Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panen Padi
🦋
Musim panen selalu membawa bau khas: bau jerami kering, debu gabah, dan tubuh letih yang dipaksa tetap bergerak. Buat orang-orang di Dusun Nava, musim panen berarti kesibukan, gotong royong, dan rumah yang lebih hidup.
Tapi buat Nadira, tahun itu terasa seperti ujian berat yang tidak ia daftarkan diri untuk mengikutinya.
Sejak subuh, saat langit masih gelap dan ayam-ayam Kakek Wiratama baru mulai berkokok, Nadira sudah berada di halaman belakang, menjemur gabah dari karung-karung yang beratnya hampir menyaingi tubuhnya sendiri.
Seratus karung selama enam minggu berturut-turut. Dan ia melakukannya… sendirian.
Fero?
Laki-laki itu bahkan tidak bangun ketika Nadira menyeret karung pertama pada hari pertama panen. Ia cuma membalik badan di kasurnya, mendengus pelan, kemudian tidur lagi.
Tapi Nadira tidak protes. Ia tidak pernah protes. Ia hanya mengikat rambut panjangnya, mengangkat karung demi karung, dan menuangkan isi gabah ke tikar jemur sampai punggungnya terasa seperti terbakar.
Untuk apa?
Untuk mendapatkan satu hal:
Cinta dan perhatian Kakek. Atau setidaknya… sedikit pengakuan.
***
Pagi itu, matahari sudah naik cukup tinggi ketika Nadira baru menyelesaikan karung ke-17. Badannya gemetar, tenggorokan kering. Dia bahkan belum minum setetes pun, tapi panas matahari membuatnya terus menunduk dan bekerja, takut gabahnya nanti rusak kalau terlambat dijemur.
"Dir, kamu belum makan?" suara Erwin terdengar dari belakang, membawa segelas air minum.
Nadira terlonjak kecil. "Oh… mas Erwin. Belum, tapi gapapa kok."
"Kamu kerja dari jam berapa?"
"Jam lima."
Erwin menghela napas. "Fero masih tidur, ya?"
Nadira cuma tersenyum tipis, mencoba tidak terlihat sedih.
Erwin ingin bilang sesuatu—Nadira bisa melihatnya dari sorot matanya—tapi belum sempat ia bicara, suara berat Kakek Wiratama terdengar dari serambi.
"Nadira! Gabahnya jangan menumpuk! Kamu itu harus cek anginnya, nanti jamurnya banyak!"
Nadira buru-buru berdiri tegak. "Iya Kek! Ini aku cek lagi."
Kakek mengerutkan dahi, melihat ke arah tungku ayam. "Ayam belum dikasih makan?"
Nadira terkejut. "Belum, Kek… aku tadi fokus ke gabah dulu."
"Ya ampun, Nadira! Masa kerjaan segitu aja lambat begitu? Fero aja kalau disuruh pasti cepat!"
Erwin spontan menatap kakeknya. "Kek… Fero bahkan belum bamgun. Dari pagi cuma Nadira yang kerja."
Kakek langsung menatap Erwin dengan tatapan tajam. "Anak laki-laki itu capek sekolah! Kamu juga jangan ikut campur."
Erwin terdiam, hilang suara.
Nadira menelan ludah. Luka kecil di hatinya terasa seperti digores lagi.
Tapi ia tersenyum.
"Baik, Kek. Maaf. Nadira kerjain semuanya, tapi satu-satu ya tangan Nadira cuma dua."
Kakek berdeham dan pergi begitu saja.
Erwin hanya bisa berdiri, wajahnya penuh kasihan. "Dir… kamu itu manusia. Jangan dipaksa sampai lupa makan."
Nadira mengangkat bahu pelan. "Gak apa-apa, Mas. Aku kuat kok."
Itu bohong. Tapi kadang bohong adalah cara agar ia tidak menangis.
Pagi harinya, Nadira bersiap ke sekolah. Uang jajannya diselipkan Kakek ke tangannya tanpa menoleh.
"Ini. Buat jajan."
Nadira membuka telapak tangannya. Tiga ribu rupiah. Kecil dan ringan. Tidak sebanding dengan kerja kerasnya.
Sementara Fero lewat sambil bersiul, Kakek menyerahkan uang sepuluh ribu ke dirinya. "Jangan beli yang aneh-aneh, Fero."
Nadira hanya menatap adegan itu dari jauh. Tidak iri. Tidak cemburu.
Hanya saja… hatinya terasa kosong.
Seperti ia sudah tahu pasti siapa yang menang dan siapa yang akan selalu kalah di rumah ini.
***
"Dira, kamu makin kurus deh."
Begitu kata Izarra saat mereka duduk di kantin, sore harinya.
Nadira hanya mengaduk es teh kecilnya, minuman yang ia hemat supaya cukup sampai akhir istirahat.
"Zarra…" suara Nadira lirih, "kenapa ya… aku merasa kalo Kakek nggak memperhatikan aku dengan baik?"
Izarra mengangkat alis. "Kamu baru tau sekarang?"
Nadira menatapnya bingung.
Izarra mendekat, memelankan suara. "Dira, jujur ya. Bahkan nih… Kakek kamu itu sering banget ngomong ke tetangga kalo kamu itu pemalas."
