NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama

Arga menahan diri untuk tidak bergerak terlalu cepat.

Ia tahu betul bagaimana perubahan yang terlalu mendadak bisa memancing kecurigaan. Seorang anak sepuluh tahun yang tiba-tiba berbicara seperti konsultan bisnis jelas akan membuat orang tuanya heran, bahkan mungkin khawatir. Ia tidak ingin terlihat aneh. Ia tidak ingin ibunya berpikir bahwa putra sulungnya kerasukan sesuatu.

Maka ia memilih langkah kecil.

Pelan, hampir tidak terasa.

Pagi itu, ketika ibunya sibuk menyapu halaman, Arga mulai merapikan rak warung. Ia tidak memindahkan semuanya sekaligus. Hanya sedikit demi sedikit. Produk yang sering dibeli seperti mie instan, kopi sachet, dan gula ia letakkan di bagian tengah rak, sejajar dengan tinggi pandangan orang dewasa. Barang-barang yang jarang laku ia geser ke bagian atas atau bawah.

Ia membersihkan debu dengan kain lap tua. Mengganti plastik pembungkus yang kusut. Menyusun kemasan agar menghadap ke depan sehingga mereknya terlihat jelas. Warung itu masih sederhana, tetapi kini terlihat lebih rapi dan enak dipandang.

Ibunya memperhatikan sambil tersenyum.

“Kamu rajin sekali hari ini,” katanya.

Arga mengangkat bahu ringan. “Biar kelihatan bagus, Bu. Kalau rapi kan orang jadi senang beli.”

Ibunya tertawa kecil, mungkin menganggap itu sekadar ucapan polos seorang anak. Namun Arga tahu, kesan visual sangat memengaruhi keputusan pembelian, bahkan di warung kecil sekalipun.

Langkah berikutnya muncul saat ia melihat anak-anak sekolah dasar melintas setiap siang menjelang sore. Mereka sering berhenti di warung ujung gang untuk membeli jajanan murah atau es minuman dalam plastik.

Arga memperhatikan pola itu selama dua hari penuh. Pada hari ketiga, ia mendekati ibunya dengan hati-hati.

“Bu, kalau kita bikin paket jajanan lima ribu untuk anak sekolah, gimana?” tanyanya.

Ibunya mengernyit. “Paket jajanan?”

“Iya. Misalnya satu minuman sachet, satu permen, sama satu biskuit kecil. Dibungkus jadi satu. Lebih murah sedikit dari beli satu-satu.”

Ibunya terlihat berpikir.

Arga menambahkan dengan nada santai, “Biar anak-anak nggak perlu ke warung ujung gang.”

Usulan itu terdengar masuk akal dan tidak berlebihan. Setelah mempertimbangkan sebentar, ibunya mengangguk. “Boleh juga dicoba.”

Mereka mulai menyusun beberapa paket sederhana menggunakan plastik bening. Arga memastikan isinya menarik, warna-warni, dan terlihat menyenangkan. Ia bahkan menuliskan dengan spidol di kertas kecil, Paket Hemat Anak Sekolah, lalu menempelkannya di depan warung.

Tidak berhenti di situ, ia juga memperhatikan bahwa sore hari terasa panas. Banyak anak pulang sekolah dengan wajah lelah dan haus. Warung mereka belum menjual minuman dingin, hanya minuman sachet biasa.

“Bu, kalau kita beli es batu sedikit dan simpan minuman dalam termos, bisa tidak?” tanyanya lagi suatu siang.

Ibunya tampak ragu. “Nanti kalau tidak laku bagaimana?”

“Kita coba sedikit dulu saja.”

Akhirnya mereka membeli termos bekas yang masih layak dan beberapa minuman botol ukuran kecil. Tidak banyak, hanya cukup untuk percobaan.

Arga juga membuat papan promo sederhana dari kardus bekas. Ia memotongnya rapi, menuliskan dengan spidol besar, Minuman Dingin Tersedia, lalu menggantungnya di depan warung. Tulisan itu tidak sempurna, tetapi cukup mencolok.

