NovelToon NovelToon
Mas Galak Saranghae

Mas Galak Saranghae

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Cintamanis / Fantasi / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?

Buktinya nih si Nisa!

Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

...🥀🥀🥀🥀...

Nisa melirik ibu, dan ayahnya dengan nada terkekeh, “Ibu sama ayah kaya gak pernah muda aja nih! Kalian juga pernah muda kan!”

“Pasti tau gimana hati ku jika berada dekat dengan mu, sayang!” beo Nisa dengan nada manja, netranya dalam menatap Aziz.

Pletak.

Siapa yang akan menyangka, Sabah menjitak puncak kepala Nisa, putri tunggalnya.

“Aduh sakit!” pekik Nisa, mengelus kepalanya.

Aziz menggeleng gak percaya, ia bahkan mundur selangkah dari hadapan Nisa dan Sabah. Sementara Naraya menatap penuh tanya Aziz, menunggu apa yang akan pria muda itu katakan.

‘Astaga, keluarga macam apa yang aku datangi ini!’ pikir Aziz.

“Bacot bae lu, ora malu lu di lietin Aziz! Ilfil kapan yang ada lanang ketemu perempuan macam lu, Nisa!” cerocos Sabah, sesekali mencu bit lengan Nisa.

Nisa mengerucutkan bibirnya kesal, “Aihhh, yah! Udah apa jangan di cubi tin mulu tangan Nisa! Udah masuk kekerasan orang tua ke anak loh ini, yah!”

Sabah menggeleng gak percaya, “Apa bae lu kata, Nis Nis! Cuma tibang gua cu bit anak gua dewek, masuk kekerasan. Orang yang ngilangin nyawa orang laen bae, masih bisa lolos ono dari hukuman. Kapan yang ngomong sekarang mah duit ama kekuasaan Nisa!”

“Ihs jangan di samain apa yah! Itu mah udah masuk hukuman berat. Kapan ayah mah ringan. Kan tibang nyu bit doang, anak dibawah umur, dilindungi tau yah ama negara!” kilah Nisa gak mau kalah.

“Lu mah bukan anak di bawah umur lagi, Nisa! Lu mah udah masuk usia dewasa!” kilah Sabah.

Naraya menghembuskan nafasnya kasar, ‘Apa nak Aziz bisa nyaman dekat dengan Nisa? Apa benar mereka punya hubungan? Kenapa dari tadi nak Aziz hanya diam? Anak muda satu ini jelas gak membela Nisa, apa lagi membenarkan sikap ayah!’

Aziz mengepalkan tangannya kesal, namun wajahnya tampak datar, dihadapkan dengan persoalan Nisa dan ayahnya.

‘Membosankan!’ batin Aziz.

“Maaf ya nak Aziz! Harap maklum, emang begitu kalo Nisa udah ketemu sama ayahnya. Apa aja di ributin! Jangan ilfil juga sama kelakuan Nisa ya, nak!

Kami ini jarang ngumpul, ibu dan ayah sering meninggalkan Nisa di rumah untuk perjalan bisnis. Makanya waktu Nisa dapat tawaran dari Tuan Alex, ibu dan ayah gak keberatan.” beo Naraya, dengan tatapan gak enak hati pada Aziz.

Nisa menghampiri sang ibu, ia mengguncang lengan Naraya, bak anak kecil yang tengah merajut.

“Lah ibu mah kenapa harus ngomong begitu si! Aziz bukan ilfil ketemu perempuan model Nisa, bu! Makin cinta malah! Secara mana ada sih, perempuan jaman sekarang yang ceplas ceplos kalo ngomong!

Perempuan yang jadi dirinya sendiri gitu, ora pake di buat buat, sok imut lah di depan pria yang dia suka! Bukan Nisa bangat itu mah!”

Tuing.

Naraya menyentil kening Nisa.

“Jaga sikap kamu sayang! Umur sudah kepala 2 masih saja bersikap layaknya anak sekolah dasar baru lulus.” cerocos Naraya.

Aziz menggaruk kepalanya yang gak gatal, berseru dengan datar, “Jadi kalian ingin saya lanjutkan masak, atau kita terus membahas putri tunggal kalian yang sikapnya kelewat dari umur?”

Sabah melangkah menuju rak piring berada, dengan netranya fokus pada Aziz, “Kita masak buat makan siang bareng bareng aja! Saya gak bakal tenang meninggalkan putri ku berdua dengan mu!”

Aziz menganga gak percaya, “Apa? Memang apa yang bisa saya lakukan dengan putri anda? Ini rumah kalian! Wilayah kalian, bukan wilayah ku!”

“Kelak ini akan jadi rumah mu, Aziz! Kaku sekali bahasa mu dengan orang tua kekasih mu sendiri! Jangan kaku kaku amat lah jadi pria!” sarkas Sabah, kembali dengan beberapa wadah berupa baskom, pisau, dan talenan kayu.

“Maksud ayah bukan begitu, nak Aziz! Ayah itu takut membuat kamu kecewa dengan sikap putri kami ini! Ini kali pertama Nisa membawa teman pria pulang, langsung dikenalkan sebagai kekasih pula. Hati orang tua mana yang gak senang?” beo Naraya, menatap bangga Nisa.

