NovelToon NovelToon
KEPALSUAN

KEPALSUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Action / Persahabatan / Romansa
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: yersya

ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Pukul sebelas siang.

Sebuah kafe di sudut kota, tidak terlalu ramai—cukup tenang untuk percakapan yang tidak ingin didengar banyak orang.

Aku duduk berhadapan dengan Adelia. Kelvin di sampingnya. Luna duduk di sebelahku, punggungnya tegak, wajahnya tenang seperti biasa. Aroma kopi hangat bercampur dengan suara pelan pendingin ruangan.

“Eehhh…?”

Adelia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya membesar.

“Kalian pacaran?”

Nada suaranya naik setengah oktaf, cukup keras untuk menarik perhatian beberapa pengunjung di meja lain.

Kelvin menoleh cepat ke Luna, lalu ke aku.

“Sejak kapan?” tanyanya, jelas kaget. “Aku sama sekali tidak melihat tanda-tandanya.”

“Sudah hampir seminggu,” jawab Luna singkat, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Aku hanya mengangkat cangkir dan menyeruput minumanku.

Adelia berkedip beberapa kali, lalu matanya menyipit.

“Tunggu… kalau begitu—”

Ia menoleh tajam ke arahku.

“Arya ikut seleksi jadi penyihir?”

“Begitulah,” jawabku pendek.

Kelvin langsung duduk lebih tegak.

“Kapan?”

“Besok,” jawab Luna.

Hening jatuh di meja kami.

Kelvin dan Adelia saling berpandangan. Ada jeda canggung—seolah mereka mencoba memutuskan apakah harus mengucapkan selamat, atau justru menanyakan apakah kami sudah gila.

Bagaimanapun juga, beberapa waktu lalu aku masih dianggap tidak mungkin oleh Luna. Dan sekarang… kami duduk bersebelahan, mengumumkan hubungan dan seleksi penyihir dalam satu nafas.

“Apa… ini benar-benar tidak apa-apa?” tanya Kelvin akhirnya. Nadanya rendah, tulus khawatir.

“Tidak masalah,” jawab Luna sambil meraih cangkirnya.

“Aku sudah memberinya cincin ruang. Kami juga memburu kutukan akhir-akhir ini. Arya bisa membunuh kutukan tingkat sepuluh dengan mudah—dan tingkat sembilan juga.”

Kelvin dan Adelia membeku.

Perlahan, dua pasang mata itu beralih ke arahku.

“Kau memang tidak sesederhana yang aku kira,” gumam Adelia, menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kalau begitu,” lanjut Kelvin, nafasnya sedikit lega, “seleksi besok pasti akan berjalan lancar untukmu, Arya.”

“Tapi…” Adelia mengangkat satu jari.

“Mencapai tingkat enam dalam satu tahun tetap gila. Itu bukan target sembarangan.”

Aku meletakkan cangkirku perlahan. Bunyi porselen menyentuh meja terdengar jelas di sela keheningan.

“Itu mengingatkanku,” kataku.

“Kalau penyihir dan kutukan diukur dari jumlah energi kutukan… lalu bagaimana mengukur tingkatan penyihir yang tidak punya energi kutukan?”

“Mudah,” jawab Luna tanpa ragu.

“Kau hanya perlu mengalahkan penyihir tingkat enam—atau membunuh kutukan tingkat enam.”

“Itu terdengar mudah jika hanya diucapkan,” sela Adelia.

Ia menatapku lurus kali ini—tidak ada senyum, tidak ada nada bercanda. Hanya keseriusan yang jarang ia tunjukkan. Matanya tajam, seolah menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar kemungkinan.

“Arya,” lanjutnya pelan, “kau sudah melihat sendiri perbedaan kekuatan di tiap tingkatan. Kau tahu betapa jauhnya jarak di antara mereka.”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kata-katanya agar meresap.

“Menurutmu… apa kau benar-benar bisa mencapai tingkat enam hanya dalam satu tahun?”

Hening singkat menyela.

Lalu ia menambahkan, lebih lirih namun justru terasa lebih menekan,

“Belum lagi—kau harus melampaui kami bertiga yang sekarang berada di tingkat tujuh.”

Tatapannya tak goyah.

Bukan meremehkan.

Melainkan peringatan yang jujur.

Aku menunduk, menatap permukaan minumanku yang telah kembali tenang—seperti pikiranku yang justru bergejolak di bawahnya.

Adelia. Kelvin. Luna.

Ketiganya berada di tingkat tujuh.

Aku tahu persis seberapa jauhnya jarak itu. Bagi manusia biasa, melampaui mereka bukan sekadar sulit—hampir mustahil. Kerja keras saja tidak cukup. Bakat pun belum tentu menjamin. Dunia ini tidak adil, dan aku menyadarinya sejak lama.

Namun justru karena itulah aku ingin melangkah maju.

Jika segalanya sudah ditentukan sejak awal, maka mencoba adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang tersisa.

Jika mustahil adalah batasnya, maka setidaknya aku ingin berdiri tepat di depannya—dan mengetuknya sekali, meski tahu pintu itu mungkin tak akan terbuka.

Karena ada hal-hal yang nilainya tidak diukur dari keberhasilan, melainkan dari keberanian untuk tetap melangkah, meski tahu kemungkinan kalah jauh lebih besar daripada menang.

Aku mengangkat kepala, membiarkan tatapan mereka bertemu dengan keyakinanku.

“Tentu saja,” jawabku mantap, tanpa ragu sedikitpun.

Kelvin menegang seketika, bahunya kaku, seolah baru menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda.

Adelia mendengus kecil, sudut bibirnya terangkat tipis—ekspresi seseorang yang sudah menebak jawaban itu sejak awal, antara jengkel dan pasrah.

Luna hanya tersenyum samar. Ia kembali menyeruput minumannya dengan tenang, seakan jawabanku adalah sesuatu yang sudah ia terima bahkan sebelum pertanyaan itu diajukan.

“Seleksinya di kediaman keluarga Sena, kan?” tanya Adelia. “Di kota sebelah.”

“Ya,” jawab Luna. “Kami berangkat jam lima sore.”

Ia melirik Kelvin dan Adelia.

“Kalian mau ikut?”

Mereka saling berpandangan—lalu tersenyum bersamaan.

“Mau,” jawab mereka serempak.

Di tengah aroma kopi dan cahaya siang yang masuk dari jendela, aku menyadari satu hal:

langkah pertama sudah diambil.

Dan tidak ada jalan kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!