Kata Arya dia sedikit iri. Eliza menanggapi dengan tenang. "Terimakasih,aku akhirnya menemukan tempat di mana tidak ada yang merendahkan ku."
Ucapan itu justru membuat seluruh ruangan mendadak diam, semua pura-pura tidak mendengar meski jelas mereka menyimaknya.
Keheningan itu dipotong oleh Liam yang berbicara sambil setengah tidur. "Hah kenapa jadi diam." katanya dengan nada aneh khas orang yang baru terbangun.
Namun sebelum tawa muncul, Eliza menoleh langsung kepada Rio dan melempar pertanyaan tajam yang membuat seluruh suasana kembali fokus. "jadi kapan kau akan melakukannya?." Tanya Eliza Kepada Rio.
Rio yang sedang duduk santai langsung menegang, "Melakukan apa?." tanyanya kebingungan.
Eliza menatapnya tanpa ragu. "Balas dendam mu?,aku sudah mengetahui sedikit tentang masalah lalu mu,kau di rundung oleh Rivaldo sejak SD Kan?."
Ucapannya tenang tapi menghantam keras, membuat Rio tak punya alasan untuk berkelit.
"Oh Aku sudah memikirkan nya..,akan ku lakukan salam waktu dekat, Jadi, Kriss apakah kau bersiap untuk menulis berita?." jawab Rio dengan wajah yang mulai menunjukkan ketegasan.
Kris langsung menanggapinya penuh percaya diri, "Bicara apa kau ini?,itu adalah makanan sehari-hari ku?."
Percakapan itu memantik semangat seluruh klub. Liam bahkan mengangkat tangan sambil tetap menunduk. "Kapan itu di mulai?." katanya. "Aku akan ikut."
Riko pun menyusul dengan energi berbeda. "Aku juga akan ikut." Kata riko. "Walaupun aku tidak bisa membalas dendam, paling tidak aku bisa melihatnya lewat orang lain."
Setelah itu Arya ikut angkat suara, "Apa aku tidak di ajak?" tanyanya dengan senyum kecil.
"Kau juga akan ikut ketua?" Tanyanya Kris.
Arya membalas dengan percaya diri, "Hey aku memiliki garis keturunan Morningstar. jadi tenang saja ."
Tidak lama kemudian Eliza sendiri ikut berkata, "Aku juga ikut,"
membuat Riko dan Kris serempak merespons, "Seriusan?" Eliza hanya tersenyum lembut. "Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan Rio dan klub Koran ."
Setelah riuh itu mereda, mereka semua pulang sekolah dengan semangat yang masih menggantung di udara. Rio, Riko, dan Eliza berjalan bersama menyusuri lorong.
Untuk sesaat, semuanya terlihat tenang, sampai sebuah suara muncul dari depan mereka.
"Jadi kau sudah memiliki teman baru?." kata seorang perempuan, dengan tiga siswi lain berdiri di belakangnya.
Riko langsung menajamkan pandangan. "Siapa mereka." tanyanya perlahan, tubuhnya otomatis lebih tegang.
Eliza menundukkan sedikit wajahnya, ekspresinya kembali datar dan lemas seperti masa lalunya baru saja memegang bahunya.
"Itu mereka yang merundung ku." katanya pelan. Di lorong yang sepi itu, udara seperti menahan napas, menunggu bagaimana Rio dan Riko akan menjawab masa lalu yang kini berdiri tepat di depan mereka.