Di Chicago modern, kekuasaan bukan lagi soal siapa yang paling banyak menembak. Tapi siapa yang paling bersih menutupinya.
Kenalan dengan Luca Rossi, si Cleaner. Dia bukan tukang bersih-bersih biasa, tapi Consigliere dingin yang jadi otak di balik organisasi mafia Moretti. Dinding kantornya rapi, suit-nya mahal, tapi tangannya berlumur semua dirty work Keluarga—dari pembukuan yang dimanipulasi sampai menghilangkan jejak kejahatan.
Masalahnya, kini Keluarga Moretti di ambang collapse. Bos lama sekarat. Kekuasaan jatuh ke tangan Marco, si pewaris baru yang psikopat, ceroboh, dan hobi bikin drama. Marco melanggar semua aturan, dan Luca tahu: kalau dia diam, seluruh empire mereka hancur. Dengan bantuan Sofia, istri Bos yang terlihat polos tapi menyimpan banyak kartu, Luca memutuskan satu hal brutal: Ia harus mengkhianati bos barunya sendiri.
Di tengah rencana kotornya, Luca bertemu Isabella. Dia cantik, pintar, dan vibe-nya langsung nyambung sama Luca yang kaku. Luca akhirnya merasakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: THE INK AND THE ASHES
Musim dingin datang ke Chicago bukan dengan ketukan sopan, melainkan dengan hantaman keras. Angin The Windy City menderu melalui celah-celah gedung pencakar langit di Michigan Avenue, membawa serpihan es yang terasa seperti jarum-jarum halus di kulit. Di dalam kantor pribadinya di Moretti Tower, Luca Rossi berdiri menatap ke luar jendela. Suhu di luar mungkin berada di bawah titik beku, namun di dalam ruangan ini, suhu terasa lebih dingin karena kesunyian yang ia ciptakan sendiri.
Kekalahan Dante Valli tempo hari seharusnya memberinya waktu untuk bernapas. Namun, bagi pria seperti Luca, ketenangan adalah alarm yang paling berisik. Ketidakhadiran ancaman fisik berarti musuh sedang merancang sesuatu yang tidak bisa ia tangkis dengan peluru.
Luca menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. Matanya terpaku pada sebuah titik di jalanan jauh di bawah sana. Ia memikirkan tentang "pembersihan". Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa jika ia menghapus jejak digital dan membungkam saksi kunci, kebenaran akan mati. Namun, ia mulai menyadari bahwa kebenaran bukan seperti api yang bisa dipadamkan; ia seperti benih di bawah aspal, selalu mencari celah terkecil untuk tumbuh dan meretakkan permukaan yang paling mulus sekalipun.
Pintu kantornya terbuka pelan. Vito masuk tanpa suara, wajahnya tampak kuyu. Kerutan di dahi pria tua itu tampak lebih dalam pagi ini.
"Luca," sapa Vito pelan. "Ada laporan dari tim pemantau media kita. Ada satu nama yang terus muncul dalam pencarian arsip lama keluarga Moretti di perpustakaan publik dan database digital berbayar."
Luca berbalik perlahan. "Siapa?"
"Marcus Thorne," jawab Vito sambil meletakkan map cokelat di meja mahoni Luca. "Dia bukan pembunuh bayaran, Luca. Dia lebih buruk. Dia adalah jurnalis investigasi dari The Chicago Chronicle. Dia pernah memenangkan Pulitzer untuk liputannya tentang kartel di Meksiko. Dia tipe orang yang tidak akan berhenti menggali sampai dia menemukan tulang."
Luca membuka map itu. Foto Marcus Thorne menunjukkan pria berusia akhir tiga puluhan dengan mata yang tajam dan rahang yang keras. Dia tampak seperti pria yang tidak bisa dibeli, dan itulah yang membuatnya sangat berbahaya.
"Apa yang dia cari?" tanya Luca.
"Dia tidak mencari namamu, setidaknya belum," kata Vito. "Dia sedang menelusuri aliran dana The Elena Foundation sejak lima tahun lalu. Dia membandingkannya dengan penutupan perusahaan-perusahaan cangkang Moretti di luar negeri. Dia mencoba membangun sebuah garis lurus antara uang kotor masa lalu dan kampanye suci Elena saat ini."
