NovelToon NovelToon
Dokter, I Love U.

Dokter, I Love U.

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Dokter / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: cietyameyzha

Warning📢

Novel ini mungkin menyebabkan para pembacanya sakit perut
Semoga selera humor kita sama😁✌


Seseorang yang terlihat ceria justru dialah orang yang sanggup menyembunyikan kesakitannya.



Bercerita tentang seorang gadis biasa bernama Syasa yang setiap harinya selalu tersenyum dan ceria, hatinya sudah terpatri oleh seorang dokter muda ganteng, salah satu langganan di tempat makan ibunya.


Ferdy, dokter muda yang di kenal baik dan ramah, namun memiliki kisah masalalu yang tak di ketahui banyak orang.



Bagaiamana perjuangan gadis ini untuk bisa bersama dengan sang dokter?


Akahnkah Syasa bisa menerima masalalu dokter tampan ini?


Simak terus ya Say😉


Selalu beri dukungan untuk Author dengan
Like
Coment
Vote
Rate 5


Haturnuhun😁✌

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 31

Suasana seketika berubah hening. Syasa terdiam dengan mata terus menatap Ferdy. Perkataan terakhir lelaki ini bagai sebuah kejutan pahit.

Kalau benar begitu, mungkinkah wanita itu ingin kembali pada Ferdy? atau tepatnya mereka akan memulai lagi apa yang pernah terhenti dulu. Syasa berusaha berpikir positif. Namun, tetap saja otaknya tidak mau bekerja sama.

"Apa kamu mendengarkan saya?" tanya Ferdy.

Syasa mengangguk seperti orang terhipnotis. Jiwanya memang luluh saat mata indah dan suara manis itu menyapanya.

"Jadi, kemarin itu dia datang pada saya, untuk meminta saya kembali padanya. Tentu, saya menolak karena hati saya sudah tertutup untuknya," lanjut Ferdy.

Syasa masih saja terdiam. hatinya ingin banyak bertanya, akan tetapi entah mengapa lidahnya seketika membeku.

"Sya." Melambaikan tangan ke muka Syasa.

"Ah, iya," sahut Syasa.

"Apa kamu tidak mendengarkan penjelasan saya sejak tadi?" tanya Ferdy.

"Itu ... Syasa dengerin 'kok, Pak Dokter." Tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang putih.

"Saya harap kamu tidak salah paham lagi. Saya tidak mungkin bisa berpaling dari kamu, karena jerat cintamu sudah mempenjarakan saya," tutur Ferdy.

"Serem amet, Pak Dokter sampe dipenjara segala! cakap Ferdy.

"Itu belum seberapa, Sya! Habis nikah nanti, saya mungkin akan membawa kamu kemana pun saya berada. Termasuk ke toilet juga." Tersenyum kecil pada Syasa..

"Idih, Syasa kagak mau! Udah kayak yang engga kerjaan aja!" protes Syasa.

"Bukannya itu juga sama kerjaan, Sya," bantah Ferdy.

"Kerjaan apaan! Masa Syasa mesti ngintilin Pak Dokter sampe ke toilet juga. Ya, malu atuh!" jawab Syasa.

Ferdy tertawa puas. Kali ini dia berhasil membuat gadis di hadapannya kesal, dan memperlihatkan ekspresi wajahnya yang menurut Ferdy sangat imut.

Sementara itu Fei yang sudah bosan menunggu segera menghampiri mereka, lalu berkata, "Sya, udah belum? cepetan Abang laper nih! Entar engga kebagian semur jengkol buat Emak lagi, keburu dihabisin si Raka."

"Iya, Bang bentar napa! Ini juga udah selesai 'kok!" sahut Syasa kesal.

"Pak Dokter, Syasa pulang dulu, ya. Manusia satu ini kalau dibiarin bisa gempar sejagat raya karena ocehannya," pamit Syasa.

"Yeh, Lu pikir gue gempa bisa bikin gempar dunia! Udah, ayo buruan!" teriak Fei yang sudah berada di dalam mobil bak terbuka.

"Iye, Abang Fei ku yang gantengnya kagak ada tandingan di dunia hantu. Ini Syasa mau jalan!" sungut Syasa.

