Dibawah langit kerajaan yang berlumur cahaya mentari dan darah pengkhianatan, kisah mereka terukir antara cinta yang tak seharusnya tumbuh dan dendam masa lalu yang tak pernah padam.
Ju Jingnan, putri sulung keluarga Ju, memegang pedang dengan tangan dingin dan hati yang berdarah, bersumpah melindungi takhta, meski harus menukar hatinya dengan pengorbanan. Saudari kembarnya, Ju Jingyan, lahir dalam cahaya bulan, membawa kelembutan yang menenangkan, namun senyumannya menyimpan rahasia yang mampu menghancurkan segalanya.
Pertemuan takdir dengan dua saudari itu perlahan membuka pintu masa lalu yang seharusnya tetap terkunci. Ling An, tabib dari selatan, dengan bara dendam yang tersembunyi, ikut menenun nasib mereka dalam benang takdir yang tak bisa dihindari.
Dan ketika bunga plum mekar, satu per satu hati luluh di bawah takdir. Dan ketika darah kembali membasuh singgasana, hanya satu pertanyaan yang tersisa: siapa yang berani memberi cinta di atas pengorbanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurfadilaRiska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenang, Damai, Namun Mematikan
Masih di hari yang sama.
Langit Pegunungan Longfeng terbentang cerah, angin pegunungan berembus ringan membawa aroma tanah dan dedaunan. Denting senjata para prajurit masih menggema, teratur dan tegas, seolah dunia tetap berjalan tenang—tanpa peduli pada gelisah yang mulai bersemi di hati manusia.
Saat tiba di hadapan para prajurit yang tengah berlatih masing-masing, Jingnan menghentikan langkahnya. Pandangannya menyapu sekeliling, jelas seperti sedang mencari seseorang.
Alisnya sedikit berkerut.
“Di mana Weifeng Gege, Jianhong, dan Paman Wei Yu?” gumamnya sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Padahal beberapa saat lalu, ketiganya masih berdiri di sana—memimpin latihan dengan suara lantang.
Jingnan menghentikan langkahnya dan menatap para prajurit di hadapannya.
“Apa kalian melihat Weifeng Gege, Jianhong, dan juga Paman Wei Yu?” tanyanya.
Salah satu prajurit segera melangkah maju dan memberi hormat.
“Jenderal, Jenderal Weifeng, Jianhong, dan Jenderal Wei Yu sedang berada di kamar Putri Mei Yin.”
“Ooo… begitu.” Jingnan mengangguk pelan.
Tanpa menunda lagi, ia segera berbalik dan melangkah pergi, arah tujuannya kini jelas—kamar Mei Yin.
......................
Tak berselang lama, Jingnan tiba di depan kamar itu dan langsung masuk. Pemandangan yang menyambutnya membuat langkahnya terhenti sejenak.
Mei Yin terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat. Di sekelilingnya berdiri Jingyan, Weifeng, Wei Yu, Yaoqin, dan Jianhong.
“Eh?!” Jingnan langsung mendekat ke sisi ranjang.
“Ada apa dengannya?”
“Mei Yin sedang demam, Jie,” jawab Jingyan pelan.
“Hais…” Jingnan menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menaruh punggung tangannya ke kening Mei Yin, Dan benar saja itu hangat.
“Pegunungan Longfeng terlalu dingin,” ucapnya dengan nada sedikit kesal, namun penuh kekhawatiran.
“Dia tidak bisa terlalu lama berada di cuaca seperti ini. Itu sebabnya aku selalu melarangnya ikut kemari.”
Tanpa disangka, Mei Yin perlahan membuka matanya.
“Nannan Jiejie…” suaranya lirih, namun senyum kecil terukir di bibirnya.
“Ternyata kau sangat menyayangiku, ya.”
Jingnan mendengus pelan.
“Jika aku tidak menyayangimu, mungkin kau sudah kuberikan pada serigala liar di pegunungan ini.”
