kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Benci jadi Cinta
Hari-hari dilalui Tiwi dengan segala macam rayuan dan gombalan dari Bayu yang semakin menjadi-jadi. Semakin Tiwi menghindar, semakin ugal-ugalan Bayu mengejar. Hingga satu sekolahan sekarang tau jika Tiwi adalah kekasih Bayu. Termasuk Umi yang semakin tidak mau menyapanya. Sebenarnya Tiwi sudah capek mengklarifikasi tentang status nya ini, tapi mana ada yang percaya jika dimana ada Tiwi disitu ada Bayu. Hingga mereka dijuluki couple goal SMAN ini.
Bukannya bangga, Tiwi sangat membencinya, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa pindah bangku lain karena sudah penuh semua. Dan teman-temannya tidak ada yang mau diajak ganti pasangan duduk. Katanya Tiwi memang diciptakan untuk menjadi pasangan Bayu.
Padahal sikap Tiwi cukup ketus dan jutek, tapi malah dibalas dengan kelembutan oleh Bayu, membuat Tiwi menjadi sungkan akhirnya.
“ Makan ke kantin ayok,” ajak Bayu pada Tiwi yang sedang menelungkupkan wajahnya di meja itu. Gadis itu seperti menahan sakit.
“Kamu kenapa? Kok wajahmu pucat sekali?” Tanya Bayu kuatir.
Tampak butiran keringat dingin di dahi dan pelipis Tiwi.
“A-aku sedang dapet, hari kedua, sakit sekali perutku…” ujar Tiwi lirih.
Bayu segera keluar kelas dan beberapa saat kemudian dia datang dengan membawa segelas teh hangat dan juga kue.
“Ini minumlah dulu, lalu makan kuenya, dan ini..femin*x, obat pereda nyeri haid, kamu minum !” Titah Bayu pada Tiwi.
Dengan tangan bergetar Tiwi menerima semua pemberian Bayu itu. Meminum teh hangatnya, memakan kue nagasari dan meminum obat pereda nyeri.
“Kamu dapat dari mana obat itu?” Tanya Tiwi heran.
“Aku minta petugas jaga di UKS, ku bilang saja jika kekasihku sedang nyeri haid, dan dikasih itu. Biasanya aku beli Kunyit asam untuk kakak perempuan ku di rumah. Tapi disini nggak ada, nanti kalau pulang saja ya kita beli di toko seberang jalan sana,” ucapnya lembut sembari mengusap buliran keringat dingin di dahi dan pelipis Tiwi dengan tissu.
“Makasih…”ucap Tiwi pelan.
“Suiitt suiittt…yang lagi pacaran di kelas yooo…” goda Candra sang wakil ketua kelas yang terkenal sama usilnya kaya Bayu ini.
“Ganggu aja kamu tuh, huusshh..huusshh .. pergi sana!” Bayu malah mengusir Candra dengan gaya lucunya.
Lalu berdatangan teman sekelasnya yang dengan sengaja menggoda Tiwi dan Bayu, tetapi dengan gaya santainya Bayu melindungi Tiwi agar tidak down dengan pro kontra yang menanggapi hubungan keduanya ini.
Sepulang sekolah Bayu mengantar gadisnya itu pulang ke asrama. Dia sempat membelikan Kunyit Asam seperti yang telah dijanjikannya tadi.
—-----------
Tiwi merenungi semua perlakuan Bayu padanya. Dia butuh seseorang untuk diajaknya bicara. Dan satu-satunya orang yang sangat dia percayai adalah sang Nenek, Bu Mirah. Maka Tiwi pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dengan meminta ijin sakit, hari itu Tiwi pulang ke rumahnya naik bus. Sang Nenek tentu saja sangat bahagia karena cucu kesayangannya pulang. Beda dengan ibunya, yang segera mencecarnya dengan banyak pertanyaan, apakah dia bolos atau apa. Padahal sudah diberitahu bahwa dirinya sedang sakit.
“Hm, sakit apa kamu? Jadi anak jangan suka ngeluyur, biar nggak sakit-sakitan terus!” Ujar Riyanti sewot.