Nadira terkejut. "Apa? Kok bisa sih… aku kan tiap pulang sekolah selalu jemur gambar dan pekerjaan rumah juga aku yang ngerjain…"
"Iya. Tapi di kampung jarang ada yang mau cek. Yang mereka dengar ya omongan orang tua."
Nadira menunduk. Jantungnya terasa tenggelam.
Izarra melanjutkan, "Dan… di Dusun Nava ini, keluarga Wiratama dikenal paling suka pamer. Sombong juga. Apa-apa harus dipuji orang."
Kata-kata itu menampar lebih keras daripada bentakan.
Jadi selama ini… Meskipun ia bekerja setengah mati, yang orang lihat justru kebalikannya.
"Dira," Izarra menatap temannya penuh empati, "kamu harus tau satu hal. Kamu gak salah. Mereka aja yang… ya begitu lah."
Nadira menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang panas merambat dari dada ke tenggorokan.
Sedih?
Marah?
Kecewa?
Ia sendiri tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah… ia ingin pulang. Ingin membuktikannya. Ingin berusaha lagi dan lebih keras lagi.
Karena jika dunia tidak bisa melihat dirinya baik-baik saja… setidaknya ia ingin Kakek melihat. Hanya itu.
Malam itu…
Setelah pulang sekolah, Nadira tidak istirahat sama sekali. Ia langsung kembali ke halaman samping, memasukan gabah ke dalam karung, memberi makan sapi, memandikan kerbau, memberi minum ayam, membersihkan kandang.
Kakinya gemetar. Tangannya dingin. Tapi ia tetap memaksa diri.
Saat Erwin lewat, ia hampir menghentikan Nadira karena melihat tubuh adiknya goyah seperti mau ambruk.
"Dir, stop. Nanti kamu sakit "
Nadira hanya tersenyum samar. "Aku nggak apa-apa, Mas."
Erwin memijat pelipisnya, frustasi. "Kalau kamu pingsan, Kakek gak bakal ngerti. Yang capek ya cuma kamu."
Nadira menatap hamparan gabah emas yang dijemurnya. Kemudian berkata pelan—
"Satu hari nanti, Mas… Kakek bakal lihat aku."
Kalimat itu sederhana, tapi ada getirnya. Ada luka tak terlihat yang ikut berbicara di dalamnya.
Dan Erwin mengerti. Karena cinta yang tidak dibalas… adalah racun pelan-pelan.
Beberapa hari berikutnya…
Cuaca makin panas. Jemuran gabah makin banyak. Tubuh Nadira makin kurus. Tapi ia tetap bangun jam lima pagi, bekerja sebelum berangkat sekolah, kembali bekerja sepulang sekolah, sampai malam.
Kadang tangannya tremor karena kelelahan. Kadang ia lupa makan. Kadang ia minum dari ember cucian piring karena terlalu haus untuk berjalan ke dapur.
Tapi ia terus bertahan. Ia yakin suatu hari nanti, usahanya akan dihargai.
Tapi kenyataan tidak pernah berbaik hati padanya. Setidaknya… belum sekarang.
***
Pada minggu keenam, ketika semua gabah sudah dijemur dan disimpan dalam karung baru, Nadira berdiri di halaman samping sambil mengusap peluh.
Ia berharap Kakek akan bilang sesuatu.
Apa pun. Walau cuma satu kalimat kecil.
'Nadira… terima kasih.'
Atau…
'Kamu rajin sekali.'
Atau…
'Kamu sudah bekerja keras.'
Tapi yang keluar dari mulut Kakek…
justru sebaliknya.
"Nadira! Karungnya jangan ditumpuk begitu! Kamu bikin berantakan! Fero, tolong pindahkan ini!"
Fero?
Yang tidak menyentuh satu butir gabah pun?
Nadira hanya menunduk. Kakinya lemas. Ia bisa merasakan sesuatu runtuh tanpa suara. Mungkin… dirinya.
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Dusun Nava, Nadira berdiri di depan kaca, memandang bayangannya sendiri.
Rambut panjangnya kusut. Kulit sawo matangnya lebih gelap karena matahari. Kedua tangannya bahkan sangat kotor dan kukunya yang menghitam karna banyak kotoran nya.
Ia bukan anak pemalas. Ia bukan anak nakal. Ia hanya… seorang gadis yang ingin dicintai.
Sederhana saja, tapi kenapa terasa seperti mustahil?
Nadira menyentuh dadanya.
"Aku harus jadi lebih baik lagu," katanya pada pantulan dirinya. "Harus lebih rajin. Harus lebih kuat. Harus…"
Ia tidak melanjutkan. Karena bagian terdalam batinnya berkata hal yang berbeda:
Harus apa lagi agar dihargai dan dicintai?
Pertanyaan itu menggantung di kamar sempitnya. Diam, tapi menusuk.
Tak ada jawaban. Dan Nadira, dalam keheningan malamnya di Dusun Nava, menutup mata.
Ia tidak menangis. Justru itu yang lebih menyedihkan. Karena terkadang, saat hati sudah terlalu lelah… Air mata pun menyerah.