Semua perubahan itu terlihat biasa saja. Tidak ada yang revolusioner. Tidak ada modal besar. Hanya penataan ulang, ide sederhana, dan sedikit kreativitas.

Namun dampaknya mulai terasa.

Hari pertama setelah penataan ulang, Arga memperhatikan peningkatan kecil. Lebih banyak orang yang berhenti. Seorang ibu yang biasanya langsung pergi ke warung ujung gang tampak membeli mie instan di sini karena raknya lebih mudah dijangkau. Dua anak sekolah membeli paket hemat dan tersenyum puas.

Ketika malam tiba dan ibunya menghitung uang, jumlahnya sedikit lebih banyak dari biasanya.

Di benaknya, layar sistem muncul pelan.

[Pendapatan Harian Naik 10 persen.]

Arga tersenyum dalam diam.

Hari kedua dan ketiga berjalan lebih baik. Paket hemat mulai dikenal anak-anak. Beberapa dari mereka bahkan menyebut warung itu sebagai tempat jajanan baru. Minuman dingin yang disimpan dalam termos habis lebih cepat dari perkiraan.

Pada hari ketiga, saat ibunya kembali menghitung uang, tangannya berhenti sejenak.

“Ini kok lebih banyak, ya?” gumamnya.

Ayahnya yang duduk di ruang tengah menoleh. “Serius?”

Ibunya mengangguk pelan, masih terlihat heran.

Arga menahan diri agar tidak terlihat terlalu senang.

[Pendapatan Harian Naik 25 persen.]

Notifikasi itu muncul dengan tenang, tetapi bagi Arga, itu seperti bunyi lonceng kecil yang menandakan langkah awalnya berhasil.

Ayahnya mulai terlihat sedikit lebih ringan wajahnya. Ia bahkan membantu memperbaiki papan kecil di depan warung agar terlihat lebih kokoh. Arga mulai melihat secercah harapan di mata ayahnya.

Tidak besar, tetapi cukup nyata.

Namun Arga tidak membiarkan dirinya terlena.

Ia tahu ini baru permulaan. Kenaikan dua puluh lima persen belum cukup untuk melunasi utang besar dalam dua bulan. Ia masih harus memperkuat arus kas, menekan pengeluaran, dan mungkin mencari sumber pendapatan tambahan.

Sore itu, ketika matahari mulai turun dan anak-anak sekolah berlarian pulang, Arga berdiri di depan warung sambil membantu ibunya melayani pembeli. Ia merasa puas melihat termos minuman hampir kosong dan paket hemat tinggal beberapa.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang mengganggu.

Ia menoleh ke arah seberang jalan.

Seorang pria berdiri di bawah pohon, sedikit jauh dari warung. Pakaiannya biasa saja, tetapi sikapnya tidak seperti warga sekitar. Ia tidak membeli apa pun. Tidak berbicara dengan siapa pun. Hanya berdiri dan mengamati.

Tatapannya tidak ramah.

Arga merasakan firasat yang tidak menyenangkan.

Pria itu akhirnya berjalan perlahan, tetapi sebelum berbalik, ia sempat menatap rumah mereka cukup lama.

Di dalam benaknya, layar sistem berkedip.

[Pihak Eksternal Terkait Krisis Terdeteksi.]

Arga tidak perlu penjelasan panjang.

Orang suruhan rentenir.

Ia pernah melihat pola seperti ini sebelumnya. Sebelum penagihan keras dilakukan, biasanya ada pengamatan. Memastikan kondisi target. Mengukur apakah keluarga itu terlihat mampu membayar atau justru semakin terpuruk.

Harapan memang mulai tumbuh di rumah kayu itu.

Warung mulai lebih hidup. Ibunya lebih sering tersenyum. Ayahnya tidak lagi terlalu lama termenung.

Namun ancaman belum pergi.

Justru kini mengintai lebih dekat.

Arga menatap punggung pria asing itu hingga menghilang di ujung jalan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.

Harapan telah menyala, kecil tetapi nyata.

Dan bayangan bahaya sudah berdiri di tepi cahaya itu, menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!