Arshaka Beyazid Aksara, pemuda taat agama yang harus merelakan hatinya melepas Ning Nadheera Adzillatul Ilma, cinta pertamanya, calon istrinya, putri pimpinan pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Mengikhlaskan hati untuk menerima takdir yang digariskan olehNya. Berkali-kali merestock kesabaran yang luar biasa untuk mendidik Sandra, istri nakalnya tersebut yang kerap kali meminta cerai.
Prinsipnya yang berdiri tegak bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, sekeras Sandra meminta cerai, sekeras dia mempertahankan pernikahannya.
Namun bagaimana jika Sandra sengaja menyeleweng dengan lelaki lain hanya untuk bercerai dengan Arshaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Flou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lanjutkan Sandiwaramu, Sandra
[Akbar : Assalamu'alaikum, Bro, apa kabar? Aku bawakan kabar kamu mau tahu tidak? Ning Nadheera menolak pinangan Gus Lutfi. Kabarnya geger seantero pondok. Katanya Gus Ahmad juga mendesak kamu buat segera melamarnya. Kata aku, kamu cepat bawa orang tuamu buat mengkhitbah Ning Nadheera. Jangan kelamaan lah. Kasihan lho beliau nungguin kamu.]
Sudut bibir Alkhaiz melengkung, membentuk senyuman tipis. Dia sudah mendengar kabar tersebut sejak semalam. Hal itulah yang membuat dirinya tenggelam pada buku bacaan, menghabiskan malam dengan salat, dan berzikir untuk menenangkan hatinya setelah Gus Ahmad menghubunginya secara pribadi.
[Waalaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh. Doakan yang baik-baik saja buat saya sama beliau ya?]
Alkhaiz berdiri, meminum vitamin serta obat yang diberikan dokter. Mengantongi inhaler lalu mengambil kunci mobil. Ia akan berangkat ke kampus hari ini, meski sempat dilarang oleh Deeba.
[Wife : Aku balik ke apartemen kamu. Password pintunya apa? Aku nggak bisa masuk. Mau istirahat, badan aku sakit semua. Aku diusir Mama dari empat hari lalu.]
Sandra sudah merasa kesal bukan kepalang menunggu pesan balasan dari Arshaka. Sejak tadi pagi hingga siang ia duduk di taman yang terletak di belakang apartemen sembari terus memperhatikan ponselnya yang sudah menunjukkan sisa daya kritis.
“Ck! Di-WhatsApp nggak dibales, telpon nggak diangkat. Kemana sih nih orang? Nyebelin banget!” Sandra menggerutu sembari mengipasi wajahnya dengan tangan. Matahari siang ini terasa sangat menyengat, membakar kulitnya yang mulai lengket karena keringat.
“Mana panas, batre lowbet, nggak ada duit cash. Gembel banget gue kalau begini caranya,” gumamnya meratapi nasib.
Sandra mencoba berdiri, berniat mencari tempat yang lebih teduh. Namun, saat ia hendak melangkah, ujung tali sepatunya yang terlepas justru tersangkut di kaki bangku taman. Tubuhnya terhuyung, dan secara tidak sengaja ponsel di tangannya terlempar ke arah semak-semak.
“Aduh! Sial banget sih!” Sandra merangkak mendekati semak-semak itu. Namun, saat tangannya hendak meraih ponsel, sebuah geraman rendah terdengar dari balik rimbunnya daun.
Seekor anjing liar bertubuh besar dengan bulu kusut tiba-tiba muncul dari balik semak, merasa terganggu karena ponsel Sandra mendarat tepat di dekat tempat tidurnya. Anjing itu menggonggong keras, menunjukkan taringnya yang tajam.
“Eh, eh ... baik, Guguk ... manis ... gue cuma mau ambil HP,” ucap Sandra dengan suara bergetar. Bukannya tenang, anjing itu justru melompat keluar dan menggonggong lebih galak.
“HAA! ANJING KURANG AJAR! PERGI LO!”
Panik luar biasa, Sandra spontan berbalik dan berlari sekencang mungkin tanpa sempat mengambil ponselnya. Ia berlari zigzag melewati pepohonan taman, namun anjing itu terus mengejarnya dengan semangat. Sandra terus berteriak meminta tolong, namun area belakang apartemen itu sedang sepi pengunjung.
Apes. Benar-benar apes. Sandra merasa seolah semesta sedang menghukumnya hari ini. Dengan napas yang hampir habis dan satu sepatu yang sudah lepas entah di mana, ia berhasil mencapai area pintu samping apartemen dan langsung masuk, menekan tombol lift dengan brutal sebelum anjing itu sempat meraih ujung celananya.
Sementara itu di sisi lain Arshaka yang tengah santai bersama teman-temannya di kafe yang terletak di sekitar kampus, terkejut bukan main saat ia mengaktifkan ponsel dan membaca pesan yang Sandra kirimkan tadi pagi. Panggilan seluler, panggilan whatsapp bahkan sampai panggilan video pun ada, dan semua itu dari Sandra.
