"Tuan Putri, maaf.. saya hanya memberikan pesan terakhir dari Putra Mahkota untuk anda"
Pria di depan Camilla memberikan sebilah belati dengan lambang kerajaan yang ujungnya terlihat begitu tajam.
.
"Apa katanya?" Tanya Camilla yang tangannya sudah bebas dari ikatan yang beberapa hari belakangan ini telah membelenggunya.
"Putra Mahkota Arthur berpesan, 'biarkan dia memilih, meminum racun di depan banyak orang, atau meninggal sendiri di dalam sel' "
.
Camilla tertawa sedih sebelum mengambil belati itu, kemudian dia berkata, "jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan membiarkan Arthur mati di tangan Annette!"
Pria di depannya bingung dengan maksud perkataan Camilla.
"Tunggu! Apa maksud anda?"
.
Camilla tidak peduli, detik itu juga dia menusuk begitu dalam pada bagian dada sebelah kiri tepat dimana jantungnya berada, pada helaan nafas terakhirnya, dia ingat bagaimana keluarga Annette berencana untuk membunuh Arthur.
"Ya.. lain kali aku akan membiarkannya.."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Bab 32
Festival berlangsung meriah. Camilla berjalan dari satu warung ke warung lain, mencicipi makanan rakyat. Ia tidak canggung untuk duduk bersama mereka, bahkan berbincang dengan para pedagang tentang kehidupan sehari-hari.
“Putri Mahkota benar-benar ramah..” bisik seorang ibu pada tetangganya.
“Ya, berbeda dari bangsawan lain yang hanya datang untuk dilihat, bukan untuk mendengarkan,” balas yang lain.
Annette ikut mendengar bisikan itu, dan senyumnya menegang sejenak. Untuk menutupi, ia segera mendekati sekelompok anak-anak dan mulai bermain tebak-tebakan kecil dengan mereka. Anak-anak itu tertawa senang, membuat beberapa orang tua tersenyum melihat Annette.
“Lady Annette juga manis sekali,” ujar seseorang di kerumunan.
Komentar itu sedikit menenangkan hatinya. Meski tetap saja, perhatian rakyat tak bisa lepas dari Camilla.
Seraphina, di sisi lain, benar-benar menikmati suasana. Ia ikut menari bersama rakyat ketika musik dimainkan, gaun hijaunya berputar lincah. “Ini luar biasa! Aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini,” katanya sambil tertawa kecil.
Camilla menatapnya, senyum lembut tersungging di bibirnya. “Aku senang kau menyukainya, Seraphina.”
Namun, di balik keriuhan itu, beberapa bangsawan yang turut hadir mulai berbisik-bisik. Mereka memperhatikan bagaimana rakyat menyambut Camilla dengan begitu antusias.
“Putri Mahkota benar-benar tahu cara memikat hati rakyat,” ujar seorang bangsawan tua.
“Ya, ini bisa menjadi pedang bermata dua. Dukungan rakyat bisa jadi kekuatan besar.. tapi juga ancaman jika tidak dikendalikan.”
“Dan lihat Annette… dia juga berusaha mengambil perhatian. Persaingan halus itu tidak bisa diabaikan.”
Ibu Suri, yang hadir dari kejauhan dengan pengawalnya, menyaksikan semuanya dengan tatapan tajam. Ia tidak ikut campur, hanya memperhatikan bagaimana Camilla, Annette, dan Seraphina memainkan peran mereka masing-masing di hadapan rakyat.
Langit sore mulai berubah jingga, namun semangat rakyat belum juga mereda. Musik masih bergema, tarian masih berlangsung, dan aroma makanan terus memenuhi udara.
Camilla berjalan di antara kerumunan, senyumnya tak pernah lepas. Ia mencicipi roti madu buatan seorang ibu tua, lalu memberi pujian yang membuat sang ibu berlinang air mata bangga.
“Putri Mahkota, Anda sungguh berhati baik,” ucapnya sambil menggenggam tangan Camilla erat.
Annette, yang berdiri sedikit di belakang, tersenyum tipis sambil melirik ke arah Seraphina yang ikut mencicipi manisan madu. Selalu saja Camilla yang disanjung.. apa mereka buta melihatku di sini?
Namun sebelum Annette bisa menambah langkah untuk menutupi kekesalannya, sebuah kegaduhan kecil terdengar dari sisi barat alun-alun.
“Keluar! Jangan biarkan dia masuk ke sini!” teriak seseorang.
Kerumunan terbelah, memperlihatkan seorang pria paruh baya berpakaian lusuh yang berusaha masuk ke tengah alun-alun. Dari wajahnya jelas ia bukan pedagang atau penari, melainkan rakyat jelata yang terlihat putus asa. Beberapa penjaga istana segera menghadang, namun pria itu berteriak lantang.
“Putri Mahkota! Dengarkan aku! Kami kelaparan di desa kami! Pajak terlalu berat! Kami tidak bisa hidup seperti ini lagi!”
Suasana festival seketika menegang. Musik berhenti, tawa lenyap, digantikan bisik-bisik panik di antara rakyat. Para bangsawan yang hadir menegakkan punggung, sebagian tampak tidak senang.
Annette menutup mulutnya pura-pura terkejut, namun dalam hati ia justru melihat ini sebagai kesempatan. Kalau Camilla salah bicara, semua ini bisa berbalik melawannya.