Luca meletakkan map itu kembali. "Berapa banyak yang dia tahu?"
"Dia sedang mewawancarai pensiunan polisi di Palermo melalui panggilan video terenkripsi. Dia sedang membangun narasi, Luca. Dia menyebutnya 'The Saint's Shadow'—Bayangan Sang Orang Suci."
Luca terdiam sejenak. Jika ini adalah mafioso dari New York atau Sisilia, solusinya sederhana: sebuah kecelakaan di jalan raya atau menghilang tanpa jejak. Tapi Marcus Thorne adalah tokoh publik. Jika sesuatu terjadi padanya sekarang, semua mata akan tertuju pada Elena. Membunuh Thorne berarti mengonfirmasi semua kecurigaan Thorne.
"Jangan sentuh dia, Vito," perintah Luca. "Jangan ancam dia. Jurnalis seperti Thorne memakan ancaman sebagai sarapan. Itu hanya akan membuatnya semakin yakin bahwa dia berada di jalur yang benar."
"Lalu apa rencana kita?"
"Kita akan melakukan 'pembersihan preventif'," kata Luca, matanya menyala dengan perhitungan yang dingin. "Bukan dengan menghapus datanya, tapi dengan memberikan dia data yang salah. Kita akan membuat dia mengejar hantu yang tidak ada, sampai dia kehilangan kredibilitasnya sendiri."
Sementara itu, di pusat kota Chicago, Elena Moretti sedang berada di puncak kejayaannya. Ia berdiri di podium sebuah ruang konfrensi pers setelah memenangkan perdebatan tentang kebijakan pendidikan baru. Kilatan lampu kamera menyinari wajahnya yang tampak tanpa noda. Ia berbicara dengan nada yang begitu meyakinkan sehingga hampir semua orang di ruangan itu percaya bahwa dia adalah jawaban atas semua masalah kota ini.
Namun, di barisan belakang kerumunan jurnalis, seorang pria berdiri dengan tangan terlipat, tidak ikut bertepuk tangan. Marcus Thorne. Ia tidak memegang kamera; ia hanya membawa sebuah buku catatan kecil yang sudah lusuh.
Tatapan Elena sempat bertemu dengan Marcus sejenak. Ada sesuatu di mata pria itu yang membuat Elena merasa telanjang, seolah-olah Marcus bisa melihat melalui jas mahalnya dan menemukan bekas luka lama di bahunya—luka yang ia dapatkan di Palermo puluhan tahun lalu.
Begitu konferensi pers berakhir, Elena berjalan menuju mobil limosinnya dengan pengawalan ketat. Namun, Marcus Thorne berhasil mendekat sebelum pintu mobil tertutup.
"Senator Moretti!" panggil Marcus, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. "Hanya satu pertanyaan singkat. Apakah Anda pernah mendengar nama 'The Ghost' saat Anda masih tinggal di villa ayah Anda di Corleone?"
Langkah Elena terhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya tetap seperti marmer yang dingin. Ia menoleh ke arah Marcus dengan senyum politik yang sempurna.
"Tuan Thorne, bukan? Saya membaca artikel Anda tentang Meksiko. Luar biasa," kata Elena dengan nada merendah yang halus. "Mengenai pertanyaan Anda... masa kecil saya di Sisilia dipenuhi dengan dongeng-dongeng lokal. 'The Ghost' terdengar seperti salah satu cerita rakyat untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak keluar malam. Apakah Anda sekarang menulis tentang cerita rakyat?"
"Beberapa cerita rakyat memiliki mayat yang nyata, Senator," balas Marcus tanpa berkedip. "Saya hanya bertanya-tanya apakah hantu itu masih mengikuti Anda hingga ke Chicago."
"Saya hanya diikuti oleh aspirasi rakyat Illinois, Tuan Thorne. Selamat siang," Elena masuk ke mobil dan menutup pintunya.
Di dalam mobil, Elena segera meraih ponselnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia tidak menekan tombol panggil; ia hanya menunggu. Benar saja, sebuah pesan masuk dari Luca.
“Aku tahu dia di sana. Jangan berikan dia apa pun selain senyuman. Aku sedang menanganinya.”
