Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
“Assalamu'alaikum Oma, Assalamu'alaikum Bintang.“Ucap Arthur begitu memasuki rumah bibi dan tentu saja membuatku tersentak kaget. Dengan kedua mata melototdan bibir yang menganga, ku kira Arthur dan Darel itu bukan agama islam lho, mengingat mereka bule. Ya, bukan maksudku mendiskriminasikan bule ya, cuman ya. Kan ku pikir mereka itu menganut agama kristen, mengingat di masa lalu saat Darel main ke sini, tak pernah ku lihat ia melaksanakan sholat bareng Arka.
“Mereka islam Kak. Kabar baiknya pas dua bulan yang lalu Darel baru aja hafal Al-qur'an tiga puluh juz.“Bisik Arka di telingaku dan kembali membuat mulutku menganga saking kagetnya.
“Biasa aja dong, kak. Itu mata kayak mau keluar aja.“Ledek Arka sambil terkekeuh dan membuatku mendengus sebal.
“Tuh, sudah ku bilang kalau Darel adalah calon suami potensial buat kamu. Mapan, tampan, mana hafalannya tiga puluh juz lagi, bukan kayak sebelah yang cuman hafal juz tiga puluh tapi sok-sok an mau poligami..ckck.“Tukasnya menyindir Afif dan aku bungkam, sebab apa yang di katakan Arka memang benar__Afif baru hafal juz tiga puluh, itu pun dulu saat hubungan kami masih hangat-hangatnya dan saaf kami masih suka berangkat ke kajian, kalau sekarang aku tidak tahu. Bisa jadi hafalannya sudah bertambah atau mungkin berkurang.
“Ehh udah besar aja kamu..“Balas bibi sambil membawa Arthur ke pelukannya dan membuat atensiku juga atensi Arka tertuju pada interaksi hangat bibi dan juga Arthur.
“Yiayalah ma, kan Darel besarin, kasih makan, tempat tinggal yang nyaman dan kasih sayang. Makanya Arthur tumbuh dengan baik.“Timpal Arka yang membuat bibi menatapnya tajam, sedang Darel hanya mengulas senyumnya saja.
“Hussh kamu ini.“Tegur bibi pada Arka.
“Oh ya, ini Arthur. Ya, Bintang. Sekarang kalian temenan ya?.“Tutur bibi sambil menarik sebelah tangan Bintang dan bibi membantu Bintang serta Arka bersalaman, kedua anak lelaki itu terlihat saling tatap, saling senyum dan saling menkabat tangan hangat yang membuatku menghela nafas lega, oh ya. Arthur lebih tinggi beberapa senti dari Bintang dan ya, jangan di tanya bagaimana wajah keduanya, aku tak bisa membandingkan. Yang jelas Arthur dengan dominasi gen ke barat-baratannya dan Bintang gen lokal, tetapi Bintang anakku tetap yang paling manis dan istimewa di hatiku.
“Kamu suka main mobil, gak?.“Tanya Arthur yang sudah duduk di sebelah Bintang, bersyukurnya karena tidak terjadi kecanggungan di antara mereka, melihatnya aku pun bahagia. Sebab Bintang punya teman baru yang terlihat baik seperti Arthur.
“Suka.“
“Mau main bareng nggak?.“
“Boleh deh, tapi aku bawa dulu di kamar, ya?.“
Arthur mengangguk, sedang Bintang beranjak berdiri dan ke kamar kami untuk mengambil mobil-mobilannya.
“Oh ya, Arka ajak temannya makan, mama udah siapin masakan di meja sana.“Titah bibi yang di angguki Arka, lalu tatapan Arka pun tertuju pada Darel.
“Makan dulu ya, bro?.“
Darel mengangguk”Tapi gak ngerepotin?.“Tanyanya sambil meringis, Arka memberi pukulan kecil di pundaknya.
“Enggaklah, kayak sama siapa aja. Lagian masak itu salah satu hobi mama.“
“Yaudah.“
Bintang sudah punya teman baru, bibi sepertinya akan ikut makan bersama Arka dan temannya, hah.. dan aku? Aku akan segera ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh ini, namun baru dua langkah kaki, ucapan Arka menghentikan langkahku.
“Mau kemana? Ayo ikut makan, sekalian aja.“
Aku menggeleng cepat”Enggak Ka, belum mau.“
Arka berdecak tak suka, tangannya dengan cepat menarik tanganku, menyebalkan sekali. Dia memaksaku dan dengan terpaksa juga langkah terseok aku mengikutinya.
“Makan, kamu baru keluar dari rumah sakit. Harus makan banyak, yang bergizi dan sehat!.“
“Inget, kamu enggak sendirian tapi sama calon anak kamu!!.“Tutur Arka kembali dan kali ini sudah menarik piring mengambil dua centong nasi dan beberapa sendok lauk ke piring yang ia genggam lalu menyimpan piring itu tepat di hadapanku.
“Makan Nad. Benar kata Arka, kamu harus makan makanan sehat, bergizi dan banyak.“Timpal bibi dan membuatku mengangguk saja, walau rasanya memang tak cukup berselera saja. Sedang Darel, ria itu ternyata menatapku dengan tatapan aneh, aku menyadarinya dan bernist bertanya lewat teguranku, akan tetapi tatapan itu sudah di putuskan duluan olehnya, pada akhirnya aku hanya bisa menghela nafas panjang.