‘Aku harus meyakinkan nak Aziz, kalo dia gak salah pilih putri ku sebagai wanitanya!’ pikir Naraya, mengelus punggung putri tunggalnya.

Aziz menatap Nisa, ‘Bagaimana bisa, gadis pembuat masalah, perusuh, ceroboh terlahir dari orang tua yang begitu sayang dan peduli dengan putrinya? Jauh sekali dari sifat kedua orang tuanya!’ pikir Aziz.

Aziz menaikkan satu alisnya, menatap Nisa penuh selidik, ‘Tapi aku percaya sih, gak mungkin ada pria yang mau berhubungan dengan wanita ceroboh seperti Nisa ini! Beda sekali dengan Nyonya Wati.’

Nisa mengerdikkan dagunya pada Aziz, “Jangan menatap ku seperti itu, kalo udah cinta baru tau rasa kamu!”

“Jangan ngomong saja, ambil bahan makanan yang ingin kita masak!” titah Naraya pada Nisa, sembari mendorong bahu sang anak.

Nisa mengerucutkan bibirnya kesal, “Ini juga mau di ambil!”

“Kamu mau aku ambilkan apa, sayang? Sebagai bahan untuk makan siang kita!” tawar Nisa pada Aziz.

“Bahan apa saja yang kamu berikan, aku akan memasaknya.” jelas Aziz dingin.

Nisa menatap penuh haru Aziz, “Akkkhhh sweet bangat sih jawabannya. Kalo aku kasih racun, kamu masih mau masak juga?”

Naraya dan Sabah sama sama menatap Aziz penuh tanya.

‘Astaga apa aku dulu sekonyol Nisa waktu mendekati Naraya? Apa yang ada dalam pikiran mertua ku saat itu?’ pikir Sabah, menelan salivanya sulit.

‘Anak ku satu ini, kalo bicara persis kamu yah! Sifat mu gak terbuang sama sekali dari putri kita! Buah cinta kita, benih yang dulu kamu tebar di rahim ku!’ pikir Naraya dengan pipi bersemu.

“Jangan gila! Sekali pun kamu memaksa ku untuk memberikan racun pada hidangan yang aku masak, aku pasti akan menolaknya!” tegas Aziz tanpa pikir 2 kali.

‘Pria yang langka.’ Naraya menatap kagum Aziz.

Sabah mengacungkan jempolnya pada Aziz, “Itu baru jentel! Om suka dengan jawaban mu! Om harap kamu bisa sabar menghadapi putri om!”

“Maaf om, tante. Alangkah baiknya jangan terlalu berharap pada hubungan yang masih semu. Kami baru dekat, belum saling memahami satu sama lain.” jelas Aziz tanpa saringan.

Brugh.

Nisa meletakkan seekor ayam utuh di atas meja yang ada di hadapan Aziz, Naraya dan Sabah dengan kasar.

“Seiring berjalannya waktu, rasa memahami satu sama lain itu pasti akan tumbuh. Kecuali kamu mati rasa, gak tertarik pada ku! Tapi sejauh yang aku lihat, kamu jelas tertarik pada ku, Aziz sayang!” ujar Nisa dengan kerlingan matanya pada Aziz.

Deg.

‘Sialaan! Dasar Nisa dajal betina! Bisa bisanya dia memfitnah ku di depan orang tua.’ umpat Aziz dalam hati.

Sabar melirik Aziz dengan ekor matanya, “Kalo tertarik, bilang saja! Tidak perlu banyak alasan untuk menyangkal!”

Aziz terkekeh, dengan wajah kakunya, “Kapan aku mengatakan tertarik pada mu?”

Nisa mengerdikkan dagunya, “Itu barusan! Kamu sendiri yang mengatakannya.”

Aziz menelan salivanya sulit, ‘Sialan, dasar gadis licik! Kamu menjebak ku!’

Tawa Nisa dan Naraya pecah. Di ikuti dengan Sabar yang kian membuat Aziz semakin terpojok.

Aziz menyambar ayam yang sebelumnya di letakkan Nisa di atas meja, dan sebuah baskom. Ia membawanya menuju wastafel.

“Terserah kalian lah! Percuma saya memaksa kalian untuk percaya pada orang asing seperti saya!” ujar Aziz menutupi rasa malunya.

Nisa terkekeh, meledek Aziz yang tengah memunggungi ketiganya.

“Malu tuh!”

Bersambung …

1
lina
Kasih tau gak y
partini
wah banyak Banggt yg pdkt
lina: Biar aziz ke bakar 😄
total 1 replies
lina
Marahnya awet amat
lina
Yaah beeet
partini
ngilu Banggt tuh terong 🍆🤣🤣
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣
lina: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
lina
polih mna y
lina
goroh
lina
tul itu
lina
udh penggel bae itu palanya pak
lina
kga syg nyawa 🤣🤣
lina
ulahnya s hans
lina
ora mati sekalian.
lina: aman itu🤭
total 2 replies
lina
sukirin
lina
minta d beri
lina
semprul
lina
nangis lah. u hila
lina
d dengar g y
lina
cuma tanya. d samain ngulur waktu. aitu ngelawak?
lina
harus pede ngadepin ajis
lina
kutu kupret klo nyeletuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!