Elena menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi yang empuk. Ia merasa beruntung memiliki Luca, namun di saat yang sama, ia merasa takut. Sampai kapan hidupnya harus menjadi sebuah koreografi yang diatur dari balik kegelapan?
Luca tidak membuang waktu. Malam itu, ia menghubungi Isabella di Berlin. Melalui layar holografik, Isabella tampak sedang berada di sebuah kafe yang gelap, jemarinya terus bergerak di atas laptop.
"Isabella, aku butuh kau masuk ke jaringan pribadi Marcus Thorne," kata Luca. "Tapi jangan ambil datanya. Aku ingin kau menanamkan 'sumber' baru di dalamnya."
"Disinformasi?" tanya Isabella, mengerti arah pikiran Luca.
"Ya. Buatlah profil seorang mantan akuntan Moretti yang fiktif. Namanya 'Alberto Rossi'. Buatlah jejak digital yang meyakinkan—rekening bank di Swiss, foto-foto tua di Palermo, dan email-email yang seolah-olah menunjukkan bahwa dialah otak di balik semua pencucian uang yayasan," jelas Luca.
"Kau ingin menjadikan dirimu sendiri—atau setidaknya nama belakangmu—sebagai tumbal?" Isabella menaikkan alisnya.
"Marcus Thorne ingin menemukan seorang arsitek kejahatan di belakang Elena. Mari kita beri dia satu. Tapi satu yang akan menuntunnya ke jalan buntu di Amerika Selatan," jawab Luca. "Begitu dia merilis ceritanya dan ternyata itu adalah berita bohong, karirnya akan tamat. Dia tidak akan pernah bisa menyentuh Elena lagi."
"Ini berbahaya, Luca," Isabella memperingatkan. "Thorne adalah jurnalis yang teliti. Jika dia mencium ada manipulasi digital, dia akan tahu bahwa ada 'hacker' tingkat tinggi yang bekerja untukmu. Itu hanya akan menarik perhatian lebih besar padaku dan padamu."
"Itulah sebabnya aku ingin kau menggunakan jalur yang sangat kuno," kata Luca. "Jangan kirim email. Gunakan metode dead drop fisik. Buat dia merasa seperti dia sedang melakukan spionase sungguhan. Orang seperti Thorne suka merasa seperti pahlawan dalam film thriller."
Dua hari kemudian, Marcus Thorne menerima sebuah pesan misterius di mesin tik tuanya—mesin tik yang ia gunakan hanya untuk catatan yang paling rahasia. Pesan itu memberitahunya untuk datang ke Grant Park pada pukul 11 malam.
Udara sangat dingin malam itu. Marcus berdiri di dekat air mancur Buckingham yang sudah dimatikan untuk musim dingin. Ia meniup tangannya yang membeku, menunggu seseorang yang mengaku memiliki kunci untuk membongkar Moretti.
Sebuah bayangan mendekat dari balik barisan pohon yang meranggas. Pria itu mengenakan mantel panjang dan topi yang menutupi wajahnya. Itu bukan Luca, melainkan seorang aktor yang disewa Luca melalui saluran yang sangat rahasia—seorang pria tua yang tampak seperti akuntan yang ketakutan.
"Tuan Thorne?" pria itu berbisik, suaranya gemetar (sebagian karena akting, sebagian karena dingin).
"Siapa Anda?" tanya Marcus, tangannya di dalam saku, memegang alat perekam yang menyala.
"Nama saya tidak penting. Saya dulu bekerja untuk Marco Moretti. Saya tahu di mana uang itu disembunyikan. Saya punya dokumen asli tentang pengalihan dana dari Palermo ke Chicago melalui yayasan Elena," pria itu menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal. "Ambil ini. Tapi tolong, lindungi saya. Mereka... 'The Ghost'... dia akan membunuh saya jika dia tahu saya bicara."
Marcus menerima amplop itu dengan tangan gemetar karena antusiasme. "Siapa 'The Ghost' ini? Apakah itu Luca Rossi?"
Pria tua itu tampak tersentak mendengar nama itu. "Luca Rossi hanyalah anak buah. 'The Ghost' adalah nama kode untuk Alberto Rossi, paman Luca. Dia masih hidup, bersembunyi di Argentina. Dialah yang mengendalikan semuanya."