©©©
Makan sudah, mandi sudah, memandikan Bintang sudah, memberinya makan juga sudah. Kini tugasku untuk hari ini telah selesai__setelah keluar dari rumah sakit, kegiatanku yang biasanya beres-beres rumah, atau membantu bibi untuk menanam sayur, memetik sayur, memasak, mencuci semuanya kini di larang. Katanya aku tak boleh kecapean dan aku hanya harus duduk seperti tuan putri saja.
Walau aku sempat protes, sebab aku tidaklah penyakitan yang apa-apa harus di layani, lagian kehamilan ini bukan yang pertama dan pastinya aku juga sudah punya pengalaman juga. Tapi ya, aku tidak mau berdebat dengan bibi, apalagi Arka. Jadilah aku pun menurut, meski memang sangat tidak enak sekali, hanya duduk, baring, nonton tv lalu tidur, begitu-begitu saja kegiatanku.
Menyebalkan, sialan!!
Baru saja aku berbaring di atas ranjang dan berniat untuk menyalakan tv laku melihat-lihat film yang ada di sana, suara pintu di ketuk pun membuatku terperanjat bangun, buru-buru aku pun melapisi pakaian pendekku dengan cardigan serta ku pakai handuk untuk menyembunyikan rambutku yang masih setengah basah itu.
Begitu pintu di buka, aku terkejut sebab ternyata bukan tukang apket seperti dugaanku, melainkan Darel yang sudah berpakaian rapih khas orang-orang kaya raya mau bekerja, dan di sisinya ada Arthur dengan wajah memerahnya, mata sembab dan hidung yang membengkak. Dia seperti habis menangis, tapi karena apa?
Tiba-tiba aku di sergap rasa iba, apalagi tahu kalau Arthur sudah tidak punya ibu. Ya, Darel dan istrinya sudah bercerai setahun yang lalu dan Darel lah yang mendapatkan hak asuk anak, sehingga Arthur berada di dalam pengasuhannya. Yakin sekali, menjadi papa dan ibu sekaligus pasti bukan hal yang mudah, terlebih Darel juga harus tetap bekerja dan pastinya sibuk sekali, mengingat kata Arka, dia punya hotel di mana-mana yang tentunya menuntut Darel bepergian ke luar kota sesekali, tapi yang anehnya kenapa Darel tidak mencari bany sitter untuk Arthur ya? Ahh tapi bukan itu yang penting sekarang, fokusku teralih pada wajah Arthur yang terlihat sedih begitu.
“Maaf kak, ganggu ya?.“Ucap Darel basa-basi yang ku jawab dengan gelengan vepat.
“Enggak kok. Ada apa, ya? Kalau mau cari Arka, Arka lagi kerja, Darel.“Sahutku membuat Darel tersenyum meringis, dari jarak dekat begini, aku bisa mencium aroma citrus yang sangat memanjakan indra penciumanku juga wajahnya yang terlihat ehm tampan, dengan garis rahang yang terlihat tegas, bulu-bulu halus di dagu, hidung bangir, bibir penuh dan mata kehijauan itu. Astagfirullah. Aku buru-buru beristigfhar dan menundukan pandanganku.
Aku hanya sedikit terpesona. Ya, hanya sedikit terpesona saja. Apalagi Darel dulu tidak seperti ini, dulu mah tubuhnya kurus kering dan juga berkacamata yang seakan membuat terlihat nerd, tapi sekarang.. ok, ku akui dia tampak tampan dan gagah, mskanya demi menjaga diri dan hatiku, aku pun menunduk.
“Kak, kakak kenapa?.“Tanyanga yang membuat mendengus kecil.
“Eum itu mataku kayaknya kelilipan.“Pada akhirnya aku memilih berbohong, mana bisa ku katakan kalau sejujurnya aku terpesona dengan Darel yang sekarang, jangan gila, dong?! Tambah kesenangan nanti si Arka, dan amu juga tak mau merusah marwah ku sebagai seorang wanita yang masih bersuami, walau nyatanya gugatanku sedang di proses di pengadilan.
“Mau aku bantu?.“
“Eum gak usah, nanti aku pakai tetes mata aja.“
“Eum yaudah, masuk dulu, duduk di kursi ya? Aku mau ke kamar bentar.“Ucapku demgan pelan aku pun menarik diriku untuk ke kamar, sesampainya di kamar, aku pun duduk di atas ranjang dan mekilih menghela nafas dalam-dalam sambil beristigfhar banyak-banyak.
Untuk apa Darel ke sini? Padahal ia tahu Arka sedang tidak ada. Mau ku usir, tapi sangat tidak sopan sekali, tapi.. aku juga tak mau kalau hanya berdua di rumah ini dengannya, sebenarnya tidam berdua-dua amat sih, ada Arthur juga, tapi kan Arthur masih kecil, aku tak mau di cap jelek oleh tetangga rumah bibi.
Baiklah, aku pun memilih menelpon bibi yang sedang di warung bersama Bintang dan menyuruhnya untuk segera pulang.