“Maaf, saya tidak bisa lama-lama. Ada sesuatu yang penting. Maaf sekali,” ucapnya dengan terburu-buru sembari mengeluarkan beberapa lembar uang lalu ia letakkan di atas meja. “Pakai saja jika ada lebih. Saya permisi.”
Teman-teman Arshaka tidak bisa mencegah atau paling tidak menanyakan sesuatu sebab pergerakan Arshaka yang sangat cepat menjauh dari meja dan keluar dari kafe.
Sembari menyetir mobil, Arshaka terus berusaha menghubungi Sandra melalui panggilan. Perasaannya benar-benar khawatir saat Sandra tak kunjung menjawabnya. Malah ponsel gadis itu mati tak lagi bisa dia hubungi.
“Kenapa tidak kasih kabar dari semalam sih. Anak itu benar-benar cari mati sendiri!” Ia menggerutu pelan sembari menambahkan kecepatan mobil yang ia pakai.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Arshaka sampai di apartemen. Ia bergegas menuju unit sewaannya di lantai sepuluh begitu keluar dari mobil.
Desahan berat lolos dari bibir Arshaka ketika tidak mendapati Sandra di sekitar unitnya atau pun di lantai yang terdapat kolam renang. Walau hatinya masih sangat sakit sebab penghinaan yang dia dapat, tetapi Arshaka tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas Sandra.
Pintu lift terbuka di lantai dasar, saat Arshaka melangkah keluar dari sana, seseorang masuk dengan tergesa-gesa. Arshaka spontan meraih pinggang orang tersebut tatkala dada mereka saling bertumbukan. Istrinya, Sandra.
“He, astaga!” Sandra memekik terkejut, dia belum sadar siapa yang memeluknya.
“Ini saya. Kamu kenapa? Maaf saya baru mengaktifkan ponsel,” tanya Arshaka sembari tanpa pikir panjang ia menekan angka 10 lagi.
Sandra mendelikkan mata saat menyadari siapa lelaki yang memeluknya. Kontan ia mendorong dada Arshaka hingga Arshaka sedikit membentur dinding. Napasnya nampak tersengal-sengal setelah berhasil melarikan diri dari binatang sialan itu. Beberapa menit setelahnya baru lah ia menjawab.
“Tanya kenapa, aku dari pagi nunggu di depan unit kayak orang gila. Masih tanya kenapa!”
“Saya suami kamu! Perhatikan cara bicara kamu, Sandra!” tegur Arshaka dengan keras.
Sandra terdiam melihat sorot dingin Arshaka. Dia menunduk, “Maaf kelepasan.”
Dahi Arshaka naik ke atas mendengar suara lembut Sandra yang jelas tidak seperti biasanya. “Kesurupan apa kamu?” Dengan bersedekap dada sembari bersandar, Arshaka melemparkan pertanyaan. Menilik lekat Sandra yang tampak sangat lelah pun ngantuk.
“Masih salah juga?”
“Mau apa?” tanyanya. Ia seakan hapal dengan kebiasaan wanita yang jika tiba-tiba baik pasti menginginkan sesuatu.
“Mau minta maaf. Mau makan. Mau tidur.”
“Ck! Kamu diusir Mama sejak empat hari lalu? Kenapa tidak menghubungi saya?” Saat ini keduanya sudah berada di dalam apartemen Arshaka yang sudah kembali rapi seperti semula.
“Di rumah Om,” jawab Sandra mendaratkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telengkup.
“Om yang mana?”
“Om Bagas.”
“Orang tua Regan?”
Sandra membalikkan tubuh. Lalu menatap Arshaka yang berdiri menjulang di tepi ranjang dengan kedua tangan bersembunyi di sak celana. “Bukan. Om dari papa. Ketemu dia di jalan jam 1, waktu itu. Nggak tau mau kemana lagi ya udah ikut aja. Cari penginapan nggak dapet.”
“Oh.” Arshaka acuh lalu melangkah ingin menjauh dari sana. “Lanjutkan sandiwara kamu.”
“Sandiwara apa? Aku bilang jujur!”
Terkekeh rendah, Arshaka menghentikan langkah. Tanpa membalikkan badan, ia menjawab. “Jujur atau bohong saya tidak peduli. Dosa kamu yang menanggung walau tanggung jawabmu ada pada saya. Saya sudah mengingatkan, berusaha mendidik kamu, tempat tinggal saya sediakan, nafkah saya berikan walau berakhir saya kamu hinakan. Yang perlu saya lakukan saat ini adalah menunggu petunjuk dari Tuhan atas istikharah saya perihal pernikahan ini, bertahan ataukah saya sudahi, sembari memenuhi semua hak kamu atas saya.”
Ini novel pertama saya, semoga kalian suka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, Sayangku🥰