“Jahat sekali,” Mei Yin kembali cemberut, dan ucapannya justru membuat senyum tipis terbit di wajah yang lainnya.
“Oh ya, Jie.” Jingyan menoleh ke arah Jingnan.
“Apakah Jiejie melihat Tabib Ling An?”
“Ehem, ehem.” Mei Yin tiba-tiba tersenyum penuh arti.
Weifeng meliriknya heran.
“Kau kenapa?”
“Eh… aku ingin minum,” jawab Mei Yin cepat—jelas sebuah alasan dadakan, hanya untuk menutupi niatnya menggoda Jingyan.
Yaoqin yang menyadarinya hanya bisa menahan tawa.
“Tabib Ling An…” Jingnan menjawab dengan sedikit ragu.
“Aku tidak melihatnya.”
“Ooo begitu,” sahut Jingyan singkat.
Wei Yu tersenyum sambil menatap Jingyan.
“Yanyan, kau sejak tadi terus menanyakan keberadaan Tabib Ling An. Kau menyukainya, ya?”
“Ti—tidak, Paman!” Jingyan langsung menyangkal dengan wajah memanas.
“Dia datang kemari bersamaku dan Mei Yin. Wajar kalau aku mencarinya.”
“Oh ya?” Mei Yin menyeringai tipis.
“Benarkah itu, Jie?”
“Semalam siapa, ya, yang terus menatap ke arah Tabib Ling An?” lanjut Mei Yin santai.
“Hah? Siapa?” Jingyan pura-pura tidak tahu.
“Heumm… benarkah Jie tidak tahu?” Mei Yin memiringkan kepala.
“Aku dan Yaoqin Jiejie melihat dengan jelas ke mana arah pandangan seseorang itu.”
“Hum, benar sekali, Putri Mei Yin,” Yaoqin tersenyum lembut.
Wajah Jingyan semakin memerah, sementara tawa kecil memenuhi ruangan itu—hangat, akrab, dan penuh kehidupan.
......................
Di sisi lain, jauh dari tawa dan kehangatan. Ling An masih duduk sendiri di tepi danau kecil di belakang kawasan Pelatihan Militer Junwei Jun. Permukaan airnya tenang, nyaris tak beriak, seolah dunia di sekelilingnya ikut membisu.
Namun di dalam dadanya, tak ada ketenangan sedikit pun.
Ia menatap pantulan langit di permukaan danau—jernih, damai, nyaris menipu.
Seperti hatinya yang kini mulai goyah.
Di satu sisi, ia adalah Ling An yang hidup demi satu tujuan yaitu membalas dendam. Dendam yang telah bertahun-tahun berakar dalam darah dan tulangnya, dendam yang seharusnya membuatnya tak ragu untuk menghancurkan keluarga Ju.
Namun di sisi lain…
ia telah merasakan sesuatu yang seharusnya tak pernah ia rasakan.
Kehangatan.
Kehangatan dari keluarga yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dan lebih dari itu—dari salah satu putri kembar keluarga Ju, sosok yang seharusnya ia hancurkan tanpa sisa.
“Perasaan aneh ini…” gumam Ling An pelan.
Tangannya mengepal kuat, kukunya hampir menancap ke telapak sendiri.
“Tidak bisa menjadi penghalang,” ucapnya dingin, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
“Tidak untuk dendam yang telah bertahun-tahun berada di tanganku.”
Tatapannya kembali jatuh pada danau di hadapannya.
Airnya tenang. Diam. Indah.
Ling An tersenyum tipis—senyum yang tak mengandung kehangatan sedikit pun.
“Tenang… damai… namun mematikan.”
Ia tahu benar, danau itu tampak aman di permukaan.
Namun siapa pun yang menyelam terlalu dalam akan tenggelam tanpa sempat berteriak.
Seperti perasaan yang kini mulai tumbuh di dalam dirinya.
Dan seperti itulah takdir yang perlahan menariknya masuk—tanpa memberi jalan kembali.
semangat teruslah aku dukung🔥❤️