Tiwi mengernyitkan dahinya, dia memang merasa sakit badannya, bukan karena banyak keluyuran seperti yang dituduhkan ibunya. Tapi dia sudah kapok untuk membantah. Lebih baik dia diam. Rumah semakin ramai orang, karena kebun dibelakang sekarang sedang dibangun oleh Ismawan menjadi sebuah bangunan yang sangat mewah, sebuah rumah dengan 34 ruangan. Ada kantor, musholla, aula pertemuan, kolam dan jug garasi yang luas bisa diisi beberapa buah mobil itu. Usaha yang dirintis Ismawan memang berkembang sangat pesat. Apalagi model yg diberikan oleh Riyanti tidak main-main. Dia berikan seluruh perhiasan emas miliknya, jug tabungan uang serta menjual tanah warisan yang diberi oleh Pak Parman.
Perlahan tapi pasti keluarga Tiwi berubah menjadi sangat kaya. Dan keempat saudaranya yang dari luar pulau pun sudah berkumpul di Jawa. Rini yang sudah menikah dengan Agus, dan memiliki anak itu tinggal di Surabaya, Adi pun sudah menikah dan punya dua anak, ikut bekerja di perusahaan Ismawan. Evi yang menikah dengan orang China, tinggal di Sidoarjo. Lalu kakak keempatnya si Jaya, juga ikut bekerja di perusahaan Ismawan.
Dan Tiwi juga mendengar jika perusahaan yang di kota M, dikelola oleh istri tua Ismawan. Dan mereka jug dalam usaha yang sama, tapi tig anak Ismawan yang disana selalu mendapatkan materi yang lebih dari yang disini. Tiwi tidak mau ambil peduli akan semua yang terjadi didalam rumah ini. Tapi selalu saja dia yang mendapatkan impasnya, selalu menjadi pelampiasan kemarahan kedua orang tuanya itu.
—--------
Malam ini Tiwi tidur dikamar sang Nenek,dengan penuh kasih sayang Bu Mirah memijat badan Tiwi yang memang tampak kelelahan itu.
“Kamu ngapain aja di asrama? Kok bisa capek begini Wi? Apa benar kamu suka keluyuran?” tanya Neneknya.
“Aku nggak pernah keluyuran Mbah, justru aku kebanyakan mengikuti kegiatan di sekolah. Karate, Silat, Pramuka, OSIS, semua menyita waktu dan tenagaku Mbah,”ungkap Tiwi pada sang Nenek.
Bu Mirah sangat memahami karakter cucunya ini, dia tidak suka berbohong. Maka dari itu dia sangat percaya pada apa yang Tiwi katakan.
“Mbah .. aku mau cerita, tapi Mbah jangan marah dulu ya ..” Tiwi memulai sesi curhat nya ada sang Nenek.
“Iya .. apa?”
“Ada satu temanku, yang namanya Bayu. Dia sebangku dengan aku Mbah. Dia sangat perhatian sekali padaku, bahkan saat aku bersikap jutek padanya, dia selalu membalasnya dengan lembut dan baik. Dia tidak segan selalu menolong aku Mbah..”
“Lalu?”
“Lalu dia bilang jika dia suka padaku, aku tidak pernah menjawabnya. Tapi dia seolah menunjukkan pada semua temanku di sekolah bahwa aku ini pacarnya Mbah. Aku benci sekali pada Bayu itu. Tapi dia juga lucu dan ganteng sih Mbah…” Tiwi berkata dengan tersenyum tanpa sadar.
“Kmu itu masih kecil Wi…jangan dulu mengenal cinta dan pacaran. Daripada nanti kamu menyesal. Karena kalau pacaran itu akan mendekatkan kamu pada hal-hal yang belum pantas kalian lakukan. Percayalah apa kata Mbahmu ini Wi…sayangilah dirimu sendiri dulu…” nasehat sang Nenek yang jelas melarang cucunya berpacaran.
“Tapi…Tapi..aku mulai suka padanya Mbah. Apa aku salah?” Tiwi bertanya-tanya.
“Tidak salah Wi, perasaan suka itu manusiawi sekali. Hanya saja untuk sekarang waktumu belum tepat Ndhuk. Lebih baik kamu gunakan waktumu untuk rajin belajar. Agar kamu bisa lulus dengan nilai terbaikmu nanti ..” imbuh sang Nenek.
Tiwi terdiam merenungi semua kata dari orang yang sangat dia percayai dan sayangi ini. Sampai akhirnya diapun tertidur lelap dan bermimpi indah.
Sebuah dilema masa remaja yang lumrah terjadi. Jika tidak diarahkan akan salah jalan dan hanya mendapatkan penyesalan …
******
Akankah Tiwi mengikuti nasehat sang Nenek?
Ataukah pesona seorang Bayu bisa membuatnya lupa diri?