"Ya, sudah hati-hati di jalan. Satu pesan saya untukmu, Sya," lontar Ferdy.

"Pesen apa, Pak Dokter? Apa jangan-jangan Pak Dokter mau juga semur rendang buatan Emak yang endolita," tebak Syasa.

"Saya engga suka baunya. Saya cuman nitip hatimu jangan sampai pergi ke lain hati." Mengacak rambut Syasa perlahan.

Syasa hanya tersenyum malu, lalu bergegas menghampiri Fei yang wajahnya sudah kusut seperti setrikaan yang tidak terjamah.

"Sya, Lu kenal dia?" tanya Fei begitu Syasa masuk ke dalam mobil.

"Emang Abang kagak kenal?" tanya Syasa balik.

Fei menyalakan mesin sambil menggelengkan kepala. Mobil yang lumayan masih bagus itu berjalan membawa Fei dan Syasa keluar parkiran, meninggalkan Ferdy yang masih memandangi kepergian mereka.

"Cowok itu sedikit berbahaya. Dia punya perasaan lebih dari sekedar Kaka sama Syasa," batin Ferdy.

Ferdy hendak melangkah menuju mobil. Namun, ponsel miliknya berdering pertanda ada panggilan masuk.

Ferdy merogoh tasnya, lalu mengambil benda segi panjang yang sangat canggih itu. Tertera nama Mama di layar ponsel. Ferdy segera menyentuh tombol icon ponsel berwarna hijau sambil berkata, " Assalamualaiku., Ma."

Suara tangisan seketika terdengar jelas di telinga Ferdy. Tangis bocah wanita yang Ferdy tahu siapa pemiliknya.

"Waalaikumsalam, Fer. Maaf , Mama mengganggu pekerjaanmu." Suara lembut nan merdu terngiang di telinga Ferdy.

"Engga 'kok, Ma. Itu Bila kenapa, Ma? apa Bila lagi sakit?" tanya Ferdy khawatir.

"Engga, Nak cuman Bila dari kemarin nangis minta ketemu sama Syasa terus!" keluh Bu Indri.

"Bila pengen ketemu tante Syasa. Hiks ... hiks ... hiks ...," ucap Bila lirih.

"Bila ngomong langsung sama Papa aja, ya," bujuk Bu Indri.

Terdengar suara gemuruh seperti suatu benda yang tengah berpindah tempat, lalu terdengar suara anak kecil berkata sambil menangis.

"Papa, Bila pengen ketemu tante Syasa." rengek Nabila.

"Iya, Nak. Nanti Tante Syasa sama Papa datang ke sana, tapi kamu harus berhenti nangis dulu, ya," bujuk Ferdy.

Seketika suara tangisan itu berhenti. Nabila memang anak yang penurut. Didikan Bu Indri yang lembut membuat Nabila tumbuh baik.

"Nah, kalau gitu 'kan baru anak Papa yang cantik," puji Ferdy.

Nabila terdengar tertawa senang. Rasa penat yang menyelimuti diri Ferdy seketika hilang. Kebahagiaan Nabila adalah obat manjur untuk semua kesakitan Ferdy. Mungkin benar Nabila sudah menjadi bagian terpenting dari puzzle kehidupannya.

Maka dari itu, Ferdy tidak akan membiarkan Mila mengambil sumber kebahagiaannya. Dengan sepenuh jiwa Ferdy akan mempertahankan apa yang sudah ia miliki.

"Papa janji 'kan?" tanya Nabila menarik Ferdy dari lamunan.

"Tentu, Sayang. Papa mana mungkin bohong. Bukankah bohong itu tidak baik?" tanya Ferdy balik.

"Iya, kata Oma. Anak yang suka bohong itu, anak nakal namanya. Papa 'kan baik!" puji Nabila.

Ferdy terdiam mendengar ucapan polos anaknya. Andai Nabila tahu bagaimana dulu Ferdy sempat akan memberikannya pada panti asuhan, hanya karena Ferdy tidak sanggup membayangkan kemarahan sang ayah.

Untung saja, akal sehatnya masih bisa berpikir. Sehingga ia memilih membawa Nabila bayi dengan menanggung segala risiko.