Pria tua itu kemudian berlari menghilang ke dalam kegelapan sebelum Marcus bisa bertanya lebih lanjut.
Marcus membuka amplop itu di bawah sinar lampu jalan yang redup. Di dalamnya terdapat salinan transfer bank, foto-foto pertemuan rahasia di hotel mewah, dan daftar nama perusahaan cangkang. Semuanya tampak sangat nyata. Semuanya tampak seperti tiket menuju Pulitzer keduanya.
Di sebuah mobil SUV yang terparkir jauh dari sana, Luca Rossi mengawasi melalui teropong malam. Ia melihat Marcus Thorne memeluk amplop itu seperti harta karun.
"Dia sudah memakan umpannya, Vito," bisik Luca ke radionya.
"Sekarang apa?" suara Vito terdengar dari kursi pengemudi.
"Sekarang kita tunggu dia menulis ceritanya. Dan saat dia merilisnya, kita akan memicu 'pembersihan' yang sesungguhnya."
Marcus Thorne tidak langsung menulis ceritanya. Ia kembali ke apartemennya yang berantakan, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan kopi instan. Ia menempelkan dokumen-dokumen baru itu di papan dindingnya, menghubungkannya dengan benang merah.
Semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna.
Marcus adalah jurnalis yang sudah melihat banyak penipuan. Instingnya mulai berbisik. Mengapa seorang akuntan yang sudah bersembunyi begitu lama tiba-tiba muncul sekarang, tepat saat ia mulai menggali? Dan mengapa informasi ini begitu mudah didapatkan di taman kota?
Ia mengambil salah satu foto pertemuan di hotel. Ia menggunakan kaca pembesar untuk melihat detailnya. Ada sesuatu yang aneh. Jam di dinding hotel menunjukkan pukul 3 sore, tetapi bayangan di luar jendela menunjukkan matahari yang hampir terbenam.
"Manipulasi," gumam Marcus. Matanya menyipit. "Ini jebakan."
Marcus menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang jauh lebih cerdas daripada sekadar mafia yang menggunakan otot. Ia sedang berhadapan dengan seseorang yang bisa memanipulasi realitas itu sendiri.
Ia duduk di depan mejanya, menatap papan dindingnya dengan tatapan baru. Jika informasi tentang "Alberto Rossi" ini palsu, maka siapapun yang memberikan informasi ini ingin dia melakukan kesalahan publik yang besar. Dan siapapun itu, dia pasti sangat dekat dengan Elena Moretti.
"Luca Rossi," bisik Marcus. "Kau bukan hanya anak buah. Kau adalah otaknya."
Marcus mengambil sebuah foto lain—foto Luca Rossi yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat Luca keluar dari Moretti Tower. Ia menempelkan foto Luca di pusat papan dindingnya, menggantikan semua nama lainnya.
"Kau ingin aku mengejar hantu di Argentina, Luca? Terima kasih, tapi aku lebih suka mengejar hantu yang ada di sini, di Chicago."
Luca menerima laporan dari Isabella keesokan paginya. "Luca, Thorne tidak menghubungi editornya. Dia malah melakukan sesuatu yang aneh. Dia mulai mencari catatan sejarah tentangmu saat kau masih di Palermo, bukan tentang paman fiktifmu."
Luca terdiam. Ia meremehkan Marcus Thorne. Jurnalis ini memiliki integritas yang lebih kuat dari yang ia perkirakan.
"Dia tahu itu jebakan," kata Luca, suaranya rendah. "Dia lebih pintar dari yang kubayangkan."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Isabella. "Jika dia terus menggali sejarahmu di Palermo, dia akan menemukan jejak asli yang tidak sempat kita bersihkan dengan sempurna."
Luca berdiri, berjalan menuju dinding kacanya. "Pembersihan disinformasi gagal. Kita harus beralih ke metode yang lebih langsung, tapi tetap tanpa kekerasan."
"Maksudmu?"
"Kita harus menghancurkan sumber aslinya. Thorne punya informan di Palermo. Pensiunan polisi itu. Jika kita bisa membungkam polisi itu—bukan dengan membunuhnya, tapi dengan memberinya kehidupan baru di tempat yang tidak bisa dijangkau Thorne—maka Thorne akan kehilangan satu-satunya tautan aslinya ke masa lalu."