Seraphina tampak cemas. Ia memandang Camilla dengan tatapan ragu, seolah bertanya apa yang harus dilakukan.
Camilla, di sisi lain, tidak menunjukkan tanda gentar. Ia melangkah maju, menghentikan gerakan para penjaga dengan mengangkat tangan.
“Biarkan dia bicara,” katanya tenang.
“Yang Mulia, itu berbahaya..” salah satu penjaga mencoba memperingatkan.
“Aku bilang biarkan.” Suara Camilla tegas, membuat semua orang terdiam.
Pria itu terduduk di tanah, tubuhnya gemetar karena kelelahan. Namun ketika Camilla mendekat, matanya membara dengan harapan.
"Kami bukan pemberontak… kami hanya rakyat yang tak sanggup lagi menanggung beban. Pajak panen tahun ini terlalu tinggi. Kami bahkan tak bisa memberi makan anak-anak kami.”
Bisik-bisik semakin ramai. Sebagian rakyat tampak terkejut mendengar keluhannya, sebagian lain justru mengangguk tanda setuju.
Camilla menunduk, berjongkok di depan pria itu, lalu menatap matanya. “Namamu siapa?”
Pria itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara bergetar. “Ralph.. dari desa Windmere, Yang Mulia.”
“Ralph,” ujar Camilla lembut, “aku tidak bisa menjanjikan segalanya di sini, tapi aku bisa berjanji akan menyampaikan keluhanmu kepada dewan, dan mencari jalan agar kalian tidak lagi merasa tertindas. Rakyat seharusnya tidak hidup dalam kelaparan.”
Suasana hening. Kata-kata Camilla bergema di udara, membuat banyak rakyat yang tadinya ragu kini menatapnya dengan mata berbinar.
Pria itu mulai terisak, lalu menunduk. “Terima kasih.. terima kasih, Yang Mulia..”
Camilla berdiri, lalu membantu pria itu bangkit. Ia memberi isyarat pada penjaga agar tidak menyentuhnya kasar. “Bawalah dia ke tempat peristirahatan. Pastikan dia diberi makanan dan obat.”
Sorak-sorai rakyat pecah seketika. “Hidup Putri Mahkota! Hidup Putri Mahkota!”
Annette menegang. Ia melihat momen itu, alih-alih merusak citra Camilla, kejadian tersebut justru membuat rakyat semakin mencintainya. Senyum manisnya tetap terjaga, tapi jemarinya mencengkeram gaunnya erat.
Seraphina menatap Camilla dengan kagum, hampir berkilau matanya. “Yang Mulia.. Anda luar biasa. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa.”
Camilla tersenyum tipis. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin, Seraphina. Mendengarkan rakyatnya.”
Setelah ketegangan itu mereda, festival kembali berlangsung, meski suasananya kini berbeda. Rakyat tidak hanya bersuka cita, mereka juga dipenuhi rasa hormat yang lebih dalam pada Camilla.
Anak-anak berlari mendekat, menyodorkan bunga liar. Seorang gadis kecil bahkan berani naik ke panggung tempat Camilla berdiri, lalu memberikan boneka kain lusuh buatan sendiri.
“Untuk Putri Mahkota… supaya Anda selalu tersenyum,” katanya polos.
Camilla menerima boneka itu dengan kedua tangan, lalu berlutut agar sejajar dengan sang anak. “Aku akan menjaganya baik-baik. Terima kasih.”
Tepuk tangan bergemuruh, membuat momen itu semakin berkesan.
Annette berdiri agak jauh, berusaha tetap terlihat tenang. Seorang bangsawan wanita yang berdiri di sampingnya berbisik, “Putri Mahkota sungguh bijak.. tak heran rakyat memujanya.”
Annette hanya tersenyum samar, tapi dalam hatinya, bara iri semakin membakar. Selalu dia. Selalu Camilla. Sampai kapan aku harus menonton dia merebut segalanya?
***
Ibu Suri, yang masih menyaksikan dari kejauhan, akhirnya mengangguk kecil. Ia berbicara lirih pada permaisuri di sampingnya.
“Camilla tahu caranya memikat hati rakyat. Bukan dengan kekuatan, tapi dengan kelembutan.”
Permaisuri tersenyum tipis. “Itulah yang membuatnya berbeda. Arthur akan pulang dari perang suatu hari nanti.. dan ia akan menemukan seorang Putri Mahkota yang telah merebut hati rakyat sepenuhnya.”
Ibu Suri memejamkan mata sejenak, lalu menatap kembali panggung festival. “Semoga mereka tidak lupa, bahwa cinta rakyat bisa menjadi berkat… atau kutukan, tergantung bagaimana ia menjaganya.”
Malam mulai turun, lampu-lampu minyak dinyalakan di sepanjang alun-alun. Musik kembali bergema, tarian rakyat makin meriah, dan aroma manisan madu bercampur dengan daging panggang memenuhi udara.
Camilla berdiri di tengah kerumunan, tersenyum pada semua orang. Di tangannya, boneka kain lusuh itu ia genggam erat, sebuah simbol sederhana, namun penuh makna.
Dan di balik senyum-senyum yang tampak tulus malam itu, di hati Annette tersimpan sebuah tekad: Aku tidak akan tinggal diam. Suatu hari, aku juga akan bersinar. Lebih terang dari siapa pun, bahkan dari Camilla.