Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.
Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.
Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Arlena memilih sebuah kafe yang tenang, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk mengakhiri. Davin duduk di sampingnya, tenang, hadir bukan sebagai pengawas, melainkan sebagai penopang.
Roy datang dengan senyum yang sama seperti dulu. Senyum yang pernah Arlena kenal sebagai manis, namun kini hanya terasa licin.
“Lama nggak ketemu,” ujar Roy santai, matanya sempat melirik Davin. “Aku kira kita ketemu berdua.” kata Roy lagi.
“Kita memang tidak akan pernah berdua lagi,” jawab Arlena datar.
Roy terdiam sejenak.
Arlena menatap ke arah Roy, lurus. Tidak ada keraguan di mata Arlena. “Aku mau bicara jelas. Hubungan apa pun di antara kita berhenti sampai di sini.”
Roy tertawa kecil, mencoba meremehkan. “Kamu yakin? Kita punya banyak—”
“Apa pun yang terjadi di masa lalu, jangan diungkit lagi,” potong Arlena tegas. “Apa yang pernah aku berikan, aku ikhlaskan. Anggap selesai.”
Arlena menghela napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih mantap, “Aku sekarang hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku.”
Davin menoleh pada istrinya, jelas tidak menyangka ketegasan itu datang tanpa ragu sedikit pun. Ada rasa bangga yang menguat di dadanya.
Roy mengernyit. “Kamu berubah, Arlena.”
“Bukan,” jawab Arlena singkat. “Aku sadar.”
Wajah Roy mulai mengeras. Ia mencoba satu langkah terakhir. “Kamu tahu aku bisa bicara ke mana-mana. Kamu tahu aku—”
“Tidak ada lagi yang bisa kamu ambil dariku,” sela Arlena tenang. “Tidak uang. Tidak perhatian. Tidak rasa bersalah.”
Roy melirik Davin, berharap menemukan celah. Namun yang ia temui hanya tatapan dingin, tatapan seorang suami yang berdiri penuh di belakang istrinya.
“Pertemuan ini terakhir,” lanjut Arlena. “Setelah ini, jangan hubungi aku lagi.”
Roy terdiam. Ia tahu, sumber uang yang dulu mudah diperas kini telah sadar sepenuhnya. Arlena yang dulu bisa dimanipulasi… sudah tidak ada.
“Ayo, Mas,” kata Arlena pelan.
Davin berdiri lebih dulu, lalu Arlena mengikutinya tanpa menoleh lagi.
Roy duduk terpaku, menyadari satu hal yang pahit, Ia kehilangan Arlena. Ia kehilangan kendali.
Di luar kafe, Davin menghentikan langkah Arlena sejenak.
“Kamu luar biasa,” kata Davin jujur.
Arlena menatap Davin, tersenyum kecil. “Aku hanya menjaga apa yang penting.”
Dan di saat itu, Davin tahu, perempuan di sampingnya bukan hanya istrinya, melainkan rumah yang ia pilih untuk dilindungi selamanya.
Begitu pintu mobil tertutup, Arlena tidak langsung berkata apa-apa.
Ia menatap lurus ke depan, napasnya masih teratur, namun dadanya terasa kosong, kosong dengan cara yang menenangkan. Beban yang selama ini menempel, menekan, akhirnya luruh.
“Aku… lega,” bisik Arlena pelan.
Itu saja yang sanggup keluar sebelum matanya berkaca-kaca.
Davin baru sempat menoleh ketika Arlena tiba-tiba memeluknya erat. Tubuhnya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena emosi yang terlalu lama dipendam akhirnya menemukan jalan keluar.
Arlena menangis. Tangis yang tidak histeris, namun jujur. Tangis seorang perempuan yang akhirnya berani menutup masa lalu, berani memperbaiki kesalahan tanpa menyisakan pintu sedikit pun.
Davin memeluk Arlena balik, satu tangannya mengusap punggung Arlena dengan sabar. Ia tidak bertanya. Tidak menyela. Ia hanya ada.
“Maaf…” suara Arlena pecah. “Aku baru sadar sekarang… betapa sakitnya kamu dengan apa yang pernah aku buat.”
Davin mengerutkan kening. “Maksudmu?”
Sebagai Nayla, tentunya sangat paham. Ia tahu rasanya menjadi pihak yang ditinggalkan. Ia tahu luka kecil yang terus menganga ketika kepercayaan dikhianati.
“Aku tahu sekarang,” lanjut Arlena lirih, “perasaan Mas dulu. Dan Xavier.”
Tangannya mencengkeram jas Davin, seolah takut kehilangan. “Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Tidak pernah lagi.”
Davin terdiam. Dadanya menghangat, bukan oleh kata-kata, tapi oleh ketulusan yang ia rasakan.
“Kita semua pernah salah,” kata Davin akhirnya, suaranya lembut. “Yang penting… kamu memilih kembali.”
Arlena mengangguk di dadanya. Air matanya membasahi kemeja Davin, namun untuk pertama kalinya, tangis itu tidak menyakitkan.
Tangis itu menyembuhkan. Dalam pelukan Davin, Nayla berdamai dengan masa lalu Arlena, dan dengan dirinya sendiri.
Dan Davin, memeluk istrinya lebih erat. Bukan untuk menahan, melainkan untuk berkata tanpa suara, "Kamu tetap ada di hatiku."