"Nak, Papa lagi di jalan. Nanti pas sampai rumah, Papa telepon lagi, ya," lontar Ferdy lembut.

"Siap, Papa ganteng," sahut Nabila.

Ferdy tersenyum kecil mendengar pujian yang diberikan anaknya. Ferdy berkata, "Kalau begitu, Papa tutup dulu, ya. Assalamualaikum."

Setelah terdengar Nabila menjawab salamnyam. Ferdy segerq menutup panggilam, kemudian menyimpan kembali ponsel ke dalam tas.

Ferdy menghela napas. Kini ia harus memikirkan cara agar bisa memenuhi janjinya pada Nabila. Entah bagaimana dia bisa membawa Syasa ke rumah orang tuanya. Terlebih alasan apa yang akan ia berikan pada Bu Mirna untuk itu.

"Nanti ajalah mikirnya. Gue lelah, pengen ketemu kasur dulu," gumamnya pelan.

Ferdy bergegas menuju mobil. Hari ini hatinya sedikit lega, karena sudah berhasil meluruskan kesalahpahamannya dengan Syasa.

Ferdy menjalan mobil dengan perlahan. Jalanan sedikit licin sehabis hujan mengguyur bumi tadi siang. Genangan air terlihat di mana-mana. Membuat pengendara harus ekstra hati-hati.

Saat itu menjelang magrib. Langit sudah berubah menjadi sedikit orange, pertanda waktu malam akan segera datang menyapa. Ferdy masih setia mengemudi diantara keramaianan jalanan.

Tiba-tiba sebuah mobil truck terlihat oleng dari arah berlawanan. Ferdy panik, dan seketika membanting stir ke arah pinggir jalan. Mobilnya membentur pagar pembatas jalan, membuat keningnya menyentuh keras kemudi mobil.

Penglihatan Ferdy menurun akibat benturan keras tadi. Ia mulai kehilangan kesadaran, lalu pingsan bersamaan dengan teriakan pengendara lain yang menyaksikan kecelakaam itu.

...****************...

BERSAMBUNG~~~

1
s e n j a✨
ga sesuai ama khayalanku visual syasa.. kirain yg kek gadis lugu polos gitu mukanya.. ini lbh cocok jd Bu mirna/Facepalm/
𝑆𝐸𝑁𝐺ᵟᴷᵁᴺᴵ
masuk rak.
Susi Andriani
Kecewa
@@Ayyaa@@
olahraga pipi ya.. Syasa
😆😆

saya mampir.. othor
Dharni Dharmawan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aisya_
ciieee bakal ada yg CLBK nih... wkwkwk
aisya_
masih bingung sbnrnya kang gendong bnr tulus cinta gak sih sama syasa
Dewi Sartika Manalu
good
Endah Fitriyani Pipit
kayanyababang fei dech
Herta Siahaan
syasa hamidun pasti bang gendang geger dibuat
Herta Siahaan
duh Thor jgn biarkan manusia gila seperti Mila merusak Ferdy sekeluarga dan sasaya
Herta Siahaan
asli matai kutu babang dokter ama hon hon
Eka Widya
tambah satu lagi saingan kang kendang
Juarsih Putri
aku mampir Thor,,akang gendang ah baru pertama baca Udeh bikin sakit perut🤣🤣🤣🤣🤣
Yani Cuhayanih
Kalo dok Ferdy jujur sama syasa apakah rasa cintanya akan berkurang pada kang gendang nya.ko aku jd ragu ya....
Yani Cuhayanih
Gadpol sya jgn bikin kendor ngejar dok Ferdy ....wkwkwk.....
Yani Cuhayanih
Aku pusing sama goyanganya syasa semoga bukan iklan pasta gigi kalo mo pamer senyum bukan pamer thor itu masalah BB.....maaf baru hadiiir jd masih mencerna ceritanya bukan masalah lambung .....
Intan Sistanti
baru jga bab 1 udah bikin gemes, hehhehe
abdan syakura
oohh kak Ciety dr Sunda yaaa
abdan syakura
aiiishhhh
akang Ferdy...
love love dah ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!