Luca menoleh ke arah Vito. "Siapkan tim di Italia. Kita akan melakukan 'ekstraksi'. Bawa petugas polisi tua itu ke vila kita di Como. Berikan dia semua yang dia butuhkan agar dia merasa berutang budi padaku selamanya."
Di Palermo, pensiunan polisi bernama Inspektur Giallo sedang duduk di balkon rumahnya yang sederhana, menatap laut Mediterania. Ia sudah tua, sakit-sakitan, dan merasa bersalah karena telah membantu Moretti puluhan tahun lalu. Itulah sebabnya ia mau bicara dengan Marcus Thorne melalui panggilan video. Ia ingin membersihkan jiwanya sebelum meninggal.
Namun, sore itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya. Dua pria berpakaian rapi keluar. Mereka tidak membawa senjata yang terlihat. Mereka membawa sebuah amplop berisi tiket pesawat kelas satu dan dokumen kepemilikan sebuah vila kecil di Lake Como, lengkap dengan perawat pribadi seumur hidup.
"Inspektur Giallo," kata salah satu pria itu dengan aksen yang sangat sopan. "Tuan Rossi mengirimkan salam. Beliau mendengar tentang kesehatan Anda yang memburuk. Beliau ingin Anda menghabiskan sisa hari-hari Anda dengan tenang, jauh dari kebisingan jurnalis asing yang hanya ingin memanfaatkan Anda."
Giallo menatap tiket itu. Ia tahu apa artinya ini. Ini adalah suap yang dibungkus dengan kedermawanan. Tapi baginya, ini adalah jalan keluar yang aman.
"Apa yang harus saya katakan pada jurnalis Amerika itu?" tanya Giallo.
"Jangan katakan apa-apa. Biarkan dia menelepon. Dia tidak akan pernah bisa menemukan Anda lagi."
Satu minggu kemudian, Marcus Thorne duduk di mejanya, mencoba menghubungi nomor Inspektur Giallo di Palermo. Namun, nomor itu sudah tidak aktif. Ia menghubungi rekan-rekannya di Italia untuk memeriksa rumah Giallo, dan laporan yang kembali adalah: rumah itu kosong, dijual kepada pembeli anonim, dan Giallo telah menghilang.
Marcus melempar ponselnya ke meja dengan frustrasi. Ia telah kehilangan semua sumbernya. Disinformasi tentang "Alberto Rossi" adalah gangguan, dan hilangnya Giallo adalah pembersihan.
Ia menatap papan dindingnya yang kini dipenuhi dengan jalan buntu. Luca Rossi telah berhasil menyapu semua jejak di hadapannya.
Namun, saat ia hendak menyerah, Marcus melihat sesuatu yang ia abaikan sebelumnya. Di dalam amplop cokelat dari "akuntan palsu" itu, ada satu sobekan kecil kertas yang terselip di lipatan terdalam. Itu bukan dokumen bank atau foto. Itu adalah sebuah nota kecil dari sebuah toko bunga di Chicago, tertanggal satu minggu yang lalu.
Nota itu untuk pengiriman bunga mawar putih ke makam Marco Moretti. Dan pemesannya adalah: "L.R."
Marcus tersenyum kecil. Luca Rossi melakukan satu kesalahan kecil karena rasa hormatnya pada mendiang tuannya. Luca memesan bunga itu melalui jalur yang sah, mungkin karena ia berpikir tidak ada jurnalis yang akan memeriksa toko bunga sekecil itu.
"Kau terlalu rapi, Luca," bisik Marcus. "Dan kerapian adalah jejak bagi mereka yang tahu cara mencarinya."
Marcus mengambil jaketnya dan keluar ke udara Chicago yang membeku. Perang antara jurnalis dan sang pembersih baru saja dimulai. Bukan dengan senjata, melainkan dengan ketekunan.
Di kejauhan, di atas Moretti Tower, lampu kantor Luca masih menyala. Hantu dan pemburunya kini sedang menari di atas es yang tipis, menunggu siapa yang akan jatuh terlebih dahulu.