Setelah pertemuan dengan Roy, langkah Arlena terasa jauh lebih ringan.
Seolah ada pintu yang akhirnya tertutup rapat, bukan dibanting, bukan disesali, tetapi dikunci dengan tenang. Masalah Arlena dengan Roy telah selesai, tanpa sisa, tanpa bayang-bayang yang tertinggal.
Di dalam mobil, Arlena menatap tangannya sendiri. Tangan yang kini digenggam erat oleh Davin, Dada yang tidak lagi sesak.
Sudah selesai, batin Nayla mantap.
Sebagai Nayla, ia tahu betul betapa mudahnya sebuah kelalaian merusak banyak hal. Ia pernah berada di sisi yang terluka, dan kini ia berdiri di sisi yang harus bertanggung jawab.
Begitu sampai di rumah, Arlena langsung menghampiri Xavier yang sedang bermain. Anak itu menoleh dan tersenyum lebar.
“Mama!” seru Xavier.
Arlena berlutut, memeluk Xavier dengan erat. Pelukan yang bukan sekadar refleks, melainkan komitmen.
“Iya, sayang,” jawab Arlena lembut.
Davin memperhatikan dari kejauhan. Davin tidak bertanya apa pun, namun matanya berbicara, ada ketenangan, ada keyakinan.
Malam harinya, saat rumah sudah sunyi, Arlena duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Xavier yang terlelap. Lalu ia menoleh pada Davin yang berdiri di ambang pintu.
“Mas,” kata Arlena pelan, dan kemudian Arlena menghampiri Davin dan memeluk suaminya. “aku ingin jadi istri dan ibu yang baik. Bukan karena kewajiban. Tapi karena aku memilih.” kata Arlena.
Davin tersenyum, menautkan jemarinya dengan jemari Arlena. “Aku tidak minta lebih.” jawab Davin.
Arlena menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali. Dalam hati Nayla membuat janji yang tidak diucapkan keras-keras, namun terpatri kuat, Ia akan menjaga nama Arlena. Ia akan merawat cinta Davin. Ia akan menjadi tempat pulang bagi Xavier. Bukan untuk menebus masa lalu, melainkan untuk membangun masa depan yang layak diperjuangkan.
Dan kali ini Nayla benar-benar ingin tinggal bersama Davin.
---
Nayla berdiri di sebuah ruangan kosong, putih, sunyi, tanpa dinding yang jelas. Di hadapannya, seorang perempuan berdiri membelakangi cahaya.
"Arlena." kata Nayla pelan.
Wajah itu begitu Nayla kenal sekarang. Tubuh yang ia tempati. Nama yang ia bawa setiap hari.
“Arlena,” panggil Nayla pelan.
Perempuan itu menoleh. Tatapannya tenang, datar, tanpa emosi.
“Di mana kamu sebenarnya?” tanya Nayla cepat, suaranya mulai bergetar. “Kamu masih ada, kan? Atau… aku sudah mengambil semuanya?”
Arlena tetap diam.
“Apa kamu marah?” Nayla melangkah mendekat. “Aku tidak bermaksud merebut hidupmu. Aku hanya… terjebak.” kata Nayla.
Tidak ada jawaban. Tidak ada penolakan. Tidak ada pengakuan. Hanya tatapan yang kosong, seolah Arlena ada, tapi tidak sepenuhnya di sana.
“Kalau kamu masih ada,” bisik Nayla putus asa, “katakan sesuatu. Tolong.”
Namun Arlena perlahan memudar, larut bersama cahaya, meninggalkan Nayla sendirian dengan pertanyaan yang tidak terjawab.
“Arlena—!”
“Arlena!”
Davin terbangun mendadak. Napas istrinya tersengal, keningnya berkerut, bibirnya bergerak tanpa suara jelas.
“Jangan… jangan diam…” gumam Arlena dalam tidurnya. “Jawab aku…”
Davin langsung bangkit, mengguncang bahu Arlena perlahan. “Arlena, bangun.”
Tubuh Arlena bergetar hebat. Keringat dingin membasahi leher dan pelipisnya. Saat matanya terbuka, napasnya masih tersendat, dadanya naik turun cepat.
Nayla menatap Davin, bingung, takut, dan, bersalah.
“Mas…” suaranya serak.
Davin memeluknya tanpa bertanya. Tangannya mengusap rambut Arlena, menenangkan. “Mimpi buruk?” tanya Davin.
Arlena mengangguk pelan, menyandarkan wajah di dada Davin. Jantung pria itu berdetak kuat, nyata, menarik Nayla kembali ke dunia yang ia kenal.
“Aku baik-baik saja,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.
Namun dalam hati Nayla, kegelisahan baru tumbuh.
"Kalau Arlena masih ada, lalu aku ini apa?" pertanyaan itu muncul begitu saja.
Nayla memejamkan mata, berusaha menenangkan napasnya. Davin terus memeluknya, seolah tak ingin melepaskan sedetik pun.
Bagi Davin, istrinya baru saja melewati mimpi buruk.
Namun bagi Nayla, mimpi itu adalah peringatan.
Bahwa di balik kehidupan yang mulai terasa utuh, masih ada satu jiwa lain
yang keberadaannya belum ia pahami.
"Arlena, jika tadi itu kamu, kenapa kamu diam saja?" tanya Nayla didalam hati yang sekarang Nayla berada di pelukan Davin.